Adat Palembang dalam Perkawinan

Kamis, 10 September 2009

palembangAdat perkawinan Palembang adalah suatu pranata yang dilaksanakan berdasarkan budaya dan aturan di Palembang.

Melihat adat perkawinan Palembang, jelas terlihat bahwa busana dan ritual adatnya mewariskan keagungan
serta kejayaan raja-raja dinasti Sriwijaya yang mengalaimi keemasan berpengaruh di Semananjung Melayu berabad silam. Pada zaman kesultanan Palembang berdiri sekitar  abad 16 lama berselang setelah runtuhnya dinasti Sriwijaya, dan pasca Kesultanan pada dasarnya perkawinan ditentukan oleh keluarga besar dengan pertimbangan bobot, bibit dan bebet.

Pada masa sekarang ini perkawinan banyak ditentukan oleh kedua pasang calon mempelai pengantin itu sendiri.

Untuk memperkaya pemahaman dan persiapan pernikahan, berikut ini uraian tata cara dan pranata yang berkaitan dengan perkawinan Palembang.Milih Calon

Calon dapat diajukan oleh si anak yang akan dikawinkan, dapat juga diajukan oleh orang tuannya. Bila dicalonkan oleh orang tua, maka mereka akan menginventariskan dulu siapa-siapa yang akan dicalonkan, anak siapa dan keturunan dari keluarga siapa.

Madik
Madik Berasal dari kata bahasa Jawa Kawi yang berarti  mendekat atau pendekatan. Madik adalah suatu proses penyelidikan atas seorang gadis yang dilakukan oleh utusan pihak keluarga pria.Tujuannya untuk perkenalan, mengetahui asal usul serta silsilah keluarga masing-masing serta melihat apakah gadis tersebut belum ada yang meminang.

Menyengguk
Menyengguk atau sengguk berasal dari bahasa Jawa kuno yang artinya memasang “pagar” agar gadis yang dituju tidak diganggu oleh sengguk (sebangsa musang, sebagai kiasan tidak diganggu perjaka lain). Menyengguk dilakukan apabila proses Madik berhasil dengan baik, untuk menunjukkan keseriusan, keluarga besar pria mengirimkan utusan resmi kepada keluarga si gadis. Utusan tersebut membawa tenong atau sangkek terbuat dari anyaman bambu berbentuk bulat atau segi empat berbungkus kain batik bersulam emas berisi makanan, dapat juga berupa telor, terigu, mentega, dan sebagainya sesuai keadaan keluarga si gadis.

Ngebet

Bila proses sengguk telah mencapai sasaran, maka kembali keluarga dari pihak pria berkunjung dengan membawa tenong sebanyak 3 buah, masing-masing berisi terigu, gula pasir dan telur itik. Pertemuan ini sebagai tanda bahwa kedua belah pihak keluarga telah “nemuke kato” serta sepakat bahwa gadis telah ‘diikat’ oleh pihak pria. sebagai tanda ikatan, utusan pria memberikan bingkisan pada pihak wanita berupa kain, bahan busana, ataupun benda berharga berupa sebentuk cincin, kalung, atau gelang tangan.

Berasan
Berasal dari bahasa Melayu artinya bermusyawarah, yaitu bermusyawarah untuk menyatukan dua keluarga menjadi satu keluarga besar. Pertemuan antara dua pihak keluarga ini dimaksudkan untuk menentukan apa yang diminta oleh pihak si gadis dan apa yang akan diberikan oleh pihak pria. Pada kesempatan itu, si gadis berkesempatan diperkenalkan kepada pihak keluarga pria. Biasanya suasana berasan ini penuh dengan pantun dan basa basi. Setelah jamuan makan, kedua belah pihak keluarga telah bersepakat tentang segala persyaratan perkawinan baik tata cara adat maupun tata cara agama Islam. Pada kesempatan itu pula ditetapkankapan hari berlangsungnya acara “mutuske kato”. Dalam tradisi adat Palembang dikenal beberapa persyaratan dan tata cara pelaksanaan perkawinan yang harus disepakati oleh kedua belah pihak keluarga, baik secara syariat agama Islam, maupun menurut adat istiadat. Menurut syariat agama Islam, kedua belah pihak sepakat tentang jumlah mahar atau mas kawin, Sementara menurut adat istiadat, kedua pihak akan menyepakati adat apa yang akan dilaksanakan, apakah adat Berangkat Tigo Turun, adat Berangkat duo Penyeneng, adat Berangkat Adat Mudo, adat Tebas, ataukah adat Buntel Kadut, dimana masing-masing memiliki perlengkapan dan persyaratan tersendiri.

Mutuske Kato
Acara ini bertujuan kedua pihak keluarga membuat keputusan dalam hal yang berkaitan dengan:”hari ngantarke belanjo” hari pernikahan, saat Munggah, Nyemputi dan Nganter Penganten, Ngalie Turon, Becacap atau Mandi Simburan dan Beratib. Untuk menentukan hari pernikahandan acara Munggah, lazim dipilih bulan-bulan Islam yang dipercaya memberi barokah bagi kedua mempelai kelak yakni bulan Robiul Awal, Robiul Akhir, Jumadilawal, Jumadilakhir. Bulan-bulan tersebut konon dipercayah bahwa bulan purnama sedang cantik-cantiknya menyinari bumi sehingga cahayanya akan menjadi penerang kehidupan bagi kedua mempelai secerah purnama. Saat ‘mutuske kato’ rombongan keluarga pria mendatangi kediaman pihak wanita dimana pada saat itu pihak pria membawa 7 tenong yang antara lain berisi gula pasir, terigu, telur itik, pisang dan buah-buahan. Selain membuat keputusan tersebut, pihak pria juga memberikan (menyerahkan) persyaratan adat yang telah disepakati saat acara berasan. sebagai contohnya, bila sepakat persyaratan adat Duo Penyeneng, maka pihak pria pada saat mutoske kato menyerahkan pada pihak gadis dua lembar kemben tretes mider, dua lembar baju kurung angkinan dan dua lembar sewet songket cukitan. Berakhirnya acara mutuske kato ditutup dengan doa keselamatan dan permohonan pada Allah SWT agar pelaksanaan perkawinan berjalan lancar. Disusul acara sujud calon pengantin wanita pada calon mertua, dimana calon mertua memberikan emas pada calon mempelai wanita sebagai tanda kasihnya. Menjelang pulang 7 tenong pihak pria ditukar oleh pihak wanita dengan isian jajanan khas Palembang untuk dibawa pulang.

Nganterke Belanjo
Prosesi nganterke belanjo biasanya dilakukan sebulan atau setengah bulan bahkan beberapa hari sebelum acara Munggah. Prosesi ini lebih banyak dilakukan oleh kaum wanita, sedangkan kaum pria hanya mengiringi saja.
Uang belanja (duit belanjo) dimasukan dalam ponjen warna kuning dengan atribut pengiringnya berbentuk manggis. Hantaran dari pihak calon mempelai pria ini juga dilengkapi dengan nampan-nampan paling sedikit 12 buah berisi aneka keperluan pesta, antara lain berupa terigu, gula, buah-buahan kaleng,  hingga kue-kue dan jajanan. Lebih dari itu diantar pula’enjukan’ atau permintaan yang telah ditetapkan saat mutuske kato, yakni berupa salah satu syarat adat pelaksanaan perkawinan sesuai kesepakatan. Bentuk gegawaan yang juga disebut masyarakat Palembang ‘adat ngelamar’ dari pihak pria (sesuai dengan kesepakatan) kepada pihak wanita berupa sebuah ponjen warna kuning berisi duit belanjo yang dilentakan dalam nampan, sebuah ponjen warna kuning berukuran lebih kecil berisi uang pengiring duit belanjo, 14 ponjen warna kuning kecil diisi koin-koin logam sebagai pengiring duit belanjo, selembar selendang songket, baju kurung songket, sebuah ponjen warna kuning berisi uang’timbang pengantin’ 12 nampan berisi aneka macam barang keperluan pesta, serta kembang setandan yang ditutup kain sulam berenda.

Persiapan Menjelang Akad Nikah

Ada beberapa ritual yang biasanya dilakukan terhadap calon pengantin wanita yang biasanya dipercaya berkhasiat untuk kesehatan kecantikan, yaitu betangas. Betangas adalah mandi uap, kemudian Bebedak setelah betangas, dan berpacar (berinai) yang diberikan pada seluruh kuku kaki dan tangan dan juga telapak tangan dan kaki yang disebut pelipit.

Upacara Akad Nikah

Menyatukan sepasang kekasih menjadi suami istri untuk memasuki kehidupan berumahtangga. Upacara ini dilakukan dirumah calon pengantin pria, seandainya dilakukan dirumah calon pengantin wanita, maka dikatakan ‘kawin numpang’. Akan tetapi sesuai dengan perkembangan masa, kini upacara akad nikah berlangsung dikediaman mempelai wanita. Sesuai tradisi bila akad nikah sebelum acara Muggah, maka utusan pihak wanita terlebih dahulu ngantarke keris ke kediaman pihak pria.

Ngocek Bawang
Ngocek Bawang diistilahkan untuk melakukan persiapan awal dalam menghadapi hari munggah. Pemasangan tapup, persiapan bumbu-bumbu masak dan lain sebagainya disiapkan pada hari ini. Ngocek bawang kecik ini dilakukan dua hari sebelum acara munggah.
Selanjutnya pada esok harinya sehari sebelum munggah, dilakukan acara ngocek bawang besak. Seluruh persiapan berat dan perapian segala persiapan yang belum selesai dikerjakan pada waktu ini. Daging, ayam dan lain sebagainya disiapkan saat munggah, mengundang (ngulemi) ke rumah besannya, dan si pihak yang di ulemi pada masa ngocek bawang wajib datang, biasannya pada masa ini diutus dua oarang yaitu wanita dan pria.

Munggah
Prosesi ini merupakan puncak rangkaian acara perkawinan adat Palembang. Hari munggah biasanya ditetapkan hari libur diantara sesudah hari raya Idul Fitri & Idul Adha. Pada pagi hari sebelum acara, dari pihak mempelai wanita datang ke pihak laki-laki (ngulemi) dengan mengutus satu pasang lelaki & wanita.
Selain melibatkan banyak pihak keluarga kedua mempelai, juga dihadiri para tamu undangan. Munggah bermakna agar kedua pengantin menjalani hidup berumah tangga selalu seimbang atau timbang rasa, serasi dan damai.
Pelaksanaan Munggah dilakukan dirumah kediaman keluarga pengantin wanita. Sebelum prosesi Munggah dimulai terlebih dahulu dibentuk formasi dari rombongan pria yang akan menuju kerumah kediaman keluarga pengantin wanita. Sebelum prosesi Munggah dimulai terlebih dahulu dibentuk formasi yang akan berangkat menuju rumah pengatin wanita. Formasi itu adalah :

Kumpulan (grup) Rudat dan Kuntau

Pengatin Pria diapit oleh kedua orang tua, dua orang pembawa tombak, seorang pembawa payung pengantin, didampingi juru bicara, pembawa bunga langsih dan pembawa ponjen adat serta pembawa hiasan adat dan gegawan.

Nyanjoi
Nyanjoi dilakukan disaat malam sesudah munggah dan sesudah nyemputi. Biasannya nyanjoi dilakukan dua kali, yaitu malam pertama yang datang nyanjoi rombongan muda-mudi, malam kedua orang tua-tua. Demikian juga pada masa sesudah nyemputi oleh pihak besan lelaki.

Nyemputi
Dua hari sesudah munggah biasannya dilakukan acara nyemputi. Pihak pengantin lelaki datang dengan rombongan menjemputi pengantin untuk berkunjung ketempat mereka, sedangkan dari pihak wanita sudah siap rombongan untuk nganter ke pengantin. Pada masa nyemputi penganten ini di rumah pengantin lelaki sudah disiapkan acara keramaian (perayaan). Perayaan yang dilakukan untuk wanita-wanita pengantin ini baru dilakukan pada tahun 1960-an, sedangkan sebelumnya tidak ada.

Ngater Penganten
Pada masa nganter penganten oleh pihak besan lelaki ini, di rumah besan wanita sudah disiapkan acara mandi simburan. Mandi simburan ini dilakukan untuk menyambut malam perkenalan antara pengantin lelaki dengan pengantin wanita. Malam perkenalan ini merupakan selesainya tugas dari tunggu jeru yaitu wanita yang ditugaskan untuk mengatur dan memberikan petunjuk cara melaksanakan acara demi acara disaat pelaksanaan perkawinan. Wanita tunggu jeru ini dapat berfunsi sebagai penanggal atau penjaga keselamatan berlangsungnya seluruh acara perkawinan yang kemungkinan akan ada gangguan dari orang yang tak senang.

Dalam upacara perkawinan adat Palembang, peran kaum wanita sangat domonan, karena hampirseluruh kegiatan acara demi acara diatur dan dilaksanakan oleh mereka. Pihak lelaki hanya menyiapkan “ponjen uang”. Acara yang dilaksanakan oleh pihak lelaki hanya cara perkawinan dan acara beratib yaitu acara syukuran disaat seluruh upacara perkawinan sudah diselesaikan.

Sumber Asli

About these ads

Tentang Batavusqu

in 1968 when a figure sprang Warning Isro Mi'raj this man.
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , . Tandai permalink.

40 Balasan ke Adat Palembang dalam Perkawinan

  1. Assalamu’alaikum,
    Bapak menulis tentang berbagai macam perkawinan adat dan lengkap sekali tulisannya, ini akan sangat membantu memperkenalkan dan juga melestarikan adat kebudayaan kita, bagus Pak. (Dewi Yana)

    • zipoer7 berkata:

      Terima kasih, mbak Dewi, Insya Allah bukan hanya adat nikah saja yang akan saya tebar tetapi keunikan-keunikan bumi Indonesia nantinya akan ikut saya tebar, sering sering mampir untuk memberi masukan bagi saya yang baru ini
      Salam Takjim

    • pernikahan adat berkata:

      Seperti anda, Saya sangat tertarik dengan adat istiadat kita, oleh karena itu saya membahas tentang budaya pernikahan adat yang ada di Indonesia, mohon masukan dan dukungannya ya makasih :)

  2. eidariesky berkata:

    Sangat sakral… nice posting

  3. meonkk berkata:

    apakah termasuk budaya yg harus di patenkan mas

  4. zipoer7 berkata:

    Salam
    Semua budaya sedikit demi sedikit memang harus dipatenkan (bukan dibunuh bahasa Madura ya) tergantung masyarakat dan pemdaNya
    salam

  5. Nusantaraku berkata:

    Luar biasa mengumpulkan budaya berbagai daerah di Indonesia.

  6. zipoer7 berkata:

    Insya Allah terima kasih suportnya om

  7. dedenia72 berkata:

    subhanallah..
    jika setiap suku atau propinsi punya satu adat yang berbeda berarti ada 33 (saya lupa jumlah propinsi Indonesia) adat perkawinan..
    belum lagi kalo setiap sub suku juga punya adat yang berbeda..seperti Batak karo beda dengan Batak Toba..banyak sekali…kaya sekali Indonesia ini dengan budaya..
    salam rimba raya lestari..

  8. zipoer7 berkata:

    Betul bu negeri khatulistiwa saja ada puluhan suku yang berbeda, 33 yang tercatat ratusan tersirat

  9. wah, Indoonesia emang negeri yang sangat kaya, yak..?
    keep posting yang seperti ini kang, biar ngga diklaim sama malingsia…

    dukung nih..,

    salam

  10. Pakde Cholik berkata:

    Negara kita memiliki adat-istiadat dan budaya yang indah dan megah, mulai kita lahir sudah ada acara adat, demikian pula ketika sudah meninggal dunia.amun yang paling panjang acaranya adalah adat pernikahan.
    Saya di Palembang 6 tahun jadi sering menghadiri acara pernikahan mereka.
    Terima kasih sudah mengingatkan budaya adiluhung ini mas.
    Maju terus dengan artikel menraik dan bermanfaat lainny.
    Salam hangat dari Surabaya

  11. endang kusman 2 berkata:

    Met malam dik Zipoer..

    Kita sebagai warga negara Indonesia harus berbangga diri memiliki tanah air yang kaya seni dan budaya.

    Ini kunjungan pertama
    dari blog om endang yang baru

  12. nengthree berkata:

    Pernikahan yah..
    Hmm..

  13. Pambudi Nugroho berkata:

    Aku usul mas, setiap bloger wajib pasang banner budaya dari daerah masing2. supaya melalui promosi di blog kita, pariwisata kita tambah maju…piye ?

    Salam sejahtera selalu

  14. Yep berkata:

    He..he….postingannya mantab-mantab nih
    Sangat langka :)

  15. Batavusqu berkata:

    Terima Kasih Ada Apa YEP yang selalu mengangkat sesuatu yang langka, dan lucu serta lugu
    salam

  16. betari surati berkata:

    aku emg tertarik aja ama adat palembang ya krn pcr aku jg org palembang, tulisan tng adat palembang bnt aku tng adat pacar ku moga bs benar2 meriet deh amin………… aja deh

  17. rastantio berkata:

    saya mo nanya, kalo saya sebagai pihak laki2 berasal dr jawa, sedangkan pihak wanita berasal dari palembang.
    yang harus saya persiapkan untuk acar lamaran hingga selesai itu apa??
    tolong kasih saran dan masukan buat saya.
    terima kasih.

    nb. bisa dikirim ke alamat email saya.

  18. sitipalembang berkata:

    salam
    siti copas ya , terima kasih

  19. sitipalembang berkata:

    kalau di izinkan segera siti publish tulisan ini diblog kompasiana.
    tolong dijawab dengan segera ke mail ku.
    Terima kasih

  20. nal berkata:

    Untuk dunia yang sekarang ini serba praktis. Apa masih mungkin prosesi yang begitu panjang dan melibatkan banyak orang bisa dijalankan dengan lengkap?

  21. Uchi berkata:

    Asslmualaikum,,
    saya mau tanya. kalau di adat pernikahan jawa biasanya kan ada tradisi tolak hujan dan pingitan bagi calon pengantin, apakah di sumsel juga ada tradisi sperti itu??????? trus biasa disebut apa???

    mhn jwbnnya y….
    TERIMA KASIH

  22. Aam berkata:

    Assalammu’alaikum Wr Wb, Alhamdulillah Mang postingnyo luar biaso, insya Allah paca bermanfaat buat wong banyak, semoga Mang ce selalu diberikan kesehatan, rezeki banyak dan barokah. Amiin..Amin Yaa Robbal Alamin, minta izin joga biar paca share samo yang laen yoo Mang.

  23. poetri berkata:

    pak, saya sudah membaca apa yang bapak tuliskan diatas. sekarang kan banyak orang-orang yang melaksanakan resepsi pernikahan yang biasa-biasa saja, atau tidak mengginakan adat palembang. insyaallah pak, saya ingin menggunakan adat palembang dalam resepsi pernikahan saya. dan tulisan bapak sangat membantu sekali.

  24. yyansrianto berkata:

    elok nian adat daerah kito

  25. suwandi berkata:

    saya sangat setuju ditampilkan tata cara upacara adat perkawinan Palembang. di Palembang banyak suku yang bertempat di situ kalau bisa mohon ditampilkan upacara adat perkawinan antara orang Palembang dengan orang Palembang;orang Palembang dengan orang Komring; orang Jawa dengan orang Palembang; orang Palembang dengan orang Cina dengan ditampilkannya adat perkawinan tersebut dapat menunjukkan kekayaan budaya yang ada di Palembang atas ditampilkan adat dan tata cara perkawinan tersebut saya ucapkan terima kasih.

  26. Rhiny ZTeward berkata:

    jadi bingung nih :( gimana klo adat pernikahannya berbeda yah misalnya Makassar dan Palembang
    aduhhhhh sangat2 berbeda….

    pliss solusinya bang ^.^

  27. yenz berkata:

    adik saya lelaki (sunda) mau nikah dengan org palembang. kalo adat palembang apa biaya semuanya ditanggung dari pihak lelaki?
    dan kata calon adik saya klo nikahin dya ada syaratnya yaitu harus ngasih emas 5 suku.
    1suku=min 6,5gram.dan 2 kain songket.
    apa benaar adat palembang ada syarat kaya bgt?
    dan bagaimana klo nikahnya dengan org yg g mampu apa bisa melangar syarat it?
    tolong penjelasannya.terima kasih

  28. yunita myumyun berkata:

    aslmkm
    pak,
    mnurut bpak apakah adat2 yang ada di sumsel sekarang ini msh tetap ada atau ada yg sudah atu yg mulai luntur??
    mhon blsannya…
    mksh

  29. tommyherutomo berkata:

    Sangat bermanfaat penjelasannya, akan lebih menarik lagi bila disertai foto2 kegiatan2 dan benda2 yang disebut dalam tulisan diatas.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s