Pernikahan Adat Masyarakat Lampung 1

Minggu, 27 September 2009

Pemirsa Batavusqu yang berbudi

Postingan pernikahan adat pada masyarakat provinsi Lampung terjeda menjadi 2 tayangan kerena ada adat Pepadun dan adat Saibathin. Awal postingan saya sajikan untuk Adat  Pepadun dengan tanpa membedakan derajat masyarakat di kota Lampung.

lampung pepadunMasyarakat Lampung dalam bentuknya yang asli memiliki struktur hukum adat tersendiri. Bentuk masyarakat hukum adat tersebut berbeda antara kelompok masyarakat yang satu dengan yang lainnya, kelompok-kelompok tersebut menyebar diberbagai tempat di daerah lain di Lampung. Perbedaan kelompok tersebut tercermin dalam upacara adat dalam perkawinan tradisional.

Tahap Perkenalan

Bila seorang jejaka merasa tertarik pada seorang gadis maka si jejaka tersebut akan mencari cara agar dapat mendekati si gadis. Pada saat acara adatlah di jejaka tersebut bersama keluarganya melakukan nyubuk, yakni menilai apakah gadis tersebut memang sesuai dengan pilihannya. Dengan cara mengintip di balik sarung yang dipakai, apabila gadis tersebut berkenan di hati si jejaka maka keluarganya langsung menanyakan bibit, bobot, dan bebet si gadis atau disebut dengan beulih-ulihan.

Tahap Bekado

Tahap bekado yakni, keluarga si jejaka mengirim utusan untuk mendatangi rumah si gadis dengan membawa berbagai macam barang atau bahan makanan sebagai rangkaian proses pendekatan. Bila pemperian itu diterima dengan baik maka tahapan selanjutnya si gadis sudah dapat dikatakan sebagai calon pengantin wanita dan akan segera dilamar.

Melamar
Setelah keduanya saling menyukai maka pihak orangtua pria datang untuk melamar yang disebut juga tahap nunang. Pada saat ini pihak mempelai pria juga membawa oleh-oleh berupa uang, dodol, dan sekapur sirih. Setelah lamaran diterima maka menjelang hari berikutnya rombongan pihak pria tersebut akan datang lagi untuk mengadakan nyeurik atau mengikat. Dewasa ini bisa dikatakan bahwa keduanya telah bertunangan. Sebagai tanda bahwa si gadis telah bertunangan, maka sang ibu mengikat badan anaknya dengan benang. Kemudian selang beberapa hari maka akan diadakan manjau yakni merundingkan hari H. Maka sesuai dengan perundingan sebelumnya, apakah perkawinan akan diadakan dengan cara terang-terangan atau begawi. Begawi adalah pesta adat Lampung pepadun, dengan memotong kerbau di rumah pihak calon pengantin pria atau bisa juga di rumah calon pengantin wanita. Pesta adat ini biasa diadakan oleh kaum bangsawan, disebut dengan munaek suntan berpangkat tinggi dalam adat.

Upacara Temu Pengantin

Selanjutnya keluarga pihak wanita mengajak calon mempelai wanita ke rumah tunangannya untuk dipertemukan dengan calon mempelai pria. Kemudian juru bicara rombongan pihak pria menyatakan maksud kedatangan mereka ke rumah mempelai wanita. Pada saat pertemuan itu akan diadakan netak aping, kedua belah pihak rombongan memegang sepakat maka kain tersebut dipotong/dibelah tengahnya sebagai pemecah hambatan. Setelah itu pengantin wanita menuju rumah pengantin pria, sesampai di rumah pengantin pria lalu disambut dengan tabuhan talo balak dengan irama gembira dan tembakan meriam. Di depan rumah mempelai kedua orangtua dan kerabat terdekat mempelai pria telah menanti untuk menyambut kedatangan kedua mempelai, seorang ibu langsung menaburkan beras yang dicampur kunyit dan uang logam.

Di depan tangga rumah telah disediakan pasu terbuat dari tanah liat yang beralaskan talam kuningan berisi air dan anak pisang batu dan kembang titeu. Kembang titeu ini terdiri dari daun sosor bebek dan kembang sebanyak tujuh rupa. Lalu pengantin wanita mencelupkan kedua kakinya ke dalam pasu yang dimulai dengan kaki kanan lalu kaki kirinya, setelah itu mempelai wanita dibantu mertua wanita bersama mempelai pria naik ke rumah lalu menuju ruang tengah.

Kemudian didudukkan di atas kasur usut yang tengah digelar di depan appai pereppu yakni kamar tidur yang paling besar, biasanya kamar ini diperuntukkan bagi anak yang tertua. Kedua mempelai didudukkan dengan bersila dengan posisi lutut kiri mempelai pria menindih lutut mempelai wanita, bermakna agar kelak mempelai wanita selalu patuh dan setia terhadap suami kelak. Kemudian siger mempelai wanita dibuka dan diganti dengan handuk liling, dilanjutkan dengan acara mosok dan makkuhken inai adek yakni pemberian gelar adat.

Pada saat makkuhken inai adek, istri dari kepala adat memberikan gelar dengan menekan telunjuk tangan kiri di atas dahi kedua mempelai kemudian mengetuk kunci rumah di dahi kedua mempelai sebanyak tujuh kali hitungan lalu menyebutkan gelar apa yang didapatkan kedua mempelai. Acara mosok dan makkuhken inai adek dilakukan oleh ibu atau nenek mempelai pria. Kemudian mempelai pria membuka kalung yang dipakai oleh mempelai wanita lalu dipakaikan pada adik perempuannya agar kelak dimudahkan jodohnya. Kemudian kedua mempelai bangun lalu menebarkan kacang goreng dan permen pada gadis-gadis yang hadir menyaksikan acara tersebut. Seluruh gadis-gadis yang hadir bersama-sama merebut kacang dan permen serta memakannya dengan maksud agar cepat mendapatkan jodoh.

Upacara Pernikahan

Upacara pernikahan diadakan di depan penghulu yang dilanjutkan dengan pesta pernikahan di rumah mempelai pria. Malam harinya keluarga mengadakan pesta menari antara bujang dan gadis yang disebut upacara cangget. Pesta ini berakhir menjelang subuh dengan nedio, yakni menyanyi bersama dan bersahutan pantun antara bujang dan gadis. Esok harinya kedua mempelai melanjutkan upacara dengan pepadon, menaiki semacam tahta hingga 21 tingkat dan untuk setiap tingkat yang mereka naiki keluarga diharuskan menyembilih seekor kerbau. Setelah upacara pepadon usai, kedua pengantin diarak bersama-sama keliling kampung.

About these ads

Tentang Batavusqu

in 1968 when a figure sprang Warning Isro Mi'raj this man.
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , , . Tandai permalink.

42 Balasan ke Pernikahan Adat Masyarakat Lampung 1

  1. alamendah berkata:

    (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!

  2. alamendah berkata:

    Penasaran denghan tahap perkenalan dimana sang jejaka melakukan nyubuk dengan cara mengintip dibalik sarung.
    Bisa gak didiskripsikan pelaksanaannya. Sekalian juga filosofi yang terkandung di dalamnya. Kenapa meski pakai sarung.

  3. ruanghatiberbagi berkata:

    wah jadi kepikirin pengen jadi penganten lagi kalo begini :)

  4. mandor tempe berkata:

    begitu banyak kiasan-kiasan dalam pernikahan adat lampung itu, makin kaya saja khasanah nusantara

  5. dyah suminar berkata:

    bunda membaca postingan adat pernikahan,Lampung,dll…sangat bangga. indonesia demikian kaya ya…
    pastinya kita yang harus pandai merawat dan menjaga serta melestarikan..
    postingan yang sangat bagus…

  6. yusupman berkata:

    Pengantin dan bajunya bagus-bagus ya pak,..jadi pengen tukang rental baju2 pengantin nich..

  7. XP2 Scout berkata:

    Pak mengingat upacara seperti itu pasti biayanya mahal ya. Apa sekarang orang Lampung juga masih melaksanakan upacara pernikahan seperti itu ya Pak? Mungkin ada upacara adat yang lebih simpel jadi biayanya gak mahal. Tapi kayaknya gak bisa ya Pak? Wih nanya sendiri dijawab sendiri ha.. ha.. ha… Maaf Pak bercanda!

    Salam XP2 Scout.

    • Batavusqu berkata:

      Terima kasih pak “Mahal”. Ngga mahal ko pak kata tukang riasnya bisa nego

    • Saat ini bisa dibuat simpel kok. Acara intinya dibuat tidak terlalu panjang/ada ritual yg tidak dilaksanakan, dengan pertimbangan waktu dan dana. Biasanya bisa lebih dari sepuluh hari bisa dibuat tujuh hari sampai bisa cuma 3 hari.
      Tergantung pembicaraan dan keinginan kedua belah pihak.

  8. dedekusn berkata:

    SALAM TAKJIM……
    SEMALAT MALAM…..
    ASSALAMU’ALAIKUM…..
    ………………………….

  9. Iksa berkata:

    Mantap ini … adat asli lampung … adakah perbedaan setelah lebih banyak transmigran daripada penduduk asli?

  10. Siti Fatimah Ahmad berkata:

    Assalaamu’alaikum

    Indah sungguh persalinan pakaian pengantinnya. Ternyata info yang diutarakan oleh saudara di ruang ilmu ini berhubung dengan budaya pelbagai bangsa dan suku kaum juga adat istiadat mereka dapat menambah ilmu dan pengetahuan saya. sangat menarik sekali. lagi indah jika dapat melihat sendiri dan merasai suasana majlis-majlis tersebut. Salam mesra dari Bangi, Selangor.

  11. sedjatee berkata:

    om ini suka ganti nama, jadi bingung,…. tapi gimana juga, isi blognya masih seputar perkawinan… hehehe… salam kawin… maap lahir batin…

    sedj

  12. KangBoed berkata:

    Sebulan sudah kita jalani Ramadhan bersama
    Malam penghujung hari yang indah ini
    Genderang Perang sudah di tabuh.
    Pekik Kemenangan dikumandangkan
    Alunan Nada Pengagungan dinyanyikan
    Suara Riang Gembira berkeliling kota
    Ramadhan dengan segala perniknya telah kita lewati bersama
    “Demi Masa sesungguhnya manusia itu merugi”
    Mudah mudahan Jerit kemenangan ada dalam diri kita semua
    Sebab tiadalah semua ini kecuali kembali kepada Fitrah Diri
    Mari bersama kita saling mensucikan diri menuju Illahi Robby
    Membersihkan diri melangkah menemukan diri sebenar diri
    Mulai menghampiri DIA tulus ikhlas karena CINTA
    Meraih keselarasan diri dalam Ketenangan Jiwa
    Bebenah dan jadikan momentum kemenangan ini
    Menjadi Manusia seutuhnya meliputi lahir bathin
    Dahulu datang putih suci bersih
    Mudah mudahan kembali suci putih bersih
    Tiada kata yang terungkap lagi
    Mari kita bersama menyambut hari yang FITRI
    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H
    Taqoba lallahu minnaa wa minkum
    Shiyamanaa wa shiyamakum
    Minal ‘aidin wal faizin
    Mohon maaf lahir dan batin
    Dari :
    ” Kang Boed Sekeluarga “
    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang
    ‘tuk Sahabat Sahabatkuku terchayaaaaaaaank
    I Love U fuuulllllllllllllllllllllllllllll

    • zipoer7 berkata:

      Wuih puisi yang menceritakan perjalanan ramadhan.. hingga Syawal.. diakhiri Selamat Hari Raya Idul FITRI Minal Aidin WalFaidzin KangBoed, semoga tetap sayang om

  13. KangBoed berkata:

    HADIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIRRRRRRRRRRRRRR.. menyapa sahabatku chayank.. baru keliling habis mudik..
    salam sayang

  14. putirenobaiak berkata:

    walau telat, aku mohon maaf lahir bathin ya mas..baru onlen nih…masih soal pengantin aja mas? hehe jadi mikir kawin fuih :P

  15. Ping balik: Ritual Ngaben di Bali « Batavusqu

  16. NOVIE berkata:

    jAdi pEngEn nIkAh dE…………….
    hE……….He………

  17. Rudra berkata:

    Pak, saya posting artikelnya di Seruit.com boleh ya? tentu saja blogger dan situs sumbernya akan saya cantumkan.

  18. diyan berkata:

    jd pengen meriddddddddddd
    nnneeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee

  19. UletKasur berkata:

    Nice artikel . . . Ijin Nyimak dulu :)

  20. putri hartami tjaya berkata:

    tahap perkenalan nya kok gak di jelsin secara rinci sih.. :(

  21. maulidinna08@gmail.com berkata:

    hehehehe seru dan unik . . . kaya kepengen hikshiks

  22. lulu berkata:

    Prosesi nikah seperti ini masih sering diadakan di lampung atau sudah mulai jarang?

  23. dewi berkata:

    Kalo pernikahannya mempelainya beda suku, yang laki lampung yang perempuan jawa itu gimana?
    apa bisa yang perempuan masuk suku lampng? gimana caranya :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s