Suku Gayo memiliki kerajaan yang berdiri sendiri dan dinamakan Kerajaan Linge. Dimana Kerajaan Linge ini dibangun pada tahun 416 H / 1025 M di Buntul Linge dengan raja pertamanya, Adi Genali atau yang dinamakan juga dengan Kik Betul, yang mempunyai empat orang putra yaitu Sibayak Linge, Empu Beru, Merah Johan, Merah Linge. Dimana Raja Linge I mewariskan sebilah pedang dan cincin permata kepada keturunannya. Dimana cincin permata itu berasal dari Sultan Peureulak Makhdum Berdaulat Mahmud Syah (tahun 1012 M -1038 M). Ketika Adi Genali membangun Kerajaan Linge bersama seorang perdana menteri Syeikh Sirajuddin yang bergelar Cik Serule.
Perkawinan “Juelen” merupakan model perkawinan yang agak unik dalam masyarakat Gayo, sebab mempelai wanita dianggap sudah dibeli dan disyaratkan mesti tinggal selamanya dalam lingkungan keluarga mempelai lelaki. Kata “juelen” secara harfiah berarti: “barang jual”. Artinya: dengan sudah ijab qabul, maka keluarga pengantin wanita secara hukum telah menjual anak perempuannya dan suami berkuasa dan bertanggung jawab penuh terhadap wanita yang sudah dibelinya. Inilah yang disebut: “Sinte berluwah” (“pengantin wanita dilepas”). Secara ekstrem digambarkan; “juelen bertanas mupinah urang” (“pengantin wanita dilepas: bertukar kampung, marga, suku dan belah.” Hubungan kekeluargaan antara pengantin wanita dengan keluarga asal menjadi renggang, walau tidak terputus sama sekali. Status wanita dalam perkawinan ini seperti budak yang sudah dibeli dan sebagai “koro jamu” (“Kerbau tamu”) dalam lingkungan masyarakat suaminya. Tidak ada hak sosial yang melekat dalam dirinya, selain mengabdi kepada suami/keluarga, membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Hak mengunjungi orang tua asal tidak lagi bebas, karena segalanya sudah bertukar kepada keluarga mempelai lelaki: kampung, marga, suku dan belah), kecuali: dalam hal-hal tertentu: keluarga meninggal dunia atau berkunjung di Hari Raya.
Konsekuensi logis dari perkawinan “juelen”, banyak kesalahan terjadi dalam menelusuri silsilah keluarga. Anak, keponakan dan cucu, banyak tidak tahu: dimana, berapa dan siapa nama saudara lelaki/perempuan Ayahnya atau Ibunya, nenek-kakek dan datunya. Lebih parah lagi ialah: dalam masyarakat Gayo didapati suatu kebiasaan yang negatif, yakni: sangat tabu menyoal siapa nama Ayah/Ibu, Kakek/nenek dan datu. Nama mereka pada umumnya baru bocor setelah meninggal, yang terpaksa menyebut nama asli. Aneh! Salah satu faktor penyebabnya ialah: jika pasangan suami/isteri mempunyai anak pertama bernama “Nikite”, maka otomatis Ayah dipanggil “Aman Nikite” dan Ibunya dipanggil “Inen Nikite”. Nama asli mereka hilang. Faktor lainnya mesti dilakukan penelitian.
Typelogi perkawinan “juelen” mirip dengan Adat perkawinan etnis Batak, dimana pengantin wanita yang menetap dalam lingkungan keluarga lelaki, selain marganya tidak lagi popular, marganya tidak berhak disandang oleh anak yang dilahirkannya. Maka perkawinan “juelen” mesti diadakan “Tanas” (pelepasan), yang sarat haru. Pengantin wanita tadi sadar bahwa: layar sudah dikembang mengarungi samudera yang bergelora, belum menjanjikan apa-apa dan menyimpan sejuta rahasia: bahagia dan selamat dalam bahtera rumah tangga ataukah kecewa, karam, terjungkal dan terpelanting didera badai.
Rahasia di sebalik semua inilah yang dilukiskan dalam “Sebuku” (ratapan “nanas”) pada detik-detik terakhir pelepasan. Deru yang menggebu larut dalam suara serak yang melengking, meretas semua kisah duka-lara lama menjelma dalam ayat-ayat (lirik) sastera yang sudah dikemas untuk dihempas dengan sejadi-jadinya. Biasanya, jauh hari sebelum aqad nikah, calon mempelai wanita sudah menghafal tentang ayat-ayat cinta dan kesenduan yang akan diperankan dalam tangisan terakhir (“Sebuku Tanas”), bahkan tidak mustahil melakukan gladi resik.
“Sebuku” tadi bercerita tentang: dunia baru yang penuh teka-teki dan asing, resah-gelisah, masa-masa indah remaja diluahkan lewat teks yang berbeda kepada: orang tua, famili dan sahabat qarib. Pengantin wanita ini akan mendekap rapat bahu “korban”nya dengan kain selendang panjang. Semakin deras derunya, semakin mencekam liriknya. Di antara ayat-ayat yang menyayat hati itu:
(maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
Perkawinan juelen tu sadis banget, ya? Masa manusia disamakan dengan barang…??
pertamaaaaaaaaaaaaaaxxxxxzz
Sama-sama pertama, begitulah juelen Salam
*lirik kanan*.. doooh hebat eeeeeeeuy..
Berkat bantuan KangBoed nih Makasih ya Kang
hmmm….unik ya
apa model perkawinan seperti msh dipertahankan sampai saat ini..??
masih bun
“Tidak ada hak sosial yang melekat dalam dirinya, selain mengabdi kepada suami/keluarga, membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Hak mengunjungi orang tua asal tidak lagi bebas, karena segalanya sudah bertukar kepada keluarga mempelai lelaki”
mengapa malah seperti dipenjara? apa dalam mayarakat yang sekarang masih benar-benar diterapkan hal ini?
di pedalaman Aceh Tengah, masih kok
Wah berarti ini precaution kalau mau kencan dengan pria-pria Gayo di Aceh Tengah. Bisa-bisa nanti disamakan macam barang jualan saja.. Apakah banyak dari mereka yang berpendidikan tinggi? Supaya mereka sadar bahwa marginalisasi perempuan itu sangat ketinggalan jaman.
Hasil reserch sebagian sudah bergeser girls
Mantap … ada macam-macam pilihan mau model mana …
Asal senang silahkan pakai om
sebuku, wih itu daerah yg kaya sebenarnya, sayang masyarakat lokal kurang bisa menikmati hasil alam disana
iya ya
Ya, setau saya Gayo adalah salah satu suku di Aceh Tengah, tetapi sangat berbeda dengan suku Aceh yang sering kita ketahui.
Begitu juga dengan bahasa, bentuk wajah, warna kulit dll nya, sangat berbeda
Ada-Apa- YEP
berbeda antara Aceh tengah dengan Aceh kota karena kultur budaya di Aceh kota sudah dipengaruhi dengan para pendatang
maksudnya gk kayak gitu jgn slh persepsi…..
bang terimakasih atas informasi dan tulisannya, apa bisa saya ambil dan copy tulisan abang atau apa abang mau buat tulisan sendiri tentang adat gayo? jika abang mau biar nanti saya muat di dalam majalah kami dan web kami abang bisa buka di http://www.jkma-aceh.org atau blog http://gayoaceh.wordpress.com
assalamualaikum,
salam kenal,
saya butuh gambar kain aceh gayo lues, untuk motif di undangan pernikahan kami.
apakah ada yang dapat membantu, kalu tidak salah gambarnya garis2 ya.InsyaALLOH pernikahan kami bulan depan di jawa.
mohon bantuannya jika da yang punya…
ditunggu khabar baiknya ya.bisa dihare di: sh_mayko@yahoo.com
syukron jazakalloh atas bantuannya..
wassalamualaikum
Mayko
Salam kenal
sminggu mnikah aq lgsg d bw k aceh tengah t4 klrga suami dan hmpr 1thn blm prnh kmbli lg mngunjungi org tua.stiap hr ht mmberontak dgn khdpn yg aq jlni.stlh bc tulisan ini bru aq tau kl aq mnjalani yg namany prnikahan ‘juelen’.pntas sj aq mrsa sprti pmbantu.trnyta mmg bgtu adany.aq jg trpksa mnahan krinduan akn org tuaq sndri.sdh rasany.skrg ini aq lg brjuang utk mmiliki rmh kontrakan sndri.aq g mw slmanya mnjlni yg namany prnikahan ‘juelen’.duh jd curhat.
moga pengabdiannya berbuahkan surga asalkan di jalani dengan ikhlash dan sabar…amien