Pernikahan Adat Masyarakat Gayo Aceh

Minggu, 4 Oktober 2009

Sahabat Batavusqu yang berbudaya..

Sesuai dengan penulisan sebelumnya pada hari ini penulis akan menyajikan postingan tentang pernikahan suku adat Gayo yang berada di Provinsi Aceh. Suku Gayo bukan bagian dari wilayah kekuasaan Sultan Iskandar Muda dari Kesultanan Aceh. suku Gayo adalah suku minoritas yang berbeda kebudayaannya dengan budaya suku Aceh.
uranggayo-berkerawangSuku Gayo memiliki kerajaan yang berdiri sendiri dan dinamakan Kerajaan Linge. Dimana Kerajaan Linge ini dibangun pada tahun 416 H / 1025 M di Buntul Linge dengan raja pertamanya, Adi Genali atau yang dinamakan juga dengan Kik Betul, yang mempunyai empat orang putra yaitu Sibayak Linge, Empu Beru, Merah Johan, Merah Linge. Dimana Raja Linge I mewariskan sebilah pedang dan cincin permata kepada keturunannya. Dimana cincin permata itu berasal dari Sultan Peureulak Makhdum Berdaulat Mahmud Syah (tahun 1012 M -1038 M). Ketika Adi Genali membangun Kerajaan Linge bersama seorang perdana menteri Syeikh Sirajuddin yang bergelar Cik Serule.
Suku Gayo atau urang (orang) Gayo adalah penduduk asli yang mendiami daerah Takengon, Linge, Bebesan, Pegasing, Bintang dll (Kabupaten Aceh Tengah), Redelong, Pondok Baru, Wih Pesam, Timang Gajah dll (Kabupaten Bener Meriah), Blangkejeren, Rikit, Terangun, Kuta Panjang dll (Kabupaten Gayo Lues), dan Serbejadi (Kabupaten Aceh Timur). Generasi lebih tua sering menyebut suku ini dengan sebutan Gayo Lut, Gayo Lues dan Gayo Serbejadi.

Dalam Adat perkawinan suku Gayo memiliki beberapa model berikut penulis copas dari serambinews.com.

Ada beberapa model perkawinan adat Gayo, seperti: “Angkap”, “Kuso-kini” dan “Juelen”. Perkawinan “Angkap” terjadi, jika satu keluarga tidak punyai keturunan anak lelaki yang berminat mendapat seorang menantu lelaki, maka keluarga tersebut meminang sang pemuda [umumnya lelaki berbudi baik dan ’alim]. Inilah yang dinamakan: “Angkap berperah, juelen berango” (Angkap dicari/diseleksi, Juelen diminta”. Menantu lelaki ini, disyaratkan supaya selamanya tinggal dalam lingkungan keluarga pengantin wanita dan dipandang sebagai pagar pelindung keluarga. Sang menantu mendapat harta waris dari keluarga isteri. Dalam konteks ini dikatakan: “Anak angkap penyapuni kubur kubah. Si muruang iosah Umah, siberukah iosah Ume” (Menantu lelaki penyapu kubah kuburan. Yang ada tempat tinggal beri rumah, yang ada lahan beri Sawah.”Perkawinan “Kuso-kini” termasuk perkawinan adat yang modern, yang meletakkan syarat bahwa, kedua mempelai (pasangan suami/isteri) bebas menentukan pilihan, dimana mereka akan tinggal menetap dan tidak membeda-bedakan kedudukan kedua orang tua masing-masing. Perkawinan model ini dipandang tolerance dan humanism, karena mengakui hak menentukan pilihan dan menempatkan derajat lelaki dan wanita sejajar dalam ukuran hukum Adat, hukum positif dan ketentuan syari‘ah. Itu sebabnya, model perkawinan “Kuso-kini” ini menjadi pilihan dari kebanyakan orang Gayo berbanding dengan model perkawinan lainnya, terutama bagi masyarakat yang menetap di kota-kota atau di perantauan.

 

Perkawinan “Juelen” merupakan model perkawinan yang agak unik dalam masyarakat Gayo, sebab mempelai wanita dianggap sudah dibeli dan disyaratkan mesti tinggal selamanya dalam lingkungan keluarga mempelai lelaki. Kata “juelen” secara harfiah berarti: “barang jual”. Artinya: dengan sudah ijab qabul, maka keluarga pengantin wanita secara hukum telah menjual anak perempuannya dan suami berkuasa dan bertanggung jawab penuh terhadap wanita yang sudah dibelinya. Inilah yang disebut: “Sinte berluwah” (“pengantin wanita dilepas”). Secara ekstrem digambarkan; “juelen bertanas mupinah urang” (“pengantin wanita dilepas: bertukar kampung, marga, suku dan belah.” Hubungan kekeluargaan antara pengantin wanita dengan keluarga asal menjadi renggang, walau tidak terputus sama sekali. Status wanita dalam perkawinan ini seperti budak yang sudah dibeli dan sebagai “koro jamu” (“Kerbau tamu”) dalam lingkungan masyarakat suaminya. Tidak ada hak sosial yang melekat dalam dirinya, selain mengabdi kepada suami/keluarga, membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Hak mengunjungi orang tua asal tidak lagi bebas, karena segalanya sudah bertukar kepada keluarga mempelai lelaki: kampung, marga, suku dan belah), kecuali: dalam hal-hal tertentu: keluarga meninggal dunia atau berkunjung di Hari Raya.

Konsekuensi logis dari perkawinan “juelen”, banyak kesalahan terjadi dalam menelusuri silsilah keluarga. Anak, keponakan dan cucu, banyak tidak tahu: dimana, berapa dan siapa nama saudara lelaki/perempuan Ayahnya atau Ibunya, nenek-kakek dan datunya. Lebih parah lagi ialah: dalam masyarakat Gayo didapati suatu kebiasaan yang negatif, yakni: sangat tabu menyoal siapa nama Ayah/Ibu, Kakek/nenek dan datu. Nama mereka pada umumnya baru bocor setelah meninggal, yang terpaksa menyebut nama asli. Aneh! Salah satu faktor penyebabnya ialah: jika pasangan suami/isteri mempunyai anak pertama bernama “Nikite”, maka otomatis Ayah dipanggil “Aman Nikite” dan Ibunya dipanggil “Inen Nikite”. Nama asli mereka hilang. Faktor lainnya mesti dilakukan penelitian.

Typelogi perkawinan “juelen” mirip dengan Adat perkawinan etnis Batak, dimana pengantin wanita yang menetap dalam lingkungan keluarga lelaki, selain marganya tidak lagi popular, marganya tidak berhak disandang oleh anak yang dilahirkannya. Maka perkawinan “juelen” mesti diadakan “Tanas” (pelepasan), yang sarat haru. Pengantin wanita tadi sadar bahwa: layar sudah dikembang mengarungi samudera yang bergelora, belum menjanjikan apa-apa dan menyimpan sejuta rahasia: bahagia dan selamat dalam bahtera rumah tangga ataukah kecewa, karam, terjungkal dan terpelanting didera badai.

Rahasia di sebalik semua inilah yang dilukiskan dalam “Sebuku” (ratapan “nanas”) pada detik-detik terakhir pelepasan. Deru yang menggebu larut dalam suara serak yang melengking, meretas semua kisah duka-lara lama menjelma dalam ayat-ayat (lirik) sastera yang sudah dikemas untuk dihempas dengan sejadi-jadinya. Biasanya, jauh hari sebelum aqad nikah, calon mempelai wanita sudah menghafal tentang ayat-ayat cinta dan kesenduan yang akan diperankan dalam tangisan terakhir (“Sebuku Tanas”), bahkan tidak mustahil melakukan gladi resik.

“Sebuku” tadi bercerita tentang: dunia baru yang penuh teka-teki dan asing, resah-gelisah, masa-masa indah remaja diluahkan lewat teks yang berbeda kepada: orang tua, famili dan sahabat qarib. Pengantin wanita ini akan mendekap rapat bahu “korban”nya dengan kain selendang panjang. Semakin deras derunya, semakin mencekam liriknya. Di antara ayat-ayat yang menyayat hati itu:

 

Saatnya datang menikmati mimpi indah, mungkin
Walau untuk itu harus berpisah
Dulu aku beselimut kasih sayangmu
Kini bertukar tangan
Layar sudah terkembang
Adakah angin jujur mengantar ku ke tujuan
Atau tersungkur dalam gelora ombak yang kejam
Denyit pintu pertanda aku datang, kini membisu
Aku sudah menjadi milik orang
Puaskah engkau dengan ketiadaan ku
Pulaskah tidur tanpa mimpi dan diri ku
Sukarnya mengusir resah
Ikutkah tanah ini mengusirku
Juga sungai yang mengalir tempatku mencuci
Rindu kawan bermain simbang sudah terhalang
“Surak Lawi” sudah terhadang
Turutkah pelangi melilit dan bintang bersembunyi
Membiarkan aku sendiri di dunia asing
Oooh, pembalut luka hati ketika kecil
Terpencil aku dari mereka
Terbukakah pintu jika kelak kuketuk
Berpaling karena disakiti?
Atau membiarkan ku remuk dalam ruang tak bercahaya
Oooh, bahagia
Bawalah aku menyeberang sungai bening
Yang mengalirkan ayat-ayat cinta buat selamanya

Akhirnya, terlepas dari pertimbangan apa pun juga, yang jelas: perkawinan “juelen” No; “Sebuku tanas” Yes! Biarlah air mata wanita Gayo menyirami dan menyuburkan bumi sastera Gayo. Kalaulah karena airmata itu membuat hatimu damai dan jiwamu merdeka. Lakukanlah.

Besok Halal Bihalal Komunitas Ontel Depok

 

 

[ Kembali ]

About these ads

Tentang Batavusqu

in 1968 when a figure sprang Warning Isro Mi'raj this man.
Tulisan ini dipublikasikan di Pernikahan dan tag , , , , , . Tandai permalink.

28 Balasan ke Pernikahan Adat Masyarakat Gayo Aceh

  1. alamendah berkata:

    (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Perkawinan juelen tu sadis banget, ya? Masa manusia disamakan dengan barang…??

    • KangBoed berkata:

      pertamaaaaaaaaaaaaaaxxxxxzz

    • rizki berkata:

      sebenarnya tidak seperti itu juga dalan praktisinya, itu hanyalah sample yang sedikit namun menghakimi yang banyak, dan juga tradisi seperti itu sudah sangat jarang dilakukan ataupun ditemui, dengan mulai banyaknya masyarakat pemuda gayo yang membuka cakrawalanya dan berpendidikan, terimakasih!

  2. zipoer7 berkata:

    Sama-sama pertama, begitulah juelen Salam

  3. KangBoed berkata:

    *lirik kanan*.. doooh hebat eeeeeeeuy..

  4. kejujurancinta berkata:

    hmmm….unik ya
    apa model perkawinan seperti msh dipertahankan sampai saat ini..??

  5. ikiakukok berkata:

    “Tidak ada hak sosial yang melekat dalam dirinya, selain mengabdi kepada suami/keluarga, membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Hak mengunjungi orang tua asal tidak lagi bebas, karena segalanya sudah bertukar kepada keluarga mempelai lelaki”

    mengapa malah seperti dipenjara? apa dalam mayarakat yang sekarang masih benar-benar diterapkan hal ini?

  6. Vicky Laurentina berkata:

    Wah berarti ini precaution kalau mau kencan dengan pria-pria Gayo di Aceh Tengah. Bisa-bisa nanti disamakan macam barang jualan saja.. Apakah banyak dari mereka yang berpendidikan tinggi? Supaya mereka sadar bahwa marginalisasi perempuan itu sangat ketinggalan jaman.

  7. Iksa berkata:

    Mantap … ada macam-macam pilihan mau model mana …

  8. ruanghatiberbagi berkata:

    sebuku, wih itu daerah yg kaya sebenarnya, sayang masyarakat lokal kurang bisa menikmati hasil alam disana

  9. Yep berkata:

    Ya, setau saya Gayo adalah salah satu suku di Aceh Tengah, tetapi sangat berbeda dengan suku Aceh yang sering kita ketahui.

    Begitu juga dengan bahasa, bentuk wajah, warna kulit dll nya, sangat berbeda :)

    • zipoer7 berkata:

      Ada-Apa- YEP
      berbeda antara Aceh tengah dengan Aceh kota karena kultur budaya di Aceh kota sudah dipengaruhi dengan para pendatang

    • rizki berkata:

      bukan hanya di aceh tengah saja, namun terlebih lagi, di kab gayo lues, aceh tenggara, benermeriah, dan sebagian aceh timur

  10. rina berkata:

    maksudnya gk kayak gitu jgn slh persepsi…..

  11. zulfikar arma berkata:

    bang terimakasih atas informasi dan tulisannya, apa bisa saya ambil dan copy tulisan abang atau apa abang mau buat tulisan sendiri tentang adat gayo? jika abang mau biar nanti saya muat di dalam majalah kami dan web kami abang bisa buka di http://www.jkma-aceh.org atau blog http://gayoaceh.wordpress.com

  12. Mayko berkata:

    assalamualaikum,
    salam kenal,
    saya butuh gambar kain aceh gayo lues, untuk motif di undangan pernikahan kami.
    apakah ada yang dapat membantu, kalu tidak salah gambarnya garis2 ya.InsyaALLOH pernikahan kami bulan depan di jawa.
    mohon bantuannya jika da yang punya…
    ditunggu khabar baiknya ya.bisa dihare di: sh_mayko@yahoo.com

    syukron jazakalloh atas bantuannya..

    wassalamualaikum

    Mayko

  13. wieni berkata:

    sminggu mnikah aq lgsg d bw k aceh tengah t4 klrga suami dan hmpr 1thn blm prnh kmbli lg mngunjungi org tua.stiap hr ht mmberontak dgn khdpn yg aq jlni.stlh bc tulisan ini bru aq tau kl aq mnjalani yg namany prnikahan ‘juelen’.pntas sj aq mrsa sprti pmbantu.trnyta mmg bgtu adany.aq jg trpksa mnahan krinduan akn org tuaq sndri.sdh rasany.skrg ini aq lg brjuang utk mmiliki rmh kontrakan sndri.aq g mw slmanya mnjlni yg namany prnikahan ‘juelen’.duh jd curhat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s