Kamis, 05 Nopember 2009
Salam Takzim, Horas Bah!!!
Sahabat dan pembaca Batavusqu yang berbahagia..
Untuk melengkapi postingan sebelumnya Pernikahan Adat Batak 1, perkenankan penulis menyampaikan salam kepada seluruh masyarakat tanah Batak khususnya dan kepada seluruh masyarakat Indonesia yang berkelahiran Batak. Bila ada kesalahan dalam penulisan prosesi pernikahan adat Batak, bukan semata-mata ingin merubah tradisi adat Batak dalam Hal Pernikahannya tetapi karena kesalahan dari penulis saat menyaji sehingga apapun kekeliruan dari diri penulis mohon dimaapkan dan Tetap HORAS!!
Setelah menyerahkan dengke/ikan oleh SW akan dilanjutkan makan bersama.
MAKAN BERSAMA
Sebelum bersantap makan, terlebih dahulu berdoa dari suhut Pria (SP) , karena pada dasarnya SP yang membawa makanan itu walaupun acara adatnya di tempat SW.
Untuk kata pengantar makan, PRP menyampaikan satu uppasa (ungkapan adat) dalam bahasa Batak seperti waktu menyerahkan tanda makanan adat:
Sitiktikma si gompa, golang golang pangarahutna
Tung, sosadiape napinatupa on, sai godangma pinasuna.
Ungkapan ini menggambarkan kerendahan hati yang memebawa makanan, dengan mengatakan walaupun makanan yang dihidangkan tidak seberapa (pada hal hewan yang diptong yang menjadi santapan adalah hewan lembu atau kerbau yang utuh), tetapi mengharapkan agar semua dapat menikmatinya serta membawa berkat. Kemudian PRP mempersilakan bersantap.
MEMBAGI JAMBAR/TANDA MAKANAN ADAT
Biasanya sebelum jambar dibagi, terlebih dahulu dirundingkan bagian-bagian mana yang diberikan SW kepada SP. Tetapi, yang dianut dalam acara adat yaitu Solup Batam, yang disebut dengan “JAMBAR MANGIHUT” dimana jambar sudah dibicarakan sebelumnya dan dalam acara adatnya (unjuk) SW tinggal memberikan bagian jambar untuk SP sebagai ulu ni dengke mulak. Selanjutnya masing masing suhut membagikannya kepada masing-masing fungsi dari pihaknya masing-masing saat makan sampai selesai dibagikan
MANAJALO TUMPAK (SUMBANGAN TANDA KASIH)
Arti harafiah tumpak adalah sumbangan bentuk uang, tetapi melihat keberadaan masing-masing dalam acara adat mungkin istilah yang lebih tepat adalah tanda kasih. Yang memberikan tumpak adalah undangan SUHUT PRIA, yang diantarkan ketempat SUHUT duduk dengan memasukkannya dalam baskom yang disediakan/ ditempatkan dihadapan SUHUT, sambil menyalami penganten dan SUHUT.
Setelah selesai santap makan, PRP meminta ijin kepada PRW agar mereke diberi waktu untuk menerima para undangan mereka untuk mengantarkan tumpak (tanda kasih).
Setelah PRW mempersilakan, PRP menyampai kan kepada dongan tubu, boru/bere dan undangannya bahwa SP sudah siap menerima kedatangan mereka untuk mengantar tumpak.
Setelah selesai PRP mengucapkan terima kasih atas pemberian tanda kasih dari para undangannya
ACARA ADAT
MEMPERSIAPKAN PERCAKAPAN:
- RPW menanyakan pihak paranak apakah sudah siap memulai percakapan, yang dijawab oleh SP, mereka sudah siap.
- Masing-masing PRW dan PRP menyampaikan kepada pihaknya dan hula-hula serta tulangnya bahwa percakapan adat akan dimulai, dan memohon kepada hula-hulanya agar berkenan memberi nasehat kepada mereka dalam percakapan adat nanti
MEMULAI PERCAKAPAN (PINGGAN PANUNGKUNAN)
Pinggan Panungkunan, adalah piring yang didalamnya ada beras, sirih, sepotong daging (tanggo-tanggo) dan uang 4 lembar. Piring dengan isinya ini adalah sarana dan simbol untuk memulai percakapan adat.
-
PRP meminta seorang borunya mengantar Pinggan Panungkunan itu kepada PRW
-
PRW, menyampaikan telah menerima Pinggan Panungkunan dengan menjelaskan apa arti semua isi yang ada dalam beras itu. Kemudian PRW mengambil 3 lembar uang itu, dan kemudian meminta salah seorang borunya untuk mengantar piring itu kembali kepada PRP
-
PRW membuka percakapan dengan memulainya dengan penjelasan makna dari tiap isi pinggan panungkunan (beras, sirih, daging dan uang), kemudian menanyakan makna tanda dan makanan adat yang sudah dibawa dan dihidangkan.
-
Akhir dari pembukaan percakapan ini, keluarga paranak mengatakan bahwa makanan dan minuman pertanda pengucapan syukur karena berada dalam keadaan sehat, dan tujuan paranak adalah menyerahkan kekurangan sinamot , dilanjutkan adat yang terkait dengan pernikahan anak mereka
PENYERAHAN PANGGOHI/KEKURANGAN SINAMOT
-
Dalam percakapan selanjutnya, setelah PRW meminta PRP menguraikan apa/berapa yang mau mereka serahkan , PRP memberi tahukan kekurangan sinamot yang akan mereka serahkan adalah sebsar Rp…Juta, menggenapi seluruh sinamot Rp….Juta.
-
Sebelum parboru mengiakan lebih dulu parboru meminta nasehat dari Hula-hula dan pendapat dari boru
-
Sesudah disetujui oleh parboru, selanjutnya penyerahan kekurangan sinamot kepada suhut parboru oleh paranak.
PENYERAHAN PANANDAION
Tujuan acara ini memperkenalkan keluarga pihak perempuan agar keluarga pihak pria mengenal siapa saja kerabat pihak perempuan sambil memberikan uang kepada yang bersangkutan. Secara simbolis, yang diberikan langsung hanya kepada 4 orang saja, yang disebut dengan patodoan atau “suhi ampang na opat” ( 4 kaki dudukan/pemikul bakul) yang merupakan simbol pilar jadinya acara adat itu. Dengan demikian biarpun hanya yang empat itu yang dikenal/menerima langsung, sudah mewakili menerima semuanya. Kepada yang lain diberikan dalam satu amplop saja yang nanti akan dibagikan parboru kepada yang bersangkutan.
PENYERAHAN TINTIN MARANGKUP
Diberikan kepada tulang /paman penganten pria (saudara laki ibu penganten pria). Yang menyerahkan adalah orang tua penganten perempuan berupa uang dari bagian sinamot itu. Secara tradisi penganten pria mengambil boru tulangnya untuk isterinya, sehingga yang menerima sinamot seharusnya tulangnya. Dengan diterimanya sebagian sinamot itu oleh Tulang Pengenten Pria yang disebut titin marangkup, maka Tulang Pria mengaku penganten wanita, isteri ponakannya ini, sudah dianggapnya sebagai boru/putrinya sendiri walaupun itu boru dari marga lain.
PENYERAHAN ULOS OLEH PIHAK PEREMPUAN
Dalam Adat Batak tradisi lama atau religi lama, ulos merupakan sarana penting bagi hula-hula, untuk menyatakan atau menyalurkan sahala atau berkatnya kepada borunya, disamping ikan, beras dan kata-kata berkat. Pada waktu pembuatannya ulos dianggap sudah mempunyai “kuasa”. Karena itu, pemberian ulos, baik yang memberi maupun yang menerimanya tidak sembarang orang , harus mempunyai alur tertentu, antara lain adalah dari Hula-hula kepada borunya, orang tua kepada anank-anaknya. Dengan pemahaman iman yang dianut sekarang, ulos tidak mempunyai nilai magis lagi sehingga ia sebagai simbol dalam pelaksaan acara adat.
Ujung dari ulos selalu banyak rambunya sehingga disebut “ulos siganjang/sigodang rambu”(Rambu, benang di ujung ulos yang dibiarkan terurai).
Ulos yang diberikan dan diterima dalam pesta adat ini cukup banyak (akan disebutkan berikutnya).
MANGUJUNGI ULAON (PENYIMPULAN ADAT)
Manggabei (kata-kata doa dan restu) dari pihak SW
Berupa kata-kata pengucapan syukur kepada Tuhan bahwa acara adat sudah terselenggara dengan baik:
- Ucapan terima kasih kepada dongan tubu dan hula-hulanya
- permintaan kepada Tuhan agar rumah tangga yang baru diberkati demikian juga orang tua pengenten dan saudara paranak yang lainnya
- Mangampu (ucapan terima kasih) dari pihak SP. Ucapan terima kasih kepada semua pihak baik kepada hula-hula SW maupun kepada SP atas terselenggaranya acara adat nagok ini.
- Mangolopkon (Mengamenkan) oleh Tua-tua/yang dituakan di Kampung itu. Kedua suhut paranak dan parboru, menyediakan piring yang diisi beras dan uang ( biasanya ratusan lembar pecahan Rp1.000 yang baru) kemudian diserahkan kepada Raja Huta yang mau mangolopkon Raja Huta berdiri sambil mengangkat piring yang berisi beras dan uang olop-olop itu. Dengan terlebih dahulu menyampaikan kata-kata ucapan Puji Syukur kepada Tuhan Karen kasih-Nya cara adat rampung dalam suasan dami (sonang so haribo-riboan) serta restu dan harapan kemudian diahiri , dengan mengucapkan : olop olop, olop olop, olop olop sambil menabur kan beras keatas dan kemudian membagikan uang olop-olop itu.
- Ditutup dengan doa / ucapan syukur
- Akhirnya acara adat ditutup dengan doa oleh Hamba Tuhan. Sesudah amin, sama-sama mengucapkan: horas ! horas ! horas !
- Bersalaman untuk pulang,, suhut na niambangan Batubara menyalami Suhut Tobing
PASKA PERNIKAHAN
Ada tradisi lama (tidak semua melakukannya) setelah acara adat nagok , ada lagi acara yang disebut paulak une/mebat dan maningkir tangga.
Acara ini dilakukan setelah penganten menjalani kehidupan sebagai suami isteri biasanya sesudah 7-14 hari (sesudah robo-roboan) yang sebenarnya tidak wajib lagi dan tidak ada kaitannya dengan acara keabsahan perkawinan adat na gok. Acara dimaksud adalah:
-
Paulak Une. Suami isteri dan utusan pihak pria dengan muda mudi (panaruhon) mengunjungi rumah mertu/orang tuanya dengan membawa lampet ( lampet dari tepung beras dibungkus 2 daun bersilang). Menurut tradisi jika pihak pria tidak berkenan dengan pernikahan itu (karena perilaku) atau sang wanita bukan boru ni raja lagi, si perempuan bisa ditinggalkan di rumah orang tua perempuan itu
-
Maningkir Tangga. (Arti harafiah “Menilik Tangga)
-
Pihak orang tua perempuan menjenguk rumah (tangga anaknya) yang biasanya masih satu rumah dengan orang tuanya.
CATATAN:
Sekarang ini ada yang melaksanakan acara paulak une dan maningkir tangga langsung setelah acara adat ditempat acara adat dilakukan, yang mereka namakan “Ulaon Sadari” . Acara ini sangat keliru, karena disamping tidak ada maknanya seperti dijelaskan diatas, tetapi juga menambah waktu dan biaya ( ikan & lampet dan makanan namargoar) dan terkesan main-main/ melecehkan makna adat itu.
Nah kepada para pembaca dan sahabat Batavusqu, bagi anda yang ingin menikah dengan putri batak, siap siap untuk melaksanakan adat seperti ini.
Kalau mau lihat Sumber Asli silahkan kemari yak
nice info…
boleh kopast ya..? utk keperluan pelajaran anak ku..
bila 1 masa di perlukan….
thx..
silaken …
Silahkan bunda, hehehe lagi tunggu caman (calon mantu) ya
Kang Zipoer tea…
pikiraneun …
Semangat melestarikan budaya nih. Mantap…
mantap betuullll
jadi ingat waktu aku dimedan, dah lupa adatnya sekarang jadi di ingetkan.tararengkyu ya kang
sami-sami kang
Sami sami juga
Salut buat sahabatku, selalu perduli dengan kebudayaan dan adat istiadat suku bangsa….
Om Zipoer gitu loh…
Horas….
gitu yack, lha klo misalnya pernikahannya antar Batak dgn suku lain (misal Jawa) gmn? mohon pencerahannya >.<
Wah, salut saya dg postingan yg kebanyakan ttg budaya, mas..
Smoga bisa membangiktkan semangat generasi muda kita utk memperthankan kebudayaan negeri ini
mari kita sama-sama mempertahankan kang
Ayo kita tahannnnzzx
wah lengkap bener mas, info yang mencerahkan..
Horas… jadi pengin nikah lagi dech… he he he
Bagi yang belum nikah, nikahlah dengan adat tradisional. Sambil melestarikan kebudayaan Indonesia. Selalu tetap jaya Pak Zipoer…!
Horas..Lae
raphita nadua hasian ,
Amanduda bayoni
Mari kita manortor….
horas
Lengkap deh pembahasannya.Indonesia memang kaya adat istiadatnya
yayaya.. Indenosia memang kaya
Hik…hik…kalau dipikir2 dan yg belum maried terus baca posting ini….stress kali ya bang mau kawin…..banyak banget syarat2nya ya ?
yg udah kawin makin streeess pengen kawin lagi … haha
Mampir sore…
sama donG
Berkunjung…
Ada topik adat dan budaya daerah nih.
Adat dan budaya perlu dilestarikan, jangan sampai diaku-aku sebagai milik orang.
Salam,
HALAMAN PUTIH
Selamat malam Zipoer, setiap suku mempunyai keunikan tersendiri, sepertinya adat batak sedikit rumit ya ? banyak pernak perniknya, mungkin memerlukan biaya banyak sehingga kesannya pemborosan. tapi bila sudah ketentuan adat kita harus ikuti sedangkan jika tidak dilaksanakan tabu inilah khasanah budaya Indonesia, yang kaya akan budaya serta unik, Mari kita nikmati keberagaman ini menjadi kekayaan khasanah bukan menjadi pendeskreditan perbedaan. Terima kasih masih setia posting tentang budaya, Sukses untuk Zipoer.
Regards, agnes sekar
Ping-balik: Pernikahan Adat Lubuk Jantan « Batavusqu
Bloghicking malam-malam.
Mengunjungi para sahabat,
siapa tahu ada suguhan hangat.
Maklum datangnya telat.
jangan didamprat.
Yang penting semangat!
Ok, sobat?
Ping-balik: Pernikahan Adat Karo « Batavusqu
alani aha do umbahen didok maningkir tangga