Tradisi Pernikahan Masyarakat Pulau Dewata

Selasa, 15 Desember 2009

Salam Takzim

Sahabat dan Pembaca Batavusqu yang berbahagia

Postingan terdahulu tentang adat pernikahan masyarakat Bali merupakan postingan yang kurang bersahaja karena termuat hal-hal yang belum terpahami oleh pembaca, sehingga pada postingan kali ini dengan mengambil judul yang mirip Batavusqu mencoba mereka ulang tetapi akan diberikan penyajian yang lebih baik. Ide tulisan disadur dari majalah perkawinan pulau dewata. Disaji bukan untuk dipuji namun disaji untuk referensi

Semua tahapan perkawinan adat Bali dilakukan di rumah pengantin pria. Baru setelah beberapa hari resmi menikah, pengantin wanita akan diantarkan kembali pulang ke rumahnya untuk meminta izin kepada orang tua agar bisa tinggal bersama suami.
Perkawinan bagi masyarakat Bali menjadi bagian dalam sebuah persembahan suci kepada Tuhan. Budaya Bali juga mengenal jenis perkawinan ngerorod / merangkat / ngelayas yang merupakan cerminan kebebasan wanita Bali untuk memilih dan menentukan jodohnya. Masyarakat Bali juga memberlakukan sistem patriarki, karena dalam pelaksanan upacara perkawinan semua biaya yang dikeluarkan untuk hajatan tersebut menjadi tanggung jawab pihak keluarga laki – laki.
Disamping itu, masyarakat Bali juga masih mengenal sistem kasta dimana mereka yang berasal dari kasta yang lebih tinggi biasanya akan tetap menjaga anak gadis atau anak jejakanya agar jangan sampai menikah denagnkasta yang lebih rendah.
Dalam pelaksanaan perkawinan, setelah hari baik, termasuk jam baik yang cocok dengan hari itu, ditentukan untuk melangsungkan tahapan upacara, kedua pihak keluarga yang punya hajat menikahkan anak mereka bersiap melakukan sejumlah serangkaian tahapan adat perkawinan. Berikut sejumlah tahapannya :

Upacara Ngekep

Sehari sebelum pengantin wanita dijemput oleh pengantin pria dan keluarganya, dirumah pengantin wanita diadakan upacara Ngekeb, dimana dia tidak diperbolehkan lagi keluar dari kamarnya. Acara ini tujuannya untuk mempersiapkan calon pengantin wanita dari kehidupan remaja menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga. Acara ini sekaligus memohon doa restu kepada Tuhan Yang Maha Esa agar bersedia menurunkan kebahagiaan kepada pasangan ini serta nantinya mereka diberikan anugerah berupa keturunan ( anak – anak ) yang baik.
Setelah itu pada sore harinya, seluruh tubuh calon pengantin wanita diberi luluran yang terbuat dari daun merak, kunyit, bunga kenanga, dan beras yang telah dihaluskan. Dipekarangan rumah juga disediakan wadah berisi air bunga untuk keperluan mandi calon pengantin. Selain itu air merang pun tersedia untuk keramas.
Sesudah acara mandi dan keramas selesai akan dilanjutkan dengan upacara di dalam kamar pengantin. Sebelumnya dalam kamar itu telah disediakan sesajen. Setelah masuk dalam kamar biasanya calon pengantin wanita tidak diperbolehkan lagi keluar dari kamar sampai calon suaminya datang menjemput. Pada saat acara penjemputan dilakukan, pengantin wanita seluruh tubuhnya mulai dari ujung kaki sampai kepalanya akan ditutupi dengan selembar kain kuning tipis. Hal ini sebagai perlambang bahwa pengantin wanita telah bersedia mengubur masa lalunya sebagai remaja dan kini telah siap menjalani kehidupan baru bersama pasangan hidupnya.
Selain berbagai kesibukan yang terjadi di rumah pengantin wanita, dikediaman pengantin pria pun tak kalah sibuk melakukan sejumlah persiapan untuk hajatan ini. Karena keseluruhan acara adat akan berlangsung di tempat ini maka mereka harus menyiapkan sejumlah penganan untuk para tamu yang hadir termasuk menyiapkan beberapa sesajen yang akan digunakan untuk upacara Mesegehagung, Mekala–kalaan, Mewidhiwidana, dan Mejauman/ Ngabe Tipat Bantai.

Pada hari yang telah ditentukan untuk upacara perkawinan, pengantin pria datang ke rumah pengantin wanita dengan memakai baju kebesaran pengantin. Untuk penjemputan ini telah disediakan dua buah tandu untuk kedua mempelai. Sesampainya rombongan pengantin pria di pekarangan rumah pengantin wanita, sambil duduk diatas tandu, pengantin pria akan diantar sampai ketempat pertemuan yang disediakan untuk upacara. Secara singkat, pihak pengantar akan mengadakan pembicaraan dengan keluarga pengantin wanita. Dengan disertai seorang Malat ( Penyanyi Tembang Bali ) mereka menuju gedong, tempat pengantin wanita berada untuk persiapan upacara selanjutnya, yaitu Mungkah Lawang ( Buka pintu ).

Pada puncak acara perkawinan, biasanya keluarga pengantin wanita tidak hadir mengikuti jalannya upacara tetapi mereka akan mengangkat seorang anggota keluarga untuk bisa hadir di kediaman pengantin pria guna menyaksikan ritual upacara pernikahan tersebut.

Mungkah Lawang ( Buka Pintu )

Seorang utusan yang telah ditentukan untuk melaksanakan upacara Mungkah Lawang bertugas mengetuk pintu kamar tempat pengantin wanita berada sebanyak tiga kali sambil diiringi oleh seorang Malat yang menyanyikan tembang Bali. Isi tembang tersebut adalah pesan yang mengatakan jika pengantin pria telah dating menjemput pengantin wanita dan memohon agar segera dibukakan pintu.
Tak lama berselang akan terdengar sahutan dari dalam kamar yang dilantunkan oleh seorang Malat utusan pihak wanita yang mengatakan kalau pengantin wanita juga telah siap untuk dijemput. Lalu pintu pun terbuka dan setelah pengantin pria mendapatkan izin dari keluarga pengantin wanita, maka dia diperbolehkan memasuki kamar dan menggendong pengantin wanita untuk kemudian di dudukkan ke atas tandu yang telah disediakan. Pada saat dijemput ini, pengantin wanita dalam keadan tertutup kain kuning dari kaki hingga kepalanya, lalu keduanya akan ditandu bergegas menuju rumah pengantin pria untuk melaksanakan upacara adat berikutnya.

Upacara Mesegehagung

Sesampainya kedua pengantin di pekarangan rumah pengantin pria, keduanya turun dari tandu untuk bersiap melakukan upacara Mesegehagung yang tak lain bermakna sebagai ungkapan selamat datang kepada pengantin wanita. Disamping itu, acara ini juga bertujuan untuk membersihkan badan keduanya dari kemungkinan adanya pengaruh negatif yang mungkin merasuki mereka selama dalam perjalanan tadi.

Setelah selesai, keduanya ditandu lagi menuju kamar pengantin. Kemudian ibu dari pengantin pria akan memasuki kamar tersebut dan mengatakan kepada pengantin wanita bahwa kain kuning yang menutupi tubuhnya akan segera dibuka untuk ditukarkan dengan uang kepeng satakan yang ditusuk dengan tali benang Bali dan biasanya berjumlah dua ratus kepeng.

Madengen–dengen

Upacara ini dilaksanakan dengan tujuan juga untuk membersihkan diri atau mensucikan kedua pengantin dari kemungkinan adanya energy negatif dalam diri keduanya. Upacara dipimpin oleh seorang pemangku adat atau Balian. Acara ini terkadang waktunya diadakan berbarengan dengan upacara Mesegehagung atau bisa juga pada keesokan harinya berdasarkan hari baik yang telah ditentukan pihak keluarga.

Mewidhi Widana

Dengan memekai baju kebesaran pengantin, kedua pengantin melaksanakan upacara Mewidhi Widana yang dipimpin oleh seorang Sulingguh atau Ida Peranda. Acara ini merupakan penyempurnaan untuk meningkatkan pembersihan diri pengantin yang telah dilakukan pada acara – acara sebelumnya. Selanjutnya, keduanya menuju merajan yaitu tempat pemujaan untuk berdoa mohon izin dan restu Yang Kuasa. Acara ini dipimpin oleh seorang pemangku merajan.

Mejauman Ngabe Tipat Bantal

Beberapa hari setelah pengantin resmi menjadi pasangan suami istri, maka pada hari yang telah disepakati kedua belah keluarga akan ikut mengantarkan kedua pengantin pulang ke rumah orang tua pengantin wanita untuk melakukan upacara Mejamuan. Acara ini dilakukan untuk memohon pamit kepada kedua orang tua serta sanak keluarga pengantin wanita, terutama kepada para leluhur, bahwa mulai saat itu pengantin wanita telah sah menjadi bagian dalam keluarga besar suaminya. Untuk upacara pamitan ini keluarga pengantin pria akan membawa sejumlah barang bawaan yang berisi berbagai panganan kue khas Bali seperti kue bantal, apem, alem, cerorot, kuskus, nagasari, kekupa, beras, gula, kopi, the, sirih pinang, bermacam buah–buahan serta lauk pauk khas bali.

Salam Takzim Batavusqu

About these ads

Tentang Batavusqu

in 1968 when a figure sprang Warning Isro Mi'raj this man.
Tulisan ini dipublikasikan di Pernikahan dan tag , , , , . Tandai permalink.

51 Balasan ke Tradisi Pernikahan Masyarakat Pulau Dewata

  1. sunarnosahlan berkata:

    salam takzim Kang Zip
    berkunjung di pagi hari menengok sahabat dengan berita barunya

  2. sunarnosahlan berkata:

    tengak-tengok belum ada teman, duduk manis menunggu yang lain

  3. yayat38 berkata:

    kelihatannya Bali sangat konsisten memegang teguh adat istiadat dan tatacara dalam segala acaranya termasuk berpakaian kayaknya ya Mas dibanding daerah lain :) Apalagi mungkin untuk acara pernikahan, terbayang adat tersebut selalu terlaksana secara detil. Saya hanya melihat sekilas saja di televisi. Pun ketika ke Bali nuansa balinya sangat terasa.
    Trims.
    Salam :)

    • batavusqu berkata:

      Iya kang saya juga kagum dengan budaya masyarakat bali, yang disetiap acaranya selalu menggunakan pakaian adat yang cukup bagus, Trima kasih kang sudah berbagi

  4. sedjatee berkata:

    tumben… yang pertama bukan Bung Alamendah… hehehe… btw, good info, Mister… tambah lengkap deh… tengkyu Mister…

    sedj

  5. sunarnosahlan berkata:

    secara live saya belum pernah tahu seperti apa adat perkawinan di bali ya baru tahu dari kang Zipoer di sini, terima kasih Kang infonya. Sekalian pamit pulang

  6. sangpelembuthati berkata:

    salam
    kunjungan perdana. semoga sehat selalu…

  7. peri01 berkata:

    salam :)
    kunjungan pertama

  8. guskar berkata:

    saya kok belum pernah menyaksikan langsung perkawinan adat bali, seringnya lihat perkawinan adat jawa dan sunda saja. baca postingan ini jd tahu bgmn adat perkawinan bali :)

  9. Abied berkata:

    Wah, adatnya sampe segitu banyaknya.
    Akang ingatkan saya tentang pernikahan ..
    Aiiii … :-)

  10. dasir berkata:

    Bali memang senantiasa memegang adatnya sehingga menjadi unnik dimata wisatawan. namun bagi yang tidak ingin rumit bolehkah adat itu ditinggalkan kang zipoer?

  11. Ruang Hati berkata:

    dapat bontot, telat datang nih.
    kalo prosesi terbayang ada tarian barongannya juga seru sekali ya..

  12. ceuceusovi berkata:

    wuih.. kayaknya prosesi perkawiannya seru ya.. dalam arti..nilai budaya yang ada didalamnya sangat indah.. yang pernah saya saksikan paling perkawinan adat sunda dan jawa..itupun membuat saya takzim.. kapan-kapan ingin menyaksikan pernikahan adat bali secara langsung.. semoga.. :)

  13. and1k berkata:

    nambah pengetahuan nih .

    salam kenal mas

  14. Abula berkata:

    terima kasih referensinya,,, lengkap mas..

    Salam Hangat Selalu

  15. Abula berkata:

    kunjungan malam, mengunjungi sahabat sebelum beranjak ke peraduan…
    apa kabar???

  16. yella berkata:

    bunga merak tu yang kek gimana ya? belum pernah ke bali nih, hehe

  17. zipoer7 berkata:

    Kalau di Jakarta namanya pohon Plamboyan, tetapi bila ingin lihat bunganya lihat disini ya

  18. Ping balik: Google dan ………… « CITRO MADURA

  19. Siti Fatimah Ahmad berkata:

    Assalaamu’alaikum

    Selamat Pagi Kang Zipoer7.. tadi lewat berkunjung ke rumah Kang CM yang jemput sarapan di rumahnya. lalu singgah ke rumah Kang Dangstars untuk menilik diri dengan huruf pada awal nama… setelah main-main dengan huruf, singgah pula di rumah Kang Zipoer7 untuk bersantap lagi dengan kenduri kendaranya yang enak-enak melalui menu yang dihidangkan dalam acara pernikahan di Bali.

    Mantap sekali penerangannya seperti Kang Zipoer7 sendiri mengalaminya.. he..he.. Bagus penulisan dan banyak membantu membentuk minda untuk mendalami budaya sesuatu tempat. Syabas buat Kang Zipoer7 atas usaha gigih ini. Kenyang dah Kang.. saya mahu berangkat balik dulu ya untuk rapikan diri kerana ada jemputan pula di rumah teman-teman yang lain.

    Salam hangat dan manis dari saya buat Kang Zipoer7 di tanah penuh adat yang indah ini. Salam mesra dari Bangi.

    .

  20. bundadontworry berkata:

    bunda blm pernah menyaksikan perkawinan adat bali, setelah membaca disini jadi tahu seperti apa upacara adat perkawinannya, sungguh info yg sangat menyenangkan dan menambah wawasan.
    terima kasih Mas telah berbagi.
    salam.

  21. dedekusn berkata:

    ini yg saya suka dari blog ini, lengkap bgt referensi adat nikahnya…

  22. bayu putra berkata:

    keren acar adatnya pak jadi ingat waktu nikah dulu tapi saya pake adat Dayak heee

  23. kakaakin berkata:

    Ya ampun, Pak… kasihan banget ya, mempelai prianya disuruh menggendong mempelai wanita. Kalo ndut gemana dong?? :)

  24. Ping balik: Ritual Ngaben di Bali « Batavusqu

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s