Tradisi lain Masyarakat Tengger

Salam Takzim

Sahabat dan Pembaca Batavusqu yang berbudaya

Tradisi lain masyarakat Tengger Jawa Timur yang pernah tersaji diarsip sebelumnya, merupakan tambahan nilai nilai budaya yang terselip dipenghujung bulan April ini, dan semoga menjadi sajian pelengkap bagi blog batavusqu.

Sejak Jaman Majapahit konon wilayah yang mereka huni adalah tempat suci, karena mereka dianggap abdi – abdi kerajaan Majapahit. Sampai saat ini mereka masih menganut agama hindu, Setahun sekali masyarakat tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada. Upacara ini berlokasi disebuah pura yang berada dibawah kaki gunung bromo. Dan setelah itu dilanjutkan kepuncak gunung Bromo. Upacara dilakukan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama dibulan Kasodo menurut penanggalan Jawa.

Legenda Asal Mula Upacara Kasada

Menurut ceritera, asal mula upacara Kasada terjadi beberapa abad yang lalu. Pada masa pemerintahan Dinasti Brawijaya dari Kerajaan Majapahit. Sang permaisuri dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Roro Anteng, setelah menjelang dewasa sang putri mendapat pasangan seorang pemuda dari kasta Brahma bernama Joko Seger.

Pada saat Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran dan bersamaan mulai menyebarnya agama Islam di Jawa, beberapa punggawa kerajaan dan beberapa kerabatnya memutuskan untuk pindah ke wilayah timur, dan sebagian menuju di kawasan Pegunungan Tengger termasuk pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger.

Pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger membangun pemukiman dan kemudian memerintah di kawasan Tengger dengan sebutan Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger, maksudnya “Penguasa Tengger Yang Budiman”. Nama Tengger diambil dari akhir suku kata nama Rara Anteng dan Jaka Seger.

Kata Tengger berarti juga Tenggering Budi Luhur atau pengenalan moral tinggi, simbol perdamaian abadi. Dari waktu ke waktu masyarakat Tengger hidup makmur dan damai, namun sang penguasa tidaklah merasa bahagia, karena setelah beberapa lama pasangan Rara Anteng dan Jaka Tengger berumahtangga belum juga dikaruniai keturunan. Kemudian diputuskanlah untuk naik ke puncak gunung Bromo untuk bersemedi dengan penuh kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa agar dikaruniai keturunan.

Tiba-tiba ada suara gaib yang mengatakan bahwa semedi mereka akan terkabul namun dengan syarat bila telah mendapatkan keturunan, anak yang bungsu harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo, Pasangan Roro Anteng dan Jaka Seger menyanggupinya dan kemudian didapatkannya 25 orang putra-putri, namun naluri orang tua tetaplah tidak tega bila kehilangan putra-putrinya. Pendek kata pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger ingkar janji, Dewa menjadi marah dengan mengancam akan menimpakan malapetaka, kemudian terjadilah prahara keadaan menjadi gelap gulita kawah Gunung Bromo menyemburkan api.

Kesuma anak bungsunya lenyap dari pandangan terjilat api dan masuk ke kawah Bromo, bersamaan hilangnya Kesuma terdengarlah suara gaib “Saudara-saudaraku yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orang tua kita dan Hyang Widi menyelamatkan kalian semua.

Hiduplah damai dan tenteram, sembahlah Hyang Widi. Aku ingatkan agar kalian setiap bulan Kasada pada hari ke-14 mengadakan sesaji kepada Hyang Widi di kawah Gunung Bromo. Kebiasaan ini diikuti secara turun temurun oleh masyarakat Tengger dan setiap tahun diadakan upacara Kasada di Poten lautan pasir dan kawah Gunung Bromo.

Pura Luhur Poten Gunung Bromo

Sebagai pemeluk agama Hindu Suku Tengger tidak seperti pemeluk agama Hindu pada umumnya, memiliki candi-candi sebagai tempat peribadatan, namun bila melakukan peribadatan bertempat di punden, danyang dan poten.

Poten merupakan sebidang lahan di lautan pasir sebagai tempat berlangsungnya upacara Kasada. Sebagai tempat pemujaan bagi masyarakat Tengger yang beragama Hindu, poten terdiri dari beberapa bangunan yang ditata dalam suatu susunan komposisi di pekarangan yang dibagi menjadi tiga Mandala/zone, yaitu :

MANDALA UTAMA

Disebut juga jeroan yaitu tempat pelaksanaan pemujaan persembahyangan yang terdiri dari:

Padma berfungsi sebagai bentuknya serupa candi yang dikembangkan lengkap dengan pepalihan. Fungsi utamanya tempat pemujaan Tuhan Yang Maha Esa, Padma tidak memakai atap yang terdiri dari bagian kaki yang disebut tepas, badan/batur dan kepala yang disebut sari dilengkapi dengan Bedawang, Nala, Garuda dan Angsa.

Bedawang Nalamelukiskan kura-kura raksasa mendukung padmasana, dibelit oleh seekor atau dua ekor naga, garuda dan angsa posisi terbang di belakang badan padma yang masing-masing menurut mitologi melukiskan keagungan bentuk dan fungsi padmasana.

Bangunan Sekepat (tiang empat) atau yang lebih besar letaknya di bagian sisi sehadapan dengan bangunan pemujaan/padmasana, menghadap ke timur atau sesuai dengan orientasi bangunan pemujaan dan terbuka keempat sisinya. Fungsinya untuk penyajian sarana upacara atau aktivitas serangkaian upacara. Bale Pawedan serta tempat dukun sewaktu melakukan pemujaan.

Kori Agung Candi Bentar, bentuknya mirip dengan tugu kepalanya memakai gelung mahkota segi empat atau segi banyak bertingkat-tingkat mengecil ke atas dengan bangunan bujur sangkar segi empat atau sisi banyak dengan sisi-sisi sekitar depa alit, depa madya atau depa agung. Tinggi bangunan dapat berkisar dari sebesar atau setinggi tugu sampai sekitar 100 meter memungkinkan pula dibuat lebih tinggi dengan memperhatikan keindahan proporsi candi bentar.

Untuk pintu masuk pekarangan pura dari jaba pura menuju mandala sisi/nista atau jaba tengah/mandala utama bisa berupa candi gelung atau kori agung dengan berbagai variasi hiasan. Untuk pintu masuk pekarangan pura dari jaba tengah/Mandala Madya ke jeroan Mandala Madya sesuai keindahan proporsi bentuk fungsi dan besarnya atap bertingkat-tingkat tiga sampai sebelas sesuai fungsinya. Untuk pintu masuk yang letaknya pada tembok penyengker/pembatas pekarangan pura.

MANDALA MADYA/ZONE TENGAH

Disebut juga jaba tengah, tempat persiapan dan pengiring upacara terdiri dari:

Kori Agung Candi Bentar, bentuknya serupa dengan tugu, kepalanya memakai gelung mahkota segi empat atau segi banyak bertingkat-tingkat mengecil ke atas dengan bangunan bujur sangkar, segi empat atau segi banyak dengan sisi-sisi sekitar satu depa alit, depa madya, depa agung.

Bale Kentongan, disebut bale kul-kul letaknya di sudut depan pekarangan pura, bentuknya susunan tepas, batur, sari dan atap penutup ruangan kul-kul/kentongan. Fungsinya untuk tempat kul-kul yang dibunyikan awal, akhir dan saat tertentu dari rangkaian upacara.

Bale Bengong, disebut juga Pewarengan suci letaknya diantara jaba tengah/mandala madya, mandala nista/jaba sisi. Bentuk bangunannya empat persegi atau memanjang deretan tiang dua-dua atau banyak luas bangunan untuk dapur. Fungsinya untuk mempersiapkan keperluan sajian upacara yang perlu dipersiapkan di pura yang umumnya jauh dari desa tempat pemukiman.

MANDALA NISTA/ZONE DEPAN

Disebut juga jaba sisi yaitu tempat peralihan dari luar ke dalam pura yang terdiri dari bangunan candi bentar/bangunan penunjang lainnya. Pekarangan pura dibatasi oleh tembok penyengker batas pekarangan pintu masuk di depan atau di jabaan tengah/sisi memakai candi bentar dan pintu masuk ke jeroan utama memakai Kori Agung.

Tembok penyengker candi bentar dan kori agung ada berbagai bentuk variasi dan kreasinya sesuai dengan keindahan arsitekturnya. Bangunan pura pada umumnya menghadap ke barat, memasuki pura menuju ke arah timur demikian pula pemujaan dan persembahyangan menghadap ke arah timur ke arah terbitnya matahari.

Komposisi masa-masa bangunan pura berjajar antara selatan atau selatan-selatan di sisi timur menghadap ke barat dan sebagian di sisi utara menghadap selatan.

Pada malam ke-14 Bulan Kasada Masyarakat Tengger penganut Agama Hindu (Budha Mahayana menurut Parisada Hindu Jawa Timur) berbondong-bondong menuju puncak Gunung Bromo, dengan membawa ongkek yang berisi sesaji dari berbagai hasil pertanian, ternak dan sebagainya, lalu dilemparkan ke kawah Gunung Bromo sebagai sesaji kepada Dewa Bromo yang dipercayainya bersemayam di Gunung Bromo. Upacara korban ini memohon agar masyarakat Tengger mendapatkan berkah dan diberi keselamatan oleh Yang Maha Kuasa.

Upacara Kasada diawali dengan pengukuhan sesepuh Tengger dan pementasan sendratari Rara Anteng Jaka Seger di panggung terbuka Desa Ngadisari. Kemudian tepat pada pukul 24.00 dini hari diadakan pelantikan dukun dan pemberkatan umat di poten lautan pasir Gunung Bromo. Dukun bagi masyarakat Tengger merupakan pemimpin umat dalam bidang keagamaan, yang biasanya memimpin upacara-upacara ritual perkawinan dll. Sebelum dilantik para dukun harus lulus ujian dengan cara menghafal dan membacakan mantra-mantra.

Setelah Upacara selesai, ongkek – ongkek yang berisi sesaji dibawa dari kaki gunung bromo ke atas kawah. Dan mereka melemparkan kedalam kawah, sebagai simbol pengorbanan yang dilakukan oleh nenek moyang mereka. Didalam kawah banyak terdapat pengemis dan penduduk tengger yang tinggal dipedalaman, mereka jauh jauh hari datang ke gunung bromo dan mendirikan tempat tinggal dikawah gunung Bromo dengan harapan mereka mendapatkan sesaji yang dilempar. Penduduk yang melempar sesaji berbagai macam buah buahan dan hasil ternak, mereka menganggapnya sebagai kaul atau terima kasih mereka terhadap tuhan atas hasil ternak dan pertanian yang melimpah. Aktivitas penduduk tengger pedalaman yang berada dikawah gunung bromo dapat kita lihat dari malam sampai siang hari Kasada Bromo.

Sumber : http://www.petra.ac.id, alambudaya.blogspot.com, java.uluwatu.org

Gambar : Indotoplist.com

Demikian tersaji bukan untuk dipuji apalagi dihina namun tersaji hanya untuk dinikmati
———————————————————————————————————————————————

Salam Takzim Batavusqu

About these ads

Tentang Batavusqu

in 1968 when a figure sprang Warning Isro Mi'raj this man.
Tulisan ini dipublikasikan di Upacara Adat dan tag , , , , . Tandai permalink.

56 Balasan ke Tradisi lain Masyarakat Tengger

  1. Bang Iwan berkata:

    melapor dulu sekaligus mengamankan yang pertama.

  2. Bang Iwan berkata:

    tambahan pemahaman khasanah budaya yang lengkap kang
    makasih banyak.
    salam taksim

  3. jumialely berkata:

    terima kasih mas isroo atas sajiannya, saya sangat menikmatinya dan saya semakin banyak Tahu..

  4. dafiDRiau berkata:

    Kapan kapan bisa jadi guide nih kang klo kesana….

  5. aldy berkata:

    Giliran Kang, ntar kalau ke Kalbar saya jadi pemandu Kang Insro, kalau saya berkunjung kesana Kang Isro jadi pemandu saya :D

  6. jarwadi berkata:

    Selama ini saya hanya baca Tengger dari buku buku SD sewaktu di SD sekarang saya baca langsung dari Nara Sumber nya

    SALAM

  7. delia4ever berkata:

    Salut buat mereka pak..
    masih terus melestarikan budaya yang ada..

    pingin suatu saat kesana :D

  8. nurrahman berkata:

    *berharap bisa ke bromo kelak :(

  9. abang haris berkata:

    terima kasih bang ane jadi tau :)

  10. haris ahmad berkata:

    ke pare pare membeli kapoer
    kapoer buat di sebar
    sore ari mengunjungi bang zipoer
    bang zipoer apa kabar

    Yahut betul si somad
    Ini Ogut si haris ahmad

  11. Bang HIPIES berkata:

    salam melikum bang :) *bang ben style*

    pantat tipis abis deprok
    ane bang hipies asal depok

    duduknya ngedeprok di selokan
    di depok ane cari rongsokan

    dalem selokan ada tissu
    cari rongsokan buat beli susu

  12. gonggoitem berkata:

    permisi numpang mantun bang

    gabus bego bedarah darah
    ane si gonggo dari palmerah

    dia bedarah kena pinggir ember
    anak palmerah jawara ef be er

    he he

    permisi

  13. abang haris berkata:

    waduh sudare ane semue mantun, ane ngikuuuttt

    ada penggaris dalem kaleng
    kenalin ane haris pemuda cengkareng

    kalengnya di tempelin besi berani
    di cengkareng ane dapet bini

    he he he numpang ngetop bang :D :D :D

  14. achmad sholeh berkata:

    wah saya belum pernah ke Tengger mas, mudah2an pada suatu saat bisa singgah disana

  15. Aldy berkata:

    Setiap daerah dinusantara memiliki budaya yang unik, kalau diexplorer nggak ada habisnya.

  16. Ruang Hati Blog berkata:

    Setelah sekian lama jarang melihat tulisan budaya di blog ini akhirnya sekarang belajar lagi budaya Nusantara

  17. yangputri berkata:

    selamat sore pak, saya baru tau ne budayanya orang tengger

  18. wigati berkata:

    iya dinikmati mas, kenalan sama budaya sendiri, harus ya :)

  19. blogdudi berkata:

    wah bagus nih blognya :mrgreen:

    saya pemula nih mas kalau ada waktu mampir keblogku ya
    http://seoon.wordpress.com

  20. skydrugz berkata:

    Salah satu budaya kuno dari Indonesia :D

  21. Blogger Terpanas berkata:

    budaya bangsa yang entah masih bisa bertahan atau tidak di masa anak dan cucu kita kelak. semoga saja masih ya mas…..

  22. munir ardi berkata:

    begitu kaya budaya nusantara pembentuk kebudayaan nasional

  23. munir ardi berkata:

    yuhuuu masuk aksi deh yang pertama, nggak apa-apa
    “begitu kaya kebudayaan daerah Indinesia pembentuk kebudayaan Nasional

  24. bundadontworry berkata:

    terimakasih banyak Mas ISro,
    kali ini lagi2 bunda mendapatkan wawasan nusantara yg begitu komplit.
    salam hangat utk keluarga
    semoga selalu sehat.
    salam

  25. Ping balik: Carnaval Adat Budaya Tulehu « Batavusqu

  26. citromduro berkata:

    kembali lagi ke tengger kang
    maaf lama tidak berkunjung di blog ini

  27. Ping balik: Mengenang 22 Tahun Gunung Galunggung « Batavusqu

  28. Ping balik: Kesenian Tari dari Jakarta « Batavusqu

  29. Ping balik: Kesenian Tari dari Banten « Batavusqu

  30. Ping balik: Upacara Adat Pasola Sumba2 « Batavusqu

  31. Ping balik: Upacara Adat Bau Nyale1 « Batavusqu

  32. Ping balik: Upacara Adat Bau Nyale2 « Batavusqu

  33. Ping balik: Upacara adat tiwah « Batavusqu

  34. Ping balik: Upacara adat Molonthalo1 « Batavusqu

  35. Ping balik: Upacara adat Molonthalo2 « Batavusqu

  36. Ping balik: Upacara adat Mappassili « Batavusqu

  37. Ping balik: Upacara adat Mandi Tian Mandaring « Batavusqu

  38. Ping balik: Upacara adat Mandi Bunting « Batavusqu

  39. Ping balik: Upacara adat 7 bulanan di Aceh « Batavusqu

  40. Ping balik: Upacara Adat Tingkeban « Batavusqu

  41. Ping balik: Upacara adat Mitoni « Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s