Upacara adat tiwah
Salam Takzim
Sahabat dan pembaca batavusqu yan berbudaya
Masih seputar upacara adat kebangaan bangsa Indonesia, kali ini saya akan menyadur dari postingan sahabat yang sebelumnya mengangkat upacara ini, Upacara ini merupakan upacara penghantar kerangka jenazah ketempat peristirahatan yang terakhir. tradisi ini hanya dilakukan oleh suku dayak yang ada di Kalimantan Tengah.
Upacara Tiwah yaitu prosesi menghantarkan roh leluhur sanak saudara yang telah meninggal dunia ke alam baka dengan cara menyucikan dan memindahkan sisa jasad dari liang kubur menuju sebuah tempat yang bernama sandung.
Upacara adat Tiwah sering dijadikan objek wisata karena unik dan khas banyak para wisatawan mancanegara tertarik pada upacara ini yang hanya dilakukan oleh warga Dayak Kalteng. Tiwah merupakan upacara ritual kematian tingkat akhir bagi masyarakat suku Dayak di Kalimantan Tengah (Kalteng), khususnya Dayak Pedalaman penganut agama Kaharingan sebagai agama leluhur warga Dayak.
Upacara Tiwah adalah upacara kematian yang biasanya digelar atas seseorang yang telah meninggal dan dikubur sekian lama hingga yang tersisa dari jenazahnya dipekirakan hanya tinggal tulangnya saja.
Upacara adat Tiwah bertujuan sebagai ritual untuk meluruskan perjalanan roh atau arwah yang bersangkutan menuju Lewu Tatau (Surga – dalam Bahasa Sangiang) sehingga bisa hidup tentram dan damai di alam Sang Kuasa. Selain itu, upacara Tiwah Suku Dayak Kalteng juga dimaksudkan oleh masyarakat di Kalteng sebagai prosesi suku Dayak untuk melepas Rutas atau kesialan bagi keluarga Almarhum yang ditinggalkan dari pengaruh-pengaruh buruk yang menimpa.
Bagi Suku Dayak, sebuah proses kematian perlu dilanjutkan dengan ritual lanjutan (penyempurnaan) agar tidak mengganggu kenyamanan dan ketentraman orang yang masih hidup. Selanjutnya, upacara Tiwah juga bertujuan untuk melepas ikatan status janda atau duda bagi pasangan berkeluarga. Pasca Tiwah, secara adat mereka diperkenakan untuk menentukan pasangan hidup selanjutnya ataupun tetap memilih untuk tidak menikah lagi.
Melaksanakan upacara tiwah bukan pekerjaan mudah. Diperlukan persiapan panjang dan cukup rumit serta pendanaan yang tidak sedikit. Selain itu, rangkaian upacara prosesi tiwah ini sendiri memakan waktu hingga berhari-hari nonstop, bahkan bisa sampai satu bulan lebih lamanya.
Upacara tiwah yang digelar keluarga Ari Dewar, misalnya mereka menyelenggarakan hingga 30 hari lamanya dan mengeluarkan biaya mencapai hampir satu miliar. Upacara tiwah dilaksanakan untuk almarhum ayahandanya Dewar I A Bajik yang meninggal sekitar 12 tahun silam, sang paman Simon Mantir, serta 21 orang jenazah kerabat mereka yang diikutsertakan dalam upacara ini.
Upacara tiwah yang diselenggarakan keluarga Ari Dewar di tempat kelahirannya di Desa Rubung Buyung, Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotim ini sudah berlangsung sejak minggu kedua Bulan November lalu.
Menurut dia, keluarga yang masih hidup adalah orang yang bertanggung jawab dan berkewajiban mengadakan upacara tiwah. Ritual ini juga sebagai bukti kecintaan mereka terhadap leluhur.
“Siapa lagi yang akan menghantarkan leluhur agar bisa masuk surga kalau bukan keluarga yang masih hidup. Ini menurut ajaran Agama Kaharingan yang dianut almarhum orangtua saya,” kata Ari Dewar yang saat ini sebenarnya tidak lagi menganut kepercayaan Kaharingan, agama leluhurnya.
Dia mengaku telah berkonsultasi dengan para guru agama seperti ustaz dan kiai di Banjarmasin. Setelah diizinkan barulah berani menggelar upacara adat tiwah. Ini bentuk penghormatan terhadap leluhur, termasuk ayahnya. Sebab, tiwah merupakan upacara adat asli suku Dayak, sukunya sejak lahir.
“Ritual ini sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun silam, jadi perlu dilestarikan. Mengangkat kerangka orang yang sudah meninggal kemudian menaruhnya di dalam sandung atau rumah kecil dengan tidak menyentuh tanah,” jelas Ari Dewar.
Osoh T Agan, pisor atau pemimpin ritual tiwah menjelaskan, ritual tiwah merupakan rukun kematian tingkat terakhir yang waktu pelaksanaannya tidak ditentukan. Bisa dilaksanakan kapan saja sesuai kesiapan keluarga yang ditinggalkan.
Sebelum upacara tiwah dilaksanakan, terlebih dahulu digelar ritual lain yang dinamakan upacara tantulak. Menurut kepercayaan Agama Kaharingan, setelah kematian, orang yang meninggal dunia itu belum bisa langsung masuk ke dalam surga. Kemudian digelarlah upacara tantulak untuk mengantar arwah yang meninggal dunia tersebut menuju Bukit Malian, dan di sana menunggu diberangkatkan bertemu dengan Ranying Hattala Langit, Tuhan umat Kaharingan, sampai keluarga yang masih hidup menggelar upacara tiwah.
“Bisa juga dikatakan Bukit Malian itu adalah alam rahim, tempat suci manusia tinggal sebelum lahir ke dunia. Di alam itulah orang yang meninggal dunia menunggu sebelum diberangkatkan menuju surga melalui upacara tiwah,” terang pemuka Agama Kaharingan dari Kota Palangka Raya ini. Puncak acara tiwah ini sendiri nantinya memasukkan tulang-belulang yang digali dari kubur dan sudah disucikan melalui ritual khusus ke dalam sandung. Namun, sebelumnya lebih dahulu digelar acara penombakan hewan-hewan kurban, kerbau, sapi, dan babi.
This slideshow requires JavaScript.
Naskah asli dan gambar diambil dari sini
Seperti biasa disaji bukan untuk dipuji apalagi dicaci namun hanya untuk diketahui
Baca juga upacara adat yang telah dipublish
- Upacara adat suku Tengger
- Upacara adat Turun Tanah di Jawa Tengah
- Upacara adat Turun Tanah di Aceh
- Upacara adat Turun Tanah di Madura
- Upacara adat Turun Tanah di Cirebon
- Upacara adat Pemotongan Rambut Gimbal di Wonosobo
- Upacara adat Ngaben di Bali
- Upacara adat Aruh baharin di Kalimantan Selatan
- Upacara adat Perang Obor di Jepara
- Upacara adat Perang sapu lidi di Maluku
- Upacara adat Kasad di Tengger
- Upacara adat Pasola1 di Nusa Tenggara Timur
- Upacara adat Pasola2 di Nusa Tenggara Timur
- Upacara adat Bau Nyale1 di NTB
- Upacara adat Bau Nyale2 di NTB
——————————————————————————————————————————————————
Salam Takzim Batavusqu
Upacara adat tiwah|Profesi pemerhati lingkunan hidup|Upacara Adat Bau Nyale2|Upacara Adat Bau Nyale1|Upacara Adat Pasola2|Upacara Adat Pasola Sumba1|Warung Blogger|
















selamat pagi, Mas Isro
semoga selalu sehat ya,amin
wah, upacara tiwah ini mestinya memerlukan biaya besar ya Mas
terimakasih Mas, utk tulisan yg selalu dan lagi2 informatif
salam
uhuy….ternyata aku dapat seat vip disini

senag dan bangganyaaaa………
salam
woa…
Hewan kurbannya sampai ditombak!
waaah,,, mahal juga ya kalau ngadain upacara itu???
apakah itu harus dilaksanakan bagi yang mengikuti ajaran itu??
Bagi saya ini menambah wawasan budaya,,
Tradisi leluhur seperti ini perlu diketahui dan dijaga keajegannya dengan baik, agar bisa dilestarikan dan diteruskan oleh generasi penerusnya.
SALAM Kenal dari Kendari. 8)
wuahhhh… habis berapa duit tuh bikin upacara seperti ini?!
serem ngeliat kerangkanya
*baru bisa BW
comment perdanaku disini. Tetangga baru nih. Salam kenal ya Mas.
Kalo sempet mampir dong kerumah baruku. Hehehe : http://wahyuchandra.wordpress.com
Ya ampyun….1 milyar…..kalo bukan orang yg kaya banget mana mampu melaksanakan upacara ini…..tapi bagus juga masih ada orang yang mau melestarikan upacara adat seperti ini….
lihat foto2 kerangkanya jadi merinding bulu romaku uuuu….
itu foto yg sdh meninggal ,rambut nya bagus bgt,,,,tp serem,,,ikh….
Indonesia kaya akan budaya ya
mahal sekali ya pak biayanya
Salam kenal mas, ada yg perlu saya baca di sini yaitu tentang Suku Tengger, makasih sebelumnya…
acara adat begini klo kita gak paham, suka muncul pikiran negatif ya om
tp membaca dan menontonnya itu seru
upacara yang elegan, he he, jadi pengen menyaksikan upacara tiwah ….
Upacara adat yang sangat meriah
pengen kesana
lain adat, lain budaya yang harus dilestarikan ya bang,
selamat sore juga Bang Isro
Saleum,
luarbiasa budget yang mesti disediakan ya, 1 Milyar…. wooww…
tapi begitulah adat dan tradisi ya bang…..
saleum dmilano
Suku dayak emang banyak bener ya adatnya..
1 Miliar?
wow… that’s a quite lot of money
WOOOOWWW..
mantaaaappp banget..
ampe 1M..
ck ck ck..
#geleng2kepala
budaya indonesia emg ga pernah ada matinya…… cayooooo
salam persahabatan selalu dr MENONE
Wah, gak kebayang berapa biaya yang diperlukan untuk melakukan ini.
habis ditombak dimakan gak tuh binatang kurbannya?
ssalah satu warisan nenek moyang kita yang semakin terlupakan
biarpun upacara pemakaman tetep adat istiadat warisan budaya bangsa, meski rata-rata memerlukan biaya besar