Beranda > Upacara Adat > Upacara adat Mandi Bunting

Upacara adat Mandi Bunting

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbudaya

Upacara adat Tian Mandaring di banjarmasin juga dilakukan oleh masyarakat adat melayu Sanggau Kalimantan Barat. Oleh tokoh adat tradisi ini dinamakan upacara adat Mandi Bunting, dimana sosok ibu yang sedang mengandung anak pada usia ke tujuh bulan dilakukan selamatan, agar anaknya lahir dalam kedaan selamat, bagaimana prosesinya mari kita simak bersama.

Nek Bu salah satu tetua masyarakat  Orang Tampik mengatakan “tradisi ini merupakan tradisi turun temurun dari  orang dolok-dolok(nenek moyang) yang dipercaya dapat  memberi  ketenangan bagi Calon Ibu untuk  menghadapi  persalinan dan memberikan  kesehatan bagi si Cabang bayi.

Upacara Mandi bunting  ini di awali dengan menyiapkan persyaratan adatnya, yaitu sayur  tujuh jenis, rujak yang terbuat dari tujuh jenis buah dengan hanya tujuh cabai, kain (sejenis selendang ) tujuh warna, beras kuning, beras putih, daging ayam, telur ayam kampung tujuh butir, Bunga tujuh jenis, Air  yang digunakan untuk mandi juga diusahakan harus berasak dari tujuh sumber mata air.

Sedangkan Calon Ibu  juga harus mengenakan kain sarung yang juga ditutupi dengan baju berwarna  putih, sementara  itu kenuikkan lainnya adalah  mengumpulkan tujuh orang yang dituakan di kampung untuk ikut  mendoakan calon ibu dan si cabang bayi.

Setelah semuanya  siap, maka dilakukanlah  prosesi Mandi Bunting  yang diawali dengan doa ( disesuaikan dengan ajaran agama Islam) yang setelah dilakukan prosesi  doa, dilakukanlah  prosesi siraman yang diawali oleh  kedua orang tua dari calon ibu yang kemudian dilanjutkan oleh kedua orang tua calon Bapak.

Setelah kedua orang tua dari masing-masing calon bapak dan calon ibu, siraman dilanjutkan oleh tujuh tetua kampung yang sudah diminta  hadir, pada saat yang bersamaan  prosesi  siraman diiringi dengan doa-doa mohon kesehatan untuk caln  ibu dan kedua mempelai.Setelah  prosesi siraman si calon ibu mengganti baju dengan baju  yang  kering, itu pun harus dengan tujuh kali ganti baju dengan tujuh warna yang berbeda, maknanya  menurut  kepercayaan  orang tampik supaya  Ibu dan calon bayi  bisa selamat pada proses persalinan nanti.

Menurut  perwakilan warga setempat yang  juga merupakan calon ibu yang punya hajatan mandi bunting, prosesi adat ini merupakan  wujud terimakasih dan doa selamat  kepada Tuhan yang Maha Esa atas  cabang bayi  yang sudah dipercayakan. kata Ngkalok  ” nadak  laen nyang tau kite bere…macam to’ jak lah ujod nye “(tidak ada hal lain yang dapat  kita berikan balasan kepada Tuhan,hanya syukuran sederhana seperti ini saja yang dapat  dilakukan).

Setelah prosesi  bersalin pakaian  dilanjutkan dengan menabur beras kuning dan  juga  membagikan  rujak  mandi  bunting yang  dibuat dari tujuh jenis  buah, dan rujak ini juga dibagi-bagikan kepada para suami istri yang belum  mempunyai anak, atau ingin  mempunyai  anak  lagi, dengaan  sebutan “bejelangkit” maksudnya biar  bisa ketularan  hamil  juga.

Menurut adat setempat  jika  pasangan suami istri yang belum mempunyai anak atau pasangana suami istri yang ingin  mempunyai anak ikut  makan rujak bunting  ini dipercaya akan cepat  mendapat momongan. Prosesi adat mandi bunting ini kemudian ditutup kembali dengan doa, dengan harapan  calon ibu dan si cabang bayi dapat sehat dan selamat  pada  proses persalinan nanti.

“Alhamdullillah….” wajah-wajah  penuh  keceriaan  saling  berucap…itulah  kata-kata  pengantar  untuk  menutup  acara Mandi bunting, atau  Syukuran hamil tujuh  bulanan ala  tradisi  masyarakat adat  melayu  Dusun Sosok Dua,Tampik,Kecamatana Tayan Hulu Kabupaten Sanggau,Kalimantan Barat. Tradisi ini  merupakan ungkapan  syukur  atas  kehamilan  yang  sudah  mencapai  tujuh  bulan  dan  doa  selamat untuk melahirkan di dua  bulan berikutnya, tardisi ini merupakan tardisi turun  temurun  yang masih sangat di jaga oleh Orang  Tampik.

sumber dari http://suarakomunitas.net/

Seperti biasa disaji bukan untuk dipuji apalagi dicaci namun hanya untuk diketahui

Baca juga upacara adat yang telah dipublish

——————————————————————————————————————————————————

Salam Takzim Batavusqu

Upacara adat mandi Bunting|Upacara adat Mandi Tian Mandaring|Upacara adat Mappassili|Upacara adat molonthalo2|Upacara adat molonthalo1|Angka dan huruf merupakan perpaduan kode|Upacara adat tiwah|Profesi pemerhati lingkunan hidup|Upacara Adat Bau Nyale2|Upacara Adat Bau Nyale1|Upacara Adat Pasola2|Upacara Adat Pasola Sumba1|Warung Blogger|

  1. 13 Juni 2011 pada 07:52 | #1

    sudah diajak jalan2 ke Kalimantan Barat ni pagi2.. :D

    salam bang Is..

  2. 13 Juni 2011 pada 09:01 | #2

    masing-masing daerah mempunyai cara dan ciri khas tersendiri ya pak

  3. 13 Juni 2011 pada 09:37 | #3

    Wah, makasih bang Isro, dapat referensi lagi. Setiap tempat adatnya beda meski tujuannya sama

  4. 13 Juni 2011 pada 11:11 | #4

    Saya orang banjarmasin baru tau soal ini, hiks… malu dehhh
    salam kenal mas Isro…

  5. 13 Juni 2011 pada 14:27 | #5

    mandi bunting = nujuh bulan kali ya pak? :D

  6. 13 Juni 2011 pada 19:26 | #6

    Sebenarnya saya cuma mau bilang, satu2nya blog yang pernah saya singgahi dan bercerita soal budaya, cuma disini :)
    Silahkan dilanjut, mas!

  7. 13 Juni 2011 pada 20:45 | #7

    Di kalbar namanya mandi Buntingnya. kalau di tempat saya buntung itu untuk kambing dan sapi. Tapi begitulah keunikan dan kekayaan ragam budaya kita.

  8. 13 Juni 2011 pada 21:20 | #8

    Assalaamu’alaikum wr.wb, Kang Zipoer7…

    Adat orang dolok-dolok memangnya macam ya, Kang. Apakah masih dilaksanakan mengikut apa yang Kang maklumkan di atas atau sudah disuaikan dengan zaman moden ini ? Saya perhati dan teliti bahasa yang digunakan sama seperti bahasa Sarawak yang saya gunakan sehari-hari, mungkin beda pada bunyi sebutannya ajak.

    Kenapa mesti semuanya memerlukan angka tujuh ya. Saya sangat tertarik apabila angka 7 digunakan untuk menyiap pelbagai kelengkapan sehingga yang harus melakukan adat juga diambil dari 7 orang. Rumit juga ya peralatan untukl upacara adat mandi bunting ini.

    Semangat ya Kang kerana berbagi ilmu tentang adat di Indonesia. Saya mendapat banyak informasi berguna melalui blog Kang Zi ini.

    Salam mesra selalu dari Sarikei, Sarawak. :D

  9. 14 Juni 2011 pada 08:54 | #9

    Keaneka ragaman budaya nusantara adalah kekeyaan tak ternilai dari Indonesia. Harus dilestarikan jangan sampai tergerus oleh jaman dan musnah dari bumi Indonesia.

  10. 15 Juni 2011 pada 10:00 | #10

    baru ngerti saya tentang Upacara adat Mandi Bunting
    makasih infonya pak de…

  11. Corry Octavia
    11 November 2011 pada 12:58 | #11

    Askum :D
    Saya mhsiswa UGM, yg brsal dri KalBar..
    sy ditugaskan utk mempresentasikan kebudayaan dri daerah asal sy,untung’y sy bsa mnemukan info ini..
    trimakasih bnyak atas info’y :D

  1. 14 Juni 2011 pada 01:46 | #1
  2. 15 Juni 2011 pada 11:04 | #2
  3. 16 Juni 2011 pada 10:02 | #3
  4. 17 Juni 2011 pada 06:49 | #4
  5. 18 Juni 2011 pada 00:11 | #5
  6. 19 Juni 2011 pada 12:23 | #6
  7. 20 Juni 2011 pada 11:57 | #7
  8. 21 Juni 2011 pada 06:09 | #8
  9. 22 Juni 2011 pada 10:17 | #9
  10. 23 Juni 2011 pada 09:36 | #10
  11. 24 Juni 2011 pada 10:24 | #11
  12. 25 Juni 2011 pada 14:50 | #12
  13. 26 Juni 2011 pada 08:44 | #13
  14. 27 Juni 2011 pada 15:11 | #14
  15. 28 Juni 2011 pada 07:27 | #15

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s