Beranda > Upacara Adat > Tradisi khitanan masyarakat Tengger

Tradisi khitanan masyarakat Tengger

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbudi

Masih ingat dengan suku Tengger yang berada di Jawa Timur, ya masyarakat yang selalu patuh dengan adat dan tradisi nenek moyangnya. Kali ini saya akan mengajak sahabat untuk melihat lebih jauh masyarakat suku Tengger dalam melaksanakan khitanan bagi putranya. Tepatnya di desa Ngadas Oktober silam, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti tradisi sunatan dari keluarga ipar yang tinggal di Malang. Nah tanpa mengurangi nilai adat yang ada saya coba mengetengahkan tradisi khitanan ini.

Seperti juga pada masyarakat betawi dan sunda, acara khitanan dimulai dari mengarak  anak keliling desa. Anak tersebut di dandani sedemikian rupa dan diberi berbagai aksesoris kemudian anak tersebut menunggangi kuda yang juga telah dihias atau yang dikenal dengan kuda renggong. Kemudian kuda tersebut akan membawa anak tersebut mengelilingi desa ngadas. Tak lupa arak-arakan ini juga diiringi dengan musik yang membuat kuda tersebut bergoyang mengikuti alunan musik.

Kegiatan arak arakan ini bertujuan untuk memeriahkan acara serta sebagai cara untuk menginformasikan kepada penduduk bahwa anak tersebut akan dikhitan. Setelah mengelilingi desa akhirnya arak-arakan berhenti di depan rumah akan yang akan dikhitan. Selanjutnya tuan rumah mempersiapkan ritual sebelum proses khitanan dimulai.

Ritual ini dipimpin oleh “mbah dukun”. Pada saat ritual, “mbah dukun mengenakan baju berwarna hitam dengan ikat kepala, begitu pula dengan “asisten dukun” yang menggunakan pakaian yang serupa. Dalam memulai ritualnya, mbah dukun duduk di kursi pendek dan di belakangnya terdapar anak yang akan dikhitan yang didampingi oleh beberapa anak kecil yang juga di make-up serupa dengan anak yang akan dikhitan.

Di depan “mbah dukun” terdapat beberapa perlengkapan yakni ada kelapa yang terbelah dan diletakkan pada kedua sisi. Terdapat pula pohon pisang dan daun kelapa bersama kembar mayangnya serta beberapa ranting daun beringin. Di bagian tengah terdapat buah pisang dan buah kelapa yang masih utuh. selain itu ada pula sesajen yang juga digunakan untuk dalam ritual kali ini.

Selanjutnya “asisten mbah dukun” menyalakan api pada sumbu yang terdapat di kelapa yang terbelah. Kegiatan ini mengawali pembacaan mantra oleh mbah dukun. Selanjutnya mbah dukun membaca mantra sembari memegang wadah kuningan yang berisi air dan diaduk dengan menggunakan semacam daun pisang yang digulung. Selanjutnya mbah dukun mengambil gentong yang diberi air kelapa muda dan diaduk dengan menggunakan seikat daun beringin. Kemudian mbah dukun berdiri membelakangi anak-anak dan memercikkan air gentong pada anak-anak dengan menggunakan seikat daun beringin tersebut.

Ritual ini dilanjutkan dengan mengikat tangan anak-anak dengan menggunakan benang wol dan memberi anak sejumput beras yang diletakkan pada telapak tangan anak. Selanjutnya dilakukan proses khitanan di ruang terbuka. Anak tersebut di dudukkan di sebuah kursi dan pada bagian bawah kursi diletakkan beberapa kue semacam kue apem, kemudian telur yang diletakakn pada wadah daun pisang, dan beberapa bunga (entah berapa rupa). Proses khitan dilakukan dengan menggunakan bilah bambu yang pada ujungnya diberi silet tajam. Kegiatan ini dilakukan oleh dukun yang berbeda dari dukun yang pertama. Untuk prosesi khitanan ini saya mengamati secara langsung namun berdasarkan hasil wawancara dengan “mbah dukun”.

Dalam ritual khitanan ini diketahui beberapa tumbuhan utama yang digunakan selama prosesi acara yakni antara lain:
1. Kelapa (cocos nucifera), bagian yang digunakan yakni buah, bunga dan daun.
2. Pisang ( musa paradisiacal) bagian yang digunakan yakni batang pohon bagian atas beserta daunnya dan buahnya.
3. Beringin (ficus benjamina), bagian yang digunakan yakni beberapa ranting beserta daunnya.

Setelah acara berakhir, saya masih teringat wajah anak yang dikhitan. Dengan make up yang saya rasa itu pantas untuk di gunakan pada wanita yakni menggunakan bedak yang sangat putih, dengan bibir menggunakan lipstick berwarna merah terang, dan tak lupa adanya eye shadow di bagian kelopak matanya. Pokoknya cewek banget lah. Entah apa makna periasan ini, saya tidak sempat menanyakan pada mbah dukun.

Lumayan seru acara setelah khitanan ini semua para tamu yang hadir memberikan sejumlah uang tanpa amplop kepada sang anak, segala masakan dan hidangan dinikmati bersama tanpa ada perbedaan usia.

Seperti biasa disaji bukan untuk dipuji apalagi dicaci namun semata hanya untuk melengkapi

Baca juga tradisi khitan dari masyarakat :

  1. Betawi
  2. Sunda

——————————————————————————————————————————————————

Salam Takzim Batavusqu

Tradisi Khitanan Masyarakat Tengger|Peringatan HUT kota Jakarta|Tradisi Khitan Masyarakat Sunda|Upacara khitan Betawi|Upacara adat mitoni|Upacara adat tingkeban|Award dari kang Indra|Model busana onthelis|Upacara adat peusijuek|Upacara adat mandi Bunting|Upacara adat Mandi Tian Mandaring|Upacara adat Mappassili|Upacara adat molonthalo2|Upacara adat molonthalo1| angka dan huruf merupakan perpaduan kode |Upacara adat tiwah|Profesi pemerhati lingkunan hidup|Upacara Adat Bau Nyale2|Upacara Adat Bau Nyale1|Upacara Adat Pasola2|Upacara Adat Pasola Sumba1|Warung Blogger|

  1. 23 Juni 2011 pada 09:54 | #1

    Jadi kebayang kalau diiris pake silet………

  2. 23 Juni 2011 pada 10:06 | #2

    matanya ditutup sewaktu dikhitan supaya tidak takut ya

  3. 23 Juni 2011 pada 10:31 | #3

    Saleum
    Khitannya sambil duduk gitu, heheehe…. luar biasa adat tradisi bangsa kita
    saleum dmilano

  4. 23 Juni 2011 pada 10:34 | #4

    wuih gmn rasa sakitnya tu tanpa obat patirasa,,

  5. 23 Juni 2011 pada 11:28 | #5

    serem ihh liat dukunnya
    *tambah takut ini mau mengkhitankan rico*

  6. 23 Juni 2011 pada 11:39 | #6

    Wah tradisi yang kntal dengan budaya, bagus banget kang, tu anak kenapa di tutupin matanya,,,hehehehe

  7. 23 Juni 2011 pada 11:41 | #7

    Besar biaya pestanya dibanding biaya khitannya kang

    salam dari pamekasan madura

  8. 23 Juni 2011 pada 12:15 | #8

    Beberapa kali ke Tengger, tapi pas kesana nggak pernah pas ada khitanan, hehe.. Tahunya malah baca di sini..

  9. 23 Juni 2011 pada 12:46 | #9

    wedow,, beragam budaya ternyata juga beragam khitanannya,,

  10. 23 Juni 2011 pada 13:04 | #10

    Aduuuhh, pake anesthesi gak ya, Kang? Membayangkannya bikin merinding dan ngilu :(

  11. ejawantahblog
    23 Juni 2011 pada 14:34 | #11

    Ternyata cara tradisional di bangsa kita banyak juga ya mas.
    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah’s Blog

  12. 23 Juni 2011 pada 15:30 | #12

    hm..asyik juga prosesi acaranya…salam takzim itu artinya apa? salam kenal aja, ini kunjungan balik

  13. 23 Juni 2011 pada 20:17 | #13

    asiknya bisa kumpul2 dengan sanak sodara dan warga sekampung.

    salam

  14. 24 Juni 2011 pada 05:44 | #14

    baru tau,khitanan smp undang2 dukun :mrgreen:

  15. 25 Juni 2011 pada 17:50 | #15

    hii,, atuutttt.. :D

    salaam

  16. Mike
    6 Agustus 2011 pada 10:22 | #16

    Kayanya salah deh,sunatan pada tradisi masyarakat tengger,hasil sunatnya beda dengan sunat secara konvensional…hanya sedikit saja yg dipdotong jd kepala penisnya msh tertutup…soalnya saya pernah tinggal di masyarakat tengger 5 bulan untuk experience…

  17. 17 Agustus 2011 pada 00:29 | #17

    sakit gak

  18. Oel
    28 Agustus 2011 pada 14:34 | #18

    Mike :
    Kayanya salah deh,sunatan pada tradisi masyarakat tengger,hasil sunatnya beda dengan sunat secara konvensional…hanya sedikit saja yg dipdotong jd kepala penisnya msh tertutup…soalnya saya pernah tinggal di masyarakat tengger 5 bulan untuk experience…

    Mas Bro, kok bisa kepala penis masih nutup walau sudah sunat pada suku tengger? Ketika saya sunat dulu kulit dipotong kurang dari 1 cm tapi tetap nongol hingga saat ini…

  19. Qu lucu
    5 Januari 2012 pada 12:44 | #19

    ih kasian yah dikhitanya mesti duduk…..
    pasti sakit…..
    di khitanya harus di tutup matanya biar gak ngeliat… :)
    ih takut :)

  20. Beta
    5 Januari 2012 pada 12:47 | #20

    ih kalo di khitanya pake silet gimana ya pasti ngejerit… ^_^
    huhuhuhu sakit pasti :) :P

  1. 24 Juni 2011 pada 10:23 | #1
  2. 25 Juni 2011 pada 14:47 | #2
  3. 26 Juni 2011 pada 08:44 | #3
  4. 27 Juni 2011 pada 15:11 | #4
  5. 28 Juni 2011 pada 07:27 | #5

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s