Beranda > Aktivitas > Tradisi Ngangklang

Tradisi Ngangklang

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbudaya

Tidak seperti di bulan yang lain, pada bulan Romadhan kegiatan perondaan diaktifkan kembali. Hal ini tidak saja dimaksudkan untuk meningkatkan keamanan lingkungan agar warga masyarakat dapat menjalankan ibadah qiyamulail dengan lebih tenang, namun lebih dari itu, adanya regu peronda juga mempunyai tugas utama untuk melakukan ngangklang. Apakah yang dimaksud ngangklang? Mari kita simak bersama.

Ngangklang yang merupakan salah satu khasanah bahasa Jawa, mempunyai arti suatu kegiatan berkeliling lingkungan dalam rangka menjaga keamanan. Jadi bisa juga dibilang kegiatan patroli yang dilaksanakan oleh petugas keamanan, mulai jogoboyo, para peronda, polisi, hingga pasukan garnisun. Namun dalam bulan Ramadhan, kata ngangklang di dusun kami mempunyai makna khusus. Ngangklang merupakan kegiatan berkeliling lingkungan yang bertujuan membangunkan warga masyarakat guna mempersiapkan santap sahur.

Ngangklang dilaksanakan oleh regu peronda yang telah dijadwalkan, dan seringkali disertai oleh anak-anak, dan para remaja. Bedug, bendhe, kenthongan, saron, angklung, tong bekas, hingga gallon air minum merupakan alat bunyi yang dipakai sebagai pengiring ngangklang. Nyanyian mulai dari sauuuur…..saaur, sayuuuur…saayur, hingga kasuuur…kaasur merupakan lagu wajib yang dinyanyikan. Selebihnya banyak kreasi anak-anak dengan berbagai gubahan lagu yang lain.

Ngangklang biasa dimulai pada jam dua dini hari. Hal itu dimaksudkan guna memberikan kesempatan kepada kaum ibu untuk bangun tidur dan memulai memasak hidangan sahur. Meski memang jaman telah semakin “mengkota”, namun kebanyakan dari warga dusun kami masih memasak dengan kayu bakar, dan kebanyakan warga belumlah mengenal alat pemanas nasi atau sayur semacam magic jar. Dengan demikian setiap bangun untuk sahur, ya mau tidak mau harus tetap cuthik geni dan ngliwet.

Ngangklang merupakan suatu kemewahan pengalaman tersendiri bagi anak-anak. Mereka seringkali dengan antusias bangun lebih awal sebelum pasukan ngangklang bergerak, bahkan banyak dari anak-anak itu yang sengaja tidur di beranda masjid. Anak-anak selalu memegang satu alat bunyi dan ikut beraksi selama ngangklang.

Berjalan beriringan di saat dini hari merupakan pengalaman yang membanggakan, sekaligus ajang pembuktian nyali mereka. Dan memang setiap anak ingin menunjukkan eksistensinya sebagai anak pemberani. Gendruwo, wewe gombel, kuntilanak, peri dan jin prayangan mereka yakini tidak akan mengganggu kegembiraan mereka karena kata Pak Kiai para setan dan iblis dibelenggu pada bulan suci ini.

Tidak selalu niat baik disambut dengan sikap yang baik pula. Demikian halnya dengan niatan para pasukan pengangklang untuk membangunkan warga. Terkadang memang ada saja satu dua orang galak, yang merasa terganggu tidurnya dengan keriuhan bebunyian. Dengan mencak-mencak si galak sering memarahi anak-anak dan mengusir mereka. Anak-anakpun dengan kepolosannya segera lari sipat kuping, tentu saja dengan ngedumel dan meledek lirih.

Pernah suatu ketika karena merasa dimarahi si galak, anak-anak kemudian mogok untuk melakukan ngangklang pada malam-malam selanjutnya. Dan apa yang terjadi? Sekian ibu-ibu dan janda-janda sepuh kesiangan bangun untuk memasak hidangan saur. Dan hal ini berakibat beberapa keluarga memang terlambat dalam bersantap sahur, bahkan beberapa diantaranya tidak sempat sahur. Nah kalau demikian apa yang mau dikata?

Pasukan ngangklang bergerak ibarat alarm bagi masyarakat. Bunyi titir kenthongan yang khas adalah irama yang manjur untuk menyapa manusia lepas dari alam mimpinya. Tangan-tangan mungil nan lugu dengan kompak mengaransir komposisi alunan bebunyian dari kenthongan, bendhe, saron, bedug dan sekedar tong bekas. Dalam keremangan sudut dusun yang dingin ditetesi sang embun pagi, pasukan ini akan terus melakukan tugasnya entah sampai kapan. Pernahkah sampeyan ikut ngangklang?

Dari berbagai sumber

Seperti biasa tersaji bukan untuk dipuji apalagi dicaci namun hanya untuk melengkapi.

——————————————————————————————————————————————————

Salam Takzim Batavusqu

|Tradisi Obrog|CBBP|Tradisi bermain bola api|Tradisi Perang Api|Ramadan atau Romadhon|Budaya tertib dalam bersepeda|Tradisi ngabuburit|Postingan Perdana Romadhan

  1. 8 Agustus 2011 pada 08:32 | #1

    Setiap Ramadhan, membawa kebahagian,
    membangkitkan berbagai kreatifitas dengan lahirnya berbagai tradisi.

  2. 8 Agustus 2011 pada 10:30 | #2

    sama saja dengan istilah membangunkan sahur ya

  3. 8 Agustus 2011 pada 10:34 | #3

    Haha… Ini nih yang mirip di tempat saya. Tapi mereka jago mengatur harmonisasi suara alat ya, Pak. Nggak asal pukul aja. Yang ginian dilombakan setiap tahunnya di tempat saya :)

  4. 8 Agustus 2011 pada 11:20 | #4

    Saya merindukan bunyi-bunyian ini, Kang. Dulu sewaktu masih di Yogya sering mendengar irama musik sahur ini, sekarang boro-boro deh, Paling mendengar dari mushola aja. Itu pun ternyata azan subuh :P

  5. 8 Agustus 2011 pada 11:54 | #5

    sama dengan patrol ya bang?
    musik pembangun orang untuk sahur, heheh

    salaam

  6. 8 Agustus 2011 pada 11:59 | #6

    Hehehe,,,ternyata ngfek juga ya Kang jika pasukan ngangklang ini mogok,,bisa pada gak bangun semua nih sekampung hehehe

  7. 8 Agustus 2011 pada 13:04 | #7

    namanya unik.. pasukan ngangklang :(
    kalu di tempat saiia gag ada namanya gitu kang… maklum jakarta gag kreatip apa gmn.. gag tau juga :(

  8. 8 Agustus 2011 pada 14:12 | #8

    pasukannya rame yahh…salam kenal..

  9. 8 Agustus 2011 pada 19:21 | #9

    wah di tempatku gak ada ngangklang ,kayaknya udah pada males ,sebenarnya bagus lho budaya tersebut

  10. 8 Agustus 2011 pada 21:36 | #10

    tiap daerah selalu punya ciri khas sendiri dlm menyambut bulan penuh berkah dan ampunan ini ya Mas Isro :)
    dan, beruntung sekali bunda , setiap mampir kesini, selalu saja mendapatkan wawasan dan ilmu yg baru :)
    terimakasih ya Mas utk tulisan2 khasnya :)
    salam

  11. 8 Agustus 2011 pada 21:45 | #11

    Ngangklang sekalian ngeronda ya MAs..
    Seneng ya kalo tinggal di daerah yang masih kental dengan tradisi nya..
    Di tempatku ga ada Mas..

  12. 9 Agustus 2011 pada 10:16 | #12

    Ngangklang itu ngeronda yah kang? hehe
    saya blum pernah, karena itu diambil alih oleh laki-laki. sekarang pun rasanya jarang lagi apalagi di perkotaan, soalnya sudah ada pak satpam, hee
    tapi seneng baca artikel ini, nambah pengetahuan budaya dan tradisi lagi,
    salam

  13. 9 Agustus 2011 pada 12:05 | #13

    heheheh mata saya kok terantuk pada kata kata janda janda sepuh bangun kesiangan ya :(

  14. 9 Agustus 2011 pada 12:11 | #14

    unik bahasanya pak.. dulu di tempat tinggal saya juga masih ada tuh kegiatan seperti ngangklang, tapi sekarang udah nggak ada lagi..

  15. 9 Agustus 2011 pada 12:16 | #15

    keren ….teringat jaman puasa dikampung anak anak tiap puasa nginep di mushola…terus pas jam sahur keliling membangunkan orang2 untuk sahur dengan nyanyian dan bunyi bunyian yang dipukul…kangen kenangan itu..:)

  16. 9 Agustus 2011 pada 12:31 | #16

    Ngngklang = Kothekan kalau di tempat Hani Om…Hani dulu sat masih kecil pernah ikutan, he he h he seruh banget…..

  1. 9 Agustus 2011 pada 12:49 | #1
  2. 12 Agustus 2011 pada 06:51 | #2
  3. 13 Agustus 2011 pada 07:19 | #3
  4. 14 Agustus 2011 pada 14:09 | #4
  5. 15 Agustus 2011 pada 09:37 | #5
  6. 16 Agustus 2011 pada 11:01 | #6
  7. 18 Agustus 2011 pada 20:20 | #7
  8. 19 Agustus 2011 pada 22:08 | #8
  9. 21 Agustus 2011 pada 11:14 | #9
  10. 23 Agustus 2011 pada 09:01 | #10
  11. 24 Agustus 2011 pada 10:19 | #11
  12. 26 Agustus 2011 pada 21:25 | #12

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s