Tradisi Suluak
Salam Takzim
Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbudaya.
Bulan puasa menjadi bulan penuh rahmat bagi setiap ummat muslim untuk meningkatkan keimanan. Itikaf (berdiam diri di masjid) menjadi salah satu cara yang dilakukan untuk mendapatkan hidayah. Dengan I’tikaf kita terasa lebih dekat kepada Allah SWT, di Sumatera Barat istilah berdiam diri di masjid ini disebut dengan Suluak, mari kita simak tradisi ini secara lebih dalam.
Bagi penganut Islam Naqsabandiyah di Padang, itikaf dilakukan dalam waktu yang panjang. Bagi penganut Islam Naqsabandi, mereka menyebutnya dengan istilah ‘suluak’. “Suluak merupakan cara mendekatkan diri dengan Allah serta mengkaji sifat-sifat pencipta,” kata salah seorang jamaah Naqsabandiyah yang ditemui VIVAnews di Surau Baru, Kecamatan Pauh, Padang.
Suluak dilakukan dalam waktu 10 hari hingga 30 hari selama bulan Ramadhan. Selama mengikuti suluak, para jamaah membawa sejumlah perlengkapan seperti beras, bahan-bahan untuk dimakan, pakaian ganti, dan sejumlah perlengkapan tidur.
Perlengkapan keseharian ini disesuaikan dengan lamanya waktu suluak yang diikuti. Selama bersuluak, jemaah menghabiskan waktunya di masjid dan melakukan segala aktivitasnya di dalam rumah ibadah.
Rata-rata peserta suluak didominasi kalangan tua. “Selama bersuluak jemaah mengikuti pengajian-pengajian yang diberikan buya pada waktu-waktu sehabis shalat fardhu,” kata Zahar. Saat VIVAnews berkunjung ke Surau Buluh, sedkitnya terlihat empat perempuan tua yang sedang mengikuti kegiatan tersebut.
Di surau tua yang berukuran kecil ini, para peserta suluak menghabiskan waktunya sehari-hari. Masjid tua ini memang terkesan berbeda dengan bangunan yang berada di sekitarnya. Di dalam masjid juga terlihat beragam perlengkapan tidur mereka yang mengikuti suluak.
“Setelah mengikuti suluak diharapkan keimanan kita akan bertambah dan semakin dekat dengan pencipta,” kata Zahar. Suluak tak ubahnya seperti menyepi dan menjauhkan diri dari segala kegiatan dunia.
Ajaran Tarekat Naqsabandiyah dibawa Maulana Syaikh H Muhammad Thaib Bin Ismail (Angku Surau Baru). Aliran Naqsabandiyah diyakini berasal dari Makkah yang dikembangkan murid sekaligus sahabat Rasul Muhammad SAW, Abubakar As Shiddiq.
Angku Syarief Thaeb mengembangkan aliran ini pertama di Sumbar. Hingga saat ini, aliran Tarekat Naqsabandiyah berkembang hampir ke seluruh daerah di Sumbar.
Naqsabandiyah memiliki sistem penanggalan sendiri sehingga Ramadhan dilakukan 30 hari penuh setiap tahunnya. Sesuai kepercayaan aliran ini, Ramadhan bagi jamaah naqsabandiyah dua hari lebih awal dari pemerintah.
sumber asli disadur dari sini
Seperti biasa tersaji bukan untuk dipuji apalagi dicaci namun hanya untuk melengkapi.
——————————————————————————————————————————————————
Salam Takzim Batavusqu
Tradisi Ngangklang|Tradisi Obrog|CBBP|Tradisi bermain bola api|Tradisi Perang Api|Ramadan atau Romadhon|Budaya tertib dalam bersepeda|Tradisi ngabuburit|Postingan Perdana Romadhan
















nice info gan, jd banyak tau ttg naqsabandi..
klo sy ngikut yg normal2 ajah, hehe
ooh jadi beda penanggalannya ya
pantesan tiap tahun selalu puasa dan lebaran lebih awal ya
berbeda tak apa, yg penting bisa saling menghormati y bang..
suluak = itikaf
salaam
O, jadi suluak itu sama dengan iktikaf, ya?. Mungkin yang bebrbeda waktunya saja. Kalau iktikaf bisa dilakukan meski hanya sejenak tetapi kalau suluak musti dalam waktu yang lama
Ternyata mereka punya penanggalan tersendiri ya, pantas saja selalu berbeda dengan umat yang lainnya.
baru tahu arti suluak nih,ternyata itikaf toh…
Pernah saya shalat di masjid Naqsabandiyah di Indarung Padang, dan berasa aneh jadinya..
suluak = i’tikaf toh…