Beranda > Aktivitas > Tradisi Tumbilotohe

Tradisi Tumbilotohe

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca Batavusqu yang berbudi

Tumbilotohe dalam bahasa Gorontalo terdiri dua suku kata, yaitu tumbilo berarti pasang, dan tohe berarti lampu. Jadi, Tumbilotohe berarti acara pasang lampu. Menurut sejarah, Tumbilotohe merupakan tradisi masyarakat Gorontalo masa lampau yang sudah berlangsung sejak abad ke-15 M. Tradisi ini dilaksanakan pada 3 malam terakhir menjelang hari Raya Idul Fitri, yaitu pada tanggal 27 hingga 30 Ramadhan, mulai magrib hingga pagi hari.

Di masa lampau, pelaksanaan Tumbilotohe dimaksudkan untuk memudahkan umat Islam dalam memberikan zakat fitrah pada malam hari. Pada masa itu, lampu penerangan masih terbuat dari damar dan getah pohon yang mampu menyala dalam waktu lama. Oleh karena semakin berkurangnya damar, maka bahan lampu penerangan diganti dengan minyak kelapa (padalama) dan kemudian diganti dengan minyak tanah.

Tradisi menyalakan lampu minyak tanah pada penghujung Ramadhan, kental dengan nilai agama, tradisi itu muncul karena masyarakat Gorontalo pada waktu dulu menyalakan lampu tradisional, untuk menerangi jalan-jalan menuju masjid. Dalam setiap perayaan tradisi tersebut, masyarajat secara sukarela menyalakan lampu dan menyediakan minyak tanah, Tradisi tumbilotohe terus berkembang di tengah pro dan kontra di kalangan masyarakat, dan bahkan sering digelar dalam bentuk festival.

Pada tahun 2007, “tumbilotohe” masuk Museum Rekor Indonesia (MURI), karena 5.000.000 (lima juta) lampu menyemarakkan tradisi tersebut.

lumbilotohe1Di masa lampau, pelaksanaan Tumbilotohe dimaksudkan untuk memudahkan umat Islam dalam memberikan zakat fitrah pada malam hari. Pada masa itu, lampu penerangan masih terbuat dari damar dan getah pohon yang mampu menyala dalam waktu lama. Oleh karena semakin berkurangnya damar, maka bahan lampu penerangan diganti dengan minyak kelapa (padalama) dan kemudian diganti dengan minyak tanah.

Seiring dengan perkembangan zaman, banyak warga Gorontalo mengganti lampu penerangannya dengan lampu kelap-kelip dalam berbagai warna. Namun, sebagian warga masih tetap menggunakan lampu minyak tanah sebagai penerangan. Lampu-lampu minyak tersebut digantung pada sebuah kerangka kayu yang dihiasi dengan janur kuning. Di atas kerangka itu juga digantung buah pisang sebagai lambang kesejahteraan, dan tebu sebagai lambang kemanisan, keramahan, serta kemuliaan menyambut hari raya Idul Fitri. Tradisi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga pendatang, terutama warga kota tetangga, seperti Manado, Palu, dan Makassar. Mereka sengaja berkunjung ke Gorontalo untuk menyaksikan tradisi Tumbilotohe.

lumbilotohe2

lumbilotohe3

Pada saat ritual Tumbilotohe dilaksanakan, Kota Gorontalo berubah menjadi semarak, karena lampu-lampu penerangan dari berbagai jenis dan bentuk tidak hanya menerangi halaman rumah warga, tetapi juga menerangi halaman kantor, masjid, dan lapangan sepak bola. Bahkan, petakan sawah dan lahan-lahan kosong yang luas pun dipenuhi dengan lampu botol dalam berbagai bentuk, seperti gambar masjid, kitab suci Alquran, dan tulisan kaligrafi yang sangat indah dan mempesona. Selain itu, hampir semua alikusu atau kerangka pintu gerbang, baik rumah, masjid, kantor, maupun perbatasan suatu daerah, juga dihiasi dengan janur, pohon pisang, tebu, dan lampu-lampu minyak.

lumbilotohe4

lumbilotohe5

Ritual yang diselenggarakan selama tiga malam tersebut menjadi semakin ramai dan semarak dengan adanya atraksi bunggo (meriam bambu) yang dimainkan oleh anak-anak muda Kota Gorontalo. Para pemain bunggo tersebut saling balas dan saling adu kerasnya bunyi. Menjelang sahur, mereka mengarahkan bunggo tersebut ke kampung-kampung untuk membangunkan warga yang masih terlelap tidur agar bangun untuk makan sahur. Dengan suasana demikian, para pengunjung dapat merasakan nuansa religiusitas dan solidaritas bersama masyarakat setempat.[kll Sumber di ambil dari sini

Seperti biasa tersaji bukan untuk dipuji apalagi dicaci namun hanya untuk melengkapi.

——————————————————————————————————————————————————

Salam Takzim Batavusqu

|Tradisi Cari Jodoh|Tradisi Mengibung|Tradisi Suluak|Tradisi Ngangklang|Tradisi Obrog|CBBP|Tradisi bermain bola api|Tradisi Perang Api|Ramadan atau Romadhon|Budaya tertib dalam bersepeda|Tradisi ngabuburit|Postingan Perdana Romadhan

  1. 12 Agustus 2011 pada 07:31 | #1

    subhanallah, cantik sekali pasti ya om kota Gorontalo.. andai di Palembang juga punya tradisi seperti itu, pasti nggak kalah canti dan rame dengan Gorontalo.. hehe :D

  2. 12 Agustus 2011 pada 08:00 | #2

    bagus banget,,,
    tpi sekarang minyak tanahnya mahal dan langka bang, jadi gimana yah??? heheh

  3. 12 Agustus 2011 pada 15:33 | #3

    wah terangnya….

    jd pengen liat langsung,,

    kereen…

  4. 12 Agustus 2011 pada 15:42 | #4

    Subhanallah Indah banget pak…

  5. 12 Agustus 2011 pada 18:56 | #5

    Di desa saya juga masih sering dilakukan. Biasanya dengan membuat ‘obor seribu’, berupa sebatang bambu yang dilubangi dan buatkan beberapa sumbu di batangnya.
    Waktu saya kecil, saat belum ada listrik, kelihatan memriah sekali.

  6. 12 Agustus 2011 pada 21:20 | #6

    rasanya pernah dengar kata tumbilotohe ini,
    setelah diingat2 saya pernah mencatat ini di buku pintarku,
    he..he… trims bang merefresh memoriku

  7. 12 Agustus 2011 pada 21:33 | #7

    Semoga semua tradisi yang baik ini berkembang di negeri kita tercinta dan menjadikan budaya bangsa yang saling mencintai sesama. Amien

  8. 13 Agustus 2011 pada 04:26 | #8

    indonesia ternyata banyak tradisinya ya

  9. 14 Agustus 2011 pada 00:07 | #9

    Sama kaya’ Mbak monda, rasanya saya pernah dengar kata tumbilotohe ini.
    Mungkin dari televisi ya… :)
    Acara yang unik nih, Pak…

  1. 13 Agustus 2011 pada 07:19 | #1
  2. 14 Agustus 2011 pada 14:09 | #2
  3. 15 Agustus 2011 pada 09:37 | #3
  4. 15 Agustus 2011 pada 10:41 | #4
  5. 16 Agustus 2011 pada 11:00 | #5
  6. 18 Agustus 2011 pada 20:20 | #6
  7. 19 Agustus 2011 pada 22:07 | #7
  8. 21 Agustus 2011 pada 11:14 | #8
  9. 23 Agustus 2011 pada 09:01 | #9
  10. 24 Agustus 2011 pada 10:19 | #10
  11. 26 Agustus 2011 pada 21:25 | #11

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s