Tradisi malam Qunut
Salam Takzim
Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbudi
Malam-malam pada bulan Ramadhan merupakan malam-malam yang penuh dengan berkah Allah SWT. Karena hal tersebut, maka banyak cara yang dilakukan oleh umat Islam agar mendapatkan berkah Ramadhan, diantaranya adalah apa yang dilakukan oleh masyarakat Islam Di Batudaa. Malam Qunut itulah tradisi yang tetap di pertahankan masyarakat Islam di Batudaa.
Pelaksanaan upacara Malam Qunut dan pasar malam pada hakekatnya sama, yaitu seperti halnya penganut Islam di beberapa daerah lain di Indonesia. Namun ada hal menarik dalam perayaan malam qunut di Batudaa Kab. Gorontalo, malam malam dimana masyarakat merayakan malam puncak, atau malam ke 16 dalam bulan ramadhan berjalan.
Dalam perayaan pasar malam ini mayoritas pedagang hanya menjual jenis makanan kacang dan pisang, menarik memang, karena hal ini tidak biasa di lakukan di tempat lain, apalagi wisata kuliner yang menjadi unggulan dalam wisata ini mengandalkan makanan kacang yang kudu di makan dengan pisang.
Menurut salah seorang tokoh adat di Batudaa bahwa pisang selalu di pasangkan dengan kacang berlaku sejak turun temurun yang menjadi warisan nenek moyang mereka sejak dahulu kala. Konon pasangan kacang dan pisang ini mengandung filosofi yang kuat untuk perdaban di Gorontalo.
Kacang dan pisang selalu menjadi makanan pavorit bagi kaum muda di Gorontalo khususnya di Batudaa untuk ritual mendatangi calon mertua dan mengajak anak gadisnya untuk sekedar bercengkrama di depan rumah sembari ditemani calon mertua. Tradisi ini menjadi unggulan parawisata di Batudaa, terutama dalam bulan Ramadhan ini. Selama malam bulan Ramadhan, masyarakat Muslim di Batudaa sedikitnya melaksanakan dua ritual, yaitu Malam Qunut dan Malam Tumbilotohe.
Jika diamati, pelaksanaan ritual-ritual tersebut sangat kental nuansa lokalitasnya, misalnya keberadaan leluhur. Oleh karena itu, dapat dikatakan, perayaan ritual yang diselenggarakan selama bulan puasa, disamping untuk memakmurkan bulan Ramadhan juga untuk mengikuti kebiasaan dan untuk melestarikan tradisi para leluhur.
Perayaan-perayaan tersebut merupakan bagian penting dari penganut Islam yang ada di Batudaa. Lebih jauh, pelaksanaan ritual tersebut menunjukkan adanya pembauran antara tradisi Islam dengan tradisi lokal masyarakat Batudaa. Dengan kata lain, bentuk ritual Malam Qunut dan Malam Tumbilotohe merupakan hasil dari pemahaman terhadap nilai-nilai Islam dengan menggunakan paradigma lokal.
Pelaksanaan Malam Qunut merupakan ritual yang menandai keberhasilan melalui separuh bulan puasa. Mereka mensyukuri terpeliharanya kerukunan dan harmoni sosial. Lebih jauh, nampaknya ada keterkaitan antara Malam Qunut yang diadakan kelompok Islam di Batudaa dengan peringatan malam Nuzulul Qur’an yang diadakan kelompok Islam lainnya di daerah lain.
Sedangkan pelaksanaan Malam Tumbilotohe adalah upaya untuk mendapatkan malam lailatul qodar (malam seribu bulan) seperti yang dipahami kelompok Islam lainya. Biasanya pada 10 malam terakhir, umat Islam dianjurkan untuk berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan ini nampaknya yang menjadi tujuan dari kelompok Islam di Batudaa. Pelaksanaan ritual Malam Qunut dan Malam Tumbilotohe, dengan demikian, merupakan bentuk pemahaman lain terhadap malam-malam bulan Ramadhan. Sumber dari sini
Seperti biasa tersaji bukan untuk dipuji apalagi dicaci, namun semata untuk diketahui.
——————————————————————————————————————————————————
Salam Takzim Batavusqu
Merayakan LMGS G2|Bubur Samin|Tradisi Tarawih|Tradisi Tumbilotohe|Tradisi Cari Jodoh|Tradisi Mengibung|Tradisi Suluak|Tradisi Ngangklang|Tradisi Obrog|CBBP|Tradisi bermain bola api|Tradisi Perang Api|Ramadan atau Romadhon|Budaya tertib dalam bersepeda|Tradisi ngabuburit|Postingan Perdana Romadhan

















kukira tadi qunut pas subuh kang,ternyata beda. budaya lokal indo sangat kaya, ayo dijaga terus yg baik2
sebelum baca postingannya saya pikir juga doa qunut
sama juga,, saya kira juga doa qunut..
pisang pisang berjajar
eh iya, tak kira doa qunut, hehe, mirip nuzunul qur’an mgkn ya?