Tradisi Mudik

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbudi

Tradisi mudik selalu terjadi menjelang lebaran. Para perantau berupaya pulang kampung alias mudik untuk menjumpai sanak saudaranya di kampung halaman dan merupakan wujud syukur atas karunia rezeki yang diberikan. Namun bagi sahabat yang memang orang penduduk asli cobalah mengunjungi sanak famili yang berada di daerah agar bisa merasakan sensasi mudik.
Tradisi mudik seakan tidak membedakan strata sosial yang terjadi dalam masyarakat. Segala lapisan masyarakat berkumpul dan saling melaksanakan tradisi mudik, yang membedakan mungkin sarana transportasinya.

Bagi mereka yang mampu mudik menggunakan alat transportasi sendiri atau pulang naik pesawat, sedang mereka yang strata ekonominya pas-pasan naik angkutan umum walaupun harus berdesak-desakan. Tujuan mereka sama, yakni kumpul bersama keluarga di hari yang fitri.

Sebagaimana diketahui, Idulfitri atau lebaran merupakan ajang bersilaturahmi dan saling maaf-memaafkan, sanak keluarga kumpul bersama sehingga terjalin hubungan persaudaraan yang lebih erat.

Tradisi mudik begitu terasa di Pulau Jawa, terutama dari Jakarta ke berbagai daerah, karena Jakarta merupakan tempat tujuan para pencari kerja mengadu nasib.

Semangat pulang kampung begitu besar, tarif pesawat yang harganya dua kalilipat bahkan lebih tak jadi soal, itu pun tiketnya berebut. Sementara mudik pakai kapal laut lebih seru lagi. Penumpangnya berjubel hingga ke selasar, bagi mereka itu tak masalah yang penting dapat terangkut.

Semangat yang menjiwai para pemudik itu adalah semangat silaturahmi. Tradisi sungkem terhadap orangtua, orang yang dituakan maupun jabat tangan dengan saudara-saudara, kerabat dan tetangga di kampung tak bisa digantikan dengan apa pun. Maknanya begitu mendalam, makanya cara apa pun ditempuh agar dapat mudik di hari lebaran.

Lebaran merupakan moment yang paling afdol untuk berkumpul bersama keluarga besar. Meski sekarang teknologi semakin canggih, di mana hubungan bisa terjalin baik melalui ponsel maupun internet, ternyata belum bisa menggantikan tradisi mudik.

Padahal kalau dihitung-hitung secara ekonomis, biaya yang harus dikeluarkan untuk mudik tidaklah sedikit. Perlu persiapan berbulan-bulan, menyisihkan sebagian penghasilannya agar dapat pulang kampung. Belum lagi bagi-bagi amplof kepada keponakan di rumah.

Semangat dan jiwa mudik lebaran sudah membius pertimbangan efisiensi, efektivitas, bahkan rasionalitas. Tujuannya hanya satu, dapat kumpul bersama keluarga di hari kemenangan itu.

Arus mudik lebaran diprediksi terjadi mulai H-7. Puncaknya terjadi pada Sabtu (27/8), karena pada saat itu kegiatan perkantoran sudah libur.

Bagi sahabat yang berencana mudik ke kampung halaman batavusqu hanya berpesan persiapkan segala sesuatunya dan jagalah kesehatan, semoga mudik tahun ini akan memberikan nilai yang lebih dibanding dengan tahun kemarin.

About these ads

Tentang Batavusqu

in 1968 when a figure sprang Warning Isro Mi'raj this man.
Tulisan ini dipublikasikan di Aktivitas dan tag , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Tradisi Mudik

  1. Lidya berkata:

    Pak Isro mudik ga?

  2. Bang Iwan berkata:

    MUDIK menjadi fenomena yang jarang ditemui di negeri lain kecuali Indonesia. Mudik atau kembali ke udik (kampung) tidak lagi menjadi sekadar tradisi, tapi mudik juga sebagai fenomena pergerakan dan mobilitas manusia Indonesia dalam kurun waktu singkat dan dalam sebuah gelombang yang luar biasa besar.

  3. Ping-balik: Tradisi antri daging « Batavusqu

  4. guru rusydi berkata:

    mudik memang menyenangkan buat yang punya duit lebih untuk berhari raya. semestinya mudik dijadwalkan tidak bersamaa biar jalan gak macet, biar pulang dengan selamat

  5. baju wanita berkata:

    selamat mudik…selamat bertemu keluarga…salam kenal yaaa…

  6. dokter anak berkata:

    waaahh seneng ya bisa bertemu keluarga di kampung halaman…:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s