Waspada Penipuan modus baru

Saat ku baca situs dari

http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=63575&Itemid=91

bergetar jantungku, ku coba rangkai kalimat tuk menyebarkan virus ini sebagai keprihatinan terhadap bangsa ini yang sudah tak lagi mengerti makna hidup.

Walau mungkin usang terbaca, semoga tak terulang kembali kisah rekan di palu Sulawesi

berikut tulisan dari waspada online

WASPADA ONLINE

PALU –  Sebuah modus penipuan gaya baru dengan maksud
mensuras uang tabungan di bank milik korbannya sedang marak terjadi di Kota
Palu, tidak tertutup kemungkinan modus serupa akan menyebar ke kota lain di
Indonesia.

Warga Kota Palu
di Sulawesi Tengah dihimbau untuk mewaspadai penipuan gaya baru dengan
memanfaatkan dokumen berharga tapi palsu, karena cara yang dikembangkan oknum
pelakunya itu dapat dengan mudah mengecoh seseorang untuk menjadi korban.

“Sudah ada
beberapa warga yang menjadi korban melaporkan kepada pihak kami mengenai
penipuan gaya baru ini, dan polisi tengah melakukan penyelidikan,” kata
Kasat Reskrim Polresta Palu AKP Stefanus MT SIK kepada ANTARA di Palu, Sabtu.

Ia menjelaskan,
modus operandi yang dilakukan pelaku yaitu sengaja meletakkan amplop surat
berisi sejumlah dokumen penting di tempat tertentu, terutama pada teras rumah
warga yang kategori mewah.

Pada amplop surat
itu terdapat logo PT Nico Graha Pavindo beralamat di Jalan Kerta Jaya Timur 14
C-9 Surabaya, dan di bagian bawahnya bertuliskan “Dokumen Penting”.

Sementara isi
amplop tersebut terdapat selembar kertas cek BRI Cabang Manokwari bernilai
Rp4.700.000.000 beserta Surat Keterangan Tanah yang diterbitkan oleh BPN
Kabupaten Manokwari serta dibubuhi stempel resmi dan tandatangan pejabat
setempat.

Selain itu,
terdapat Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) atas nama PT Nico Graha Pavindo
yang diterbitkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur.

“Dengan
bukti beberapa dokumen penting itulah mengakibatkan banyak warga tertipu karena
mengira dokumen ini asli, padahal setelah kami melakukan pelacakan semua isi
amplop itu hanya rekayasa belaka,” kata dia.   

Masih, menurut
Stefanus, si penemu dokumen penting yang dikemas dalam amplop bersegel tapi
mudah dibuka itu merasa terpanggil untuk mengembalikan kepada pemiliknya dengan
menghubungi nomor telepon yang tertera di dalamnya.
 

Si penerima
telepon yang dihubungi itu kemudian menyatakan sangat berterima kasih kepada
penemunya.

“Dari sini
pelaku yang sudah mendapatkan mangsa mulai mengiming-imingi calon korban yang
berniat mengembalikan semua dokumen tersebut dengan memberikan uang ucapan
terima kasih senilai Rp100 juta,” tuturnya.

Tapi, lanjut dia,
setelah itu pelaku kemudian meminta nomor rekening bank milik calon korban guna
mentrasfer sebagian uang ucapan terima kasih yang dijanjikannya, sedangkan sisa
uang lagi akan diserahkan langsung oleh seseorang yang segera diperintahkan
pelaku sekaligus mengambil dokumen temuan itu.

Stefanus
mengatakan, dari beberapa korban yang dimintai keterangan oleh polisi, ternyata
uang muka untuk ucapan terima kasih yang dijanjikan oleh pelaku tidak pernah
masuk ke rekening korban.

Akhirnya, para
korban kembali menghubungi si pelaku melalui telepon untukmengkonfirmasikan
kembali pengiriman uang yang gagal tersebut.

Lagi-lagi,
katanya lanjut, si pelaku dengan akal-bulusnya berkilah kalau pengiriman uang
muka ucapan terima kasih itu belum berhasil terkirim karena terjadi gangguan
sistem tranfer di mesin ATM.

Untuk meyakinkan
calon korbannya mengenai kondisi jaringan pengiriman di mesin ATM tersebut, si
pelaku kemudian menyuruh mereka mencoba mentransfer sejumlah uang ke nomor
rekening bank yang sudah diberikan dan bahkan pelaku pun sampai ikut menuntun
cara-cara pengirimannya.

“Ada beberapa
korban sudah mentransfer uang jutaan rupiah seperti yang diminta pelaku, dan
ternyata belakangan mereka menyadari kalau semua itu hanya merupakan penipuan
belaka,” katanya.

Stefanus
mencurigai modus penipuan semacam ini sudah berkembang selama beberapa bulan
terakhir di Palu, sehingga ia berharap mereka yang merasa dirugikan segera
melaporkan ke instansi kepolisian terdekat guna dilakukan pengusutan.

Kota Palu dan
banyak kota kabupaten di Provinsi Sulteng sebelumnya marak dengan penipuan
dengan modus operandi “penerima undian mobil” dan korbannya diminta
menghirimkan uang untuk biaya pengiriman barang serta untuk kepentingan
membayar pajak.

Iklan

Satu pemikiran pada “Waspada Penipuan modus baru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s