Pernikahan adat suku Dani di Papua

Selasa, 29 September 2009

Sebenarnya postingan ini malu untuk disajikan karena fotonya menggambarkan keaslian suku dani, namun karena niat melanglang negeri dalam konteks adat, maka perkenankan maap atas publish foto yang kurang berkenan.

lembah wamenaSuku Dani berasal dari bagian barat Kabupaten Jayawijaya (Wamena). Suku Damal berasal dari Mulia, pertengahan antara Kabupaten Jayawijaya dengan Kabupaten Paniai.

Kepala Suku Dani, sekaligus anggota DPRD Mimika, Philipus Wakerwa kepada JPNN mengungkapkan, pribadi keras dan tegas yang menjadi ciri khas warga pribumi tidak terlepas dari  pengaruh topografi alam dan pola hidup di daerah pedalaman.Akibatnya, saat berhadapan dengan perkembangan daerah yang cukup signifikan, mereka mengalami keterkejutan budaya (cultural shock). Karena itu, kuat kesan bahwa warga pedalaman Papua resistan dengan perubahan. Bahkan, sering mereka menyikapinya dengan emosional. Ada dua persoalan yang bisa memicu warga angkat panah. Balas dendam karena anggota keluarganya  disakiti atau kasus perselingkuhan. Biasanya,  perselingkuhan bisa di dalam kerabat atau dengan suku lain,” kata Philipus.Philipus mengatakan, sebagian besar warga pedalaman belum melek hukum. Hampir semua warga Dani di sini (Mimika, red) berasal dari daerah pedalaman, khususnya lembah Baliem (Kabupaten Jayawijaya). Jadi, ketika berhadapan dengan keharusan mengikuti hukum positif, sangat sulit,” ujarnya.
Mereka lebih taat kepada hukum adat daripada hukum nasional. ‘Yang lebih mendominasi pikiran mereka adalah aturan adat. Ini juga terbentuk karena hidup di pedalaman penuh tantangan. Bukan hanya alam yang keras, tuntutan mencari nafkah mengharuskan mereka berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun naik turun gunung dan lembah. Jangan heran apabila watak masyarakat pribumi keras dan tegas,” sambung Philipus.

Dia kemudian mencontohkan, kebiasaan yang sekarang ini masih terpelihara
pada suku Dani yang berkaitan dengan pernikahan. Biasanya, seorang pria yang ingin berkenalan dengan wanita harus membangun komunikasi dengan keluarga dekat wanita tersebut.

Jika tawaran itu diterima, perempuan bersangkutan melakukan apa yang disebut warga Dani  bingga lakue atau bingga lakarak. Pada tahap ini, perempuan datang ke rumah laki-laki untuk memasak, lalu pergi.  Tugas itu berlangsung lebih dari satu bulan. Apabila  pihak perempuan merasa sudah waktunya mengetahui sikap orang tua pria, dilakukan upacara koeame wagarak atau perempuan datang untuk mendengar jawaban dari orang tua pria.

Jika perempuan tersebut rajin dan cocok untuk jadi istri anak laki-lakinya, selanjutnya pihak orang tua menyampaikan persetujuan.

Tahap ketiga jalinan itu adalah koejiqui atau koejikopopiwogi. Pada tahap ini, orang tua perempuan mengantar anaknya kepada orang tua laki-laki.

Biasanya, dilakukan acara potong babi dan diselenggarakan pesta adat. Sebelum diantar, orang tua perempuan merias sendiri anaknya, seperti mengenakan noken, kulit bia, dan berbagai perlengkapan adat lain.Setelah mengantar anaknya, orang tua perempuan pulang. Selanjutnya, orang tua laki-laki mendatangi orang tua perempuan untuk mendata semua jenis pengeluaran berkaitan dengan acara koejikopopiwogi,  terutama biaya untuk periasan anak menantunya. Acara ini dalam bahasa setempat disebut koewupugi.
Setelah semua pengeluaran direkap, baru dilakukan pembayaran oleh pihak keluarga pria kepada keluarga perempuan. Kemudian jika telah selesai dilangsungkanlah sebuah pernikahan.

Antara suku Dani dan suku Damal memang sering berperang. Menurut dia, bentrokan itu merupakan akibat iman kepercayaan secara umum masyarakat kedua suku belum kuat. Kabar dari Injil belum seluruhnya diterima masyarakat. Meski ada yang menerima, tapi hanya seberapa? Alasan itu menjadi dasar kuat sering terjadi perang walaupun masalah awalnya kecil.

NW kemudian menuturkan penyebab perang dan akibat yang biasanya ditanggung. Pertama, bila anak gadis orang lain diambil tanpa sepengetahuan orang tua atau keluarga dekat anak gadis itu. Pada era 1990-an, soal seperti itu diselesaikan dengan membayar lima ekor babi. Tapi, kemudian, denda bisa dibayar dengan uang.

Kedua, bila istri berselingkuh dengan pria lain (meksipun si lelaki bagian keluarga). Penyelesaiannya didenda lima ekor babi. ”Setelah itu bisa akur kembali. Tapi, bila pihak laki-laki bersikeras, maka setelah dibuat denda adat, sang istri dicerai.”Ketiga, pencurian terhadap barang berharga seperti kulit kerang yang sering dipakai sebagai maskawin pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Penyelesaiannya dibuat acara potong dua ekor babi,  lalu barang berharga yang dicuri itu dikembalikan.

Sumber Asli disadur

33 thoughts on “Pernikahan adat suku Dani di Papua

  1. Fotonya baik-baik saja tuh, Pak. memang begitu adanya kenyataannya kan? Saya punya teman SMA dari suku Dani, sayang hanya betah beberapa bulan saja dan pindah lagi.

    Dan benar, babi di papua sangat mahal harganya. menurut seorang rekan yang ada di sana, bisa sampai 50 juta.

  2. Pak zipoer memang petualang ulung..dah kemana aja nich nyari berita yach..ngeluyurnya jauuuh bnget smpe ke pedalaman yang paling dalaam,…salut dech..

  3. Salam Kak,

    Wuih hebat Kak Zipoer nich.

    Kayaknya nich jadi ensiklopedi perkawinan nusantara. Hebat Kak… Salutt…

    Salam Scouter
    XP2 Scout

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s