Hari TNI Yang Sunyi

Senin, 6 Oktober 2009

Kemarin hari ulang tahun TNI yang ke 64, seluruh Batalyon mengadakan Upacara dimasing-masing tangsinya. Hari itu merupakan hari kebanggaan tersendiri bagi TNI aktif dan purnawirawan, hanya saja makin tahun perayaan ini tidak bergema, hening. Bahkan saat saya bertanya kepada siswa SMP putra prajurit TNI dik hari ini 5 oktober hari apa, dia jawab hari Senin, dan ketika ditanya lebih detail kepalanya menggeleng. Ironis bukan..

logo-hut-tni-ke-64-aKalau dahulu setiap tanggal 5 Oktober penulis keluar rumah untuk melihat kontes TNI yang beratraksi di udara, rasa bangga menjadi putra seorang prajurit masih menggelora.

Di zaman orde baru, hari TNI (ABRI)  nyaris sama istimewanya dengan hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Perayaan upacaranya dilakukan secara besar-besaran.

Tetapi sekarang di era reformasi, tanggal 5 Oktober hadir dan diberi makna berbeda. Bahkan jauh berbeda, tidak ada lagi atraksi 5 pesawat tempur berguling di angkasa, tidak ada lagi sirene meraung di sepanjang jalan Margonda, tidak ada lagi pasukan baret karnaval menunjukkan kegagahannya. Hari TNI hadir dan dimaknai dalam suasana yang lain, kalau tidak mau dikatakan berkurang.

Bukan hanya hari TNI yang mulai surut sebagai kebanggaan. Peristiwa-peristiwa penting dan monumental dalam sejarah Indonesia seperti hari kesaktian Pancasila tanggal 1 Oktober mulai tidak membekas sebagai peristiwa penting. Hampir semuanya hadir dan berlalu dalam kesepian. Demikian juga hari Kartini 1 April, hari Ibu 22 Desember tak ada yang merayakan seperti pada era sebelumnya semakin sunyi.

Hanya hari kemerdekaan 17 Agustus yang masih dirayakan sebagai pesta semua orang, hari-hari penting lainnya menyusut menjadi pesta atau kebanggaan yang ekslusif. Hari TNI misalnya hanyalah penting bagi tentara, hari polisi hanya perayaan polisi, hari Pancasila hanya berarti bagi segelintir yang masih merasakan manfaat dan maknanya, bahkan hari Pendidikan berarti hanya bagi guru dan pranata pendidikan tidak lebih.

Kebanggan yang semakin ekslusif dan redup terhadap 5 Oktober sebagai hari TNI berkaitan erat dengan berkurangnya apresiasi terhadap fungsi kelembagaan. Ini tidak semata arus semangat di kalangan khalayak ramai, tetapi juga arus yang ada pada kalangan TNI itu sendiri. Andaikata tidak perintah dari para komandan, apakah semua tentara di negara ini memasuki hari itu dengan kebanggaan? Belum tentu.

Apa yang salah, dan siapa yang harus di salahkan, kulturnya atau lunturnya, belum penulis temukan jawabannya.

Di sisi  lain, merubah kebanggaan profil tidaklah berbahaya jika pemaknaan semakin kuat dan dalam. Makna TNI tidaklah redup hanya karena selebrasi yang kian terbatas. Selebrasi yang hebat tidak selamanya memantulkan hakikat dan pemaknaan yang hebat.

Dengan demikian, pada posisi manakah hari TNI hari ini dimaknai? Selebrasi yang sederhana karena kita lebih mementingkan makna? Atau selebrasi yang sepi karena pemaknaan dan apresiasi yang susut?

Untuk menjawab ini, mari berkaca pada kondisi faktual TNI sekarang. Reformasi menyadarkan tentang reposisi TNI. Reposisi sebenarnya pilihan semantik terhadap desakan amarah publik agar TNI back to barrack. Tetapi dalam praktik TNI sebenarnya telah digeser ke sudut peran. Peran yang dulu sangat dominan telah tergusur banyak oleh polisi.

Kalau mau jujur banyak sekali konflik dalam masyarakat, entah yang hebat maupun yang sederhana, berawal dari pertikaian peran antara tentara dan polisi.

Reduksi peran TNI menjadi kekuatan pertahanan dari semula kekuatan hankam, belum mampu memberi signifikansi baru yang pas. Tentara kembali ke barak atas nama kemurnian peran, tetapi sesungguhnya kehilangan peran karena belum ditantang oleh peran sesungguhnya.

Bila tidak ada perang dalam jangka waktu lama, kita khawatir tentara kehilangan aktualisasi perannya. Rakyat akan menilai tentara sebagai pemborosan. Padahal tentara, dalam suasana damai pun adalah kekuatan vital.

Salah satu aktualisasi baru yang perlu diperankan agar memperbesar makna adalah menjaga kedaulatan Indonesia di perbatasan. Dengan demikian tentara di zaman damai seperti sekarang harus lebih banyak ditempatkan di daerah perbatasan, tidak terkonsentrasi di kota. Selebrasi hari TNI akan memperoleh makna yang menguatkan kehadiran dan peran TNI, jika itu dilakukan di sepanjang perbatasan.

Harapan tetap harus ada agar masa kejayaan TNI era Orde Baru tetap ditumbuhkan ambil sisi baik era itu jangan apriori secara menyeluruh. Jangan takut menyuarakan hari besar nasional, karena itu bukan lahir dari pemimpin orde baru tetapi luhur dari watak-watak pendiri.

Mari suarakan di setiap tanggal 5 Oktober DIRGAHAYU TNI

Dan suarakan pula 28 Oktober nanti Dirgahayu SUMPAH PEMUDA, Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa INDONESIA

Dari beberapa sumber

Iklan

50 pemikiran pada “Hari TNI Yang Sunyi

  1. XP2 Scout

    Mohon ijin untuk mengamankan yang pertama.

    Benar Pak Zipoer, hari lahirnya tentara kita tahun ini terasa sunyi sekali. Apalagi lebih banyak tertutup oleh berita gempa di Sumbar, malah semakin tenggelam. Tapi semoga tetap jaya TNI pengawal negeri…!

    Salam scouter
    XP2 Scout

    1. Harus Tetap Jaya pak masa kalah dengan Pramuka, Menwa dan para patriot non TNI yang selalu berkobar jiwa kebangsaannya
      Link segera dipasang pak, terima kasih sudah mengingatkan
      Salam Pramuka

  2. XP2 Scout

    Maaf masuk lagi, mohon ijin untuk memasang link ke sini di blog kami. Dan kalau boleh sebaliknya blog kami untuk di link url:pramukaxp2.wordpress.com. Terimakasih.

  3. sedjatee

    iya Bung Zipoer… Hari TNI jadi sunyi karena TNI-nya lagi sibuk ngurusin korban gempa di Padang… mudah-mudahan TNI bisa berkiprah lebih banyak bagi negara dan rakyat Indonesia… hiduup TNI….

    sedj

  4. Mas Zipoer … kan lebih baik dananya digunakan untuk beli peralatan daripada rame-rame (katanya alutsista aja udah tua-tua) … yang penting anggota TNI tahu jati dirinya.. dan masyarakat menghargai peran TNI bukan?

  5. Sebelumnya saya ucapkan dirgahayu TNI ke-64. Walaupun diperingati di tengah ibu pertiwi yang berduka karena bencana yang terus menerjang, mudah-mudahan tidak menyurutkan semangat untuk terus membela bangsa ini. Semangat yang datang dari hati yang tulus.

    Melalui momentum ini, mari kita jadikan TNI yang profesional dan loyal pada negara. kritikan pedas yang selama ini banyak terlontar mudah-mudahan bisa menjadi motivasi dan masukan untuk terus mempebaiki kinerja TNI.
    Dijual Rumah

  6. Tetapi yang terpenting bagi saya bukan perayaannya.
    Mungkin lantaran terjadi musibah yang tengah melanda saudara-saudara kita di Pulau Sumatera, TNI menyederhanakan perayaan Ulang Tahunnya. Kalau demkian yang terjadi, saya malah jadi salut dengan TNI. Gak sama dengan anggota parlemen kita!
    Bukankah harusnya seperti itu?. Perayaan kan hanya sebuah prosesi, yang terpenting adalah aksi!

  7. Ping-balik: kangBoed » Banjir AWARD Persahabatan dari CasRudi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s