Pernikahan Adat Solo

Kamis, 29 Oktober 2009

Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbudi..

Sajian pernikahan kembali digelar, terinspirasi saat pagelaran HUT Kosti Solo ada titipan menarik dari onthelis disana yang kebetulan baru sebulan merayakan pesta pernikahannya bersama tambatan hatinya jeng Sekar putri abdi dalam surakarta.

Karena panjangnya prosesi pernikahan adat solo perkenankan penulis bagi menjadi 2 termin, agar pembaca benar-benar meresapi, demikian agungnya pernikahan itu dimata sahabat saya mas Jati Susilo.

Berikut reportasenya

wedding saloPernikahan adat Jawa – Surakarta memiliki tata cara yang khas. Dalam  keluarga tradisional, upacara pernikahan dilakukan menurut tradisi turun-temurun yang terdiri dari banyak sub-upacara.

Lamaran.
Keluarga calon mempelai pria mendatangi (atau mengirim utusan ke) keluarga calon mempelai perempuan untuk melamar putri keluarga tersebut menjadi istri putra mereka. Pada acara ini, kedua keluarga jika belum saling mengenal dapat lebih jauh mengenal satu sama lain, dan berbincang-bincang mengenai hal-hal yang ringan. Biasanya keluarga dari calon mempelai perempuan yang mempunyai hak menentukan lebih banyak, karena merekalah yang biasanya menentukan jenis pernikahannya:

 

  • Paes Agung yaitu pernikahan agung

  • Paes Kesatriyan yaitu pernikahan jenis ksatria yang lebih sederhana

Jika lamaran diterima, maka kedua belah pihak akan mulai mengurus segala persiapan pernikahan.Persiapan Pernikahan.
Setelah lamaran diterima, maka hal selanjutnya yang dilakukan adalah mempersiapkan pesta pernikahan. Pesta pernikahan Jawa adat Surakarta yang lengkap memerlukan banyak hal, dan pesta tersebut tidak dapat terlaksana tanpa bantuan seorang profesional. Orang yang bertanggung jawab mengatur segala persiapan pernikahan adat Jawa tersebut disebut Pemaes yang mewakili mempelai perempuan. Pemaes atau juru rias ini antara lain bertanggung jawab mengatur pakaian dan rias muka yang akan dikenakan oleh kedua pengantin. Selain itu panitia yang terdiri dari sang Pemaes dan kerabat-kerabat dekat pengantin juga mengatur berbagai hal seputar pesta yang akan dilangsungkan:

 

  • makanan dan minuman yang akan disajikan
  • tari-tarian dan musik (biasanya musik gamelan)yang akan mengiringi pesta
  • pembawa acara (emcee) yang akan diundang
  • acara Siraman
  • acara Ijab dan saksi-saksinya
  • kata sambutan
  • keamanan, transportasi, komunikasi, dokumentasi
  • sewa gedung (akomodasi), perlengkapan pesta, dan lain sebagainya
  • dekorasi tempat pernikahan

Hal terpenting yang harus mereka persiapkan adalah acara Ijab (upacara pernikahan sipil), yang melegitimasi kedua pasangan sebagai suami dan istri yang sah.

Hiasan Pernikahan.
Sehari sebelum pernikahan, biasanya gerbang rumah pengantin perempuan akan dihiasi Tarub atau janur kuning yang terdiri dari berbagai macam tumbuhan dan daun-daunan:

 

  • 2 pohon pisang dengan setandan pisang masak pada masing-masing pohon, melambangkan suami yang akan menjadi kepala rumah tangga yang baik dan pasangan yang akan hidup baik dan bahagia dimanapun mereka berada (seperti pohon pisang yang mudah tumbuh dimanapun).

  • Tebu Wulung atau tebu merah, yang berarti keluarga yang mengutamakan pikiran sehat.

  • Cengkir Gading atau buah kelapa muda, yang berarti pasangan suami istri akan saling mencintai dan saling menjagai dan merawat satu sama lain.

  • Berbagai macam daun seperti daun beringin, daun mojo-koro, daun alang-alang, dadap serep, sebagai simbol kedua pengantin akan hidup aman dan keluarga mereka terlindung dari mara bahaya.

Selain itu di atas gerbang rumah juga dipasang bekletepe yaitu hiasan dari daun kelapa untuk mengusir roh-roh jahat dan sebagai tanda bahwa ada acara pernikahan sedang berlangsung di tempat tersebut.
Sebelum Tarub dan janur kuning tersebut dipasang, sesajen atau persembahan sesajian biasanya dipersiapkan terlebih dahulu. Sesajian tersebut antara lain terdiri dari: pisang, kelapa, beras, daging sapi, tempe, buah-buahan, roti, bunga, bermacam-macam minuman termasuk jamu, lampu, dan lainnya.
Arti simbolis dari sesajian ini adalah agar diberkati leluhur dan dilindungi dari roh-roh jahat. Sesajian ini diletakkan di tempat-tempat dimana upacara pernikahan akan dilangsungkan, seperti kamar mandi, dapur, pintu gerbang, di bawah Tarub, di jalanan di dekat rumah, dan sebagainya.
Dekorasi lain yang dipersiapkan adalah Kembar Mayang yang akan digunakan dalam upacara panggih.Upacara Siraman.
Acara yang dilakukan pada siang hari sebelum Ijab atau upacara pernikahan ini bertujuan untuk membersihkan jiwa dan raga. Siraman biasanya dilakukan di kamar mandi atau taman keluarga masing-masing dan dilakukan oleh orang tua atau wakil mereka.
Ada tujuh Pitulungan atau penolong (Pitu artinya tujuh)- biasanya tujuh orang yang dianggap baik atau penting – yang membantu acara ini. Airnya merupakan campuran dari kembang setaman yang disebut Banyu Perwitosari yang jika memungkinkan diambil dari tujuh mata air dan melambangkan kehidupan. Keluarga pengantin perempuan akan mengirim utusan dengan membawa Banyu Perwitosari ke kediaman keluarga pengantin pria dan menuangkannya di dalam rumah pengantin pria.
Acara siraman diawali oleh orang tua dan ditutup oleh Pemaes yang kemudian dilanjutkan dengan memecahkan kendi.Banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum acara dimulai:

 

  • Tempat air dari perunggu atau tembaga yang berisi air dari tujuh mata air.
  • Kembang setaman yaitu bunga-bunga seperti mawar, melati, cempaka, kenanga, yang ditaruh di air.
  • Aroma lima warna yang digunakan sebagai sabun.
  • Sabun cuci rambut tradisional dari abu dari merang, santan, dan air asam Jawa.
  • Gayung yang berasal dari kulit kelapa sebagai ciduk air.
  • Kursi yang dilapisi tikar, kain putih, dedaunan, kain lurik untuk tempat duduk pengantin selama prosesi berlangsung.
  • Kain putih untuk dipakai selama upacara siraman.
  • Baju batik untuk dipakai setelah uparaca siraman.
  • Kendi.
  • Sesajian

Sesajian merupakan hal yang dianggap penting dalam upacara Jawa. Sesajian untuk siraman terdiri dari berbagai macam sajian:

  • Tumpeng Robyong, nasi kuning dengan hiasan-hiasan.
  • Tumpeng Gundhul, nasi kuning tanpa hiasan.
  • Makanan seperti ayam, tahu, telur.
  • Buah-buahan seperti pisang dan lain-lain.
  • Kelapan muda.
  • Tujuh macam bubur.
  • Jajanan seperti kue manis, lemper, cendol.
  • Seekor ayam jago
  • Lampu lentera
  • Kembang Telon – tiga macam bunga (kenanga, melati, cempaka).

Urut-urutan acara siraman adalah sebagai berikut:

  • Pengantin pria / perempuan dengan rambut terurai keluar dari kamarnya diiringi oleh orangtuanya masing-masing.

  • Pengantin tersebut berjalan menuju tempat siraman.

  • Beberapa orang berjalan di belakang mereka membawa baju batik, handuk, dan sebagainya.

  • Pengantin tersebut duduk di kursi dan memanjatkan doa.

  • Sang ayah memandikan sang pengantin, disusul oleh sang ibu.

  • Sang pengantin duduk dengan kedua tangan diletakkan di depan dalam posisi berdoa.

  • Mereka menuangkan air ke atas tangannya dan sang pengantin berkumur tiga kali.

  • Lalu mereka menuangkan air ke atas kepalanya, muka, telinga, leher, tangan dan kaki masing masing tiga kali.

  • Setelah orangtua menyelesaikan prosesi siraman disusul oleh empat orang lain yang dianggap penting.

  • Orang terakhir yang memandikan sang pengantin adalah Pemaes atau orang lain yang dianggap spesial. Sang pengantin dimandikan dengan sabun dan shampo (secara simbolik).

  • Setelah itu acara pecah kendi yang dilakukan oleh ibu pengantin perempuan.

  • Sang pengantin akan mengenakan baju batik kemudian diiringi kembali ke kamar pengantin dan bersiap siap untuk acara Midodaren.


Pecah Kendi
Kendi yang digunakan untuk siraman diambil. Ibu pengantin perempuan atau Pameas(untuk siraman pengantin pria) atau orang yang terakhir akan memecahkan kendi dan mengatakan: “Wis Pecah Pamore” – artinya sekarang sang pengantin siap untuk menikah.

Pangkas Rikmo lan Tanam Rikmo
Acara memotong sedikit rambut pengantin perempuan dan potongan rambut tersebut ditanam di rumah belakang.

Ngerik

Setelah acara Siraman, pengantin perempuan duduk di dalam kamarnya. Pemaes lalu mengeringkan rambutnya dan memberi pewangi di rambutnya. Rambutnya lalu disisir dan digelung atau dibentuk konde. Setelah Pameas mengeringkan wajah dan leher sang pengantin, lalu ia mulai mendandani wajah sang pengantin. Lalu sang pengantin akan dipakaikan baju kebaya dan kain batik. Sesajian untuk upacara Ngerik pada dasarnya sama untuk acara siraman. Biasanya supaya lebih mudah sesajian untuk siraman digunakan / dimasukkan ke kamar pengantin dan dipakai untuk sesajian upacara Ngerik.

Gendhongan

Kedua orangtua pengantin perempuan menggendong anak mereka yang melambangkan ngentaske artinya mengentaskan seorang anak.

Dodol Dhawet

Kedua orangtua pengantin wanita berjualan minuman dawet yaitu minuman manis khas Solo, tujuannya agar banyak tamu yang datang.

Temu Panggih

Penyerahan pisang sanggan berupa gedung ayu suruh ayu sebagai tebusan atau syarat untuk pengantin perempuan.

Penyerahan Cikal

Sebagai tanda agar kehidupan mendatang menjadi orang berguna dan tak kurang suatu apapun.

Penyerahan Jago Kisoh

Sebagai tanda melepaskan anak dengan penuh ikhlas.

Tukar Manuk Cengkir Gading

Acara tukar menukar kembang mayang diawali tukar menukar manuk cengkir gading, sebagai simbol agar kedua pengantin menjadi pasangan yang berguna bagi keluarga dan masyarakat.

Bersambung

55 thoughts on “Pernikahan Adat Solo

  1. Assalamu’alaikum,
    Kebudayaan bangsa ini sangat banyak sekali, mudah-mudahan dengan tulisan Bapak yang banyak mengangkat tema Pernikahan dari berbagai adat, bisa menjadi pengingat kita semua, betapa kita sangat kaya dengan beragam budaya dan turut melestarikannya.

  2. Assalamu’alaikum mampir ah bntar n mau kasih komeng tentang postingan yg mengagungkan adat budaya daerah ini adalah salah satu contoh bagaimana kita melestarikan kebudayaan kita agar jangan sampai ada yg mengklaim lagi mantaaabs mas postingannya n salam kenal saking tiang Bandung.

    Salam sukses n ay lap yu pulll

  3. semoga adat2 seperti ini bisa lestari di negeri ini…
    ada yg punya dokumentasi berupa videonya ga… untuk jadi bahan koleksi di perpustakaan di desa saya…

  4. Subhaanallah, mantab sekali…dan terus mengabadikan kebudayaan Indonesia terutama adat pernikahan dalam tulisan yang akan bermanfaat dan tentunya bersejarah…
    Salam takzim Om..

  5. Selamat malam Zipoer, kembali jalan-jalan ke Blognya, saya salut tulisan Zipoer khas mengangkat masalah budaya di Indonesia, sangat jarang pemuda yang suka mensosialisasikan budayanya, dan Zipoer perlu diberi Award atau diangkat menjadi Mentri Pariwisata dan Budaya. Hobby yang langka dan itu bagus untuk memeperkaya khasanah budaya Indonesia yang mulai luntur dengan budaya modern. Maju terus Zipoer, kembangkan terus Pariwisata di Indonesia. Terima kasih postingannya, Sukses untuk Zipoer.

    Regards, agnes sekar

  6. Pernikahan adat kraton sangat rinci acaranya dan dilaksanakan secara anggun, cermat dan tertata dengan apik sehingga mengundang decak para hadirin.
    Mudah2an dengan adat yang demikian hebat pengantinnya juga lkanggeng lestari ya mas.
    Salam dari Jombang

  7. dalam acara tersebut tertera acara Midodaren. Dari dulu saya ndak pernah mengerti apa itu artinya midodareni? artinya apa pak ?

  8. seruuuuu jadi pengen nyobain nikah pake adat solo, agak ribet siiih tapi disitulah kesakralannya, jangan sampe punah ya

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s