Pernikahan Adat Lubuk Jantan

Jum’at 06 Nopember 2009

Salam Takzim

Pemirsa dan sahabat Batavusqu yang baik hati

MempelaiPostingan terdahulu tradisi pernikahan MinangKabau ternyata menyeruak rahasia baru saat penulis melakukan share ke sahabat yang kebetulan kemarin pulang ke Jakarta, karena terkenan musibah beberapa hari lalu (gempa). Dari obrolan singkat tentang Minang ternyata di pedalaman sana ada tradisi Minang Lubuk Jantan yang tentunya memiliki tradisi adat pernikahan yang berbeda dengan MinangKabau. Untuk itu kiranya tidak salah bila penulis mencoba menyajikan salah satu tradisi di Minang Lubuk Jantan yaitu prosesi perkawinannya. Sesuai keinginan penulis mencari tahu tradisi-tradisi adat masyarakat yang ada di Indonesia seputar pernik-pernik nikah dan yang berkaitan dengannya.

Dengan tanpa mengurangi sajian dari sumber aslinya, penulis mencoba dari pandangan umum masyarakat minang Lubuk Jantan, berikut liputannya

Pada pertengahan 2007 yang lalu Pelaminan Minang Buchyar menampilkan prosesi pernikahan adat Minang Lubuk Jantan, Lintau – Kabupaten Tanah Datar di provinsi Sumatera Barat. Dalam prosesi pernikahan adat Minang khas Lubuk Jantan ini dipandu oleh Ibu Nusye sebagai pembawa acara dan disaksikan oleh wakil dari Bupati Tanah Datar.

Pelaminan khas Lubuk Jantan
Pelaminan khas minang ala Lubuk Jantan yang diperagakan oleh Pelaminan Minang Buchyar ini bertaburkan kain bersulamkan benang emas dengan warna yang mendominasi hitam, warna yang mewakili kalangan datuk. Singgasana pengantin di buat untuk bersila dan bersimpuh, dan bukan duduk di kursi yang melambangkan bahwa semua orang sederajat.

pelaminan_kecil_rumah
Terdapat sepasang setajuak yang ditaruh didepan pelaminan disebelah kiri dan kanan dan berjumlah sebelas yang menandakan asal keluarga pengantin dari kalangan bangsawan. Kaki setajuak adalah ketan kuning dan satu lagi berisi sirih, kapur dan pinang dibungkus saputangan bersulam benang emas. Juga terdapat sepasang jamba gadang yang di tutup saputangan bersulam emas. Salah satu jamba gadang tersebut berisi ketan kuning, ketan putih, ketam hitam dan paniaram. Sedangkan yang lain berisi nasi lengkap dengan lauk pauknya.

Prosesi Pernikahan Adat Minang
Dalam prosesi pernikahan adat minang khas Lubuk Jantan ini dikisahkan bahwa pengantin pria telah melakukan ijab Kabul pada hari jum’at setelah sholat Jum’at di Mesjid. Seperti umumnya pernikahan dengan cara Islam, anak daro saat itu belum bertemu dengan marapulai.
Setelah Ijab Kabul selesai di Mesjid, Marapulai diantar oleh orang tua dan keluarga mendatangi anak daro dirumahnya. Kedatangan marapulai dirumah anak daro ini disambut dengan tari gelombang, pepatah petitih dan tari persembahan yang semua menandakan bahwa marapulai diterima oleh keluarga anak daro.
Prosesi pernikahan adat Minang khas Lubuk Jantan ini kemudian dilanjutkan dengan mencuci kaki yang dilaksanakan oleh ibu anak daro, ritual ini menandakan bahwa marapulai diterima dengan iklas lahir batin oleh keluarga anak daro. Bila ada perselisihan dan pertengkaran antara kedua keluarga tersebut, selesai sampai di situ saja dan kini kedua keluarga sudah menyatu.

Kemudian sang marapulai berjalan diatas kain putih yang langsung digulung karena tidak boleh diinjak oleh siapapun selain marapulai. Ritual ini menandakan mempelai membangun keluarga baru yang Insya allah tidak akan diganggu oleh siapapun. Kemudian kedua mempelai didudukan diatas pelaminan.

Setelah itu pasangan tersebut di suguhi makanan ketan berwarna warni yang berada dihadapan marapulai dan anak daro. Masing-masing memilih ketan tersebut. Ternyata sang marapulai memilih ketan hitam, yang memiliki arti perannya sebagai pelindung dan kepala keluarga sedangkan anak daro memilih ketan putih yang berarti bahwa sebelumnya anak daro belum pernah menikah. Dalam adat Minang tidak ada acara saling menyuapi, mempelai masing-masing mengambil sendiri hidangan pilihannya.

Para undangan yang hadir disuguhi hiburan berupa tari piring dan dijamu dengan makanan khas Minangkabau. Dibagian samping kiri dan kanan pelaminan di gelar sepra (kain putih) tempat menjamu para undangan. Jamuan berupa kue dan makanan tradisional Minangkabau seperti lamang, tapai, lapek krucut, kolak diisikan pada piring-piring kecil. Dan terdapat cirano yang berisi makanan, merupakan persembahan bagi datuk desa lain.

Seluruh prosesi dan pakaian serta pelaminan khas minang yang diadakan pada Ragam Pernikahan Nusantara  ini diselenggarakan oleh Pelaminan Minang Buchyar. Ibu Atice juga berkenan meminjamkan beberapa koleksi pribadi beliau untuk melengkapi keaslian pernikahan adat minang yang berusaha ditunjukan pada acara kali ini.

Beberapa koleksi pribadi beliau yang dipakai pada prosesi pernikahan adat minang ini adalah sebuah keris pusaka minang untuk dikenakan marapulai, kain untuk ikat pinggang datuk yang dikenakan marapulai, tongkat khas minang yang di gunakan kedua ayah mempelai, hiasan kepala marapulai dan beberapa kalung tua untuk dikenakan pendamping dan ibu mempelai.

Baca juga

Pernikahan Adat Batak 2 (end)
Pernikahan Adat Batak 1
Pernikahan Adat Solo 2
Pernikahan Adat Solo
Pernikahan Adat Gayo Aceh
Tradisi pernikahan MinangKabau
Pernikahan Adat Suku Baduy


Iklan

64 pemikiran pada “Pernikahan Adat Lubuk Jantan

  1. Kunjungan Dinihari Om 😀

    ya kalau diperhatikan secara seksama jelas sekali banyak perbedaan di prosesi tersebut terlebih dengan adat jawa pada umumnya, tapi justru dengan banyaknya perbedaan itu, membuat negeri ini kaya akan ragam budaya. Di tempatku hingga kini masih berlaku saling menyuapi Om tapi di prosesi pernikahan adat lubuk Jantan tidak ada dan banyak sekali ritual-ritual yang menarik yang belum pernah ada di adat lain.. 😉

  2. Hari sabtu datang, saatnya weekend
    Untuk Anak kost, pulang mengambil uang jajan
    Untuk anak sekolah minta uang jajan lebih banyak
    Untuk bapak dan ibu, terimakasih uang jajannya
    Hahaha
    febri
    Menteri (Muda) urusan Blogwalking dan Komentar

  3. Siti Fatimah Ahmad

    Assalaamu’amualaikum

    Alhamdulillah, mendapat info lagi tentang budaya penikahan Adat Lubuk Jantan. Saya amat tertarik dengan “sepra (kain putih) tempat menjamu para undangan”, kerana kami di negeri Sarawak juga menggunakan istilah ‘seprah” untuk kain putih (sekarang boleh menggunakan pelbagai corak) sebagai alas kepada hidangan untuk para undangan yang hadir. Salam mesra dan hangat selalu buat saudara Zipoer7 yang begitu indah semangatnya dalam menjulang budaya bangsa di Indonesia dan saya amat memuji usaha yang dilakukan. Salut buat saudara Zipoer7.

  4. tary ayk

    postingan menarik….met pagi yah, ehmm tukeran link boleh?? link nya dah aku tambahin, kl gak keberatan link balik yah, tq.

  5. Bunda sendiri dulu menikah dgn memakai adat budaya minang kabau, dengan malam bainainya, dan memang benar sewaktu akad nikah, mempelai perempuan (anak daro) tdk diperkenankan hadir, hanya walinya saja ( ayahnya bunda).
    Masing2 daerah terkesan indah dgn segala budaya setempat ya Mas.
    Semakin cinta dgn negeri ini.
    salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s