Pahlawan harimu, Kini

Senin, 09 Nopember 2009

Salam Takzim

Sahabat dan pahlawan Batavusqu yang bersahaja

bungtomoDetik-detik memasuki tanggal 10 Nopember 2009, dengan ditemani oleh kang Dedekusn, Kang Dadang, Kang Boed dan Kang Alamendah perkenankan penulis Batavusqu mengajak para sejawat kembali mengenang para pahlawan yang telah gugur di medan perang dalam usaha membela Negara, terlebih khusus kepada para pahlawan yang sahid di bumi surabaya saat melawan negara sekutu pimpinan Inggris.

Setiap tanggal 10 Nopember Bangsa Indonesia selalu memperingati Hari Pahlawan. Momentum Hari Pahlawan bukan sekadar seremonial. Momentum yang kini berusia 64 tahun sejak peristiwa pertempuran Sabtu pagi, 10 November 1945, di Surabaya, dijadikan simbol pengorbanan pahlawan seluruh tanah air. Di dalamnya terkandung sejarah yang patut dihayati sebagai bagian dari proses transformasi pelestarian nilai-nilai perjuangann dan kepahlawanan. Lantas bagaimana nilai dan citra keteladanan yang telah ditunjukkan para pahlawan, pejuang dan perintis kemerdekaan masih dilestarika dan dihayati oleh bangsa ini khususnya generasi muda?

Dewasa ini telah lahir generasi baru yang bukan hanya tidak mengalami masa kolonial dan pendudukan tentara Belanda atau Jepang, tetapi juga tidak mengalami masa pergolakan mempertahankan kemerdekaan. Generasi berikutnya pun yang hidup pada masa sesudah kemerdekaan hingga era reformasi pasti memiliki pengalaman beragam yang akhirnya ikut memengaruhi pandangan dan persepsinya tentang Indonesia ke depan.
Dengan pemahaman setiap generasi adalah anak zamannya, dengan kondisi dan tantangan yang berbeda. Satu-satunya penghubung dengan masa lalu bangsanya adalah sejarah. Oleh karena itu, persepsi serta pengetahuan dan penghayatan masa lalunya ditentukan oleh seberapa banyak pengalaman yang berupa ingatan kolektif masa lalu itu diperoleh serta bagaimana cara memperolehnya.
Begitu pula dalam rangka memahami makna peristiwa 10 November yang ditransformasikan menjadi ikon Hari Pahlawan, tergantung sejauh mana kisah sejarahnya dapat menyampaikan pesan yang berupa kearifan kepada penerus sekarang. Peristiwa perobekan bendera Belanda oleh pemuda-pemuda arek-arek Surabaya di Hotel Yamato, Jalan Tunjungan 65 Surabaya, pada 19 September 1945 yang mengawali pecahnya pertempuran 10 November 1945, misalnya. Peristiwa heroik ini, sekaligus merupakan klimaks dari peristiwa dan pertempuran di beberapa bagian kota sebelumnya. Pertempuran Sabtu pagi, 10 November 1945 itulah dalam ingatan kolektif bangsa dikenang sebagai Hari Pahlawan.
Kisah heroik 64 tahun silam ini merupakan awal dimulainya sebuah momentum perjuangan, dan pada setiap kali dihadirkan menjadi peringatan, saat itulah orang mencari makna dan artinya bagi kehidupan dewasa ini. Benarkah demikian?
Melalui momentum peringatan Hari Pahlawan, penulis mengajak generasi muda agar lebih menghayati dan mencermati esensi perjuangan yang telah dipersembahkan oleh para pahlawan dan perintis kemerdekaan. “Perjuangan para pahlawan ini dapat kita jadikan sumber inspirasi dan semangat dalam mengisi kemerdekaan bagi bangsa dan negara,”. Sesungguhnya tidak berdiri sendiri tetapi merupakan bagian dari rangkaian perjuangan panjang, mulai dari tahapan perintisan sampai kepada perjuangan mempertahankan dan mengisi kemerdekaan dengan berbagai upaya pembangunan menuju cita-cita bangsa Indonesia.
Semoga Hari Pahlawan bukan sekadar seremonial. Momentum Hari Pahlawan ini terkandung sejarah yang patut dihayati sebagai bagian dari proses transformasi dari pelestarian nilai-nilai perjuangan dan kepahlawanan.
Dengan memperingati Hari Pahlawan akan semakin terjalin komunikasi dan koordinasi yang baik antara pelaku sejarah dengan generasi penerus. Ini diharapkan dapat semakin memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa serta dapat menyatukan langkah dalam upaya pelestarian dan pengamalan nilai kepahlawanan, keperintisan, dan kejuangan, khususnya pada generasi muda sebagai penerus bangsa.
Pada peringatan Hari Pahlawan dilakukan pula mengheningkan cipta dengan maksud untuk lebih menghargai jasa perjuangan para pahlawan yang telah gugur dalam menegakkan, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan RI.
Melalui peringatan Hari Pahlawan setiap tahun dapat menggelorakan kembali spirit kepahlawanan tersebut. Karena semangat kepahlawanan bukan hanya dibutuhkan pada era merebut kemerdekaan, tapi akan tetap dibutuhkan sepanjang zaman. Satu yang perlu diingat, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati dan mengingat jasa para pahlawannya.

Revitalisasi makna

Memperingati dan mengenang jasa-jasa kepahlawanan yang sudah memberikan segala yang mereka miliki memang tidak boleh ditinggalkan. Namun memperingati dan mengenang itu tidak boleh terjebak dalam ritual-ritual perayaan peringatan sehingga akhirnya makna kepahlawanan itu menjadi hilang.

Demikian sejarawan Dr Anhar Gonggong berpendapat. Ia menilai, semakin lama peringatan Hari Pahlawan hanya menjadi ritual seremonial belaka tanpa pernah ada meresapi makna kepahlawanan itu sendiri. “Kita masih perlu memperingati dan mengenang jasa pahlawan, tetapi seharusnya kita tidak boleh terjebak dalam gaya peringatannya dan meninggalkan inti kepahlawanan mereka. Ada beberapa hal yang menjadi rancu ketika memperingati Hari Pahlawan saat ini, seperti makna pengorbanan perjuangan adalah mengusir musuh dari bangsa lain. Padahal tidak, maknanya tidak sebatas pada itu saja,” ujar Anhar Gonggong.

Sejarawan Universitas Indonesia (UI) ini mengambil contoh, sosok seperti Soekarno-Hatta dan pahlawan-pahlawan lainnya memang menjadi fenomenal di tengah kondisi saat itu. Mereka memiliki kehendak yang mampu membawa seluruh rakyatnya dalam tahap kehidupan yang lebih baik. Padahal kalau mereka mau, mereka bisa mendapatkan kehidupan pribadi yang baik dari pemerintah kolonial tanpa harus dipenjara atau mendapat siksaan kehidupan lainnya. Tetapi mereka memilih berkorban untuk membuat rakyat memiliki bangsa yang bermatabat.

“Seperti Soekarno dan Hatta, atau lainnya. Sosok itu berjuang bukan untuk dirinya pribadi, tetapi untuk rakyat. Mereka intelektual. Mereka memiliki kehendak yang mampu melampaui batas dirinya. Mereka memiliki ‘pikiran-pikiran gila’ untuk kesejahteraan rakyat secara bersama-sama,” paparnya.

Sayangnya, kata Anhar Gonggong, kian hari makna kepahlawanan terasa kian hilang. Apalagi jika ingin mencari sosok kepahlawanan dalam kehidupan berbangsa. Padahal, cerita-cerita kepahlawanan biasanya muncul di tengah-tengah kondisi krisis masyarakat pada suatu zaman. Jika saat ini dipercaya sebagai salah satu kondisi krisis dalam kehidupan masyarakat di Indonesia, akan munculkah sosok pahlawan itu?

“Jika membandingkan pada masa-masa perjuangan dahulu sosok pahlawan muncul dari mereka yang memiliki intelektual lebih dari yang lainnya. Jiwa kepahlawanan itu akan memunculkan kehendak untuk membangun secara bersama-sama untuk kesejahteraan semua rakyat. Jiwa itu tidak hanya membutuhkan rasa simpati, tetapi juga rasa empati. Sosok yang bisa merasakan penderitaan rakyatnya saat ini,” tegas Anhar Gonggong.

Ia juga berpendapat, mungkin saja akan muncul sosok kepahlawanan dari kaum kecil seperti yang sudah dicontohkan oleh beberapa orang. Contohnya, mereka yang mendapatkan penghargaan Kalpataru atau penghargaan lainnya. “Sosok kepahlawanan dari orang kecil itu sudah terlihat, mereka yang membangun kesejahteraan masyarakat sekitarnya dengan membangun terowongan saluran air atau sebagainya dapat dikategorikan sebagai pahlawan karena memiliki kehendak yang melampaui batas dirinya dan untuk kepentingan rakyat banyak,” tambahnya.

Memperingati Hari Pahlawan saat ini pun rasanya masih perlu diingatkan kembali tentang makna kepahlawan. Sosok yang mau memikirkan orang banyak dan kehendak yang kuat, bukan mengembangkan kepentingan sendiri atau malah menjadi “musuh dalam selimut”.

“Pemerintah harus menyebarluaskan makna ini, karena semakin lama makna kepahlawanan semakin terdegradasi. Kalau terus menerus terdegradasi maka bangsa pun akan hancur karena masing-masing hanya akan mementingkan diri sendiri,” ujarnya. Jadi masih perlu dicari sosok pahlawan yang jujur, memikirkan rakyat banyak, tidak takut melawan ketidakbenaran, dan tidak menjadi pahlawan kesiangan.

Pendapat senada juga dikemukakan Guru besar Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang Prof Dr HMH Mustopo. Menurutnya, kepahlawanan menurut Cak Roeslan (Roeslan Abdulgani) adalah jiwa berbakti untuk mendapat pahala Tuhan. Kepahlawanan berinti kebaktian kepada kemanusiaan, bangsa, rakyat, dan kepada tanah air, mengabdi untuk mewujudkan cita-cita keadilan sosial. Jiwa kepahlawanan tidak mengenal ukuran besar atau kecil, melainkan diukur dari unsur keikhlasan dan kesungguhannya.

Kepahlawanan tidak hanya lahir dari kancah pertempuran, tetapi dapat juga lahir di kesunyian ruang laboratorium, dari lingkungan pabrik-pabrik yang pengap karena polusi, serta pengabdian seorang guru di daerah terpencil. Ukuran kepahlawanan bisa saja berubah sejalan dengan penyikapan masyarakat terhadap nilai kepahlawanan, namun nilai asasi (intrinsih)-nya tetap bertahan.

Barangkali, katanya tanpa pahlawan sejarah akan tetap mengalir, tetapi kehidupan tanpa pahlawan akan menjadi sepi. Namun, kehidupan kita sebagai satu nation terasa lebih sepi tanpa adanya kesadaran harga diri. Sementara itu, kemajuan dan perubahan telah dicatat dalam halaman-halaman sejarah; meskipun keduanya itu bunkalah suatu hukum alam.

“Karena itu, apa yang telah dicapai oleh suatu generasi tidak ada jaminan untuk tidak lepas pada generasi berikutnya,” kata Prof Dr Mustopo seraya menambahkan, “the gains by one generation can be lost by the next. Begitulah kata orang bijak.

Bisa jadi, perjuangan mewujudkan peningkatan kesejahteraan melalui upaya pembangunan agar dapat maju, mandiri, sejahtera, bermartabat, dan tidak bergantung pada bangsa lain itu pun merupakan cara tepat mempertahankan dan mengisi kemerdekaan itu!

Torehan mungkin salah, sendatan tinta menjadi sulit dipahami, maapka sahabat, untukmu kupersembahkan, hasil cuplikan Pustaka UI

Baca Juga

Salam Takzim Batavusqu

Iklan

47 pemikiran pada “Pahlawan harimu, Kini

      1. RAIHLAH “JATI DIRI MANUSIA”.. untuk

        MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA INDONESIA

        Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaank
        I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

        1. SETUJUUUUUUUUUUUUUUU makanya
          RAIHLAH “JATI DIRI MANUSIA”.. untuk

          MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA INDONESIA

          Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaank
          I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

        2. Benaaar.. RAIHLAH “JATI DIRI MANUSIA”.. untuk

          MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA INDONESIA

          Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaank
          I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

  1. semoga pahlawan-pahlawan bagi bangsa ini tetap ada, untuk memperjuangkan sesuatu yang perlu diperjuangkan…
    semoga mereka diberi kekuatan dan kemudahan oleh-Nya dalam memperjuangkan sesuatu itu…

  2. RAIHLAH “JATI DIRI MANUSIA”.. untuk

    MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA INDONESIA

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fulllllllllllllllllllllllllllllllll

  3. Siti Fatimah Ahmad

    Assalaamu’alaikum

    Hadir bertanya khabar dengan doa dikirim agar sihat sentiasa.

    JASAMU WAHAI PAHLAWAN AKAN SENTIASA DI KENANG. Salam mesra saudara Zipoer7.

  4. Siti Fatimah Ahmad

    Salam Takzim..

    HARGAILAH PERJUANGAN MEREKA DENGAN MENJADIKAN DIRI KITA BANGSA YANG BERDAULAT DAN MAMPU MEMBANGUN JATI DIRI YANG BERMANFAAT UNTUK SEMUA.

    Salam rindu dari Malaysia.

  5. Siti Fatimah Ahmad

    Salam hormat.

    SALUT UNTUK SEMUA RAKYAT INDONESIA YANG MEMPUNYAI PEJUANG-PEJUANG BANGSA BERHATI WAJA DAN HEBAT WAWASANNYA. SAYA BERBANGGA MENJADI SEBAHAGIAN DARI ANDA.

    Salam Cinta Damai Penuh Kasih Sayang dari saya di Malaysia Buat Semua. I loveee you fuuulllll.

  6. sedjatee

    selamat hari pahlawan… semoga bangsa ini dapat lebih menghargai para pahlawannya.. bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya… salam sukses…

    sedj

  7. Ping-balik: Tradisi Bayi Turun Tanah 3 « Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s