Suku Tengger di Hari Raya Qurban

Kamis, 26 Nopember 2009

Salam Takzim

Sahabat dan Pemirsa Batavusqu yang berbahagia

Masyarakat Suku Tengger

Perayaan Idul Adha tinggal menghitung jam, ya ±18 Jam lagi  umat islam dunia akan melaksanakan perayaan hari Raya Idul Adha yang juga sering disebut sebagai hari raya Idul Qurban. Berbagai masjid, musholla mulai mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut Hari Raya ini.

Pada postingan kali ini perkenankan penulis menyadur dari media internet karena menurut penulis sajian ini sangat bagus untuk diketahui oleh para sahabat dan pembaca batavusqu dimana saja berada. Ya sajian khusus berkaitan dengan budaya kehidupan suku Tengger di pedalaman Jawa Timur berikut liputannya.

Setiap tahun, umat Islam selalu merayakan Idul Adha, tidak terkecuali para mualaf Suku Tengger yang berada di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.Pagi itu, cuaca di Desa Argosari terasa sejuk, hamparan hijau terlihat di sepanjang jalan, bahkan hawa dingin sudah mulai menusuk tulang. Desa Argosari berada di ketinggian 2.700 meter dari permukaan laut (mdpl).Sepanjang perjalanan menuju ke balai desa Argosari, nampak deretan rumah yang cukup sederhana di mana warga Tengger tinggal.Beberapa penghuninya terlihat berada di halaman rumah sambil mengenakan sarung sebagai ciri khas suku Tengger, “melawan” hawa dingin. Mereka asyik berbincang-bincang tentang hasil panen mereka dengan menggunakan Bahasa Jawa khas Tengger.Menjelang Hari Raya Idul Adha 1430 Hijriyah, tidak tampak ada satu pun bursa penjualan kambing di kawasan desa agropolitan tersebut, bahkan tidak ada persiapan khusus yang dilakukan oleh warga Tengger dalam merayakan Hari raya Qurban tersebut.

Ditemui di kantor Desa Argosari yang cukup sederhana, kepala desa setempat, Martiam bersama sejumlah aparat desa yang seluruhnya suku Tengger selalu menyambut dengan ramah kedatangan tamu, orang luar desanya.

Martiam menuturkan, tidak ada persiapan khusus yang dilakukan mualaf Suku Tengger menjelang Hari Raya Idul Adha, bahkan mereka menganggap seperti hari biasa.

“Kami memang belum paham benar tentang makna qurban bagi umat muslim, sebagian mualaf Tengger hanya merayakan Idul Adha dengan Shalat Id dan menerima daging hewan kurban,” kata Martiam yang sejak tahun 2004 lalu menjadi mualaf.

Sejauh ini, katanya, mualaf Tengger merasakan adanya kebersamaan dalam menunaikan Shalat Id dan menerima pembagian hewan kurban dari berbagai pihak.

“Mualaf Tengger akan berbondong-bondong menuju ke masjid dan musholla untuk menunaikan ibadah Shalat Id,” tuturnya seraya menambahkan bahwa warga Tengger selama ini hanya menerima daging hewan qurban berupa sapi dan kambing yang sudah dikemas dengan plastik, tanpa memahami makna yang lebih dalam tentang pemberian daging hewan qurban dari sejumlah pihak.

“Biasanya, panitia penyembelihan hewan qurban dari berbagai lembaga dakwah Islam di Desa Argosari melibatkan mualaf Tengger pada saat acara penyembelihan itu, hingga pembagian hewan qurban,” paparnya.

Mualaf Tengger yang dilibatkan dalam kegiatan Idul Adha di sejumlah masjid dan musholla mengetahui proses penyembelihan dan pembagian hewan qurban yang ditujukan kepada warga yang kurang mampu dan kaum duafa, namun sebagian besar mualaf Tengger diberi daging hewan qurban, meski sebagian bisa dikategorikan sebagai orang mampu.

“Sejumlah lembaga dakwah Islam dan pihak kantor Departemen Agama (Depag) Lumajang melalui Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Senduro selalu memberikan daging hewan qurban kepada Suku Tengger,” ucapnya lirih.

Ia menjelaskan, tidak ada tradisi khusus yang dilakukan mualaf Tengger dalam menyambut Hari Raya Idul Adha, namun pada saat pelaksanaan Shalat Id, biasanya masjid-masjid yang ada di Desa Argosari penuh dipadati para mualaf Tengger.

Tahun ini, seorang mualaf Tengger yang hidupnya berkecukupan akan menyumbangkan seekor sapi untuk disembelih pada Hari Idul Adha nanti.

“Pak Supomo memang orang kaya mualaf Tengger dan yang bersangkutan akan menyumbangkan seekor sapi untuk disembelih pada Idul Adha nanti, kemudian daging hewan qurban itu akan dibagikan kepada para mualaf Tengger yang kurang mampu di Desa Argosari,” katanya.

Di Desa Argosari, terdapat lima dusun yakni Dusun Pusung Dhuwur, Gedok, Puncak, Bakalan dan Argosari. Mualaf Tengger terbanyak berada di Dusun Gedok, sedangkan empat dusun lainnya masih banyak warga Tengger yang beragama Hindu.

“Warga Tengger yang beragama Islam hidup rukun berdampingan dengan warga Tengger yang lain yang masih beragama Hindu. Toleransi umat beragama di sini masih tinggi, sehingga suku Tengger saling menghormati, meski keyakinannya berbeda” katanya mengungkapkan.

Budaya Malu

Ia mengemukakan, kebiasaan menerima daging hewan qurban merupakan hal baru bagi para mualaf Tengger, namun sebagian besar mereka malu untuk menerima daging hewan qurban tersebut, sehingga daging hewan qurban dibagikan langsung ke rumah-rumah mualaf Tengger.

“Biasanya penerima daging hewan qurban mengantre di masjid dan musholla yang menyembelih hewan qurban, namun masyarakat Tengger memiliki budaya malu untuk menerima daging hewan qurban,” tuturnya.

Bahkan beberapa mualaf Tengger yang hidupnya pas-pasan, terkadang enggan menerima pemberian daging hewan qurban karena mereka merasa kehidupan mereka sudah cukup.

“Warga Tengger tidak terbiasa menerima bantuan, mereka bahkan tidak mempersoalkan apakah menerima daging qurban atau tidak pada Idul Adha nanti,” ujarnya.

Setelah Shalat Id, mualaf Tengger akan pulang ke rumah masing-masing dan tidak menunggu pembagian daging qurban seperti di sejumlah daerah yang nampak antre untuk menerima sebungkus daging qurban.

“Memang sejak dulu, mualaf Tengger enggan mengantre hanya untuk menunggu pembagian hewan qurban, mereka malu menerima bantuan itu,” katanya.

Dengan demikian, panitia pembagian daging hewan qurban harus datang ke rumah masing-masing mualaf Tengger untuk memberikan sebungkus daging hewan qurban yang sudah disembelih.

Bahkan, kata dia, daging hewan qurban juga diberikan kepada warga Tengger yang beragama Hindu, apabila seluruh mualaf Tengger yang berhak menerima sudah mendapat jatah daging hewan qurban.

Mualaf Tengger yang tinggal di Dusun Gedok, Sukaryomuji, mengatakan keluarganya tidak mempersoalkan pembagian daging hewan qurban karena warga Tengger tidak terbiasa menerima bantuan seperti daging hewan qurban atau apa pun.

“Saya tidak tahu diberi atau tidak pada Idul Adha kali ini, namun saya tidak terlalu mempersoalkan hal itu,” katanya.

Ibu dua anak ini menjelaskan, Hari Raya Qurban bagi masyarakat Tengger tidak memiliki makna khusus seperti perayaan karo bagi umat Hindu pada umumnya, namun suasana kebersamaan mewarnai pelaksanaan Shalat Id yang dilaksanakan di masjid dan musholla.

“Kami hanya menjalankan ibadah Shalat Id, selanjutnya sebagian warga tetap bekerja di ladang sayur-mayur, seperti hari biasanya,” ujarnya.

Pemberian daging hewan qurban sangat bermanfaat bagi masyarakat miskin suku Tengger karena sehari-hari mereka hanya makan nasi dan sayuran, terkadang lauk-pauk apa adanya.

“Kalau belum panen, biasanya kami hanya makan nasi dan sayur yang dipetik di ladang, ditambah dengan ikan asin atau tempe dan tahu,” katanya menambahkan.

Sementara, mantan Kepala KUA Kecamatan Senduro, Nanang Muryanto, mengatakan tiap tahun ada pembagian daging hewan qurban untuk mualaf suku Tengger yang tinggal di Desa Argosari dan Ranupane, Kecamatan Senduro.

“Pembagian daging hewan qurban biasanya dilaksanakan rutin setiap momentum Idul Adha di sana,” katanya.

Idul Adha tahun ini di lingkungan warga Tengger, berbeda dengan tahun sebelumnya karena ada seorang mualaf Tengger yang berkurban seekor sapi untuk Idul Adha 1430 Hijriyah.

“Alhamdulillah, sudah ada mualaf Tengger yang sadar tentang pentingnya berkurban bagi mereka yang mampu, ia sudah bersedia berbagi dengan warga Tengger yang kurang mampu melalui sumbangan hewan kurban,” ucapnya.

Warga Tengger yang menyumbangkan seekor sapi untuk Idul Adha tahun ini, kata dia, tinggal di Dusun Bakalan, Desa Argosari. Yang bersangkutan memang dikenal kaya di kalangan suku Tengger.

Menurut pria yang sudah tiga tahun menjadi Kepala KUA Senduro ini, makna qurban bagi warga Tengger cukup istimewa karena sebelumnya tidak ada tradisi pembagian daging hewan qurban bagi suku Tengger.

Biasanya sejumlah lembaga dakwah dan para penyuluh agama Islam di kawasan mualaf Tengger membentuk sebuah kepanitiaan untuk menyembelih dan membagi daging hewan qurban dengan melibatkan mualaf Tengger.

“Banyak lembaga dakwah dan pihak-pihak yang memberikan sumbangan daging hewan qurban bagi mualaf Tengger, bahkan beberapa pihak dari luar Kabupaten Lumajang menyerahkan daging hewan qurban itu langsung kepada mereka,” katanya.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Hidayatullah Kabupaten Lumajang, Wasito, mengatakan lembaga dakwah yang dipimpinnya setiap tahun selalu membagikan daging hewan qurban untuk mualaf Tengger di Lumajang.

“Biasanya penyembelihan dan pembagian daging hewan qurban dilaksanakan setelah Shalat Id di sejumlah masjid dan musholla di sana,” katanya.

Pada tahun 2008, DPD Hidayatullah Lumajang memotong hewan qurban satu ekor sapi dan 73 ekor kambing, seluruhnya dibagikan kepada mualaf Tengger di Lumajang, khususnya di Desa Ranupane dan Argosari.

“Sebanyak 800 mualaf Tengger mendapat daging hewan qurban pada Idul Adha tahun lalu,” katanya.

Ia mengungkapkan, rencananya lembaga dakwah Islam ini akan menyalurkan sebanyak 100 ekor kambing pada pelaksanaan Idul Adha 1430 Hijriyah.

“Beberapa DPD Hidayatullah di luar daerah Lumajang ikut menyumbang hewan qurban untuk para mualaf Tengger, seperti Jember, Malang dan Surabaya sehingga terkumpul sebanyak 100 ekor kambing,” ujarnya.

Jumlah mualaf Tengger yang akan menerima daging kurban tahun ini, katanya, masih didata oleh penyuluh agama Islam (dai) yang ditugaskan oleh DPD Hidayatullah Lumajang.

“Lima dai kami di tiap dusun di Desa Argosari sedang mendata nama-nama mualaf Tengger yang berhak menerima daging hewan qurban,” katanya.

Pembentukan panitia penyembelihan dan pembagian daging hewan qurban sedang dibentuk di tiap dusun dengan melibatkan warga Tengger sendiri.

Bagi DPD Hidayatullah, momentum Idul Adha digunakan sebaik-baiknya sebagai gerakan sosial yang mengandung unsur dakwah kepada mualaf Tengger.

“Kami memberikan daging hewan qurban ini kepada mualaf Tengger sebagai amanat dari ajaran agama Islam, sambil menanamkan aqidah dan syariah Islam supaya iman mereka semakin kuat,” katanya.

Rencananya, penyembelihan hewan qurban untuk mualaf Tengger tahun ini, akan dipusatkan di sebuah masjid di Dusun Bakalan, Desa Argosari untuk memudahkan transportasi, selanjutkan akan dibagikan ke masing-masing musholla dan masjid di tiap dusun di sana.

“Saya pikir lebih praktis apabila pembagian daging hewan qurban dipusatkan di satu masjid, kemudian dibagikan ke rumah-rumah mualaf Tengger melalui koordinator pembagian daging hewan qurban yang sudah ditunjuk oleh dai setempat,” katanya.

Tahun lalu, penyembelihan hewan qurban dilakukan di beberapa masjid dan musholla di Desa Argosari dinilai tidak efektif, karena jarak satu masjid dengan masjid yang lain sangat berjauhan dan transportasi ke arah sana agak sulit.

“Mudah-mudahan pelaksanaan kegiatan qurban tahun ini berjalan lancar dan jumlah mualaf suku Tengger semakin bertambah,” katanya berharap.

Wasito membenarkan budaya malu suku Tengger yang menerima daging hewan qurban pada setiap Idul Adha, sehingga panitia harus mengantar sebungkus daging hewan qurban ke masing-masing rumah mualaf Tengger yang berhak menerima.

“Mualaf Tengger merasa malu mendapat daging hewan qurban, karena mereka menilai hidupnya sudah cukup dan tidak perlu mendapat sumbangan daging hewan qurban,” katanya.

Disadur seseuai aslinya dari news.id

Semoga berkenan

Salam Takzim Batavusqu

66 thoughts on “Suku Tengger di Hari Raya Qurban

  1. :lol: :lol: :lol: :lol: :lol: :lol: :lol: :lol: :lol:

    RAIHLAH “JATI DIRI MANUSIA”.. untuk

    MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA INDONESIA

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaank

    I Love U fuuullllllllllllllllllllllllllllllll

  2. SETUJU !!!!!

    Selamat Hari Raya Idul Adha, Semoga Makna hari Raya Qurban tidak dikotori dengan perdebatan tentang sah dan tidak sahnya pembagian daging Hewan Qurban

  3. Memang begitulah seharusnya. Panitia Kurban yang harus berkeliling membagikan daging, bukan masyarakat yang harus antre daging. Itu tanda masyarakat yang memiliki himmah.
    Dalam masalah Kurban, yang berkepentingan adalah yang memberi Kurban. Selain berkurban, dirinyapun harus yakin bahwa Kurban yang diberikannya tersalur ke tempat yang seharusnya…

    Salut deh untuk postingan yang menggugah..

  4. di tempat saya juga daging hewan qurban dibagikan ke rumah masing² penduduk ..

    semoga tahun -tahun ke depan akan lebih banyak para muallaf di Tengger yang berqurban seperti Pak Supomo ..

    ===
    kunjungan sore ..

    salam

        1. Mudah2an momen Idul Adha ini bisa kita jadikan sebagai sarana tuk muhasabah terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di negeri ini. Dari berbagai media, kita masih melihat betapa budaya korupsi masih merajalela di negeri tercinta ini. Kasus suap, sogok menyogok, “markus” atau makelar kasus masih mewarnai negeri ini. Demi menumpuk kekayaan mereka rela menanggalkan “baju” ketakwaan. Ambisi untuk meraih jabatan telah memaksa untuk rela menjebol ”benteng-benteng” agama. Dewasa ini, tata kehidupan telah banyak yang menyimpang dari nilai-nilai ketuhanan. Dengan semangat Idul Adha, semoga kita bisa meneladani sosok Nabi Ibrahim yang senentiasa berusaha memaksimalkan rasa patuh dan taat terhadap ajaran agamanya.

  5. Salam silaturahim dari Lereng Muria di hari raya Idul Adha 1430H :D

    Skalian ada oleh2 terbaru dari Lereng Muria. Dicolek yak? Salamnya emPIISSSS sama emBEEEEKKKKKK. wokokokokkkk

  6. kalau saja budaya malu masih ada diperkotaan besar macam jakarta, tentu tdk akan ada kejadian orang2 yg berdesak2an hingga menyebabkan pingsan segala, diantara penerima daging qurban.
    Mrrilah kita berbagi kebahagiaan dgn mereka yg kurang mampu dlm menjalankan Idhul Adha kali ini,
    salam.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s