Pernikahan Massal Suku Tengger Jawa Timur

Senin, 30 Nopember 2009

Salam Takzim

Sahabat dan pemirsa batavusqu yang berbudi luhur

Pada postingan sebelumnya batavusqu mengangkat suku tengger yang masih mualaf, yang acuh terhadap makna Idul adha. Hal ini menjadikan ispirasi tersendiri kehidupan masyarakat mualaf Tengger sehingga dalam kehidupan bersama antara calon pasangan menggelitik batavusqu untuk menggalinya. Seputar google standard dan sembari mempraktekkan buku yang diberikan oleh mbahKung batavusqu berusaha mencari pernikahan adat, ternyata di sana pernikahan tidak dirayakan secara adat, hanya apabila sudah sah menurut dukun adat sudah cukup untuk berumah tangga.

Dari uraian diatas sedikit hasil yang batavusqu dapat dari torehan Elita Sitorini Lumajang batavusqu menyaji, agar tidak sia sia berikut liputannya

Setelah bertahun-tahun ikut keyakinan nenek moyangnya, 70 pasangan suami istri suku Tengger kemarin melangsungkan pernikahan masal secara islami setelah menjadi mualaf. Karena masih minim pengetahuan tentang Islam dan sebagian sudah aki-aki dan nini-nini, acara yang biasanya sakral itu pun berjalan santai dan penuh gelak tawa.

SUASANA masjid Nurul Huda Desa Tempuran, Kecamatan Senduro, mendadak riuh rendah. Puluhan wanita mengenakan jubah dan jilbab putih berhias bunga-bunga merah tampak memadati ruangan masjid di sisi sebelah kiri. Sedangkan di sebelah kanannya, puluhan bapak-bapak yang mengenakan baju takwa dan sarung, lengkap dengan peci hitam dan serban putih yang dikalungkan tampak serius mendengarkan instruksi dari Kepala KUA Senduro Nanang Muryanto.Mereka adalah pasangan calon suami-istri yang akan mengikuti prosesi akad nikah yang akan dipimpin Nanang, dan mengikutsertakan sepuluh penghulu. Sebetulnya, pasangan calon suami-istri itu, kebanyakan sudah lama menikah. Bahkan, ada yang sudah empat dasawarsa membina rumah tangga. Karena itu, tidak heran bila sebagian di antara mereka juga mengajak anak cucunya. Hanya saja, saat itu mereka tidak dinikahkan dengan tata cara Islam, dan baru setelah menjadi mualaf mereka menikah menurut tata cara Islam.

Tak heran jika banyak calon mempelai wanita yang merona wajahnya saat digoda kepala KUA Senduro. Di hadapan calon mempelai wanita yang kebanyakan sudah memiliki anak itu, Nanang kerap melontarkan guyonan-guyonan segar. “Bener ta niki calon suami sampeyan,” katanya sambil menunjuk foto seorang laki-laki, pada Mujiati, warga Desa Wonocempokoayu, Kecamatan Senduro.

Kontan saja, Mujiati menolak, sebab ternyata yang ditunjuk Nanang bukan calon suaminya. “Wah, wah ora gelem diwehi bojone wong liyan,” timpal Nanang. Mendengar celetukan Nanang itu, Mujiati langsung tersipu-sipu. Apalagi, Nanang melanjutkan godaannya saat menanyakan perasaannya menikah kembali. Tak kuasa menahan malu, Mujiati hanya bisa tersenyum malu-malu.

Begitu juga dengan Juwit, yang ternyata adik Mujiati. Karena kedua orang tua mereka masih baru menjadi mualaf, mereka menggunakan wali hakim untuk menikahkan dengan calon suami masing-masing. Meski terlihat mengumbar senyum, namun Juwit yang akan dinikahkan dengan Purwadi, juga sama merona wajahnya, saat Nanang meminta para calon pengantin wanita mengucapkan kalimat syahadat dan permintaan untuk dinikahkan wali hakim.

Bahkan, dia sempat tersendat-sendat saat menirukan pernyataan untuk dinikahkan wali hakim yang diucapkan Nanang. Suasana semakin riuh, saat Nanang memanggil Karti yang akan dinikahkan dengan Suprapto. Pasalnya, dia ternyata adik bungsu dari Mujiati dan Juwit. “Waduh, satu keluarga borongan. Awas keliru ya suaminya,” canda Nanang disambut gelak tawa pengantin lainnya.

Mendengar pernyataan Nanang, ketiganya semakin tersipu. Untuk menutupi rasa malu mereka terus menundukkan kepala. “Ya, malu saja. Soalnya sudah tua, anaknya sudah banyak,” terang Mujiati, saat menunggu prosesi pembacaan akad nikah.

Dia sendiri sudah dua dasawarsa menikah dengan Sukoco. Hanya saja, dia menikah tidak dengan tata cara Islam. “Waktu itu, saya menikah dipimpin dukun,” terangnya. Sebagai salah seorang anggota suku Tengger, dia menjalani prosesi pernikahan yang dipimpin oleh seorang dukun adat.

Namun, setelah memutuskan untuk menjadi mualaf, dia dan Sukoco ingin pernikahan mereka diulang, agar sesuai dengan tata cara Islam. “Pastinya senang karena sudah diajak nikah masal. Soalnya dulu tidak ada suratnya (surat nikah),” sambungnya. Karena itu, meski sempat didera rasa malu, harus mengulang menikah, padahal sudah memiliki anak berumur 13 tahun, dia tetap setuju mengikuti nikah masal ini.

Begitu juga dengan pasangan Sahut dan Kasiyani, juga warga Desa Cempokoayu yang mengikuti nikah masal. Keduanya sudah menjadi pasangan suami-istri selama empat dasawarsa. Mengulang kembali masa-masa awal menikah, membuat keduanya tidak mampu menahan malu. Terutama setelah prosesi akad nikah, keduanya diminta oleh sanak-saudara yang hadir untuk berfoto bersama.

Terlihat jelas, rasa grogi bercampur malu dari wajah kedua mempelai. Ketegangan itu semakin jelas, saat ibu-ibu undangan terus menyemangati Sahut agar mencium pipi istrinya. “Cium, cium pipinya, biar bagus kalau difoto,” teriak seorang ibu. Mendengar teriakan itu, Kasiyani hanya bisa menundukkan kepala. Namun, sikap itu tidak bisa dipertahankannya, sebab fotografer yang akan mengabadikan proses akad nikah ini, memaksanya untuk memandang suaminya dengan mesra.

Karena sudah tidak tahan menjadi bulan-bulanan undangan, Sahut meminta acara foto bersama diakhiri. “Sudah, sudah cukup. Saya ini sudah tua, malu,” katanya sambil menghindari fotografer sembari tersenyum.

“Saya ini sudah empat puluh tahun menikah dengan Kasiyani. Makanya, malu kalau disuruh yang aneh-aneh,” katanya. Sama seperti Mujiati dan Sukoco, Sahut dulunya juga menikah dengan aturan dan tata cara suku Tengger. Setelah menjadi mualaf, dia tahu bahwa dia dan istrinya mulai menjalani hidup dengan aturan yang baru, termasuk mengulang pernikahan mereka, agar sesuai dengan tata cara hukum Islam.

Kesibukan calon mempelai wanita nikah masal ini, juga sama seperti perawan yang akan menikah. Bahkan, mereka jauh lebih sibuk. Sebab, tidak hanya mempersiapkan diri sendiri, dirias layaknya calon pengantin baru, mereka masih harus direpotkan oleh anak. Seperti yang dialami Yuliati. Meski tampak cantik dengan busana muslim, dia justru sibuk menyusui anak keduanya, Revan, yang baru berusia dua bulan.

“Senang sih senang ikut nikah masal. Ya biar halal,” katanya sambil menyusui Revan. Dengan kondisinya saat ini, perempuan yang akan dinikahkan dengan Haryono itu, mengaku tidak memikirkan bulan madu. Begitu juga, kebanyakan calon mempelai wanita lainnya.

“Kalau bulan madu itu, seperti makan nasi. Wis mbelenger (sudah kenyang). Sekarang nggak perlu bulan madu. Malu, sudah tua,” celetukan Kumini, yang sudah satu windu menikah dengan Mulyadi dan dikarunia seorang anak berusia tujuh tahun itu. Mendengar celetukan itu, calon mempelai wanita lainnya langsung terpingkal-pingkal.

Acara prosesi akad nikah di Masjid Nurul Huda itu, dilanjutkan dengan arak-arakan pengantin menuju ke Pasar Agropolitan, Senduro. Di tempat itu, para pasangan suami-istri akan mendapat wejangan dari bupati Lumajang atau yang mewakili. Sambil membawa mahar berupa seperangkat alat salat, 70 pasang pengantin berjalan menuju Pasar Agropolitan.

Nikah masal yang digelar BMH (Baitul Mal Hidayatullah) ini, rencananya akan dijadikan kegiatan rutin BMH. “Kalau melihat jumlah pesertanya, kami berencana akan menjadikan acara ini dan khitanan masal sebagai kegiatan rutin,” ujar Branch Manager BMH Surabaya Samsudin. Dia juga mengatakan bahwa saat ini sudah ada 1.686 warga suku Tengger, yang sudah menjadi mualaf. Untuk semakin meningkatkan ghirah, pihaknya sudah menurunkan enam orang dai sebagai penuntun pembelajaran agama Islam. (*)

Iklan

47 pemikiran pada “Pernikahan Massal Suku Tengger Jawa Timur

  1. Sangat menarik tulisannya. Semoga para da’i yang berdakwah disana selalu mepunyai ghiroh dan keistiqomahan, dan penduduk disana pun menjadi muslim yang kafah. Salam kenal

  2. Subhanalloh…. sangat seru dan menarik hehe…:)

    membaca postingan ini perut saya sampai sakit karena tertawa berguling2 di lantai haha hihi huhu… sangat lucu. apalagi ketua KUA nya yang suka melawak. saluttttttttttttttttttttt….!!!!!!!!!!!!!

  3. Reportase ini sangat menarik karena menyajikan acara pernikahan yang cukup unik dari suku yang sudah bertahun-tahun menggedong tradisinya. Kayaknya memang harus ada upaya untuk menyentuh mereka yang lebih intens.
    Terima kasih mas atas info yang yahud. Kalau ada fotonya -tentu akan lebih sip lagi

    Sekarang saya tantang lagi untuk mengikuti acara PARADE PUISI CINTA yang saya gelar mulai tanggal 1-15 Deember 2009, tentu ada iming-iming tali asih yang tak kalah menarik.

    Salam hangat dari Surabaya

  4. terima kasih utk tulisan yg sangat menarik,Mas Zipoer, saya jadi tahu rupanya suku tengger ini mudah sekali utk menerima sesuatu yg diluar kebiasaan mereka,walaupun mereka terbiasa dgn segala adatnya.
    mudah2an dgn adanya acara nikah massal ini, mereka menjadi kian tahu dan memahami ttg Islam.
    salam,

  5. informasinya sangat menarik sekali. Saya dulu sempat beberapa hari di sana, sayang tidak menyimak kebiasaan mereka secara detil.
    Terima kasih Mas sudah berkunjung ke tempat saya.
    Salam sukses selalu 🙂

  6. Ping-balik: Tradisi lain Masyarakat Tengger « Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s