Pernikahan Adat Masyarakat Tolaki Sultra

Rabu, 2 Desember 2009

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca batavusqu yang baik hati

Pada hari ini batavusqu berusaha menjawab titipan dari seorang sahabat di email batavusqu untuk memposting pernikahan adat di Sulawesi  Tenggara, sungguh tantangan besar bagi batavusqu karena tidak spesifik padahal di Sulawesi Tenggara terdapat 4 suku, yaitu suku Muna, Buton, Tolaki dan Wolio. Nah untuk tidak mengecewakan sahabat Batavusqu dan sekaligus untuk mengupdate blog hehehe maka batavusqu mencoba mengetengahkan suku Tolaki dalam postingan kali ini

Tolaki adalah salah satu suku yang ada di Sulawesi Tenggara, yang mendiami daerah yang berada di sekitar kabupaten Kendari dan Konawe. Suku Tolaki berasal dari kerajaan Konawe. masyarakat Tolaki umumnya merupakan peladang dan petani yang handal, hidup dari hasil ladang dan persawahan yang di buat secara gotong-royong keluarga. Raja Konawe yang terkenal adalah Haluoleo (delapan hari). Masyarakat Kendari percaya bahwa garis keturunan mereka berasal dari daerah Yunan Selatan yang sudah berasimilasi dengan penduduk setempat, walaupun sampai saat ini belum ada penelitian atau penelusuran ilmiah tentang hal tersebut. Karena masyarakat tolaki hidup berladang dan bersawah, maka ketergantungan terhadap air sangat penting untuk kelangsungan pertanian mereka. untunglah mereka memiliki sungai terbesar dan terpanjang di provinsi ini. Sungai ini dinamai sungai Konawe. yang membelah daerah ini dari barat ke selatan menuju Selat Kendari.

Dalam prosesi perkawinan suku Tolaki memiliki beberapa tahapan, dan untuk lebih jelasnya dari pernikahan suku Tolaki ikutin terus yuk prosesinya

Tahapan Prosesi Perkawinan

Sebelum dilakukan perkawinan, tahapan-tahapan yang perlu dilalui adalah sebagai berikut:

1. Rencana Pengajuan Lamaran

Sebelum memasuki pengajuan lamaran ada proses yang harus dilalui, salah satunya adalah Metiro. Metiro adalah mencari informasi tentang gadis yang akan menjadi bakal calon mantu. Dengan cara:

  • Orang tua pria langsung mengutus seseorang secara rahasia kerumah orang tua perempuan yang akan dijadikan sasaran dengan memperhatikan posisi yang tepat (Papasa dan Wowai meambo) terutama anak gadis yang menjadi idaman. Bila posisi atau wowai yang diharapkan sudah sesuai maka ada tindakan utusan pihak laki-laki melamar secara rahasia dengan Monggolupe, artinya meninggalkan alat rias remaja putri secara rahasia, bila dalam waktu 4 kali 24 jam tidak kembali sinyal tersebut menandakan lamaran rahasia diterima dan dapat dilanjutkan proses pelamaran terbuka. Tetapi bilamana ditolak, maka segera pula pengembalian seperangkat alat rias remaja putri kealamatnya dalam dalam waktu 1 kali 24 jam dilakukan oleh pihak keluarga si gadis.

  • Dengan Mondutudu artinya mencoba mengajukan lamaran terbatas dengan menggunakan Kalo dan satu bungkus sirih segar. Ikatan pembungkusnya hanya 1 kali dan 1 lembar kain sarung sebagai pengikatnya. Setelah 8 kali 24 jam tidak kembali, maka dapat mengajukan lamaran terbuka, dan bila tidak diterima dalam waktu 1 kali 24 jam harus dikembalikan satu bungkus sirih dan satu lembar kain sarung serta ditambahkan satu lembar sarung sebagai imbalan penolakannya. Maknanya adalah untuk menjaga rasa malu orang tua laki-laki agar hubungan kekeluargaan tetap harmonis dan atas wujud ucapan terima kasih orang tua perempuan atas perhatian kepada puterinya.

2. Tahap pengajuan lamaran

Dalam melakukan lamaran, maka yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:

  • Tahap persiapan

Orang tua laki-laki menghubungi atau mengundang juru bicara (Tolea Pabitara) untuk mempersiapkan pelaksanaan pengajuan lamaran dan menanyakan perlengkapan adat apa saja yang harus dipersiapkan orang tua laki-laki. Perlengkapan yang perlu dipersiapkan adalah: juru bicara pihak laki-laki yang terampil, Kalo sesuai status adat pihak perempuan, wadahnya, satu biji pinang hijau/oranye, daun sirih segar tulangnya bertemu ditengah-tengah kiri kanan satu lembar, tempat sirih, pinang, kapur/gambir dan rokok. Selanjutnya pihak orang tua laki-laki mengutus wakilnya untuk membicarakan waktu kedatangan pihak keluarga laki-laki untuk melamar.

  • Tahap pelaksanaan

Proses pengajuan lamaran pihak laki-laki harus memahami status adat pihak perempuan yang akan dilamar. Hal ini diperlukan agar dapat dengan mudah menentukan mas kawin. Dalam melakukan pelamaran, maka pembicara dari pihak pria terlebih dahulu menoleh kekiri dan kekanan sebagai ungkapan memohon izin untuk memulai acara peminangan dan dijawab juru bicara perempuan atau penghulu segera dimulai saja. Selanjutnya pembicara memindahkan Kalonya dari samping kanan kedepan berhadap-hadapan dengan Tolea dan bergeser kehadapan Puutabo atau kepala pemerintahan setempat untuk memohon izin memulai acara pelamaran. Setelah hal itu dilakukan, maka selanjutnya pembicara dari pihak pria berbicara dengan untaian kata-kata yang halus dan spesifik untuk menjelaskan maksud kehadiran pihak pria secara formal. Pembicara dari pihak perempuan mendengarkan dengan seksama kalimat demi kalimat yang dituturkan pembicara pehak pria dan membalasnya dengan bahasa yang halus pula diiringi ungkapan yang isinya dapat diterima pengaju lamaran tersebut.

Setelah diterima, maka selanjutnya menanyakan berapa beban adat yang akan dipikul serta ongkos pesta perkawinan.

  • Tahap Pertunangan

Pada dasarnya pertunangan berlaku sejak lamaran diterima. Pertunangan dilakukan jika perempuan yang dilamar belum cukup umur untuk melakukan perkawinan sehingga harus menunggu sampai dewasa. Atau pihak pria atau calon suami perlu melakukan proses pembelajaran untuk memberikan nafkah kepada sang istri kelak, sehingga dia terlebih dahulu harus mengabdi kepada orang tua perempuan.

  • Tahap perkawinan (Mowindahako)

Mowindahako dapat diterjemahkan pesta perkawinan, setelah tiba hari yang telah disepakati, maka diantarlah pengantin laki-laki ketempat upacara perkawinan dengan usungan (Sinamba Ulu) atau kendaraan lain.

Rombongan pengantin laki-laki dalam memasuki ruang upacara utama, pintu pagar, pintu utama, pintu kamar tidur, pembuka kelambu dan mata pengantin perempuan masih tertutup. Untuk membuka hal-hal tersebut diatas, maka pihak laki-laki harus menebusnya sesuai dengan kesepakatan dengan masing-masing penjaga. Hal ini dimaksudkan agar memeriahkan acara perkawinan, serta sebagai symbol ketulusan dari pihak laki-laki.disaat upacara ini pula semua kesepakatan peminangan dipenuhi serta ditampilkan secara transparan didepan masing-masing juru bicara, Puutabo, pemerintah, serta para undangan.

Setelah hal-hal tersebut dilakukan, kemudian kedua mempelai duduk bersila dan siap mengikuti upacara adat Mowindahako. Acara ini dilakukan dengan cara juru bicara pihak laki-laki menyesuaikan duduknya dengan mengarahkan Kalonya kehadapan Puutobu atau pemerintah setempat dan maju maksimal 4 kali sampai berhadapan langsung dengan penerima Kalo sebagai permohonan izin untuk memulai upacara adat. Dalam prosesi ini, juru bicara pihak laki-laki mengucapkan salam kepada Puutobu atau pemerintah setempat serta menyampaikan maksud kehadiran yang kemudian dijawab oleh Puutobu atau pemerintah tersebut. Setelah itu penerima Kalo mengembalikan kepada juru bicara. Kemudian juru bicara laki-laki mohon diri untuk kembali ketempat semula dan berhadap-hadapan dengan juru bicara dari pihak perempuan.

Acara berikutnya juru bicara laki-laki mengarahkan kehadapan juru bicara perempuan dengan meletakkan Kalo untuk melanjutkan acara Mowindahako. Bersamaan itu pula di sebelah kanan juru bicara laki-laki disuguhkan salopa tempat sirih, pinang, rokok atau tembakau oleh masing-masing ibu yang ditugaskan untuk Mosoro niwule.

Setelah kedua petugas Mosoro niwule menyodorkan salopa maka juru bicara laki-laki membuka kesunyian dengan mengucapkan salam dan dijawab oleh yang mendengarkan

Akhir acara atau penutup dilakukan Moheu osara atau pengukuhan adat. Makna dari acara ini adalah agar dalam melaksanakan tugasnya, juru bicara harus berlaku adil dan jujur serta sehat sepanjang hidupnya, bila sebaliknya akan terkena sanksinya dan mendoakan kedua rumpun keluarga mempelai agar hidup rukun, damai, bahagia, sehat, beriman, bertakwa kepada tuhan, dimurahkan rezekinya, melahirkan keturunan saleh, sehat, berilmu, dan beriman sampai akhir hayat. Kemudian dilanjutkan dengan saling menyuguhkan minuman sebagai pertanda upacara perkawinan telah selesai.

Setelah acara adat telah selesai, maka selanjutnya dilakukan akad nikah oleh petugas agama yang didahului penyerahan perwalian dari orang tua perempuan kepada imam (pemuka agama islam) yang akan menikahkan. Dan tahapan berikutnya adalah membawa pengantin laki-laki ke kamar pengantin perempuan untuk pembatalan wudhu. Dalam acara pembatalan wudhu, jempol kanan pengantin laki-laki ditempelkan diantara kedua kening atau dibawah tenggorokan pengantin perempuan.

Pada acara selanjutnya, kedua pengantin keluar kamar menuju kedua orang tua untuk melaksanakan Meanamotuo atau sembah sujud sebagai tanda syukur dan hormat kepada kedua orang tua yang telah melahirkan dan memelihara mereka. Setelah itu barulah dilakukan acara resepsi dan hiburan yang diisi dengan tarian lulo.

Sumber asli http://wawanjhie.blogspot.com

Sahabat batavusqu edwardo semoga sajian ini tidak mengecewakan anda

Kepada sahabat dan pembaca batavusqu sajian ini dipersembahkan semoga berkenan

Salam Takzim Batavusqu

Iklan

54 pemikiran pada “Pernikahan Adat Masyarakat Tolaki Sultra

  1. wah banyak suku yang baru dengar namanya ms. Betapa kayanya bangsa kita akan budaya dan adat istiadatnya.
    Artkel ini kalau dibukukan mantap lho mas.
    terima kasih selalu hadir dengan aneka budaya bangsa.
    Salam hangat dari Surabaya

      1. saya siap membantu kalo mau dibukukan…., ya sebatas ngetik naskah di word, saya bisa diandalkan???? meskup belum dikategorikan kelas profesional…..

        ada dua alternatif yg saya sarankan mas:
        #1. Naskah diajukan ke penerbit untuk di terbitkan menjadi buku (terbit tidaknya tergantung pihak penerbit).
        #2. Mas zipoer menerbitkan sendiri (self publishing).

        ada saran lain dari yang lainnya ga????

  2. Ping-balik: Battle Top Komenx di rumah Kangboed | m-alwi.com

  3. Ada oleh-oleh kang Zipoer backlinknya dibuka yaaaa
    Hasil Pertempuran tadi sore heeeeeeee

    Salam hangat selalu
    Dari : Penghuni sementara singaasana kedua di kerajaan Menteri Komeng Negeri Kompor Beledug

  4. hebat betul sobat yang satu ini,,,, mengenal berbagi suku di Indonesia ya….plus lagi dengan adat istiadatnya….
    semangat terus mas mendokumentasikannya dalam tulisan diblog ini…
    en jangan lupa blognya secara periodik di backup ya….
    dan backupannya disimpan dengan rapi dan aman… dalam lemari besi yang tahan api dan tahan banjir …kalo bisa 😀

    Salam Hangat Selalu

    1. ada nasehat sewaktu membaca di blog om Alwi sungguh membuat saya sehat di pagi hari, eh ditambahin dari kang Abula untuk menyimpannya secara priodik tulisan di batavusqu menjadi ilmu tersendiri pagi ini..
      Terima kasih kang Abula Sementara saya hanya bisa menyimpan diHarddisk saja, maklum oon nggak tahu cara yang lain
      Terima kasih sekali lagi telah mewarnai blog saya.
      Salam Takzim Batavusqu

  5. Kita bangga menjadi Bangsa Indonesia dengan aneka ragam adat istiadat dan budaya, tapi terkadang kita sendiri kurang memperhatikannya sehingga tau2 diklaim negara lain. Heeeee….
    Itu dah di daftarin hak ciptanya apa blm yaaa… jangan sampai diklaim negara tetangga

  6. Alhamdulillah, saya jadi paham garis besar upacara adat Tolaki. Sedikit cerita kang, (+/-) satu setengah tahun yang lalu saya menghadiri perkawinan seorang teman di Kendari yang menggunakan adat Tolaki. Sumpah, saya hanya jadi fotographer sekaligus pendamping teman saya itu. Soalnya, rangkaian acaranya tidak saya mengerti, apalagi pemakaian bahasa Tolaki dan Arab bercampur sepanjang acara yang berlangsung tidak kurang dari 2 jam itu.
    Jadi, trims sekali untuk info ini. Mantap. Saya jadi terkenang “sejarah” satu-satunya perkawinan adat Tolaki yang pernah saya ikuti.
    Salam.

    1. Puji syukur Tuhan terhadap kisah sahabatku mas Wardoyo yang sudah hadir dimalam hari ini, dan memberi semangata para sahabat yang akan menikah menggunakan adat Tolaki semakin paham bukan hanya sekedar mengikuti ritualnya saja..
      Terima kasih mas salam pula untuk para sahabat di cermin sejarah

  7. icha

    assalamu alaikum…. saya baru tau nih pernikahan lengkapnya adat tolaki,secara saya lahir dan besar didaerah tolaki juga tapi ortu cuman pendatang didaerah itu. kalo pomalaa termasuk daerah tolaki juga kan? So far,makasih atas infonya.

  8. apakah perkawinan adat ini masih sering dilaksanakan ?
    semoga saja bisa dilestarikan sebagai kekayaan bangsa.
    Hebat Mas Zipoer yg telah menurunkan tulisan berbagai macam adat perkawinan di negeri tercinta ini,
    sukses terus ya Mas Zipoer.
    salam.

    1. Masih bunda, yah walaupun sebagian mata acara banyak yang telah disederhanakan agar lebih ringan biayannya
      Sekali lagi saya haturkan terima kasih atas warna yang diberikan

  9. Ping-balik: Upacara Adat Rambu Solo « Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s