Pernikahan Adat Bulungan Kaltim

Rabu, 3 Desember 2009

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbahagia

Pada kesempatan luang ini perkenankan batavusqu menyuguhkan salah satu keunikan suku Bulungan yang berada di Provinsi Kaltim, keunikan apa?  ya keunikan yang paling sering diungkap dalam budaya Indonesia sebagai suatu ciri khas batavusqu. Dalam postingan kali ini, batavusqu juga menyampaikan permohonan koreksi agar sajian ini lebih lengkap, khusus kepada para sahabat dan pembaca yang berasal dari Bulungan Kaltim.

Lain prosesi pernikahan di Jawa, lain pula pernikahan di Bulungan, Kalimantan Timur. Kalau di tanah Jawa, sebuah rangkaian pernikahan diperlukan prosesi siraman, malam midodareni, lempar sirih, ngidak endok, kacar-kucur dan sebagainya. Sementara  dari sumber di Kasultanan Bulungan, yang diperagakan dalam acara parade tari klasik di Puro Pakualaman sebagai rangkaian Festival Kraton Nusantara (FKN) IV, prosesi pernikahannya berupa jujuran, ngantot sangot, kawin suruk, membangun pengantin, mandi-mandi, nyengkiban dan sebagainya.Tahap upacara yang diperagakan oleh berpuluh-puluh orang Bulungan tersebut dimulai dengan tahapan melamar. Serombongan orang berbaju daerah Bulungan dengan warna dominan kuning yang berasal dari pihak calon pengantin pria nampak menemui pihak calon pengantin wanita untuk membicarakan hari baik pernikahan. Alunan pantun sahut-menyahut keluar dari mulut para pengantar yang mungkin artinya tidak terlalu dipahami oleh sebagian penonton yang memenuhi bangsal Puro Pakualaman yang ditata sedemikian rupa tersebut.Pada tahap kedua, dengan diiringi 12 orang, acara ngantot sangot dimulai. Jujuran atau seserahan dari pihak pengantin pria berupa emas, perak bernilai 250, 200 atau 100 ringgit. Wang sengot serta cincin yang diletakkan dalam bokor emas tersebut kemudian oleh beberapa orang yang nampak serius berbicara dalam bahasa Bulungan diserahkan kepada pihak keluarga wanita. Setelah selesai, acara perkenalan antar calon mempelai wanita dan pria pun dilaksanakan.

Yang menarik pada upacara tersebut, si pengantin wanita disembunyikan atau di-kenurung dalam sebuah tenda kuning berhias payung dengan berbagai pernak-pernik warna kuning pula. Untuk dapat melihat pasangannya, ia hanya diperbolehkan mengintip dari lubang kecil saja.

Ketika upacara kawin suruk dimulai, kedua mempelai disandingkan dalam satu tenda warna kuning. Pengantin wanita masih menggunakan kain sarung yang menutupi seluruh mukanya agar tidak bisa bertatap muka dengan sang pria. Diiringi arak-arakan musik perkusi dan vokal hadrah dengan lagu Jugit Demaring dan Jugit Daman, prosesi tersebut berlanjut hingga pada tahap pengantin pria yang berada di halaman mempelai wanita dihalang-halangi kain panjang berwarna kuning sampai tabir berlapis terisi penuh oleh uang dan pengantin pria boleh menyentuh dahi istrinya dengan ibu jarinya pertanda sahnya sebuah pernikahan.

Diiringi tepuk tangan para penonton, prosesi tersebut diakhiri dengan mandi-mandi dan nyengkiban, yakni dua pengantin yang setelah selesai dimandikan oleh para orang tua kemudian bersujud dan bersilaturahmi dengan kedua orang tua masing-masing. Sebagai persembahan terakhir, ditampilkan tarian Bangun sebagai ritual pemanggilan dewa-dewa penyembuh yang akan mengusir roh-roh jahat.

Demikian tersaji untuk dikoreksi, kepada para sahabat dan pembaca yang mengetahui lebih dari yang diatas, tolong bantu yahh.

Salam Takzim Batavusqu

Baca juga

49 thoughts on “Pernikahan Adat Bulungan Kaltim

  1. lain ladang lain belalang,
    lain daerah lain pula adat istiadatnya.
    dan bagi saya negeri kita ini adalah negeri yg amat kaya dgn segala macam adat istiadat yg menarik.
    terima kasih Mas Zipoer telah berbagi utk menambah wawasan kebudayaan pd kami.
    salam.

  2. Salam,
    Mo tanya, klo upacara adat gini, akad nikahnya biasa menurut agama atau keyakinan masing-masing atau sah secara adat Mas, kurang faham..maaf :)

  3. pakaian adatnya rame.. banyak bulunya… kalo bulu burung dah habis, pake ulat bulu aja ya Mister, hehehehe… salam sukses…

    sedj

  4. blog nya ini informatif banget ya
    coba dari dulu udah ada, saya pernah kesulitan banget nyari bahan kuliah ttg perkawinan adat, sampe ke taman mini segala mendatangi anjungan nya..

    saya waktu ke kaltim ga sempat lihat tari2an nya.. sebel..
    pdhl lumayan lama di sana, sudah ke desa adat, ternyata kesenian nya hanya hari minggu, sedangkan minggu saya pulang. sedih banget!

    makasih komentar di tempat saya yah
    ma’af baru sempat kunjungan balik

  5. postingan yang suangat menarik…mengingatkan pada cita-citaku dulu…pengen nikah pake adat dayak di tempat kelahiran saya di Kal-bar…eh gak kesampaian karena keluarga besarku dan suami memustuskan pernikahan dilaksanakan di bandung….hiks..padahal mamak dan Bapak juga pengennya menikahkan anaknya di Kalbar…(begitulah, dalam pernikahan ternyata keluarga besar “berkuasa”)…

  6. Wah, saya juga baru tau nih detail rangkaian pernikahan adat bulungan. Belum pernah kesana juga…
    Melihat dari pakaiannya, sepertinya yang digunakan adalah adat dari salah satu suku dayak, hehe…sok tau deh saya ini… :)

    1. waaaah,,,gk jg hrs pake baju adat,,jika tetapi ada yang menginginkannya yh boleh aj

      baju adat bulungan tu dipakai pd acara adat dan acara tertantu yang diselenggarakan oleh warga yang bersuku bulungan pula,,,,
      heeeem
      kira-kira begitu lh yg sya tau….
      bkn bgtu mas poer….heheheh

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s