Selembar Untuk Ibu

Rabu, 9 Desember 2009

Salam Takzim

Teruntuk Ibu di Ruang Penantian

Ibu

Kala surat ini singgah dipangkuanMu, perkenankan untuk yang pertama dan pertama aku menghatur ma’ap beribu ma’ap, karena ungkapan batin tak mampu bersimpuh langsung keharibaanmu. Jauuuuh kau berada ibu, dan tak mungkin aku kesana dalam waktu dekat ini ibu.
Ibu
Kala risalah ini kau baca, jangan lihat isinya ibu, karena memang susunannya jauhhh kurang bersahaja, tapi ibu terimalah baitnya ibu, disana ada ungkapan ampun yang penuh. Jika itu sulit dicerna simpanlah ibu, mungkin lewat mimpi hadiiiirrrr penerjemah kalam.
Ibu
Jika ingat jasamu tak mampu aku membendung air mata ini, saat kuhaus Kau beri aku tegukan tirta, kala kulapar kau beri suapan gizi, ketika malam kau terjaga itu pasti ulahku, saat kau mencuci menyapu melipat aku tidur, aku main, aku pergi.
Ibu
Kala usia beranjak remaja masiiiih kau belai rambutku, sulit hilang ibu walau berganti tahun masih terus terngiang satu kalimah ” jadilah yang terbaik anakku” oh ibu ku tak sanggup lagi, tak mampu lagi untuk menoreh.
Ibu
Maapkan aku ibu, kini kau hanya sedang menunggu, menunggu penantian singkat, menanti akan hisab menanti timbang amal, ku yakin ibu amalmu lebih dibanding dosamu ibu, ku yakin dosamu pupus dengan pengabdianmu, saat ayah bertugas semua ibu ambil alih, menjadi ayah berikut ibu.
Ibu
Semoga kita dipertemukan dikampung halaman, kampung muasal manusia yakni surga, tunggulah ibu dunia ini hanya sesaat, berbeda dengan akhirat, disana kehidupan kekal yang tiada berakhir, doaku ibu selalu untukmu.

Surat ini kupersembah kan untuk ibuku yang telah wafat 14 tahun lalu, dan kucoba sampaikan kepada pak Guskar, sebagai potret kerinduan anak kepada ibunya. Semoga surat ini penuntunku menjadi peserta karnaval blog : Minum Teh Bersama Ibu yang diadakan dirumah mayanya pak Guskar

Terakhir sebagai ungkapan expresi diri menjelang hari ibu perkenankan batavusqu menyampaikan satu kalimat “Ibu berapa pun nilai harta yang dimiliki anak, setinggi gunung sekalipun tak akan pernah bisa membayar jasa untuk melahirkan anak itu”

Salam Takzim Batavusqu

Iklan

126 pemikiran pada “Selembar Untuk Ibu

        1. Bloghicking di hari jumat.
          Mengunjungi para sahabat,
          siapa tahu ada suguhan hangat.
          Meski datangnya telat,
          jangan didamprat.
          Yang penting semangat!
          Ok, sobat?

          jangan lupa; CINTAILAH IBU

  1. takzim pada ibu
    menjadikan jiwa kita tersucikan kembali
    karna bagaimana pun
    ibu akan kembali menyapa kita kapanpun
    memberikan kehangatan batin yang lebih dalam

  2. Semoga ibunya Mas Zipoer diberikan tempat yg istimewa disisiNYA, amin.
    saya sampai ikut berlinang2 membacanya…hiks…..hiks….
    semoga sukses di acara ” minum teh bersama ibu” di rumah Guskar ,Mas.
    salam.

  3. tary si lempah kuning

    ibu bagiku adalah balutan wol terhangat..
    melindungi
    meredam dingin
    menyelimuti

    tidak ada ketimpangan, atau ketidak-seimbangan, tidak ada sesak yang menghalangi hirupan nafas, tidak ada pengorbanan yang sia-sia, karena ibu adalah tempat berbagi yang paling sepadan..

    tidak ada kesabaran yang dituntut terlalu banyak, tidak ada jiwa yang menahan hati yang kelelahan, tidak ada resah untuk sekedar memejamkan mata, karena ibu adalah tempat paling tepat untuk mereduksi segala kepenatan..

    aku jadi inget ibuku pak, jadi pengen cepet2 pulang kantor.

  4. maaf sahabat…
    surat puisi ini membuat aku tersekat dan tak bisa beri aku ruang… walau hanya utk sekedar menuliskan sebuah komentar…
    semoga beliaunya..mendapat tempat terbaik dan mulia di sisiNya…

    salam hangat dan damai selalu…

  5. artikel ini telah tercatat di blog carnival.
    terima kasih mas zipoer atas partisipasinya

    “jadilah yang terbaik anakku” pesan seorang ibu agar anak2nya menjadi manusia yg berguna bagi sesama.

  6. mengharukan…

    Siapakah yang paling berhak aku berbuat baik kepadanya?
    ( Ibumu.. ) lalu siapa lagi? ( Ibumu..) lalu? ( Ibumu..)
    lalu ( Ayahmu )

    no 26 yah? rame amat.. 🙂

      1. Bedanya….Klo nasyid, yang bawain nasyider…Klo puisi….yang jelas bukan saya Pak 😆
        Kalo nasyid dinyanyiin….Klo puisi, bisa juga sih hehehe
        Kalo nasyid, kata2nya mudah dipahami…Klo puisi, kadang klo dah nyastra…buat pusing….
        Sudah cukup kan Pak penjelasannya :mrgreen:

  7. surat yg menyentuh hati… membanfkitkan nurani sejati…
    sesak dada ini ketika membaca dan memaknai baris demi barik kalimat yg tersurat dan tersirat dlm suram..

  8. Siti Fatimah Ahmad

    Assalaamu’alaikum

    Subhanallah… indahnya bicara Si anak buat ibunya yang telah lama mendengar cerita rahsia Tuhannya. Hati saya begitu tersentuh dengan rangkai kata torehan hati seni Kang Zipoer7. Begitu halus, sangat tulus dan indah mulus. Saya yang membacanya sangat terharu.Ternyata ibu kita hanya satu.. yang melahirkan kita dari biara rahimnya yang mulia. Ibu jugalah ratu hati yang tiada galang gantinya. Tiada dua dan tiga.

    Sang Ibu selalu mengharapkan anak lelakinya memperolehi isteri yang baik tetapi dia tahu anak lelakinya tidak akan memperolehi isteri yang sebaik isteri ayahnya. Saya selalu terkesan dengan kata-kata ini.

    Mudahan ibu kang Zipoer7 sentiasa bahagia dikirimkan “surat” melalui Sang Penciptanya siang dan malam. Doakanlah ibu kita selalu, berbuat baik dan berbaktilah kepadanya selagi nafas Sang Ibu berhembus, selagi jantungnya berdetak dan selagi bicaranya kedengaran di telinga kita. Jika dia sudah “berangkat” – semua isi dunia ini tiada memberi makna buat kita. Jangan tanggguh mencintainya.

    Selamat hari Ibu buat semua kenalan blogger yang bergelar ibu. Selamat hari Ibu juga buat isteri Kang Zipoer7. Salam mesra dari Bangi, Malaysia

  9. Mengunjungi Pak Zipoer di malam hari, dan saya mohon maaf karena tak dapat berbagi durian yang saya makan barusan, bahkan aromanya sekalipun…. 🙂

    Semoga kenangan atas orang tua kita akan menjadikan kita anak yang sholeh/sholehah, karena kita yang terus mendo’akan beliau agar dapat diterima disisi Allah SWT.

  10. Siapakah orang yang harus paling kita hormati di dunia ini? Ibumu… Ibumu… Ibumu…! Baru Ayahmu…! Itulah kira-kira kedudukan Ibu kita menurut Rasululloh SAW. Sehingga dikatakan derajadnya 3x dibanding Ayah. Saya sangat tersentuh dengan puisi yang ditulis oleh Pak Zipoer, saya juga merasakan kerinduan yang sama seperti yang Bapak rasakan. Sayang saya tidak bisa mengungkap seindah kata-kata Pak Zipoer. Maka bersyukurlah barangsiapa sampai sekarang masih didampingi oleh Ibu tercinta. Hormatilah dan peliharalah akan Ibumu, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya padamu. Salam dari ujung timur pulau Jawa.

  11. Mas Zipoer yang baik, saya turut berdoa semoga almarhum Ibu dilapangkan di alam kuburnya, diterangi saat siang ataupun malam, diampuni segala dosa dan kesalahannya, serta diterima amal kebaikannya ketika masih di sunia… Amin ya Robbal alamiiin…

  12. wah dahsyat neh blognya…. rame bgt………..
    boleh neh gabung di komunitas ne….
    cz slama ne masih lom bisa smangat blogingnya… masih males2an……

  13. Mas, linknya sudah saya pasang ya di kedua blog saya, silakan di cek. Terima kasih sekali atas kerjasamanya. Semoga persahabatan kita akan selalu terjalin dengan baik.
    Salam 🙂

  14. Ping-balik: Manfaatkan Otak Kanan Yukk! « Batavusqu

  15. Tetap semangat ya Mas .. tetap selalu mendoakan ibu …
    salam kenal mas .. BM nih di siang2 yg panas … eh ketemu Mas, Makasih atasa atas suguhan teh panas nya .. 😀

  16. Catatan Menjelang Karnaval Blog MTBI
    Pertama, saya wajib mengucapkan terima kasih kepada teman-teman narablog yang telah mengirimkan artikel untuk meramaikan acara Karnaval Blog : Minum Teh Bersama Ibu. Artikel yang masuk cukup banyak, yaitu 50 naskah. Artikel yang dikirimkan ada yang berupa, Esai, Fiksi, Puisi, atau Ringan Interesan. Semua bagus, dan itu telah membuat saya kesulitan mana yang akan ditampilkan dalam karnaval nanti.
    http://guskar.com/2009/12/13/catatan-menjelang-karnaval-blog-mtbi/

  17. kunjungan pagi… 😀

    selamat hari ibu kang…jasa ibu memang tiada duanya..beliau yang melahirkan kita,membesarkan putra-putrinya dengan penuh kasih sayang dan juga mendidik supaya menjadi anak yang berbakti…

    pokoknya i love my mom…

  18. Ping-balik: 71 Tahun Sudah Usia Ibu « Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s