Ibu Maapkan Anakmu

Senin, 14 Desember 2009

Salam Takzim

Pembaca dan sahabat Batavusqu yang berbudi

Dalam rangka menyemarakkan hari ibu, perkenankan batavusqu mencoret ulang hasil postingan terbaik yang diprakasai oleh blog nya pak Guskar, sebagai postingan terbaik dalam wadah MTBI. berikut pengalaman yang diangkat sebagai pilihan yang harus direnungkan bersama

================*BATAVUSQU*=================

Ibu Maafkan Aku

Oleh : Aldy

Apa yang ada dalam benak Anda ketika tahu ibu yang Anda cintai jatuh sakit dan karena halangan pekerjaan Anda tidak bisa menjenguk beliau ?

Saya pribadi merasakan kepedihan yang luar biasa, bukan hanya karena tidak bisa datang membesuk, tetapi saya termasuk anak yang sangat jarang bertemu dengan ibunda, bukan karena saya sudah berkeluarga, tetapi karena lokasi kerja yang memisahkan saya dengan beliau. Bahkan bukan hanya dengan ibunda dengan keluarga juga saya terpisah, hanya karena ingin menghidupi keluarga dengan nafkah yang halal dan lebih baik.

Ibu sakit sekitar seminggu yang lalu, istri mengabarkan jika ibu jatuh sakit dan sedang dalam perawatan. Dan beliau meminta saya pulang di samping beliau sakit, beliau juga kangen karena sudah hampir satu tahun saya tidak bertatap muka dengan ibu. Selama ini hanya bertelepon saja yang sering saya lakukan. Biasanya seminggu, minimal satu atau dua kali saya menelpon beliau, tetapi sekali ini beliau meminta saya untuk pulang, sebuah pilihan yang sangat sulit. Di satu sisi beliau sakit, tapi di sisi lain saya sedang diserahi tugas untuk menangani pekerjaan yang hanya saya sendiri yang bisa mengkoordinirnya.

Karena pertimbangan tersebut, saya memutuskan untuk tidak pulang, karena saya sangat percaya istri saya memperlakukan ibu saya sama dengan ibunya sendiri (saya beruntung memiliki istri yang cantik dan loyal dengan orang tua). Dan itu saya sampaikan dengan istri, kemudian saya minta bicara dengan ibu untuk mengabarkan jika saya tidak pulang.

Dengan hati yang berdebar-debar saya sampaikan kepada beliau lengkap dengan alasannya kenapa saya tidak bisa pulang. Dan jawaban beliau sungguh membuat saya merasa sangat berdosa sebagai anak, dengan lembut ibu hanya mengatakan tidak masalah jika saya tidak bisa pulang toh masih ada istri saya yang menemani. Tetapi pada kalimat terakhir beliau mengatakan, “Ya sudah nggak apa-apa, kamu kerja baik-baik, cari nafkah yang berkah untuk keluargamu. Pulangnya nanti saja tunggu ibu sudah tidak ada selamanya”.

Ya Allah, saya terdiam seribu bahasa, tanpa terasa air mata menetes. Saya sangat mengerti dan sangat paham jika beliau sangat marah, tetapi mau bagaimana lagi? Saya hanya berpesan kepada istri agar merawat dan menjaga ibu sebaik-baiknya (sebuah permintaan yang sangat tidak perlu, karena isteri justru lebih peduli dibandingkan dengan saya).

Ibu…, maafkan anakmu, jika tanggung jawab pekerjaan ini sudah dapat saya alihkan, saya akan mendatangi ibu dan bersujud memohon ampunan.

Ya Allah, berikanlah ibunda kesehatan yang baik agar hamba-Mu tidak berubah menjadi anak yang durhaka dan tidak tahu balas budi terhadap orang tua.

Semoga bukan dinilai hasil copas belaka tetapi sulitnya menulis karena ibu saya sudah tiada

Selamat Hari Ibu bagi para nara blog yang masih memiliki Ibu, dan kepada para IBU dan calon Ibu, serta kepada seluruh Ibu di Nusantara.

Sumber Asli Mas Aldy

Salam Takzim Batavusqu

Iklan

34 pemikiran pada “Ibu Maapkan Anakmu

  1. Terkadang keputusan sulit harus diambil berkenaan dg ibu, namun bgmnpun kt hrs mengambilnya. Alangkah baiknya memohon petunjuk Alloh dg istikhoroh di kedepankan sblm mengambil keputusan spt ini.
    Salam takzim

  2. sedjatee

    aman Mister… dimaafkan selalu… ibunda memiliki kemaafan yang lebih luas dari samudera, tak terbatas bagai dirgantara… salam hormat Mister…

    sedj

  3. duhai apakah gerangan budi balasan, bagi insan melahirkan membesarkan tiada bahagia jika tiada doa puja restu, surga itu ditelapak kaki ibu

    Salam kang poer trims sudah di approve FB nya

    1. Salam Takzim bang untuk abang sebagai mesin yang selalu mengeluarkan uang hehehehe
      oh Iya maap terlalu lama mengapprove karena saya buta di FB bang, itu juga diajari sama anak saya

  4. Mbok’e…………
    Bunda…………….
    Mak…………………
    Umi………………
    Mami……………
    Mom…………………..
    Bundo……………
    Ibu………………

    Maafkanlah anakmu ini yang selalu saja membuat kesal, namun kesabaranmu seakan tidak pernah habis dalam membimbing dan menuntun kami sehingga kami menjadi manusia berbudi…… Terima kasih nanda haturkan, semoga Tuhan selalu memberikan kebahagiaan padamu .

  5. Semoga Tuhan berkenan dg pilihan yg telah kita buat…
    Semoga pula, Tuhan akan memberikan tempat yg terbaik dan mulia utk seorang ibu…

    Salam hangat dan damai selalu…

  6. Ada kemarahan pada kata-kata sang ibu…
    Semoga sang anak selamat di perjalanan, karena kepikiran terus akan kata-kata ibunya…
    Insya Allah anak yang berbakti tidak perlu ditakut-takuti…
    Yang ada disini semua anak yang berbakti ‘kan… 🙂
    Anak yang berbakti akan sangat paham terhadap kebutuhan ortunya, sebelum beliau mengungkapkannya… 🙂

  7. Sebelumnya terima kasih Kang, artikelnya sudah diposting ulang disini.
    Maaf, kalau saya baru bisa berkunjug kesini, bukannya ingin mencari alasan, tetapi telkom flash ( flush ) saya ngambek.
    Alhamdullilah, ibunda sudah sehat. Saya anaknya sangat mengerti mengapa beliu semarah itu. Karena sudah terlalu sering saya tidak bisa pulang dalam kondisi mendadak karena tuntutan tanggung jawab pekerjaan. Seharusnya minggu ini saya sudah pulang, tetapi karena pekerjaan masih tanggung, jadi dua hari kedepan saya akan pulang.

  8. Ping-balik: 71 Tahun Sudah Usia Ibu « Batavusqu

  9. Ping-balik: Ritual Ngaben di Bali « Batavusqu

  10. Ping-balik: Tradisi Bayi Turun Tanah 3 « Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s