Warisan Telukabessy di Maluku

Rabu, 16 Desember 2009

Salam Takzim

Sahabat dan pemirsa Batavusqu dimana saja berada

Torehan perkawinan dari masyarakat yang ada di negeri ini sementara berakhir sambil menunggu permintaan dari para pembaca dan sahabat sejati batavusqu. Untuk sajian selanjutnya perkenankan batavusqu memberikan serangkaian kegiatal sakral lainya sebagai perwujudan misi batavusqu demi menjaga negeri sendiri.

Postingan perdana upacara adat non perkawinan jatuh ke desa Morella dan Mamala yang berada Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.

Berikut postingannya

Sebanyak 40 pria berbadan kekar berjalan tegap memasuki arena di pelataran Masjid Besar Morella diiringi teriakan penonton. Mereka bertelanjang dada, hanya mengenakan celana pendek dan ikat kepala merah serta menggenggam seikat lidi enau.
Mereka adalah petarung yang akan menghadirkan jejak perjuangan Kapitan Telukabessy melalui atraksi pukul sapu.

Tradisi pukul sapu digelar sekali setahun pada 7 Syawal. Tahun ini digelar  pada 27 September. Budaya yang telah bertahan ratusan tahun ini berakar pada perjuangan Kapitan Telukabessy yang memimpin perjuangan rakyat Maluku melawan VOC tahun 1636-1646. Setelah dikalahkan, Kapitan Telukabessy dihukum mati. Pasukannya kemudian membubarkan diri dengan acara pukul sapu.

Tradisi itu bertahan hingga kini, Para pemuda dan lelaki dewasa ikut dalam pukul sapu di Morella dan Mamala. Ikut pukul sapu merupakan kebanggaan dan ujian kejantanan sebagai seorang laki-laki.

Acara itu ditonton oleh ribuan warga Maluku dan beberapa wisatawan mancanegara. Peserta dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing terdiri dari 20 orang. Setiap petarung berdiri berhadapan dengan petarung dari kelompok lain di tengah arena seukuran lapangan bola kaki. Tiap orang memegang batang lidi enau untuk disabetkan. Lidi diganti baru jika rusak atau patah.

Kelompok yang mendapat giliran memukul, mundur beberapa langkah untuk mengambil jarak sabetan lidi. Peserta dari kelompok lawan berdiri sambil mengangkat lidi di atas kepala dan membiarkan bagian tubuhnya untuk disabet lidi. Saat wasit meniup peluit, para peserta menyabetkan lidi ke tubuh lawan diiringi teriakan penggugah semangat.

Sabetan lidi meninggalkan bilur-bilur pada kulit pinggang, dada, dan punggung. Darah keluar dari kulit yang sobek. Kerenyitan menahan sakit tampak di wajah para peserta. Giliran memukul berganti setelah lawan mundur terpojok ke dekat penonton yang mengelilingi arena.

”Dalam tradisi ini tidak ada dendam, karena pukul sapu merupakan simbol persaudaraan. Para pejuang dari berbagai daerah di Maluku, Gowa (Sulawesi Selatan) dan Mataram (Jawa) pernah bersatu melawan penjajah di sini,” tutur Abdul Kadir Latukau, Raja Negeri Morella.

Luka-luka di tubuh peserta pukul sapu merupakan simbol untuk mengenang persatuan para pejuang di bawah pimpinan Kapitan Telukabessy.

Perang Kapahaha
Dalam buku acara dipaparkan, perang berawal dari pengepungan Benteng Kapahaha milik warga Maluku dan pendirian markas VOC di Teluk Sawatelu pada tahun 1636. Pada puncak perang yang terjadi tujuh hari tujuh malam, para pejuang terdesak karena diserang dari darat dan tembakan meriam kapal-kapal VOC. Benteng Kapahaha akhirnya dikuasai Belanda, tetapi Kapitan Telukabessy lolos.

Pejuang yang tertangkap ditawan di Teluk Sawatelu dan sebagian dibawa ke Batavia. Telukabessy diberi pilihan, menyerahkan diri atau para tawanan dibunuh. Pada 19 Agustus 1946, Telukabessy menyerahkan diri ke Komandan Verheijden. Ia dihukum gantung oleh Gubernur Amboina Gerard Demmer di Benteng Victoria Ambon pada 13 September 1946.

Para tawanan yang ditawan selama tiga bulan dibebaskan pada 27 Oktober 1946. Para pejuang kemudian pulang ke daerah asal masing-masing. Pada upacara pelepasan, selain tarian adat dan lagu-lagu daerah, juga dilakukan acara pukul sapu oleh para pemuda Kapahaha.

Atraksi budaya ini menarik wisatawan mancanegara. Dua wisatawan dari Inggris dan Belanda ikut dalam acara pukul sapu di Mamala. Mereka merasakan sabetan lidi enau dan diobati dengan minyak mamala.
”Rasanya tidak terlalu sakit. Ini luar biasa bisa ikut acara ini. Semoga minyak mamala bisa menyembuhkan luka-luka ini,” ujar Tom William (65) dari Inggris.

Menurut seorang pemuda Mamala, Hanfry (26), rasa sakitnya seperti terkena setrum listrik. Setelah diolesi minyak mamala, rasanya hangat walau sakitnya tetap terasa. Setelah tiga hari, luka akan kering dan sembuh.

Minyak mamala dibuat dari minyak kelapa yang diberi doa-doa secara Islam oleh para tetua adat dan pemuka agama di rumah Raja Mamala. Di Morella, luka sabetan diobati dengan getah jarak.

Tradisi pukul sapu penuh dengan petuah untuk saling menjaga persatuan dan persaudaraan. Petuah yang tercantum dalam kapata (syair) kuno di Mamala dan Morella itu diharapkan bisa menyatukan setiap anak negeri di wilayah penuh bukit itu. Kerukunan diharapkan akan memajukan daerah penghasil ikan, pala, cengkeh, cokelat, damar, rotan, dan sagu itu.

Sumber disadur dari KOMPAS.COM

Iklan

130 pemikiran pada “Warisan Telukabessy di Maluku

  1. Jika sahabat dan pembaca ingin menyaksikan acara ini siap siap ke desa Morella, Acara ini selalu diadakan setiap tanggal 7 Syawal, konon sekarang diperingati sekaligus halal bihalal.

  2. Acara n2 seperti itu banyak dijumpai dinegeri tercinta ini misalnya debus,kuda lumping yang doyan makan semprong lampu atau bloglam he he he. Orang asing memang seneng ikut acara ini karena sensasinya beda.
    terima kasih atas reportasenya yang menawan.

    Salam hangat dari Surabaya

  3. memang..bangsa ini memiliki beragam budaya yang menjadikannya unik di mata bangsa lain di dunia.. luar biasa ya… saya sering berandai-andai bisa melakukan perjalanan ke seluruh pelosok negeri ini untuk melihat langsung tarian dan budaya masing2 daerah..

    oya mas, boleh ga saya copas sebagian tulisannya untuk saya tulis ulang di blog saya ( in english ).. tentu nanti saya cantumkan sumbernya.. 🙂 makasi sebelumnya ya..

  4. Begitu baragamnya budaya bangsa kita yang memberikan kontribusi kepada kekayaan budaya nasional sebagai harta warisan yang perlu terus di jaga dan dipelihara kelestariannya.

  5. nah yang ini saya pernah nonton di tipi, klo nggak salah di Teropong Indosiar dan tayang ulang di Elshinta TV. betapa kaya dan beragamnya budaya nusantara ini. mdh2n kita sbg generasi penerus bisa melestarikan adat budaya daerah kita masing2.. jgn sampai diklaim oleh negara lain

  6. koneksi lagi tusbung, jadi telat datang kemari Mas.

    Banyak sekali kebudayaan di negeri ini dan kita senang sekali di beberapa daerah masih melestarikannya.
    Terakhir saya cukup gembira ketika mendengar di salah satu mall di Surabaya mengiringi orang belanja dengan gending jawa. Jarang2 ini terjadi. Saat ini senang sekali Mas Batavusqu mengenalkan saya lebih banyak lagi budaya dari negeri ini yang belum saya kenal sepenuhnya. Terima kasih sudah mengenalkan lebih jauh Mas.
    Salam

    1. Saat kang Yayat senang sayapun ikut bahagia, budaya nusantara budayanya bangsa kita kang, saya ucapkan terimakasih juga buat akang yang telah memberi warna sore ini

  7. Menyapa sobib ku nun jauh disana, maaf baru bisa mampir sekarang soalnya di luar kota, untuk ada koneksi di pelosok dusun sini, kalo nggak nggak bisa kasih komeng, salam sukses selalu dan salam bahagia dari pelosok terpencil

  8. selamat malam kang zipoer… 😀

    liputan-liputan pernikahan adat memang paling lengkap di sini yach…mantabs..makin kreatif juga bener-bener menambah pengetahuan pembacanya….

  9. miss tary

    ass. pak, wahh acara seperti ini sangat bagus ya untuk masyarakat kita, terutama kamum muda, biar tau tentang tradisi di daerah aja, perlu dilestarikan pak. salam hangt selalu. wass.

  10. Ping-balik: Sisi Lain Malam 1 Suro di Bantul « Batavusqu

  11. Ping-balik: Ritual Tersexi di Pulau Jawa « Batavusqu

  12. Ping-balik: Ritual Ngaben di Bali « Batavusqu

  13. Ping-balik: Upacara si Rambut Gimbal « Batavusqu

  14. Ping-balik: Tradisi Bayi Turun Tanah 2 « Batavusqu

  15. Ping-balik: Tradisi Bayi Turun Tanah 3 « Batavusqu

  16. Ping-balik: Tradisi Bayi Turun Tanah 4 « Batavusqu

  17. Ping-balik: Tradisi Bayi Turun Tanah 5 (end) « Batavusqu

  18. Ping-balik: Ada Kutu di Wordpress « Batavusqu

  19. Ping-balik: Kata Orang Kutu Bikin Gatel « Batavusqu

  20. Ping-balik: 9 Hari Pertama PATAS 2010 « Batavusqu

  21. Ping-balik: Pengantar Puasa Senin Kamis « Batavusqu

  22. Ping-balik: Ritual Puasa Senin Kamis 1 « Batavusqu

  23. Ping-balik: Ritual Puasa Senin Kamis 2 (end) « Batavusqu

  24. Ping-balik: Ritual Puasa Senin Kamis 2 « Batavusqu

  25. Ping-balik: Ritual Puasa Senin Kamis 3 (habis) « Batavusqu

  26. Ping-balik: KutuBacaBuku di Batavusqu « Batavusqu

  27. Ping-balik: Informasi Senjata, Gratisss ! « Batavusqu

  28. Ping-balik: Golok bukan go! Blog « Batavusqu

  29. Ping-balik: Kujang; Ajimat Raja Pasundan « Batavusqu

  30. Ping-balik: Artikel Terunik Pertama Leysbook « Batavusqu

  31. Ping-balik: Artikel Terunik Pertama Di Leysbook « Batavusqu

  32. Ping-balik: Rencong Milik Aceh « Batavusqu

  33. Ping-balik: Kode Etik Nara Blog (Blogger) « Batavusqu

  34. Ping-balik: Celurit di mata Carok « Batavusqu

  35. Ping-balik: Hadiah Terunik Akhirnya Terbit « Batavusqu

  36. Ping-balik: Ceria bersama Si Bungsu « Batavusqu

  37. Ping-balik: Gerbang Baru Mulai Terbuka « Batavusqu

  38. Ping-balik: Kemeriahan Humberqu « Batavusqu

  39. Ping-balik: Berburu Dengan Sumpit « Batavusqu

  40. Ping-balik: Humberqu Jilid 1 « Batavusqu

  41. Ping-balik: 3 Hari yang tertinggal « Batavusqu

  42. Ping-balik: Jambore Bersama Bhirawa « Batavusqu

  43. Ping-balik: Risalah Untuk Rusma « Batavusqu

  44. Ping-balik: Reportase Kemeriahan Humberqu « Batavusqu

  45. Ping-balik: Ayoo gerakkan tubuh sambut pagi ceria « Batavusqu

  46. Ping-balik: Tradisi Aruh Baharin 1 « Batavusqu

  47. Ping-balik: Aruh Baharin 2 (habis) « Batavusqu

  48. Ping-balik: Permohonan Maap « Batavusqu

  49. Ping-balik: Nilai-nilai Budaya Makassar 1 « Batavusqu

  50. Ping-balik: Nilai-nilai budaya Makassar 2 « Batavusqu

  51. Ping-balik: Nilai-nilai Budaya Makassar 3 (end) « Batavusqu

  52. Ping-balik: Wisata Kuliner khas Makassar 1 « Batavusqu

  53. Ping-balik: Wisata Kuliner Khas Makassar 2 « Batavusqu

  54. Ping-balik: Wisata Kuliner Khas Makassar 3 (end) « Batavusqu

  55. Ping-balik: Peduli Sahabat « Batavusqu

  56. Ping-balik: Tali Asih dari Pakde Cholik « Batavusqu

  57. Ping-balik: Penghuni Cempaka Mas Teler « Batavusqu

  58. Ping-balik: Kupersembahkan untuk yang paling Sedjatee « Batavusqu

  59. Ping-balik: Mengenang 64 Tahun Bandung Lautan Api « Batavusqu

  60. Ping-balik: Jail ko tega sih « Batavusqu

  61. Ping-balik: Mari Matikan Lampu Selama 60 Menit « Batavusqu

  62. Ping-balik: Carnaval Adat Budaya Tulehu « Batavusqu

  63. Ping-balik: Jakarta Kota Air (Bagian 2) habis « Batavusqu

  64. Ping-balik: 3 Fasilitas Yang Mengganggu « Batavusqu

  65. Ping-balik: Juri dapat cindra mata « Batavusqu

  66. Ping-balik: Badik Senjata Tradisional Masyarakat Sulsel « Batavusqu

  67. Ping-balik: Mandau Pusaka Suku Dayak « Batavusqu

  68. Ping-balik: Parang Salawaku Milik Beta « Batavusqu

  69. Ping-balik: Hadiah buat para juara dan peserta « Batavusqu

  70. Ping-balik: Kedatangan kang Bani « Batavusqu

  71. Ping-balik: Khalifah Dari Semarang « Batavusqu

  72. Ping-balik: Kartini-kartini masa kini stage 1 « Batavusqu

  73. Ping-balik: Kartini-kartini masa kini stage 2 « Batavusqu

  74. Ping-balik: Kartini-kartini masa kini stage 3 « Batavusqu

  75. Ping-balik: Kartini-kartini masa kini stage 4 « Batavusqu

  76. Ping-balik: Kartini-kartini masa kini stage 5 « Batavusqu

  77. Ping-balik: Kartini-kartini masa kini stage 6 (habis) « Batavusqu

  78. Ping-balik: Cindera Mata Akhirnya Terkirim « Batavusqu

  79. Ping-balik: 1 email valid = 10000 IDR « Batavusqu

  80. Ping-balik: Apalah arti sebuah pertemuan « Batavusqu

  81. Ping-balik: Upacara Adat Pasola Sumba2 « Batavusqu

  82. Ping-balik: Upacara Adat Bau Nyale1 « Batavusqu

  83. Ping-balik: Upacara Adat Bau Nyale2 « Batavusqu

  84. Ping-balik: Upacara adat tiwah « Batavusqu

  85. Ping-balik: Upacara adat Molonthalo1 « Batavusqu

  86. Ping-balik: Upacara adat Molonthalo2 « Batavusqu

  87. Ping-balik: Upacara adat Mappassili « Batavusqu

  88. Ping-balik: Upacara adat Mandi Tian Mandaring « Batavusqu

  89. Ping-balik: Upacara adat Mandi Bunting « Batavusqu

  90. Ping-balik: Upacara adat 7 bulanan di Aceh « Batavusqu

  91. Ping-balik: Upacara Adat Tingkeban « Batavusqu

  92. Ping-balik: Upacara adat Mitoni « Batavusqu

  93. Ping-balik: Tradisi Perang Pandan « Batavusqu

  94. Ping-balik: Tradisi perang sapu lidi | Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s