Upacara Adat Rambu Solo

Senin, 21 Desember 2009

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca yang berbudi

Sajian yang cukup unik kembali batavusqu hadirkan sebagai salah satu budaya adat yang memang perlu diketahui oleh sahabat dan pembaca sebagai khasanah pengetahuan dari negeri sendiri, ya sebuah Upacara Adat Rambu Solo kembali tersaji bukan untuk dipuji apalagi dihina tetapi tersaji hanya untuk dinikmati dan dipahami.


Tiap daerah mempunyai tradisi menghormati kematian. Di Tana Toraja sendiri memiliki dua upacara adat besar yaitu Rambu Solo’ dan Rambu Tuka. Rambu Solo’ merupakan upacara penguburan, sedangkan Rambu Tuka, adalah upacara adat selamatan rumah adat yang baru, atau yang baru saja selesai direnovasi.

.

Rambu Solo’ merupakan acara tradisi yang sangat meriah di Tana Toraja, karena memakan waktu berhari-hari untuk merayakannya. Upacara ini biasanya dilaksanakan pada siang hari, saat matahari mulai condong ke barat dan biasanya membutuhkan waktu 2-3 hari. Bahkan bisa sampai dua minggu untuk kalangan bangsawan. Kuburannya sendiri dibuat di bagian atas tebing di ketinggian bukit batu.

.

Karena menurut kepercayaan Aluk To Dolo (kepercayaan masyarakat Tana Toraja dulu, sebelum masuknya agama Nasrani dan Islam) di kalangan orang Tana Toraja, semakin tinggi tempat jenazah tersebut diletakkan, maka semakin cepat pula rohnya sampai ke nirwana.

.

Upacara ini bagi masing-masing golongan masyarakat tentunya berbeda-beda. Bila bangsawan yang meninggal dunia, maka jumlah kerbau yang akan dipotong untuk keperluan acara jauh lebih banyak dibanding untuk mereka yang bukan bangsawan. Untuk keluarga bangsawan, jumlah kerbau bisa berkisar dari 24 sampai dengan 100 ekor kerbau. Sedangkan warga golongan menengah diharuskan menyembelih 8 ekor kerbau ditambah dengan 50 ekor babi, dan lama upacara sekitar 3 hari.

.

Tapi, sebelum jumlah itu mencukupi, jenazah tidak boleh dikuburkan di tebing atau di tempat tinggi. Makanya, tak jarang jenazah disimpan selama bertahun-tahun di Tongkonan (rumah adat Toraja) sampai akhirnya keluarga almarhum/ almarhumah dapat menyiapkan hewan kurban. Namun bagi penganut agama Nasrani dan Islam kini, jenazah dapat dikuburkan dulu di tanah, lalu digali kembali setelah pihak keluarganya siap untuk melaksanakan upacara ini.

.

Bagi masyarakat Tana Toraja, orang yang sudah meninggal tidak dengan sendirinya mendapat gelar orang mati. Bagi mereka sebelum terjadinya upacara Rambu Solo’ maka orang yang meninggal itu dianggap sebagai orang sakit. Karena statusnya masih ’sakit’, maka orang yang sudah meninggal tadi harus dirawat dan diperlakukan layaknya orang yang masih hidup, seperti menemaninya, menyediakan makanan, minuman dan rokok atau sirih. Hal-hal yang biasanya dilakukan oleh arwah, harus terus dijalankan seperti biasanya.

.

Jenazah dipindahkan dari rumah duka menuju tongkonan pertama (tongkonan tammuon), yaitu tongkonan dimana ia berasal. Di sana dilakukan penyembelihan 1 ekor kerbau sebagai kurban atau dalam bahasa Torajanya Ma’tinggoro Tedong, yaitu cara penyembelihan khas orang Toraja, menebas kerbau dengan parang dengan satu kali tebasan saja.

.

Kerbau yang akan disembelih ditambatkan pada sebuah batu yang diberi nama Simbuang Batu. Setelah itu, kerbau tadi dipotong-potong dan dagingnya dibagi-bagikan kepada mereka yang hadir.

.

Jenazah berada di tongkonan pertama (tongkonan tammuon) hanya sehari, lalu keesokan harinya jenazah akan dipindahkan lagi ke tongkonan yang berada agak ke atas lagi, yaitu tongkonan barebatu, dan di sini pun prosesinya sama dengan di tongkonan yang pertama, yaitu penyembelihan kerbau dan dagingnya akan dibagi-bagikan kepada orang-orang yang berada di sekitar tongkonan tersebut.

.

Seluruh prosesi acara Rambu Solo’ selalu dilakukan pada siang hari. Siang itu sekitar pukul 11.30 Waktu Indonesia Tengah (Wita), kami semua tiba di tongkonan barebatu, karena hari ini adalah hari pemindahan jenazah dari tongkonan barebatu menuju rante (lapangan tempat acara berlangsung).

.

Jenazah diusung menggunakan duba-duba (keranda khas Toraja). Di depan duba-duba terdapat lamba-lamba (kain merah yang panjang, biasanya terletak di depan keranda jenazah, dan dalam prosesi pengarakan, kain tersebut ditarik oleh para wanita dalam keluarga itu).

.

Prosesi pengarakan jenazah dari tongkonan barebatu menuju rante dilakukan setelah kebaktian dan makan siang. Barulah keluarga dekat arwah ikut mengusung keranda tersebut. Para laki-laki yang mengangkat keranda tersebut, sedangkan wanita yang menarik lamba-lamba.

.

Dalam pengarakan terdapat urut-urutan yang harus dilaksanakan, pada urutan pertama kita akan lihat orang yang membawa gong yang sangat besar, lalu diikuti dengan tompi saratu (atau yang biasa kita kenal dengan umbul-umbul), lalu tepat di belakang tompi saratu ada barisan tedong (kerbau) diikuti dengan lamba-lamba dan yang terakhir barulah duba-duba.

.

Jenazah tersebut akan disemayamkan di rante (lapangan khusus tempat prosesi berlangsung), di sana sudah berdiri lantang (rumah sementara yang terbuat dari bambu dan kayu) yang sudah diberi nomor. Lantang itu sendiri berfungsi sebagai tempat tinggal para sanak keluarga yang datang nanti. Karena selama acara berlangsung mereka semua tidak kembali ke rumah masing-masing tetapi menginap di lantang yang telah disediakan oleh keluarga yang sedang berduka.

.

Iring-iringan jenazah akhirnya sampai di rante yang nantinya akan diletakkan di lakkien (menara tempat disemayamkannya jenazah selama prosesi berlangsung). Menara itu merupakan bangunan yang paling tinggi di antara lantang-lantang yang ada di rante. Lakkien sendiri terbuat dari pohon bambu dengan bentuk rumah adat Toraja. Jenazah dibaringkan di atas lakkien sebelum nantinya akan dikubur. Di rante sudah siap dua ekor kerbau yang akan ditebas.

.

Setelah jenazah sampai di lakkien, acara selanjutnya adalah penerimaan tamu, yaitu sanak saudara yang datang dari penjuru tanah air. Pada sore hari setelah prosesi penerimaan tamu selesai, dilanjutkan dengan hiburan bagi para keluarga dan para tamu undangan yang datang, dengan mempertontonkan ma’pasilaga tedong (adu kerbau). Bukan main ramainya para penonton, karena selama upacara Rambu Solo’, adu hewan pemamah biak ini merupakan acara yang ditunggu-tunggu.

.

Selama beberapa hari ke depan penerimaan tamu dan adu kerbau merupakan agenda acara berikutnya, penerimaan tamu terus dilaksanakan sampai semua tamu-tamunya berada di tempat yang telah disediakan yaitu lantang yang berada di rante. Sore harinya selalu diadakan adu kerbau, hal ini merupakan hiburan yang digemari oleh orang-orang Tana Toraja hingga sampai pada hari penguburan. Baik itu yang dikuburkan di tebing maupun yang di patane’ (kuburan dari kayu berbentuk rumah adat).

.

Nah pembaca dan sahabat Batavusqu yang berbudi sajian diatas tertoreh ulang dari sumber yang cukup terpercaya yaitu swa berita dot com. ya tersaji bukan untuk dipuji apalagi dihina tetapi tersaji hanya untuk dinikmati semoga terpahami.

Salam Takzim Batavusqu

Iklan

95 pemikiran pada “Upacara Adat Rambu Solo

  1. sama spt 2 komentator di atas.. saya kira kota solo..
    baca judulnya surprise juga, puluhan tahun hidup di solo kok blm pernah dengar adat rambu.. ternyata ini nama ada budaya masyarakar toraja ya 🙂

  2. Tertipu kang, melihat judulnya begitu melihat gambarnya kok nggak nyambung, barulah setelah membaca ternyata ada pengertian lain dengan kata Solo, tadi saya kira Solo itu Surakarta dekat dengan tanah kelahiranku kang.
    Salam kang.

  3. Banyak yang misunderstanding ya dengan judulnya, termasuk saya sendiri. Tapi justru karena keblasuk itulah saya jadi bisa mengerti upacara pemakaman adat Toraja.

    Cukup ribet juga yah prosesinya. Tapi asyiik juga untuk tontonan.

    Salam.

  4. hampir semua tertipu dgn judulnya Mas………….
    repot juga ya , kalau nggak dapat2 korban kerbau dan babainya, bisa bertahun2 dong ya Mas, nggak dikubur2, dan tetap dilayani makan, minum dan rokoknya.
    namun, namanya adat tetaplah, negeri kita yg paling kaya dgn keaneka ragamannya.
    salam.

  5. Kaget juga, setelah baca judulnya kirain di Solo, kok ya saya baru kenal.
    Membacanya sangat menarik Mas, detil banget. Kelihatannya Masnya menyelami banget beberapa tata upacara.
    Saya dulu juga pernah ke daerah ini namun sayang tidak menyaksikan ritual ini.
    Trims sekali Mas. Maaf baru OL lagi.
    Salam sukses selalu.

    1. Sebenarnya ingin menampilkan budaya seluruh negeri tetapi terkadang waktu yang menghimpit dan sinyal yang pelit sehingga lambat, telat semoga tidak kualat.
      Terimakasih kang atas warnanya

  6. Ping-balik: Ritual Ngaben di Bali « Batavusqu

  7. Ping-balik: Upacara si Rambut Gimbal « Batavusqu

  8. Ping-balik: Tradisi Bayi Turun Tanah 2 « Batavusqu

  9. Ping-balik: Tradisi Bayi Turun Tanah 3 « Batavusqu

  10. Ping-balik: Tradisi Bayi Turun Tanah 4 « Batavusqu

  11. Ping-balik: Tradisi Bayi Turun Tanah 5 (end) « Batavusqu

  12. Ping-balik: Ada Kutu di Wordpress « Batavusqu

  13. Ping-balik: Kata Orang Kutu Bikin Gatel « Batavusqu

  14. Ping-balik: 9 Hari Pertama PATAS 2010 « Batavusqu

  15. Ping-balik: Pengantar Puasa Senin Kamis « Batavusqu

  16. Ping-balik: Ritual Puasa Senin Kamis 1 « Batavusqu

  17. Ping-balik: Ritual Puasa Senin Kamis 2 « Batavusqu

  18. Ping-balik: Ritual Puasa Senin Kamis 3 (habis) « Batavusqu

  19. Ping-balik: KutuBacaBuku di Batavusqu « Batavusqu

  20. Ping-balik: Informasi Senjata, Gratisss ! « Batavusqu

  21. Ping-balik: Golok bukan go! Blog « Batavusqu

  22. Ping-balik: Kujang; Ajimat Raja Pasundan « Batavusqu

  23. Ping-balik: Artikel Terunik Pertama Leysbook « Batavusqu

  24. Ping-balik: Artikel Terunik Pertama Di Leysbook « Batavusqu

  25. Ping-balik: Rencong Milik Aceh « Batavusqu

  26. Ping-balik: Kode Etik Nara Blog (Blogger) « Batavusqu

  27. Ping-balik: Celurit di mata Carok « Batavusqu

  28. Ping-balik: Hadiah Terunik Akhirnya Terbit « Batavusqu

  29. Ping-balik: Ceria bersama Si Bungsu « Batavusqu

  30. Ping-balik: Gerbang Baru Mulai Terbuka « Batavusqu

  31. Ping-balik: Kemeriahan Humberqu « Batavusqu

  32. Ping-balik: Berburu Dengan Sumpit « Batavusqu

  33. Ping-balik: Humberqu Jilid 1 « Batavusqu

  34. Ping-balik: 3 Hari yang tertinggal « Batavusqu

  35. Ping-balik: Jambore Bersama Bhirawa « Batavusqu

  36. Ping-balik: Risalah Untuk Rusma « Batavusqu

  37. Ping-balik: Reportase Kemeriahan Humberqu « Batavusqu

  38. Ping-balik: Ayoo gerakkan tubuh sambut pagi ceria « Batavusqu

  39. Ping-balik: Tradisi Aruh Baharin 1 « Batavusqu

  40. Ping-balik: Aruh Baharin 2 (habis) « Batavusqu

  41. Ping-balik: Permohonan Maap « Batavusqu

  42. Ping-balik: Nilai-nilai Budaya Makassar 1 « Batavusqu

  43. Ping-balik: Nilai-nilai budaya Makassar 2 « Batavusqu

  44. Ping-balik: Nilai-nilai Budaya Makassar 3 (end) « Batavusqu

  45. Ping-balik: Wisata Kuliner khas Makassar 1 « Batavusqu

  46. Ping-balik: Wisata Kuliner Khas Makassar 2 « Batavusqu

  47. Ping-balik: Wisata Kuliner Khas Makassar 3 (end) « Batavusqu

  48. Ping-balik: Peduli Sahabat « Batavusqu

  49. Ping-balik: Tali Asih dari Pakde Cholik « Batavusqu

  50. Ping-balik: Penghuni Cempaka Mas Teler « Batavusqu

  51. Ping-balik: Kupersembahkan untuk yang paling Sedjatee « Batavusqu

  52. Ping-balik: Mengenang 64 Tahun Bandung Lautan Api « Batavusqu

  53. Ping-balik: Jail ko tega sih « Batavusqu

  54. Ping-balik: Mari Matikan Lampu Selama 60 Menit « Batavusqu

  55. Ping-balik: Jakarta Kota Air (Bagian 2) habis « Batavusqu

  56. Ping-balik: 3 Fasilitas Yang Mengganggu « Batavusqu

  57. Ping-balik: Juri dapat cindra mata « Batavusqu

  58. Tumangke

    trimkash banyak sudah membagi pengalaman menariknya dari Toraja..

    oh ya biasanya klo orang Toraja memakai apostrof -> rambu solo’

    Salam Pia Yoraya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s