Ritual Ngaben di Bali

Rabu, 23 Desember 2009

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca Batavusqu yang tersayang

Kalau kita bicara ritual atau upacara adat, mungkin yang paling tau dengan jawaban pertanyaan upacara apa yang kau ketahui, pasti 60% menjawab Ngaben, ya Ritual Ngaben di Bali bukan bali matraman yang ada di Jakarta ya.

Bagi sahabat dan pembaca yang belum tau ritual ini, mari kumpulnya lebih rapat lagi

Pulau Bali yang juga dikenal sebagai “Pulau Seribu Pura” memiliki ritual khusus dalam memperlakukan leluhur atau sanak saudara yang telah meninggal. Apabila di tempat lain orang yang meninggal umumnya dikubur, tidak demikian dengan masyarakat Hindu Bali. Sebagaimana penganut Hindu di India, mereka akan menyelenggarakan upacara kremasi yang disebut Ngaben, yaitu ritual pembakaran mayat sebagai simbol penyucian roh orang yang meninggal.

Dalam kepercayaan Hindu, jasad manusia terdiri dari badan kasar (fisik) dan badan alus (roh atau atma). Badan kasar tersebut dibentuk oleh 5 unsur yg disebut Panca Maha Bhuta, yang terdiri dari pertiwi (tanah), apah (air), teja> (api), bayu (angin), serta akasa> (ruang hampa). Kelima unsur ini menyatu membentuk fisik manusia yang kemudian digerakkan oleh roh. Ketika seseorang meninggal, yang mati sebetulnya hanyalah jasad kasarnya saja, sementara rohnya tidak. Oleh sebab itu, untuk menyucikan roh tersebut diperlukan Upacara Ngaben untuk memisahkan antara jasad kasar dan roh tersebut.

Tentang asal kata Ngaben sendiri ada tiga pendapat. Ada yang mengatakan berasal dari kata beya yang artinya bekal, ada yang merunutnya dari kata ngabu atau menjadi abu, dan ada juga yang mengaitkannya dengan kata ngapen yaitu penyucian dengan menggunakan api. Dalam agama Hindu, dewa pencipta atau Dewa Brahma juga dikenal sebagai dewa api. Oleh sebab itu, Upacara Ngaben juga dapat dilihat sebagai upaya membakar kotoran berupa jasad kasar yang melekat pada roh (disebut pralina atau meleburkan jasad), serta mengembalikan roh kepada Sang Penciptanya.

Bagi masyarakat Bali, Upacara Ngaben merupakan momen bahagia. Sebab dengan melaksanakan Ngaben, anak-anak atau orang tua telah melaksanakan kewajibannya sebagai anggota keluarga. Bagi anak-anak yang telah dewasa, Upacara Ngaben dianggap sebagai salah satu bentuk terima kasih kepada orang tuanya yang meninggal. Oleh sebab itu, bagi sanak keluarga yang ditinggalkan, Upacara Ngaben disambut dengan suka cita, jauh dari isak tangis. Sebab mereka percaya, isak tangis hanya akan menghambat perjalanan roh menuju nirwana.

Namun, tidak semua orang yang meninggal dapat langsung di-aben. Ada juga yang dikubur terlebih dahulu karena alasan belum memiliki cukup biaya. Upacara ini memang membutuhkan biaya yang cukup besar (mulai dari puluhan hingga ratusan juta rupiah) karena pelaksanaannya memerlukan berbagai perangkat upacara (upakara). Oleh sebab itu, Upacara Ngaben boleh dilaksanakan beberapa tahun setelah seorang sanak keluarga meninggal. Bahkan untuk menghemat biaya, Ngaben juga bisa dilaksanakan secara missal.

Upacara Ngaben biasanya dilaksanakan untuk orang yang meninggal dan ada jenazahnya. Untuk orang yang jasadnya tidak ditemukan atau susah dikenali, misalnya karena kecelakaan pesawat, terseret arus laut, tertimpa musibah kebakaran, atau menjadi korban pemboman (seperti kasus Bom Bali I dan II), pihak keluarga tetap dapat melaksanakan Ngaben dengan cara mengambil tanah lokasi meninggalnya untuk dibakar. Sementara untuk bayi di bawah usia 42 hari atau bayi yang belum tanggal giginya jenazahnya harus dikubur. Apabila tetap ingin di-aben, maka dapat dilakukan dengan mengikuti Upacara Ngaben salah seorang anggota keluarga yang juga meninggal. Selain di Pulau Bali, Upacara Ngaben juga dilaksanakan oleh para penganut Hindu di beberapa tempat, seperti di Banyuwangi, Lombok, Jakarta, bahkan oleh para transmigran dari Bali di Lampung.

Ritual Ngaben biasanya diselenggarakan secara meriah dan mengikutsertakan ratusan hingga ribuan orang yang terdiri dari sanak saudara maupun penduduk banjar setempat (organisasi sosial khas masyarakat Bali setingkat dengan Rukun Warga). Dalam perkembangannya, upacara unik ini juga menjadi salah satu agenda pariwisata, di mana wisatawan domestik dan mancanegara dapat turut serta menonton ritual ini, terutama pada tahapan upacara utama, yaitu kremasi jenazah.

Salah satu Upacara Ngaben terbesar yang dihadiri oleh sanak keluarga, kerabat, dan wisatawan adalah Upacara Ngaben keluarga Puri Ubud pada 5 Juli 2008 silam. Sekitar 300.000 orang berkumpul di ruas Jalan Raya Ubud untuk meramaikan upacara kremasi massal yang mengikutsertakan 3 sawa (roh yang telah meninggal) dari keluarga puri dan puluhan sawa lainnya dari beberapa banjar di sekitar Puri Ubud.

Sebelum kremasi jenazah dilakukan, terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan oleh pihak keluarga, seperti memandikan jenazah, Ngajum, pembakaran atau Ngaben, serta Nyekah. Sebelum tahapan pertama penyucian jenazah dilakukan, pihak keluarga akan menghadap pedanda (pendeta Hindu Bali) untuk menanyakan hari yang baik guna melakukan Upacara Ngaben. Apabila Ngaben dilaksanakan segera setelah seorang anggota keluarga meninggal, maka biasanya pedanda akan memilih hari yang tidak lebih dari 7 hari sejak hari kematiannya.

Setelah didapat waktu yang tepat, maka keluarga segera melakukan ritual pertama, yaitu nyiramin layon atau memandikan jenazah. Prosesi memandikan jenazah ini dilakukan oleh pedanda yang mewakili kaum Brahmana. Usai dimandikan, jenazah kemudian diberi pakaian adat Bali lengkap. Ritual selanjutnya adalah Ngajum, yaitu ritual melepaskan roh dengan cara membuat simbol-simbol yang menggambarkan proses dan unsur-unsur penyucian roh.

Di sela-sela dua ritual ini, sanak saudara dibantu masyarakat sekitar akan membuat bade> (menara) dan lembu (patung mirip lembu yang akan menjadi tempat jenazah) dengan hiasan kertas warna-warni. Pada hari yang telah ditentukan, Upacara Ngaben biasanya akan dilaksanakan di kuburan desa setempat (setra). Jenazah yang akan di-aben ditempatkan di atas bade (menara) yang tingginya dipengaruhi oleh kasta sang jenazah. Menara paling tinggi (bisa mencapai puluhan meter dengan berat beberapa ton) diperuntukkan bagi jenazah dari golongan Brahmana (pemimpin agama), yang lebih rendah untuk golongan Ksatria (raja-raja) dan Wesia (pedagang), sementara menara yang paling rendah untuk golongan Sudra (rakyat biasa). Menara ini juga merupakan simbol pemisahan antara langit dan bumi, di mana roh akan diantarkan menuju nirwana.

Baden dan lembu> tersebut kemudian diusung dan diarak menuju setra (kuburan) dengan diiringi gamelan bleganjur. Sesampainya di setra, upacara penyucian kembali dilakukan dengan cara membacakan mantra oleh seorang pedanda. Mantra ini merupakan simbol api abstrak yang akan membakar kotoran yang melekat pada atma atau roh. Usai penyucian, prosesi kremasi kemudian dilakukan dengan membakar bade dan lembu yang berisi jenazah hingga menjadi abu.

Sisa kremasi berupa abu kemudian dikumpulkan untuk dilarung di laut. Bagi masyarakat Hindu, laut dipercaya sebagai simbol alam semesta serta pintu menuju nirwana. Usai dilarung, pihak keluarga akan melaksanakan prosesi terakhir dalam Upacara Ngaben, yaitu Nyekah. Nyekah merupakan ritual menabalkan roh leluhur yang telah di-aben sebagai leluhur pada masing-masing Merajan (tempat suci di kompleks pura keluarga). Dengan ritual ini, pihak keluarga dapat terus mendoakan leluhur di kompleks pura keluarga masing-masing.

Dengan menyaksikan Upacara Ngaben, wisatawan dapat merasakan bagaimana kuatnya ikatan kekerabatan dalam masyarakat Bali. Sebab, Upacara Ngaben merupakan manifestasi dari kuatnya ingatan dan penghormatan masyarakat Bali terhadap leluhur dan sanak kerabatnya. Bahkan bagi masyarakat Bali, terdapat kepercayaan bahwa roh leluhur yang telah di-aben dapat bereinkarnasi kembali ke dalam lingkaran keluarganya, misalnya melalui seorang cucu yang merupakan reinkarnasi dari kakeknya.

Upacara Ngaben dapat dikatakan hampir merata dilaksanakan di seluruh wilayah Provinsi Bali, Indonesia. Hanya saja pelaksanaannya sangat bergantung pada pihak penyelenggara, yaitu keluarga terdekat.

http://www.wisatamelayu.com

Kembali tersaji bukan untuk dipuji apalagi dihina namun tersaji untuk dinikmati dan diketahui

Salam Takzim Batavusqu

132 pemikiran pada “Ritual Ngaben di Bali

  1. Siti Fatimah Ahmad

    Assalaamu’alaikum

    SELAMAT HARI IBU ini ku tujukan buat:

    1. SAHABATKU ….SEORANG IBU
    2. IBU KALIAN
    3. ISTERI KALIAN

    SAHABAT,
    MENGERTILAH BAHAWA…..

    Hati IBU bagaikan jurang yang didasarnya selalu ada maaf
    Di sisi IBU adalah tempat yang paling aman
    Cinta IBU tidak pernah lapuk
    Cinta IBU adalah yang laing baik daripada segalanya.

    # KEPADA SAHABAT DAN PEMBACA YANG BERADA DI LAMAN SAHABATKU INI… Semua anda dijemput ke LAMAN MENULIS GAYA SENDIRI untuk menerima HADIAH AWARD –AWARD ISTIMEWA dari saya sempena menyambut SELAMAT HARI IBU di Indonesia.

    Dengan segala hormatnya saya mempersilakan anda sekelian menerimanya sebagai tanda ketulusan hati SEORANG SAHABAT yang mencintai kalian.

    Selamat Tahu Baru Hijriyyah 1431 dan Selamat Tahun Baru 2010
    Salam mesra dari BANGI, MALAYSIA.

    -SITI FATIMAH AHMAD –
    22 Disember 2009/RABU

  2. Saya KELIMAXXX

    Selamat pagi Pak Zipoer. Berkunjung di pagi hari untuk menghirup udara segar. Juga untuk menikmati sajian Upacara Ngaben dari Pulau Dewata. Kebetulan Pulau Dewata cuma berjarak sekitar 25 km dari tempat saya, cuma nyebrang laut.

    Salam hangat dari ujung timur Pulau Jawa.
    Bahtera Prabaswara

      1. Pernah Pak, cuma kalau gak biasa mungkin bisa mual-mual. Yah namanya juga mayat di bakar. Tapi tradisi itu bisa menarik banyak wisatawan manca negara ke sana Pak. Apalagi kalau yang di Ngaben itu orang penting semacam keturunan bangsawan atau raja Bali, yang hadir bakalan banyak sekali.

        1. XP2 Scout

          Kalau yang meninggal orang biasa dan tidak kaya membakarnya pakai kompor gas. Bahkan untuk beberapa keluarga yang tidak mampu biasanya jenazah dimakamkan dulu nanti kalau sudah punya dana baru tulangnya diambil untuk di aben (dibakar).

  3. Sempat saya ke Bali Mas tapi belum pernah menyaksikan ritual ini. Terlihat megah dan meriah banget ya !!!
    Terima kasih sekali atas infonya Mas.
    Salam hangat selalu :)

  4. vizon

    tradisi ngaben memang menarik untuk dilihat, namun berat untuk dilaksanakan. namun, atas nama kepercayaan dan keyakinan, orang mau saja melakukan apapun demi terpenuhinya kewajiban tersebut.

  5. Ya ritual yang paling terkenal di Nusantara ini adalah upacar ngaben.., tapi saya sendiri, belum pernah melihatnya langsung. he..he kepingin juga sih..,btw, ulasan di atas sungguh menambah wawasan saya..tks..

  6. adat yg begitu kuat,,, semoga tetap kuat,,,
    seru juga berimajinasi membawangkan prosesi ngaben melalui untaian kata yg diposting oleh om zipoer,,,

    Salam hangat selalu

  7. Kang, terima kasih infonya… suatu hari saya ingin jalan-jalan ke Bali dan melihat ritual upacara ngaben, itu artinya harus ada yang meninggal terlebih dahulu ya?… :)

    Nikmat rasanya kalau keliling-keliling di Bali memekai sepeda ontel Mas Zipoer…

  8. Pernah lihat upacara ngaben saat kebetulan mengais rezeki di pulau dewata.. Wah, kadang jalan bisa macet total Kang…saking banyaknya orang yg hadir… Di Bali, hampir tiada hari tanpa upacara… Pagi, siang, sore, sampe malam…ada upacara… Mulai upacara kecil, sampe yg besar… Bener2 sarat dgn nuansa spiritual, Kang…

    Salam hangat..
    Salam damai selalu… :)

  9. Selamat malam Zipoer, ini posting yang ke 2 x karena postingan yang pertama eror, semoga saat ini lancar, Zipoer.. saya punya pengalaman menarik dengan pembakaran mayat ini, saya punya teman wartawan yang terkena musibah lantas meninggal menurut adat yang ia junjung tinggi bahwa mayat tsb diharuskan dibakar. ketika kami melayatnya di pikiran berkecamuk banyak hal : koq mentolo sekali, seperti tidak mempunyai perasaan dsb…dsb… Apapun yang ada di pikiran ini tidak mengurangi prosesi yang sedang berjalan sampai pada prosesi terakhir bahwa abu mayat yang dipisahkan, dan ada yang disimpan. Hal seperti ini menambah wawasan dan khasanah saya dalam mengenal budaya yang beragam. Terima kasih postingannya, Sukses untuk anda.

    Regards, agnes sekar

  10. Ping-balik: Hiatus.. Permohonan Maaf.. Final Batle Top Komentator.. | Mengembalikan Jati Diri Bangsa | KangBoed

    1. :lol: :lol: :lol: :lol: :lol:

      RAIHLAH “JATI DIRI MANUSIA”.. untuk

      MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA INDONESIA

      Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaank

      I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

  11. Ping-balik: Upacara si Rambut Gimbal « Batavusqu

  12. Ping-balik: RALAT : Pengumuman Final Batle Top Komentator Desember | Mengembalikan Jati Diri Bangsa | KangBoed

  13. Ping-balik: Mbah Gendeng Melaporkan Final Batle Top Komentator Desember | Mengembalikan Jati Diri Bangsa | KangBoed

  14. Ping-balik: Flash Disk untuk Jawara Komeng Bulan Desember | Mengembalikan Jati Diri Bangsa | KangBoed

  15. Ping-balik: Tradisi Bayi Turun Tanah 3 « Batavusqu

  16. Ping-balik: Tradisi Bayi Turun Tanah 4 « Batavusqu

  17. Ping-balik: Tradisi Bayi Turun Tanah 5 (end) « Batavusqu

  18. Ping-balik: Ada Kutu di Wordpress « Batavusqu

  19. Ping-balik: Kata Orang Kutu Bikin Gatel « Batavusqu

  20. Ping-balik: 9 Hari Pertama PATAS 2010 « Batavusqu

  21. Ping-balik: Pengantar Puasa Senin Kamis « Batavusqu

  22. Ping-balik: Ritual Puasa Senin Kamis 1 « Batavusqu

  23. Ping-balik: Ritual Puasa Senin Kamis 2 (end) « Batavusqu

  24. Ping-balik: Ritual Puasa Senin Kamis 2 « Batavusqu

  25. Ping-balik: Ritual Puasa Senin Kamis 3 (habis) « Batavusqu

  26. Ping-balik: KutuBacaBuku di Batavusqu « Batavusqu

  27. Ping-balik: Informasi Senjata, Gratisss ! « Batavusqu

  28. Ping-balik: Golok bukan go! Blog « Batavusqu

  29. Ping-balik: Kujang; Ajimat Raja Pasundan « Batavusqu

  30. Ping-balik: Artikel Terunik Pertama Leysbook « Batavusqu

  31. Ping-balik: Artikel Terunik Pertama Di Leysbook « Batavusqu

  32. Ping-balik: Rencong Milik Aceh « Batavusqu

  33. Ping-balik: Kode Etik Nara Blog (Blogger) « Batavusqu

  34. Ping-balik: Celurit di mata Carok « Batavusqu

  35. Ping-balik: Hadiah Terunik Akhirnya Terbit « Batavusqu

  36. Ping-balik: Ceria bersama Si Bungsu « Batavusqu

  37. Ping-balik: Gerbang Baru Mulai Terbuka « Batavusqu

  38. Ping-balik: Kemeriahan Humberqu « Batavusqu

  39. Ping-balik: Berburu Dengan Sumpit « Batavusqu

  40. Ping-balik: Humberqu Jilid 1 « Batavusqu

  41. Ping-balik: 3 Hari yang tertinggal « Batavusqu

  42. Ping-balik: Jambore Bersama Bhirawa « Batavusqu

  43. Ping-balik: Risalah Untuk Rusma « Batavusqu

  44. Ping-balik: Reportase Kemeriahan Humberqu « Batavusqu

  45. Ping-balik: Ayoo gerakkan tubuh sambut pagi ceria « Batavusqu

  46. Ping-balik: Tradisi Aruh Baharin 1 « Batavusqu

  47. Ping-balik: Aruh Baharin 2 (habis) « Batavusqu

  48. Ping-balik: Permohonan Maap « Batavusqu

  49. Ping-balik: Nilai-nilai Budaya Makassar 1 « Batavusqu

  50. Ping-balik: Nilai-nilai budaya Makassar 2 « Batavusqu

  51. Ping-balik: Nilai-nilai Budaya Makassar 3 (end) « Batavusqu

  52. Ping-balik: Wisata Kuliner khas Makassar 1 « Batavusqu

  53. Ping-balik: Wisata Kuliner Khas Makassar 2 « Batavusqu

  54. Ping-balik: Wisata Kuliner Khas Makassar 3 (end) « Batavusqu

  55. Ping-balik: Peduli Sahabat « Batavusqu

  56. Ping-balik: Tali Asih dari Pakde Cholik « Batavusqu

  57. Ping-balik: Penghuni Cempaka Mas Teler « Batavusqu

  58. Ping-balik: Kupersembahkan untuk yang paling Sedjatee « Batavusqu

  59. Ping-balik: Mengenang 64 Tahun Bandung Lautan Api « Batavusqu

  60. Ping-balik: Jail ko tega sih « Batavusqu

  61. Ping-balik: Mari Matikan Lampu Selama 60 Menit « Batavusqu

  62. Ping-balik: Jakarta Kota Air (Bagian 2) habis « Batavusqu

  63. Ping-balik: 3 Fasilitas Yang Mengganggu « Batavusqu

  64. Ping-balik: Juri dapat cindra mata « Batavusqu

  65. Ping-balik: Upacara Adat Pasola Sumba1 « Batavusqu

  66. Ping-balik: Upacara Adat Pasola Sumba2 « Batavusqu

  67. Ping-balik: Upacara Adat Bau Nyale1 « Batavusqu

  68. Ping-balik: Upacara Adat Bau Nyale2 « Batavusqu

  69. Ping-balik: Upacara adat tiwah « Batavusqu

  70. Ping-balik: Upacara adat Molonthalo1 « Batavusqu

  71. Ping-balik: Upacara adat Molonthalo2 « Batavusqu

  72. Ping-balik: Upacara adat Mappassili « Batavusqu

  73. Ping-balik: Upacara adat Mandi Tian Mandaring « Batavusqu

  74. Ping-balik: Upacara adat 7 bulanan di Aceh « Batavusqu

  75. Ping-balik: Upacara Adat Tingkeban « Batavusqu

  76. Ping-balik: Upacara adat Mitoni « Batavusqu

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s