Tradisi Bayi Turun Tanah 1

Minggu, 3 Januari 2010

Salam Takzim

Sahabat dan pemirsa Batavusqu yang berbudi

Sebelumnya penulis menyampaikan permohonan maap bila pada postingan di tahun 2009 masih banyak postingan yang masih belum dipahami dengan baik, karena memang pengetahuan penulis dalam menyelami reportase tradisi upacara belum sepenuhnya. Mudah-mudahan ditahun 2010 ini penulis dapat memperbaikinya dan memberikan sajian yang dapat dicerna baik untuk sahabat dan pembaca muda maupun sahabat yang jauh lebih senior dari penulis. Namun tentunya penulis menyadari bahwa setiap sajian ada kalanya masih terseok dengan tata bahasa yang kurang pas, untuk itu penulis tetap menyampaikan permohonan maap yang sedalam-dalamnya baik sebelum dan sesudah terbaca.


.

Perjalanan tahun baru batavusqu belum lama ini singgah di desa Cilacap , dan dengan kerendahan hati mengajak sahabat dan pembaca untuk mengetahui tradisi menarik yaitu Tedhak Sinten, semoga berkenan.

.

Ya di tanah Cilacap ada tradisi bayi turun tanah dalam budaya Jawa, upacara tedhak sinten adalah ritual yang sama pentingnya dengan selamatan kelahiran, pernikahan atau kematian. Namun tradisi menurunkan bayi untuk menginjakkan kaki ke tanah ini sudah jarang dilakukan sehingga hampir punah. Di Cilacap, Jawa Tengah, seorang warga menghidupkan lagi ritual yang menggambarkan proses seorang anak mulai berjalan tersebut.

.

Sebelum dimulai acara, sang anak terlebih dahulu didandani dengan pakaian khas Jawa. Lengkap dengan kepala tutup blankon. Jika wanita biasanya dirias dengan pakaian ala pengantin. Selanjutnya sang anak diarak dengan menaiki andong. Sang anak dipindahkan dengan menaiki kuda bersama dengan sang ayah.

.

Kuda Sumbawa yang dikalungi jajanan anak ini, berjalan menuju lokasi upacara. Sebelum memasuki upacara dilakukan pelepasan 20 burung merpati sebagai simbol kebebasan, serta 70 balon yang menggambarkan kegembiraan anak-anak. Tedhak sinten sendiri merupakan upacara menjejakkan tanah.

.

Sebelum menjejakkan tanah, sang anak dituntun oleh orangtuanya untuk melangkah diatas cobekan berisi sesaji makanan sejenis dodol dari beras ketan berwarna putih dan merah serta beras kuning. Setelah itu anak dituntun untuk menjejakkan kaki diatas tanah. Sang anak beserta ibunya kemudian dimasukan kedalam kurungan ayam, untuk memilih segala rupa mainan didalam kurungan tersebut.

.

Konon ini sebagai bentuk perlindungan terhadap segala gangguan kejahatan terhadap diri sang anak. Prosesi selanjutnya sang anak dituntun untuk meniti tangga yang terbuat dari batang tebu dan kemudian dibaringkan diatas ayunan. Kini dimaksudkan agar jalan hidup yang dijalani sang anak adalah jalan hidup yang manis.

.

Ritual ini memang sudah sangat jarang dilakukan, bahkan orang Jawa sangat sedikit yang menggelar ritual ini. Selain warga, pemerintah diharapkan bisa melakukan upaya pelestarian budaya ini sebagai asset wisata. (Nanang Anna Nur/Dv/Ijs)

Sumber Indosiar.com

97 pemikiran pada “Tradisi Bayi Turun Tanah 1

  1. Pertamax ya…
    Bagus sekali tradisinya. Sebenarnya tradisi itu penuh simbol. Tiap langkah ad makna yang tersirat. Sayangnya, zaman berubah, sekarang orang senang dengan yang tersurat jadi semakin tidak mengerti dengan yang tersirat…

    Sukses selalu kang.

  2. Pelaksanaan Ritual seperti ini perlu sebagai upaya keberlangsungan kehidupan budaya tradisional yang semakin termarginalkan.
    Di tempat saya juga ada upacara seperti itu, namun sekarang hanya dilaksanakan oleh kalangan ningrat.

    Nice sharing Kang
    Salam Taksim,…
    Bila berkenan sudilah kiranya masukkan URL saya di widget Link sahabat.
    Terima kasih.

  3. Saat ibu punya cucu pertama masih ada acara ini.
    Namun pas saya punya anak, tak mungkin melakukan ritual ini, disamping bingung juga siapa yang akan diundang, dan pekerjaan juga tak ada habis-habisnya.

    Sebetulnya sayang jika acara seperti ini nantinya akan hilang, terutama jika hidup di kota besar

  4. di desaku, turun tanah biasanya di hajatkan oleh orang yg terpandang seperti pak lurah,pak kades pak guru dll…tp yg lain juga sah2 aja kok..cuman udah jarang sekarang ini…
    selamat tahun baru kang..maap baru bisa nongol

    1. Terima kasih kang oelil atas warnanya, memang sih turun tanah bagi si kecil seringnya dilaksanakan oleh orang yang punya uang lebih..
      Selamat tahun baru juga kang

  5. Ping-balik: Tradisi Bayi Turun Tanah 2 « Batavusqu

  6. anak saya yg pertama dulu oleh kakek-neneknya dilakukan upacara turun tanah/tedak siti. prosesinya cukup lengkap. saya baru paham stlh liat langsung prosesinya:)

  7. Ping-balik: Tradisi Bayi Turun Tanah 3 « Batavusqu

  8. Ping-balik: Tradisi Bayi Turun Tanah 4 « Batavusqu

  9. Ping-balik: Tradisi Bayi Turun Tanah 5 (end) « Batavusqu

  10. Ping-balik: Ada Kutu di Wordpress « Batavusqu

  11. Ping-balik: Kata Orang Kutu Bikin Gatel « Batavusqu

  12. Ping-balik: 9 Hari Pertama PATAS 2010 « Batavusqu

  13. Ping-balik: Pengantar Puasa Senin Kamis « Batavusqu

  14. Ping-balik: Ritual Puasa Senin Kamis 1 « Batavusqu

  15. Ping-balik: Ritual Puasa Senin Kamis 2 (end) « Batavusqu

  16. Ping-balik: Ritual Puasa Senin Kamis 2 « Batavusqu

  17. Ping-balik: Ritual Puasa Senin Kamis 3 (habis) « Batavusqu

  18. Ping-balik: KutuBacaBuku di Batavusqu « Batavusqu

  19. Ping-balik: Informasi Senjata, Gratisss ! « Batavusqu

  20. Ping-balik: Golok bukan go! Blog « Batavusqu

  21. Ping-balik: Kujang; Ajimat Raja Pasundan « Batavusqu

  22. Ping-balik: Artikel Terunik Pertama Leysbook « Batavusqu

  23. Ping-balik: Artikel Terunik Pertama Di Leysbook « Batavusqu

  24. Ping-balik: Rencong Milik Aceh « Batavusqu

  25. Ping-balik: Kode Etik Nara Blog (Blogger) « Batavusqu

  26. Ping-balik: Celurit di mata Carok « Batavusqu

  27. Ping-balik: Hadiah Terunik Akhirnya Terbit « Batavusqu

  28. Ping-balik: Ceria bersama Si Bungsu « Batavusqu

  29. Ping-balik: Gerbang Baru Mulai Terbuka « Batavusqu

  30. Ping-balik: Kemeriahan Humberqu « Batavusqu

  31. Ping-balik: Berburu Dengan Sumpit « Batavusqu

  32. Ping-balik: Humberqu Jilid 1 « Batavusqu

  33. Ping-balik: 3 Hari yang tertinggal « Batavusqu

  34. Ping-balik: Jambore Bersama Bhirawa « Batavusqu

  35. Ping-balik: Risalah Untuk Rusma « Batavusqu

  36. Ping-balik: Reportase Kemeriahan Humberqu « Batavusqu

  37. Ping-balik: Ayoo gerakkan tubuh sambut pagi ceria « Batavusqu

  38. Ping-balik: Tradisi Aruh Baharin 1 « Batavusqu

  39. Ping-balik: Aruh Baharin 2 (habis) « Batavusqu

  40. Ping-balik: Permohonan Maap « Batavusqu

  41. Ping-balik: Nilai-nilai Budaya Makassar 1 « Batavusqu

  42. Ping-balik: Nilai-nilai budaya Makassar 2 « Batavusqu

  43. Ping-balik: Nilai-nilai Budaya Makassar 3 (end) « Batavusqu

  44. Ping-balik: Wisata Kuliner khas Makassar 1 « Batavusqu

  45. Ping-balik: Wisata Kuliner Khas Makassar 2 « Batavusqu

  46. Ping-balik: Wisata Kuliner Khas Makassar 3 (end) « Batavusqu

  47. Ping-balik: Peduli Sahabat « Batavusqu

  48. Ping-balik: Tali Asih dari Pakde Cholik « Batavusqu

  49. Ping-balik: Penghuni Cempaka Mas Teler « Batavusqu

  50. Ping-balik: Kupersembahkan untuk yang paling Sedjatee « Batavusqu

  51. Ping-balik: Mengenang 64 Tahun Bandung Lautan Api « Batavusqu

  52. Ping-balik: Jail ko tega sih « Batavusqu

  53. Ping-balik: Mari Matikan Lampu Selama 60 Menit « Batavusqu

  54. Ping-balik: Jakarta Kota Air (Bagian 2) habis « Batavusqu

  55. Ping-balik: 3 Fasilitas Yang Mengganggu « Batavusqu

  56. Ping-balik: Juri dapat cindra mata « Batavusqu

  57. Ping-balik: Upacara Adat Pasola Sumba1 « Batavusqu

  58. Ping-balik: Upacara Adat Bau Nyale1 « Batavusqu

  59. Ping-balik: Upacara Adat Bau Nyale2 « Batavusqu

  60. Ping-balik: Upacara adat tiwah « Batavusqu

  61. Ping-balik: Upacara adat Molonthalo1 « Batavusqu

  62. Ping-balik: Upacara adat Molonthalo2 « Batavusqu

  63. Ping-balik: Upacara adat Mappassili « Batavusqu

  64. Ping-balik: Upacara adat Mandi Tian Mandaring « Batavusqu

  65. Ping-balik: Upacara adat 7 bulanan di Aceh « Batavusqu

  66. Ping-balik: Upacara Adat Tingkeban « Batavusqu

  67. Ping-balik: Upacara adat Mitoni « Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s