Tradisi Bayi Turun Tanah 2

Senin, 4 Januari 2010

Salam Takzim

Pemirsa dan sahabat batavusqu yang berbudi

Satu lagi tradisi bayi turun tanah penulis saji, namun kali ini dikirim dari sahabat dari tanah rencong Aceh, semoga memberikan wahana dan pesona lain dari tradisi bayi turun tanah. Sepertia biasa tersaji bukan untuk dipuji namun untuk referensi budaya.

Masyarakat Aceh, sebagaimana masyarakat lainnya di Indonesia, mempercayai bahwa masa peralihan dari kehidupan seseorang (dari kelahiran sampai kematian) adalah masa-masa yang krisis. Untuk itu, perlu adanya suatu usaha menetralkannya. Wujud dari usaha itu adalah berbagai bentuk upacara di lingkaran hidup individu, seperti upacara: kehamilan, kelahiran, turun tanah, perkawinan dan kematian.
.

Dalam artikel ini hanya akan diuraikan salah satu upacara di lingkaran hidup individu yang dilakukan oleh masyarakat Aceh, yaitu upacara turun tanah. Uraian meliputi: asal-usul, peralatan, tata laksana, dan nilai budaya yang terkandung dalam upacara turun tanah.

Peralatan yang digunakan

Peralatan dan perlengkapan yang diperlukan dalam upacara turun tanah pada masyarakat Aceh adalah: tangga, sehelai kain putih, sebuah kelapa, sapu, tampi, cangkul, parang, pulut kuning, madu lebah, dan gunting rambut.
.

Tangga digunakan untuk menurunkan anak yang akan diturun-tanahkan. Sehelai kain putih digunakan untuk memayungi anak dengan cara setiap orang memegangi sudutnya. Sebuah kelapa untuk dipecahkan di atas tudung. Sapu digunakan untuk menyapu tanah ketika anak diturunkan dari anak tangga yang satu ke anak tangga lainnya. Tampi digunakan untuk menampi beras. Cangkul digunakan untuk mencangkul tanah. Parang digunakan untuk mencincang batang pisang atau tebu. Pulut kuning, khususnya pada masyarakat Aceh-Gayo, digunakan untuk menutupi daun telinga anak. Madu lebah digunakan untuk mengolesi bibir sang anak. Gunting, khususnya pada masyarakat Aceh-Temiang, digunakan untuk menggunting rambut anak yang akan diturun-tanahkan.

Teknis pelaksanaan

a. Persiapan Upacara

Upacara Turun Tanah tidak hanya melibatkan kerabat ibu dan ayah Sang jabang bayi, tetapi juga para tetangga dan handai taulan. Seorang yang baik budi pekertinya (terpandang) dan seorang alim ulama (tuan guru marhaban) yang biasanya memimpin jalannya marhabanan. Untuk itu, sebagai persiapan, semua yang akan terlibat itu (diberitahu bahwa pada hari tertentu), diminta kehadirannya untuk menyaksikan dan sekaligus mendoakan bayi yang akan diturun-tanahkan. Selain itu, pihak penyelenggara juga mempersiapkan bahan dan peralatan yang dibutuhkan dalam upacara tersebut. Besar-kecilnya atau mewah-sederhananya upacara bergantung pada kemampuan pihak penyelenggara. Biasanya anak pertama, baik laki-laki maupun perempuan, diperlakukan secara khusus dibandingkan dengan anak kedua atau ketiga, sehingga pelaksanaannya seringkali disertai dengan penyembelihan kerbau atau sapi. Jadi, lebih besar atau lebih meriah ketimbang anak kedua atau ketiga yang cenderung lebih sederhana (tanpa penyembelihan kerbau atau sapi).

b. Jalannya Upacara

Upacara diawali dengan penggendongan bayi (anak) oleh seorang yang terpandang dalam masyarakatnya. Anak tersebut dibawa ke sebuah tangga3) yang dibuat khusus untuk upacara ini, kemudian diturunkan dari anak tangga yang satu ke lainnya. Ketika penurunan dilakukan, anak tersebut dipayungi dengan sehelai kain yang setiap sudutnya dipegangi oleh seseorang. Lalu, sebuah kelapa dibelah di atasnya. Maksud yang terkandung dalam makna simbolik dari pembelahan kelapa ini adalah agar anak di kemudian hari tidak takut terhadap suara petir.

.

Sementara itu, jika anak yang akan diturun-tanahkan itu adalah perempuan, maka salah seorang anggota keluarganya bergegas menyapu tanah dan salah seorang anggota keluarga lainnya menampi beras. Menyapu tanah dan menampi beras adalah simbol dari kerajinan. Artinya, anak perempuan yang diturun-tanahkan itu kelak menjadi seorang perempuan yang rajin. Namun, jika yang diturun-tanahkan adalah anak laki-laki, maka seorang anggota keluarganya bergegas mencangkul tanah dan salah seorang anggota keluarga lainnya mencincang batang pisang atau batang tebu. Makna simbolik dari ritual itu adalah kesatriaan. Artinya, kelak anak lelaki itu dapat menjadi seorang lelaki yang bermoral kesatria.

Ketika penurunan anak sudah sampai ke tanah, maka anak tersebut dibiarkan sejenak di atas tanah, kemudian dibawa keliling rumah atau masjid. Dan, ketika akan memasuki rumah, disertai dengan ucapan: “Assalamu Alaikum”.

Dengan masuknya anak ke dalam rumah, maka berakhirlah upacara turun tanah ini. Sejak saat itu anak sudah diperbolehkan menyentuh tanah. Sementara itu, sebagai ungkapan terima kasih dari shohibul hajah, bidan yang dalam upacara ini juga masih berperan sebagai “penjaga dari gangguan gaib” hingga Sang bayi melalui upacara turun tanah, diberi sejumlah uang (ala kadarnya).

Sebagai catatan, pada masyarakat Gayo upacara diawali dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh seorang Imam. Isi doa itu pada dasarnya adalah memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa (Allah) agar anak berumur panjang, banyak rezeki, dan menjadi seorang yang taqwa. Setelah pembacaan doa, anak dipangku oleh ralik (salah seorang kerabat dari pihak ibu anak). Kemudian, daun telinganya dilekati pulut kuning dan bibirnya diolesi dengan madu lebah disertai dengan ucapan: “Mudahlah rezekimu, taat dan beriman serta berguna bagi agama”. ‘

.

Selanjutnya, anak diserahkan kepada semua yang hadir (peserta upacara) secara bergantian (bergiliran) dengan mengucapkan kata-kata yang sama. Setelah itu, baru anak diturun-tanahkan melalui sebuah tangga yang khusus.
.

Pada masyarakat Tamiang lain lagi. Sebelum upacara turun tanah dilakukan, mereka melakukan upacara menyangke rambut budak (cukur rambut) dan sekaligus memberi nama. Upacara diawali dengan pengayunan anak sesuai dengan irama marhaban. Kemudian, anak diambil dari ayunan oleh salah seorang kerabatnya dan ditepung-tawarinya oleh tuan guru marhaban serta digunting rambutnya (sedikit). Guntingan rambut dimasukkan dalam kelapa muda yang terukir. Selanjutnya, setiap peserta marhaban diberi kesempatan untuk mengguntingnya4). Setelah semuanya mendapat gilirannya, maka barulah upacara turun tanah dilakukan.

Nilai Budaya yang dapat diambil

Turun tanah adalah salah satu upacara tradisional masyarakat Aceh. Upacara yang sangat erat kaitannya dengan lingkaran hidup individu ini, jika dicermati secara seksama, di dalamnya mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan, baik di dunia maupun akherat (alam baqa). Nilai-nilai itu, antara lain: kerajinan, kesatriaan, keberanian, dan ketaqwaan.

Nilai kerajinan tercermin dalam makna simbolik dari ritual menyapu halaman dan menampi beras yang dilakukan oleh dua orang kerabat sang bayi. Nilai kesatriaan tercermin dari ritual mencangkul tanah dan mencincang batang pisang atau batang tebu. Kemudian, nilai keberanian tercermin dari pemecahan buah kelapa. Dan, nilai ketaqwaan tercermin dari pelekatan pulut kuning pada telinga anak dan pengolesan bibir dengan madu lebah yang disertai dengan ucapan: “Mudahlah rezekimu, taat dan beriman serta berguna bagi agama”. (AG/bdy/67/10-07)

Sumber :

* Hidayah, Z. 1996. Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta: LP3ES.
* Syamsuddin, T. dkk.1994. Adai Istidat Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

( Foto : Fachrul Razi / Acehfotografer.net )

Iklan

107 pemikiran pada “Tradisi Bayi Turun Tanah 2

  1. S E T U N G G A L…………….!!!
    Hidupkan karya mu !!!!
    Hidupkan hati mu !!!!
    Agar kita tidak menjadi orang yang selalu dalam kerugian.
    Sukses untuk sahabatku……..
    Karyamu membuat semangat para sahabat-sahabat untuk tetap berkarya.
    Good bles U………………………………………………..INDONESIA

  2. K A L E H J U G A…………!!!!
    Hidupkan karya mu !!!!
    Hidupkan hati mu !!!!
    Agar kita tidak menjadi orang yang selalu dalam kerugian.
    Sukses untuk sahabatku……..
    Karyamu membuat semangat para sahabat-sahabat untuk tetap berkarya.
    God bles U………………………………………………..INDONESIA

  3. Negeri ini penuh dengan budaya, ya bang zipoer7..
    Kalo di cirebon upacara turun tanah disebutnya “Mudun Lema”, si anak di turunkan dari tangga yg terbuat dari pohon tebu yg dihias dg kertas, menuruni 7 makanan tradisional yg namanya dodol; sambil di’kidungkan’ sholawat nabi dan do’a-do’a..
    Semoga bisa nambah wacana pengetahuan budaya negeri ini.. 😀

  4. saya salut dengan Mas Batavusqu yang bisa menceritakan dengan detil Mas. Saya menjadi tahu beberapa budaya dari daerah lain seperti di Aceh ini sampai budaya yang jarang dan tidak terpikirkan diulas cukup tuntas. Terima kasih mas sudah memberikan pengetahuannya.
    Salam hangat selalu 🙂

  5. Assalamu’alaikum,
    Selamat Tahun Baru, semoga ditahun ini, semakin bertambah ketakwaan kita kepada Allah Swt, dan semoga kita bisa lebih sukses dari tahun sebelumnya. Maaf, saya lama absen ngeblog, jadi baru sempat balas kunjungan sekarang. Indonesia begitu kaya akan budaya, mari kita lestarikan bersama. (Dewi Yana)

  6. Terima kasih bunda Yana, atas kehadirannya memberikan warna ditahun 2010 semoga bunda selalu memiliki keluluasan waktu untuk ber BW, Salam hangat buat keluarga ya bunda

  7. Kalo yang daku pernah liat, acara paling seru waktu berjalan di berbagai macam jenang warna-warni, trus nantinya masuk kurungan pilih barang yang paling disukai.
    Tapi ndak tau kalo di Aceh, ada juga tidak yach ???

  8. Banyak cara org tua dulu mencari seni untuk meMATERAIkan Nasehat dan harapan dlm tradisi kuno spt ini, yg menjadikan kaya akan Seni dan Budaya di Negeri ini.

  9. Dan terlihat sekali Puncak Arti dari tradisi ini adalah “Mudahlah rezekimu, taat dan beriman serta berguna bagi Negara dan agama” mungkin pd awalnya tradisi ini adalah potret DOA buat si anak yg mereka aplikasikan dlm bentuk tradisi ini.

    Terima Kasih Info yg menarik.

    Salam Takzim.

  10. Ping-balik: Tradisi Bayi Turun Tanah 3 « Batavusqu

  11. Ping-balik: Tradisi Bayi Turun Tanah 4 « Batavusqu

  12. Ping-balik: Tradisi Bayi Turun Tanah 5 (end) « Batavusqu

  13. Ping-balik: Ada Kutu di Wordpress « Batavusqu

  14. Ping-balik: Kata Orang Kutu Bikin Gatel « Batavusqu

  15. Ping-balik: 9 Hari Pertama PATAS 2010 « Batavusqu

  16. Ping-balik: Pengantar Puasa Senin Kamis « Batavusqu

  17. Ping-balik: Ritual Puasa Senin Kamis 1 « Batavusqu

  18. Ping-balik: Ritual Puasa Senin Kamis 2 (end) « Batavusqu

  19. Ping-balik: Ritual Puasa Senin Kamis 2 « Batavusqu

  20. Ping-balik: Ritual Puasa Senin Kamis 3 (habis) « Batavusqu

  21. Ping-balik: KutuBacaBuku di Batavusqu « Batavusqu

  22. Ping-balik: Informasi Senjata, Gratisss ! « Batavusqu

  23. Ping-balik: Golok bukan go! Blog « Batavusqu

  24. Ping-balik: Kujang; Ajimat Raja Pasundan « Batavusqu

  25. Ping-balik: Artikel Terunik Pertama Leysbook « Batavusqu

  26. Ping-balik: Artikel Terunik Pertama Di Leysbook « Batavusqu

  27. Ping-balik: Rencong Milik Aceh « Batavusqu

  28. Ping-balik: Kode Etik Nara Blog (Blogger) « Batavusqu

  29. Ping-balik: Celurit di mata Carok « Batavusqu

  30. Ping-balik: Hadiah Terunik Akhirnya Terbit « Batavusqu

  31. Ping-balik: Ceria bersama Si Bungsu « Batavusqu

  32. Ping-balik: Gerbang Baru Mulai Terbuka « Batavusqu

  33. Ping-balik: Kemeriahan Humberqu « Batavusqu

  34. Ping-balik: Berburu Dengan Sumpit « Batavusqu

  35. Ping-balik: Humberqu Jilid 1 « Batavusqu

  36. Ping-balik: 3 Hari yang tertinggal « Batavusqu

  37. Ping-balik: Jambore Bersama Bhirawa « Batavusqu

  38. Ping-balik: Risalah Untuk Rusma « Batavusqu

  39. Ping-balik: Reportase Kemeriahan Humberqu « Batavusqu

  40. Ping-balik: Ayoo gerakkan tubuh sambut pagi ceria « Batavusqu

  41. Ping-balik: Tradisi Aruh Baharin 1 « Batavusqu

  42. Ping-balik: Aruh Baharin 2 (habis) « Batavusqu

  43. Ping-balik: Permohonan Maap « Batavusqu

  44. Ping-balik: Nilai-nilai Budaya Makassar 1 « Batavusqu

  45. Ping-balik: Nilai-nilai budaya Makassar 2 « Batavusqu

  46. Ping-balik: Nilai-nilai Budaya Makassar 3 (end) « Batavusqu

  47. Ping-balik: Wisata Kuliner khas Makassar 1 « Batavusqu

  48. Ping-balik: Wisata Kuliner Khas Makassar 2 « Batavusqu

  49. Ping-balik: Wisata Kuliner Khas Makassar 3 (end) « Batavusqu

  50. Ping-balik: Peduli Sahabat « Batavusqu

  51. Ping-balik: Tali Asih dari Pakde Cholik « Batavusqu

  52. Ping-balik: Penghuni Cempaka Mas Teler « Batavusqu

  53. Ping-balik: Kupersembahkan untuk yang paling Sedjatee « Batavusqu

  54. Ping-balik: Mengenang 64 Tahun Bandung Lautan Api « Batavusqu

  55. Ping-balik: Jail ko tega sih « Batavusqu

  56. Ping-balik: Mari Matikan Lampu Selama 60 Menit « Batavusqu

  57. Ping-balik: Jakarta Kota Air (Bagian 2) habis « Batavusqu

  58. Ping-balik: 3 Fasilitas Yang Mengganggu « Batavusqu

  59. Ping-balik: Juri dapat cindra mata « Batavusqu

  60. nova mauliana

    semoga tidak ada kesilapan dalam proses… karena tradisi jika di simpangkan, akan sulit dipahami generasi berikut yang juga akan menjadi penerus dan pelestari…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s