Tradisi Bayi Turun Tanah 3

Selasa, 5 Januari 2010

Salam Takzim

Sahabat dan Pembaca Batavusqu yang berbahagia.

Masih seputar tradisi turun tanah, ya satu lagi tradisi bayi turun tanah yang dilakukan masyarakat Sulawesi Tengah. Budaya Nusantara yang tidak akan pernah kering bila diungkap, semoga para pembaca dan sahabat batavusqu tetap berkenan untuk membacanya.

Di Sulawesi Tengah upacara turun tanah bagi bayi dinamakan POPANAUNG, berikut sajiannya dengan tetap memberikan sajian yang bukan untuk dipuji apalagi dihina melainkan untuk diketahui dan bisa dijadikan referensi bagi para sahabat yang berasal dari sana.

Pengertian yang terkandung dalam upacara Popanaung (turun tanah) tidak berbeda dengan upacara naik ayunan. Secara tradisi setempat upacara ini merupakan sebagai rasa syukur orang tua dalam menerima kehadiran bayi dalam keluarga. Selain daripada itu Popanaung adalah salah satu jalan memperkenalkan bayi kepada kehidupan dunia luar sesudah berada dalam rahim ibunya.


Maksud dan Tujuan Upacara


Agar bayi dapat mengenal dan menerima kenyataan hidup dan tempat di mana ia dilahirkan. Pengertian ini berdasarkan kepada anggapan bahwa selamna ini bayi dalam rahim ibu merupakan dunia yang gelap dan diperkenalkan kepada dunia luar (fana).


Waktu Upacara


Penyelenggaraan upacara Popanaung (turtan tanah) mengikuti waktu sejak bayi itu lahir sampai pada hari kelima di mana upacaranya dilaksanakan pada waktu pagi hari.


Upacara Popanaung bagi bayi mengandung pula gambaran bahwa waktu pelaksanaannya pada pagi hari akan memberikan masa depan yang cerah bagi bayi dalam kehidupannya kelak.


Tempat Penyelenggaraan Upacara


Mengenai tempat penyelenggaraan upacara tidak ada ketentuan mengenai tempat upacara. Kebiasaan bahwa tempat penyelenggaraan adalah di rumah orang tua bayi. Kecuali apabila keadaan rumah orang tua yang diupacarakan tidak mengizinkan (dalam keadaan rusak), maka upacara ini dilaksanakan di rumah salah satu pihak orang tua dari keluarga yang diupacarakan (ayah, mertua).


Penyelenggaraan Teknis Upacara


Sebagai penyelenggara teknis upacara sama haInya dengan upacara Ratoe (naik ayunan) dimana penyelenggara teknis adalah sando mpoana (dukun beranak), sehingga peranan dukun beranak sangat besar artinya baik dalam membantu ibu dalam melahirkan maupun dalam melakukan upacara Popanaung ini.


Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara.


Di samping sando (dukun) sebagai penyelenggara teknis upacara, masih ada mobago (pembantu) yakni seorang yang membantu dukun dalam upacara ini apabila upacara puncak dilaksanakan. Selain pihak keluarga yang terdekat dengan yang diupacarakan, yang semuanya adalah motivoi (saksi) dalam upacara tersebut.


Persiapan-persiapan dan Perlengkapan Upacara


Sebelum tiba pada pelaksanaan upacara telah disiapkan perlengkapan upacara agar dapat terlaksana dengan baik sesuai tradisi setempat. Dalam upacara nopanaung memerlukan persiapan dan perlengkapan upacara seperti kain nunu (kain kulit kayu beringin), ide (tikar), tavala (tombak), guma (parang), kaliavo (perisai), kawipi (bakul) tempat beras, karar (bakul kecil), vatu pengaha (batu asa).


Dari pelbagai persiapan dan perlengkapan tersebut dapat dibagi dua bagian menurut keperluannya masing-masing. Untuk perlengkapan di dalam rumah berupa kain nunu, tikar, baku, sedangkan untuk di luar rumah adalah tombak, parang, kain pengikat kepala (halili), dan perisai.


Jalannya Upacara Menurut Tahap-tahapnya


Dalam upacara nompanaung tahap-tahapnya dapat dilihat perbedaannya pada perlengkapan upacara dan merupakan simbol yang membedakan antara bayi laki-laki dan perempuan yang diupacarakan.


Sebelum puncak upacara dilaksanakan pada pagi hari, biasanya di rumah yang akan mengadakan upacara, pada sore hari menjelang keesokan harinya upacara itu dilaksanakan, maka pihak keluarga sudah memasangkan simbol-simbol upacara di muka tangga rumah atau pada halaman rumah. Maksudnya adalah untuk membedakan jenis kelamin bayi yang akan diupacarakan di rumah tertentu. Bagi bayi perempuan simboInya adalah di depan rumah yang diupacarakan sudah digantungkan pada kayu ujung atas atap rumah, yaitu tavala (tombak) dengan cara melintang serta bagian tengah tombak diikatkan higa (mahkota) yang biasa dipakai sebagai mahkota di kepala wanita dalam pakaian adat masyarakat Kulawi.


Perlengkapan tombak dan mahkota tersebut digantung oleh orang tua yang diupacarakan dan harus nampak terlihat bagi orang yang lewat di depan rumah tersebut, sehingga orang pun dapat mengetahui bahwa di rumah tersebut akan dilaksanakan upacara turun tanah.


Di samping menggantung perlengkapan tersebut sekaligus pemasangan vatu pengaha (batu asa) di depan tangga rumah yang akan diinjak oleh bayi pada upacara turun tanah. Sesudah semua perlengkapan ini dipasang semuanya maka tangga depan rumah tersebut tidak dapat lagi digunakan untuk naik turun rumah sebelum upacara nopanaung ini selesai. Jadi, keluarga yang biasanya menggunakan tangga itu untuk Ialu-Ialang harus melalui tangga rumah bagian dapur.


Ketika saatnya telah tiba dimana dukun telah datang ke rumah yang di upacarakan Ialu mempersiapkan seluruh perlengkapan upacara di tempat yang telah tersedia, sambil menunggu bayi dimandikan oleh ibunya, semua alat perlengkapan upacara sudah disiapkan.


Sesudah bayi dimandikan Ialu diselimuti/dibungkus dengan kain nunu dan ditidurkan di atas tikar yang khususkan untuk upacara turun tanah, didekatkan bayi itu pada dukun. Dukun pun Ialu mengambil bakul beras dan dengan hati-hati sekali dukun mengangkat bayi lalu dimasukkan ke dalam bakul.


Hal ini hanya berlaku bagi bayi perempuan, setelah bayi sudah berada di dalam bakul, maka dukun berdiri disertai mobago (pembantunya) sambil membopong bayi dalam bakul dan diiringi keluarga yang masing-masing membawa sube (pacul kecil), kararo (bakul kecil) masing-masing berjalan, di depan sekali adalah dukun kemudian pembantu dukun dan keluarga yang diupacarakan menuju ke depan pintu. Setelah tiba di depan pintu dan berhenti sejenak, maka dukun pun Ialu turun melalui tangga sampai anak tangga terakhir, sedangkan pembantu dukun yang membopong bayi dan masing-masing keluarga yang diupacarakan yang membawa perlengkapan lainnya tetap berada di atas rumah berdiri di depan pintu.


Dengan isyarat dari dukun yang sudah berada pada anak tangga terakhir maka pembantu dukun mulai menurunkan bayi dalam bakul secara turun naik sebanyak tujuh kali berturut-turut. Setelah sampai pada hitungan yang ketujuh sesudah turun, maka dukun pun mengeluarkan bayi dari bakul dan dengan memegang kedua kaki bayi Ialu diinjakkan pada batu asa, dukun mulai nogane (membaca manteranya) sebagai berikut:


” matua pa tanuana na ngana ei mai pade vatu “, Artinya: “kepala anak ini hendaknya lebih keras dari batu”.


Sesudah bayi diinjakkan kedua kakinya pada batu, maka dukun dengan menggendong bayi naik kembali ke dalam rumah, sambil diiringi pembantunya dan keluarga yang diupacarakan untuk menyimpan kembali perlengkapan upacara pada tempat semula dan bayi langsung dinaikkan kembali ke ayunannya.


Sesudah upacara turun tanah selesai, maka upacara ini pun telah selesai bagi bayi perempuan.


Bagi upacara Popanaung untuk bayi laki-laki agak berbeda sedikit mengenai pelaksanaan upacaranya. Mengenai sebelum waktu upacara turun tanah untuk bayi perempuan sama pelaksanaannya dengan bayi laki-laki, kecuali perlengkapan yang digunakan untuk bayi laki-laki berbeda dengan bayi perempuan.


Sebelum upacara puncak keesokan harinya, maka pada sore hari di muka tangga rumah yang diupacarakan dipancangkan tovala (tombak), guma (parang), dan perisai (kaliavo). Pemancangan perlengkapan tersebut di atas di depan tangga rumah yang diupacarakan sebagai simbol bahwa di rumah tersebut berlangsung upacara turun tanah. Tentang tata upacaranya pun sama yang melaksanakan teknis upacaranya sama pula, kecuali bahwa bagi bayi laki-laki pada saat turun tanah tidak menggunakan lagi bakul untuk tempat bayi perempuan bila diturunkan ke tanah. Susunan upacara pada saat turun adalah sama yakni bahwa pada hitungan yang ke tujuh setelah turun kemudian dukun menginjakkan kedua kainya pada batu asah yang telah disediakan di halaman rumah yang diupacarakan. Sesudah upacara turun tanah ini dilaksanakan bagi bayi laki-laki, maka upacara ini pun dinyatakan berakhir, kemudian dilanjutkan dengan upacara makan bersama di antara keluarga yang hadir dan dukun.


Pantangan-pantangan yang Harus Dihindari


Tujuan penyelenggaman upacara menurut tradisi setempat adalah mencari keselamatan bagi keluarga yang terlibat dalam upacara ini, terutama sekali bagi bayi yang diupacarakan.


Dalam pelaksanaan upacara ini didapati pantangan-pantangan yang harus dihindari berupa perbuatan-perbuatan terhadap bayi. Sejak memakaikan halili bulai pada saat kehamilan sampai pada upacara turun tanah, halili ini tidak boleh ditanggalkan sebelum upacara mencore (memandikan) sang ibu selesai dilaksanakan. Akibat yang ditimbulkan bila pantangan ini dilanggar adalah baik ibu maupun bayi selalu mengalami keadaan tidak sehat (mengalami sakit-sakitan) yang sering dapat menimbulkan kematian bagi bayi. Bagi ibu pada saat upacara nupanaung tidak boleh moboka (mencuci kepala dengan santan kelapa), akibatnya adalah bagi ibu muda mendapat gangguan dari roh-roh jahat karena bau santan kelapa atau ampas kelapa paling disukai oleh roh-roh yang jahat tersebut. Demikian beberapa pantangan yang harus dihindari.


Lambang-lambang atau Makna yang Terkandung dalam Unsur-unsur Upacara.


Daya magis yang berpengaruh berupa lambang dalam upacara nupanaung terhadap kehidupan bayi adalah seperti kain nunu sebagai perlambang bagi yang diupacarakan, sedangkan tikar, bakul, cangkul kecil bagi bayi perempuan sebagai lambang bilamana kelak sesudah ia dewasa dan telah memasuki masa perkawinannya sampai mempunyai keturunan hingga tiba saat ditinggal mati oleh suaminya, maka satu-satunya teman dalam membina hidup dan kehidupannya adalah cangkul kecil untuk membersihkan ladang dan bekerja di sawah, sedangkan bakul adalah merupakan tempat menyimpan hasil panen.


Bagi bayi laki-laki dengan tombak, parang, dan perisai merupakan lambang yang mengandung arti babwa satu-satunya teman di dalam menjaga keselamatan dirinya dan mempertahankan harta bendanya kelak adalah alat-alat tersebut. Selain alat tersebut, juga merupakan lambang keberanian dan kepahlawan bagi yang diupacarakan kelak.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490

Iklan

89 pemikiran pada “Tradisi Bayi Turun Tanah 3

  1. Yang saya tau, tradisi untuk anak2 pada suku2 tertentu yang ada di kota saya (Samarinda) biasanya diadakan acara “NAIK AYUN” yang diselenggarakan bersamaan dengan acara aqiqah dan tasmiyahan, biasanya pada usia anak sekitar 40 hari. Biasanya nama acara itu disingkat dengan sebutan NAIK AYUN saja.

    1. citromduro

      baru dirayakan acara turun tanah
      bayi disuruh milih beberapa alat yang disediakan didepannya
      konon katanya apa yang dipillih oleh anak itu akan menjadi bakat yang ditekuni kelak

  2. setiap kegiatan tradisi dimanapun tidak terlepas dari beragam simbol ya Mas. Termasuk dalam urutan upacara tersebut banyak simbol-simbol yang mungkin kelak secara umum akan dilalui si bayi πŸ™‚

  3. Ping-balik: Tradisi Bayi Turun Tanah 4 « Batavusqu

  4. Ping-balik: Tradisi Bayi Turun Tanah 5 (end) « Batavusqu

  5. Ping-balik: Ada Kutu di Wordpress « Batavusqu

  6. Ping-balik: Kata Orang Kutu Bikin Gatel « Batavusqu

  7. Ping-balik: 9 Hari Pertama PATAS 2010 « Batavusqu

  8. Ping-balik: Pengantar Puasa Senin Kamis « Batavusqu

  9. Ping-balik: Ritual Puasa Senin Kamis 1 « Batavusqu

  10. Ping-balik: Ritual Puasa Senin Kamis 2 (end) « Batavusqu

  11. Ping-balik: Ritual Puasa Senin Kamis 2 « Batavusqu

  12. Ping-balik: Ritual Puasa Senin Kamis 3 (habis) « Batavusqu

  13. Ping-balik: KutuBacaBuku di Batavusqu « Batavusqu

  14. Ping-balik: Informasi Senjata, Gratisss ! « Batavusqu

  15. Ping-balik: Golok bukan go! Blog « Batavusqu

  16. Ping-balik: Kujang; Ajimat Raja Pasundan « Batavusqu

  17. Ping-balik: Artikel Terunik Pertama Leysbook « Batavusqu

  18. Ping-balik: Artikel Terunik Pertama Di Leysbook « Batavusqu

  19. Ping-balik: Rencong Milik Aceh « Batavusqu

  20. Ping-balik: Kode Etik Nara Blog (Blogger) « Batavusqu

  21. Ping-balik: Celurit di mata Carok « Batavusqu

  22. Ping-balik: Hadiah Terunik Akhirnya Terbit « Batavusqu

  23. Ping-balik: Ceria bersama Si Bungsu « Batavusqu

  24. Ping-balik: Gerbang Baru Mulai Terbuka « Batavusqu

  25. Ping-balik: Kemeriahan Humberqu « Batavusqu

  26. Ping-balik: Berburu Dengan Sumpit « Batavusqu

  27. Ping-balik: Humberqu Jilid 1 « Batavusqu

  28. Ping-balik: 3 Hari yang tertinggal « Batavusqu

  29. Ping-balik: Jambore Bersama Bhirawa « Batavusqu

  30. Ping-balik: Risalah Untuk Rusma « Batavusqu

  31. Ping-balik: Reportase Kemeriahan Humberqu « Batavusqu

  32. Ping-balik: Ayoo gerakkan tubuh sambut pagi ceria « Batavusqu

  33. Ping-balik: Tradisi Aruh Baharin 1 « Batavusqu

  34. Ping-balik: Aruh Baharin 2 (habis) « Batavusqu

  35. Ping-balik: Permohonan Maap « Batavusqu

  36. Ping-balik: Nilai-nilai Budaya Makassar 1 « Batavusqu

  37. Ping-balik: Nilai-nilai budaya Makassar 2 « Batavusqu

  38. Ping-balik: Nilai-nilai Budaya Makassar 3 (end) « Batavusqu

  39. Ping-balik: Wisata Kuliner khas Makassar 1 « Batavusqu

  40. Ping-balik: Wisata Kuliner Khas Makassar 2 « Batavusqu

  41. Ping-balik: Wisata Kuliner Khas Makassar 3 (end) « Batavusqu

  42. Ping-balik: Peduli Sahabat « Batavusqu

  43. Ping-balik: Tali Asih dari Pakde Cholik « Batavusqu

  44. Ping-balik: Penghuni Cempaka Mas Teler « Batavusqu

  45. Ping-balik: Kupersembahkan untuk yang paling Sedjatee « Batavusqu

  46. Ping-balik: Mengenang 64 Tahun Bandung Lautan Api « Batavusqu

  47. Ping-balik: Jail ko tega sih « Batavusqu

  48. Ping-balik: Mari Matikan Lampu Selama 60 Menit « Batavusqu

  49. Ping-balik: Jakarta Kota Air (Bagian 2) habis « Batavusqu

  50. Ping-balik: 3 Fasilitas Yang Mengganggu « Batavusqu

  51. Ping-balik: Juri dapat cindra mata « Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s