Tradisi Bayi Turun Tanah 4

Rabu, 6 Januari 2010

Salam Takzim

Pembaca dan sahabat batavusqu yang berbudaya

Tradisi bayi turun tanah, ya tradisi bayi turun tanah kembali batavusqu hadirkan sebagai tradisi yang cukup menarik karena ungkapan kebahagiaan pada saat bayi memasuki usia 7 bulan atau saat bayi sudah siap belajar jalan.

Tradisi ini kembali disaji bukan untuk dipuji ataupun dihina melainkan untuk diketahui dan sebagai referensi bagi para sahabat yang belum mengetahuinya

Masyarakat Madura kini masih memegang teguh tradisi sakera kene yaitu tradisi turun tanah bagi bayi berusia 7 bulan. Rangkaian ritual tradisi ini penuh dengan makna dan pesan moral kepada sang bayi. Selain melantunkan tembang dan cerita tentang nabi, prosesi ritual juga dilengkapi dengan berbagai sesaji.

Dengan menggunakan kostum sakra, salah satu tokoh legendaris Madura, bayi berusia 7 bulan ini menjalani prosesi turun tanah.

Kaos bergaris merah putih serta blangkon atau odeng khas Madura yang dikenal dengan sebutan pesak adalah kostum wajib bagi prosesi sakera kene. Selain itu sebelum dilakukan ritual, turun tanah, bayi dimandikan dengan air kembang yang sudah dibacakan doa oleh para sesepuh desa setempat.

Dalam ritual ini disiapkan tangga mini yang berjumlah 7 anak tangga, bubur, aneka jajanan dan peralatan lainnya. Sang sakra inipun dibawa ke tengah halaman dengan beralaskan tikar pandan dan perlengkapan sesaji.

Sesepuh desa yang ditunjuk sebagai pembaca tembang kemudian membacakan tembang-tembang Madura yang berisi nilai-nilai moral serta sejarah nabi. Setelah itu sang bayi kemudian diinjakkan kakinya ke bubur kemudian bergantian ke anak tangga yang berjumlah 7, kemudian ke tanah.

Prosesi ini berlangsung berulang-ulang selama tiga kali. Tangga mini yang terbuat dari pohon tebu ini dihiasi aneka kembang dan jajanan. Lalu disuruhlah sang bayi untuk memilih benda-benda yang telah disediakan di baki.

Barang tersebut biasanya terdiri dari uang, buku, pensil atau bolpoin, tasbih maupun Al Quran. Benda yang diambil pertama kali oleh si bayi diisyaratkan sebagai simbol jalan hidup yang kelak akan dijalaninya.

Sakera kene adalah bentuk kekaguman masyarakat Madura pada sang tokoh legendaris. Sifat sakra yang gagah dan pemberani diharapkan menurun pada si bayi. Sesepuh desa yang membacakan tembang akhirnya menabur beras kuning yang terbungkus dalam ketupat. Beras kuning ini kemudian ditabur ke dekat ayam jantan yang sudah disediakan. Ini menandakan agar bayi murah rejeki dan dimudahkan segala urusannya seperti ayam yang menemukan beras kuning.

Prosesi terakhir, anak-anak kecil yang diundang kemudian dibariskan. Selanjutnya dipukuli dengan sapu lidi oleh ayah si bayi. Para undangan cilik inipun lari terbirit-birit pulang. Ini melambangkan agar si bayi nantinya cepat bisa berjalan dan berlari kencang.

Satu-satunya yang membedakan dengan prosesi turun tanah bagi bayi perempuan yaitu pada kostum yang dikenakan. Bayi perempuan menjalani prosesi turun tanah tanpa menggunakan kostum sakra. (Tim Liputan/Sup/Ijs)

Sumber Asli : Indosiar.com

Salam Takzim Batavusqu

|warisan Telukabessy|1 Suro di Cirebon|1 Suro di Tuban|Kado|Gunung Kemukus|
|Rambu Solo|Hari Ibu|Ritual Ngaben|Ritual Gimbal|Natal|Natal Tante Alexa|
|Zipoer7 VS Batavusqu|Tradisi Bayi Turun Tanah 1|Tradisi Bayi Turun Tanah 2|
|Tradisi Bayi Turun Tanah 3|Tradisi Bayi Turun Tanah 4|
Iklan

118 pemikiran pada “Tradisi Bayi Turun Tanah 4

  1. sedjatee

    baru tahu neh, Mister dah ganti tampang… makin ganteng aja tuh Mister… salam sukses… tulisan-tulisan perkawinan dah lengkap… sekarang yang kawin dah pada beranak, ganti tulisan tentang anak-anak… huehehehehe…. salam sukses…

    sedj

  2. ternyata budaya bayi turun tanah hampir ada di seluruh nusantara ya. semua tujuannya sama mendoakan spy si bayi menjadi generasi penerus yg berguna bagi masyarakatnya

  3. tary bailah

    assalammualaikum pak zip, piye kabare, aku baru sempat berkunjung nih pak?
    wahhh…ternyata aku banyak ketinggalan nih postingannya pak zipoer.
    ngomong-ngomong tentang tradisi ini, di tempatku aku belum pernah menjumpai pak, tapi kalo nujuh bulanan sering gitu. πŸ™‚

    1. Wa’alaikumsalam, kabar saya baik mbak, semoga demikian dengan mbak tary, tradisi turun tanah memang tidak semua ada di setiap daerah mbak, demi keselamatan biasanya ada modelnya, mungkin di tempa t mbak tary nujuh bulanan merupakan tradisi yang sama maknanya mbak, Terima kasih warnanya ya

  4. Siti Fatimah Ahmad

    Assalaamu’alaikum Kang Zipoer7

    Indahnya DUNIA hanya sementara.
    Indahnya CINTA hanya seketika.
    Indahnya MIMPI kadang tak pasti.
    Tapi……. Indahnya PERSAHABATAN sesama kita sukar dicari ganti.

    Maaf sahabatku… kerana lambat berkunjung balas; banyak urusan mengulit diri dan perlu dibereskan. Terima kasih atas ingatan berpanjangan. Mudahan kita semua diredhai Allah swt.

    Selamat Tahun Baru 2010. Salam mesra dari Sarikei, Sarawak.

    1. Memang sulit mencari sahabat sejati bund, lebih mudah bila diawali dari persahabatan maya, lama, dan baru sama-sama setia. Salam hangat dan sayang selalu dari betawi bund.

  5. Siti Fatimah Ahmad

    Mudahan info berhubung tradisi anak-anak akan diteruskan Kang Zipoer7. kerana banyak hal tradisi seperti itu sudah dilupakan oleh masyarakat moden. salam hangat Kang Zipoer7 yang selalu menyenangkan hati. Saya bertuah dapat bersahabat dengan kang Zipoer7 juga sahabat-sahabat maya yang dihormati semuanya.

  6. Dangstars

    kunjungan Siang siapa tahu diajak makan siang
    Karena rasanya sudah hanaang πŸ˜€ πŸ˜€

    Om minta kode Widget gambar sistem gulir yah πŸ˜€
    Kalo ada waktu luang saja ..

  7. Saya suka masih ada respon positif untuk berbagai tradisi budaya Indonesia yang dituliskan kang zipoer7. Biar bagaimanapun itulah tradisi. Merupakan bagian dari sejarah kehidupan sosial masyarakat kita.

    Sayangnya banyak dari kita yang hidup di kota besar sekarang hanya bisa melihat dan mengagumi dari layar kaca atau sekedar membacanya meskipun Hanya Di Atas Kertas

    Salut kang.

    1. Itulah tujuan utama blog ini kang, mengangkat tradisi sebagai khasanah yang belum diketahui, untuk dijadikan sebagai khasanah budaya dari negeri tercinta kang. Atas warnanya saya ucapkan terima kasih kang

    1. Alhamdulillah masih ada kok yang melawan zaman, walaupun perkembangan zaman demikian cepat, tetapi masih ada adat-istiadat dilaksanakan di beberapa daerah dan kota-kota besar.

  8. Assalamu’alaikum,
    Selamat sore Bang. Tampilannya semakin bagus, apa lagi PR-nya sudah 4.
    Para pengantin yang beberapa bulan lalu baru menikah sudah punya bayi yang mau belajar berjalan.

    Sukses Bang dengan tulisan-tulisan khasnya yang menarik tentang budaya bangas kita yang begitu kaya.
    Terima kasih.
    Salam buat keluarga.

    1. Wa’alaikum salam
      Selamat malam pak Aziz, hehehe serupa pak dengan PR 4, sukses juga buat Bapak di awal Tahun 2010 ini
      Salam juga buat keluarga di Cianjur

  9. Ping-balik: KutuBacaBuku di Batavusqu « Batavusqu

  10. Ping-balik: Informasi Senjata, Gratisss ! « Batavusqu

  11. Ping-balik: Golok bukan go! Blog « Batavusqu

  12. Ping-balik: Kujang; Ajimat Raja Pasundan « Batavusqu

  13. Ping-balik: Artikel Terunik Pertama Leysbook « Batavusqu

  14. Ping-balik: Artikel Terunik Pertama Di Leysbook « Batavusqu

  15. Ping-balik: Rencong Milik Aceh « Batavusqu

  16. Ping-balik: Kode Etik Nara Blog (Blogger) « Batavusqu

  17. Ping-balik: Celurit di mata Carok « Batavusqu

  18. Ping-balik: Hadiah Terunik Akhirnya Terbit « Batavusqu

  19. Ping-balik: Ceria bersama Si Bungsu « Batavusqu

  20. Ping-balik: Gerbang Baru Mulai Terbuka « Batavusqu

  21. Ping-balik: Kemeriahan Humberqu « Batavusqu

  22. Ping-balik: Berburu Dengan Sumpit « Batavusqu

  23. Ping-balik: Humberqu Jilid 1 « Batavusqu

  24. Ping-balik: 3 Hari yang tertinggal « Batavusqu

  25. Ping-balik: Jambore Bersama Bhirawa « Batavusqu

  26. Ping-balik: Risalah Untuk Rusma « Batavusqu

  27. Ping-balik: Reportase Kemeriahan Humberqu « Batavusqu

  28. Ping-balik: Ayoo gerakkan tubuh sambut pagi ceria « Batavusqu

  29. Ping-balik: Tradisi Aruh Baharin 1 « Batavusqu

  30. Ping-balik: Aruh Baharin 2 (habis) « Batavusqu

  31. Ping-balik: Permohonan Maap « Batavusqu

  32. Ping-balik: Nilai-nilai Budaya Makassar 1 « Batavusqu

  33. Ping-balik: Nilai-nilai budaya Makassar 2 « Batavusqu

  34. Ping-balik: Nilai-nilai Budaya Makassar 3 (end) « Batavusqu

  35. Ping-balik: Wisata Kuliner khas Makassar 1 « Batavusqu

  36. Ping-balik: Wisata Kuliner Khas Makassar 2 « Batavusqu

  37. Ping-balik: Wisata Kuliner Khas Makassar 3 (end) « Batavusqu

  38. Ping-balik: Peduli Sahabat « Batavusqu

  39. Ping-balik: Tali Asih dari Pakde Cholik « Batavusqu

  40. Ping-balik: Penghuni Cempaka Mas Teler « Batavusqu

  41. Ping-balik: Kupersembahkan untuk yang paling Sedjatee « Batavusqu

  42. Ping-balik: Mengenang 64 Tahun Bandung Lautan Api « Batavusqu

  43. Ping-balik: Jail ko tega sih « Batavusqu

  44. Ping-balik: Mari Matikan Lampu Selama 60 Menit « Batavusqu

  45. Ping-balik: Jakarta Kota Air (Bagian 2) habis « Batavusqu

  46. Ping-balik: 3 Fasilitas Yang Mengganggu « Batavusqu

  47. Ping-balik: Juri dapat cindra mata « Batavusqu

  48. Ping-balik: Upacara Adat Pasola Sumba1 « Batavusqu

  49. Ping-balik: Upacara Adat Pasola Sumba2 « Batavusqu

  50. Ping-balik: Upacara Adat Bau Nyale1 « Batavusqu

  51. Ping-balik: Upacara Adat Bau Nyale2 « Batavusqu

  52. Ping-balik: Upacara adat tiwah « Batavusqu

  53. Ping-balik: Upacara adat Molonthalo1 « Batavusqu

  54. Ping-balik: Upacara adat Molonthalo2 « Batavusqu

  55. Ping-balik: Upacara adat Mappassili « Batavusqu

  56. Ping-balik: Upacara adat Mandi Tian Mandaring « Batavusqu

  57. Ping-balik: Upacara adat 7 bulanan di Aceh « Batavusqu

  58. Ping-balik: Upacara Adat Tingkeban « Batavusqu

  59. Ping-balik: Upacara adat Mitoni « Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s