Tradisi Bayi Turun Tanah 5 (end)

Kamis, 7 Januari 2010

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca Batavusqu yang berbudi

Satu lagi tradisi bayi turun tanah ya tradisi bayi turun tanah yang disunting dari kota udang Cirebon, sebagai penutup dari corak tradisi adat dinegeri ini tentang tradisi bayi turun tanah, karena masih banyak budaya adat yang harus batavusqu saji dari berbagai provinsi. Seperti biasa tersaji bukan untuk dipuji atau pun dihina, melainkan untuk diketahui, barangkali menjadi sebuah referensi yang bermanfaat.

Setiap orang tua pasti berharap anaknya mampu menjalani kehidupan di dunia dengan baik, lancar tak ada halangan maupun gangguan. Berbagai usaha pun dilakukan. Selain menadahkan tangan berdoa kepada Sang Khalik, juga melaksanakan tradisi turun temurun agar petuah-petuah leluhur dapat tertular pada anaknya.

Mudun lemah, demikian orang Cirebon menyebut tradisi tersebut. Sebuah tradisi yang dilakukan orang tua untuk mengenalkan anak tercintanya yang berusia tujuh bulan kepada bumi. Mengiringi itu, kedua orang tua berharap anaknya mampu berdiri sendiri dalam menempuh kehidupan.

Tedak Siti merupakan tradisi yang harus dilakoni seorang bayi saat memasuki usia 7 bulan, saat itulah dipercaya bahwa sang bayi boleh menginjakkan kaki-nya ke bumi.

Pasangan Suami Istri biasanya menyiapkan segala kelengkapannya. Antara lain, nasi tumpeng lengkap dengan sayur mayur, bubur merah dan putih, jajanan pasar lengkap, tetel warna (uli, Red) lima macam warna meliputi, merah, putih, hitam, hijau, jambon (jingga), dan bunga setaman (bunga yang ada di satu taman).

Selain itu, juga tak ketinggalan tangga yang dibuat dari batang tebu merah hati, sangkar ayam yang dihiasi janur kuning atau kertas hias, padi, kapas, sekar telon (bunga tiga macam, melati, mawar dan kenanga), beras kuning, uang kertas dan recehan, barang yang bermanfaat, misalnya buku, alat-alat tulis dan sebagainya yang dimasukkan ke dalam sangkar.

Mengawali pelaksanaan tradisi itu, sang bayi sebelumnya dimandikan air bunga setaman. Setelah selesai, anak dikenakan pakaian baru yang bagus. “Dimandikan itu maksudnya, agar bayi dapat menjalani kehidupan yang bersih dan lurus,” .

Kemudian anak dikirap keliling kampung, agar kenal dengan lingkungan sekitar diiringin musik hadrah (rebana’an). Tak lama berselang, anak mulai dibimbing berjalan (dititah) dengan kaki menginjak lima ketan tetel. Hal itu, menurutnya, agar anak selalu ingat dengan tanah airnya. Belum cukup itu, anak tujuh bulan itu dinaikkan ke tangga yang dari terbuat dari tebu wulung.


“Naik tangga, agar ia mendapat kehidupan sukses dan dinamis setahap demi setahap,”

Berlanjut ke prosesi berikutnya, anak dimasukkan ke dalam kurungan ayam. Di dalam kurungan telah dimasukkan benda-benda bermanfaat, mulai dari buku, Alqur’an, uang, alat-alat tulis, dan mainan. Orang tua pun tinggal menunggu, benda apa yang diraih anaknya. Sebab, benda yang pertama kali diambil sang bayi akan melambangkan kehidupannya sang bayi kelak.

Sumber :http://www.kotaudang-sap.blogspot.com

Salam Takzim Batavusqu

|warisan Telukabessy|1 Suro di Cirebon|1 Suro di Tuban|Kado|Gunung Kemukus|
|Rambu Solo|Hari Ibu|Ritual Ngaben|Ritual Gimbal|Natal|Natal Tante Alexa|
|Zipoer7 VS Batavusqu|Tradisi Bayi Turun Tanah 1|Tradisi Bayi Turun Tanah 2|
|Tradisi Bayi Turun Tanah 3|Tradisi Bayi Turun Tanah 4|Tradisi Bayi Turun Tanah 5|
Iklan

121 pemikiran pada “Tradisi Bayi Turun Tanah 5 (end)

      1. memang bener Kang..
        Tersaji bukan untuk dipuji…
        tapi izinkan saya sejenak buat memuji rangkaian artikel ini yang telah menambah wawasan keilmuan saya tentang keberagaman budaya kita yang patut untuk dilestarikan agar nantinya anak cucu kita tidak cuman sekedar membacanya melalui sejarah.

  1. ini bagian kelimax dari episode turun tanah, bisa di jilid ini pak, untuk petunjuk SOP kelahiran bayi dan balita

    “Naik tangga, agar ia mendapat kehidupan sukses dan dinamis setahap demi setahap,”

    Sebuah tulisan yang sangat dalam makna filosofisnya

    Salam sukses selalu

  2. Itulah yang membedakan bayi kita dan bayi di Eropah misalnya, adat istiadat ini sebenarnya memiliki nilai filsasat yang teramat tinggi dari para penggagas leluhur kita yang dimaksudkan untuk bisa menjadi pesan moral dikemudian hari, sayang kita sekarang kurang bisa menangkap makna2 tersebut, dan Blog ini telah banyak memberi kontribusi pada penggalian ulang makna makna tersebut agar difahami bersama,
    trims atas pencerahannya, keep spirit kang, teruskan, lanjut gan untuk memberi pencerahan budaya nusantara

  3. Siti Fatimah Ahmad

    Assalaamu’alaikum

    Menarik sekali maklumat berhubung dengan tradisi bayi urun tanag 5 di atas, banyak pengetahuan yang menambah ilmu dan menunjukkan betapa budaya dan adat sesuatu tempat kaya dengan adatnya. Salam manis selalu kang Zipoer7.

  4. happy new year ya mas, maaf baru bisa berkunjung, lama gak BW, tulisn ttg tradisi sudah tambah byk nih, keren. kalobisa ditulis sendiri mas, jadi buku *dulu udah usul yah*

  5. salam kang…
    selamat siang, semoga kang senantiasa diberi kesehatan dan kemudahan dalam segala hal.

    tulisan yg menarik utnuk mangetahui tradisi2 yang ada di negeri kita… salam hangat… terus berkarya.

  6. Selamat sore Zipoer, senang bisa berkunjung kembali ke Web nya yang tetap konsisten menulis tentang beragam budaya di Indonesia, bahkan teman saya ketika menulis penelitiannya di Antropologi saya berikan advis untuk membaca blognya Zipoer, yang tentunya lengkap dan luar biasa.

  7. Blogwalking…
    kok ada2 ea tradisi bayi kek ginian?? baru tau nich hehehe…di daerahq ndak ada kek gt 🙂

    te2p smngat ea kang tuk ngeblogingna ^^

    salam sayank

  8. mas…boleh request yaaa? malu sebenarnya…sebagai orang bangka asli, saya sudah lama tidak melihat pernikahan yang menggunakan adat tradisi bangka. waktu saya nikah juga ga pake acara adat…terakhir lihat yang pake acara adat bangka tuh waktu sepupu saya nikah dan itu terjadi waktu saya masih SD…dah lama banget kan…kalo bisa tolong diulik dong tentang adat bangka ini…

  9. Ping-balik: 9 Hari Pertama PATAS 2010 « Batavusqu

  10. Ping-balik: Pengantar Puasa Senin Kamis « Batavusqu

  11. Artikel yang komplit,menarik dan bermanfaat.
    Saya juga menyelenggarakan acara turun tanah untuk cucu Bella.Asyik dan meriah serta bisa jadi bahan postingan.
    Salam hangat dari Surabaya

  12. Ping-balik: Ritual Puasa Senin Kamis 1 « Batavusqu

  13. Ping-balik: Ritual Puasa Senin Kamis 2 « Batavusqu

  14. Ping-balik: Ritual Puasa Senin Kamis 3 (habis) « Batavusqu

  15. Ping-balik: KutuBacaBuku di Batavusqu « Batavusqu

  16. Ping-balik: Informasi Senjata, Gratisss ! « Batavusqu

  17. Ping-balik: Golok bukan go! Blog « Batavusqu

  18. Ping-balik: Kujang; Ajimat Raja Pasundan « Batavusqu

  19. Ping-balik: Artikel Terunik Pertama Leysbook « Batavusqu

  20. Ping-balik: Artikel Terunik Pertama Di Leysbook « Batavusqu

  21. Ping-balik: Rencong Milik Aceh « Batavusqu

  22. Ping-balik: Kode Etik Nara Blog (Blogger) « Batavusqu

  23. Ping-balik: Celurit di mata Carok « Batavusqu

  24. Ping-balik: Hadiah Terunik Akhirnya Terbit « Batavusqu

  25. Ping-balik: Ceria bersama Si Bungsu « Batavusqu

  26. Ping-balik: Gerbang Baru Mulai Terbuka « Batavusqu

  27. Ping-balik: Kemeriahan Humberqu « Batavusqu

  28. Ping-balik: Berburu Dengan Sumpit « Batavusqu

  29. Ping-balik: Humberqu Jilid 1 « Batavusqu

  30. Ping-balik: 3 Hari yang tertinggal « Batavusqu

  31. Ping-balik: Jambore Bersama Bhirawa « Batavusqu

  32. Ping-balik: Risalah Untuk Rusma « Batavusqu

  33. Ping-balik: Reportase Kemeriahan Humberqu « Batavusqu

  34. Ping-balik: Ayoo gerakkan tubuh sambut pagi ceria « Batavusqu

  35. Ping-balik: Tradisi Aruh Baharin 1 « Batavusqu

  36. Ping-balik: Aruh Baharin 2 (habis) « Batavusqu

  37. Ping-balik: Permohonan Maap « Batavusqu

  38. Ping-balik: Nilai-nilai Budaya Makassar 1 « Batavusqu

  39. Ping-balik: Nilai-nilai budaya Makassar 2 « Batavusqu

  40. Ping-balik: Nilai-nilai Budaya Makassar 3 (end) « Batavusqu

  41. Ping-balik: Wisata Kuliner khas Makassar 1 « Batavusqu

  42. Ping-balik: Wisata Kuliner Khas Makassar 2 « Batavusqu

  43. Ping-balik: Wisata Kuliner Khas Makassar 3 (end) « Batavusqu

  44. Ping-balik: Peduli Sahabat « Batavusqu

  45. Ping-balik: Tali Asih dari Pakde Cholik « Batavusqu

  46. Ping-balik: Penghuni Cempaka Mas Teler « Batavusqu

  47. Ping-balik: Kupersembahkan untuk yang paling Sedjatee « Batavusqu

  48. Ping-balik: Mengenang 64 Tahun Bandung Lautan Api « Batavusqu

  49. Ping-balik: Jail ko tega sih « Batavusqu

  50. Ping-balik: Mari Matikan Lampu Selama 60 Menit « Batavusqu

  51. yani

    Pinginnya sih mngadakan acara spt itu..
    Tapi itu semua kan perlu biaya..
    Gimana kalau ortu nya si bayi ternyata nggk mampu mengadakan acara tidak siten?

  52. Ping-balik: Jakarta Kota Air (Bagian 2) habis « Batavusqu

  53. Ping-balik: 3 Fasilitas Yang Mengganggu « Batavusqu

  54. Ping-balik: Juri dapat cindra mata « Batavusqu

  55. Ping-balik: Upacara Adat Pasola Sumba1 « Batavusqu

  56. Ping-balik: Upacara Adat Pasola Sumba2 « Batavusqu

  57. Ping-balik: Upacara Adat Bau Nyale1 « Batavusqu

  58. Ping-balik: Upacara Adat Bau Nyale2 « Batavusqu

  59. Ping-balik: Upacara adat tiwah « Batavusqu

  60. Ping-balik: Upacara adat Molonthalo1 « Batavusqu

  61. Ping-balik: Upacara adat Molonthalo2 « Batavusqu

  62. Ping-balik: Upacara adat Mappassili « Batavusqu

  63. Ping-balik: Upacara adat Mandi Tian Mandaring « Batavusqu

  64. Ping-balik: Upacara adat 7 bulanan di Aceh « Batavusqu

  65. Ping-balik: Upacara Adat Tingkeban « Batavusqu

  66. Ping-balik: Upacara adat Mitoni « Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s