Golok bukan Go! Blog

Minggu, 17 Januari 2010

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca yang bahagia…

Postingan ini merupakan awal dari informasi uraian senjata tradisional khas masyarakat beribu pulau, ya masyarakat Indonesia yang memiliki budaya adat yang berbeda, bahasa yang berbeda, busana yang berbeda dan senjata tradisional yang berbeda, tapi satu dalam kesatuan Tanah Air, Bangsa dan Bahasa Indonesia.

Sebuah tali asih yang saya dapatkan dari pakde Cholik berupa buku dengan judul Go! Blog dan resensinya sudah dibuat langsung oleh pakde Cholik di http://mbahcholik.info/2010/01/10/book-review-go-blog/ merupakan tali asih ke dua yang saya terima dari beliau saat beliau mengadakan lomba pantun ngakak maap ya pakde saya belum bisa ngeresensi buku.

Kembali ke tulisan, Golok bukan Go! Blog ya judul diatas tersaji sebagai urutan dari daftar informasi senjata gratis sebelumnya. Golok merupakan senjata Tradisional Masyarakat Betawi.

Sebenarnya senjata tradisional orang Betawi tidak hanya golok melainkan ada selendang, trisula, belati, dan toya, namun dari semua yang mereka miliki sepertinya golok adalah yang paling populer ini dapat dibuktikan dengan adanya cerita rakyat seperti si Pitung & si Jampang yang pada umumnya mereka menggunakan senjata golok sebagai bantuan untuk melawan musuh melawan kompeni (Belanda).

Di masa itu sampai tahun 60-an masih banyak masyarakat Betawi yang menggunakan golok sebagai penghias pinggang dan untuk menjaga diri dari serangan penjahat khususnya bagi kaum laki-laki. Baik di dalam maupun keluar rumah masyarakat Betawi menggunakan golok, tetapi di tahun 70-an sudah berkurang sedikit demi sedikit orang-orang sudah tidak lagi menggunakan golok karena polisi melarang demi keamanan lingkungan. Larangan tentang tidak diperbolehkannya seseorang membawa senjata tajam dan kesadaran orang Betawi itu sendiri tentang zaman sudah berubah adalah beberapa faktor yang menyebabkan orang Betawi melepaskan goloknya. Ini berarti bahwa golok yang semula mereka bawa kemana saja pergi, kini mereka simpan atau fungsinya bukan hanya golok semata, tetapi juga benda atau alat lainnya yang dikatagorikan sebagai senjata.

Golok sangat populer bagi masyarakat Betawi. Setiap keluarga Betawi memilikinya, mereka membedakan dalam dua hal ada golok kerja dan ada golok simpenan. Golok kerja sering disebut dengan Gablongan atau bendo yang digunakan sehari-hari di dapur kalau golok simpenan atau sorenam digunakan sewaktu-waktu gunanya untuk memotong hewan seperti ayam, kambing, sapi dan sorengan pinggang yang selalu terselip di pinggang gunanya untuk berjaga-jaga.

Dalam proses pembuatannya Ada dua belas perkakas yang diperlukan dalam pembuatan golok seperti:

  1. Tatakan atau paron sebagai alas tempaan,
  2. Cetok bentuknya menyerupai kunci inggeris,
  3. Pungsung,
  4. Sapit atau capit bentuknya menyerupai tang,
  5. Pahat terbuat dari baja,
  6. Palu bentuknya seperti hurup T,
  7. Kikir terbuat dari baja,
  8. Pengkorek api gunanya untuk mengorek-ngorek bara api,
  9. Bak air terbuat dari derum bekas,
  10. Sapu lidi terbuat dari daun kelapa,
  11. Arang fungsinya sebagai bahan bakar,
  12. Batu asah fungsinya menghaluskan dan membuat golok menjadi tajam.

Pada dasarnya proses pembuatan golok sama seperti pembuatan besi atau baja, dipanaskan kemudian dibentuk sesuai selera yang diinginkan. Menurut masyarakat Betawi golok yang baik bukan buatan dari daerahnya sendiri melainkan buatan dari daerah lain seperti Ciomas, Cibatu, dan Pangodokan, golok buatan dari Ciomas terkenal tajam dan diminati oleh para Jawara.

Panjang pendeknya golok tidak ada kaitannya dengan baik buruknya golok hanya tergantung dengan selera seseorang, golok yang menurut Jawara jelek adalah jika sampai dipertengahan tangan mata golok menghadap ke pengukurnya, karena menurutnya kalau dijadikan sebagai pegangan bukan hal yang mustahil kalau golok itu akan mencelakakan dirinya sebab bagian yang tajam waktu diukur mengadap ke dirinya. Sebaliknya jika golok yang diukur tadi mata goloknya menghadap ke luar (berlawanan arah dengan yang mengukur) maka golok tersebut bisa dianggap bagus.

Menurut masyarakat Betawi golok sangat erat kaitannya dengan laki-laki ada ungkapan yang menyatakan “Bukan laki-laki, jika tidak ada golok,” “laki-laki yang tidak memiliki golok ibarat banci.” Golok yang dimiliki para Jawara pada dasarnya yaitu terbuat dari baja misalnya saja “si Betok.” Nama ini disesuaikan dengan bentuk golok yang menyerupai ikan Betok (panjang ±20 cm dan lebarnya ± 8 cm) ada juga dengan sebutan “si Oles,” artinya jika golok tersebut keluar dari sarungnya pantang masuk lagi sebelum diolesi dengan darah, ada juga “si Lok-lok yang artinya sama dengan si Oles. Senjata orang Betawi bukan hanya golok melainkan sarung memang kita mengenal hanya golok tetapi setelah kita mengetahui kegunaan dari kain sarung sebagai alat senjata dan cara menggunakannya sebagai senjata adalah dengan cara menangkis dan mementalkan golok, juga dapat digunakan untuk menjerat leher lawan setelah menghindari diri dari sabetan golok lawan.

Menyadari akan pentingnya untuk menyelamatkan serta melestarikan senjata tradisional orang Betawi maka hal seperti itu jika tidak ada yang berusaha untuk mengidentifikasikannya, pada gilirannya akan membawa akibat generasi penerus tidak mengenal lagi secara lengkap tentang senjata tradisional nenek moyang mereka. Hal ini dipandang sangat ironis, mengingat pemerintah sedang menggalakkan pelestarian kebudayaan dalam rangka memperkuat penghayatan dan pengamalan Pancasila, untuk terciptanya ketahanan nasional di bidang sosial budaya.

Senjata-senjata yang diciptakan manusia pada dasarnya merupakan benda seni yang tinggi nilainya dan merupakan warisan budaya Indonesia. Benda seni ini bermanfaat bagi manusia terutama untuk melindungi dirinya. Benda ini dibuat bukan untuk menakut-nakuti atau mencelakakan orang lain dan juga bukan sebagai benda pusaka yang harus dipamer-pamerkan kehebatan tuahnya melainkan hanya untuk menjaga dirinya bagi mereka yang memilikinya.

Benda sebagai hasil karya yang berujud keris maupun golok yang dianggap bertuah, kecuali lahiriah dapat digunakan sebagai senjata yang ampuh, juga merupakan ujud yang memberi lambang kebahagiaan dan sangat tinggi nilainya. Benda itu memiliki kekuatan memagari, menghalangi, memperingatkan dan mengendalikan diri secara halus dan tenang maupun hati-hati. Dalam arti benda itu dapat digunakan sebagai penangkal segala sesuatu yang tidak diinginkan oleh si pemilik. Seperti penangkal bahaya kebakaran, guna-guna dan angin ribut. (Nina Wonsela)(Direktorat Sejarah/Proyek Pemanfaatan Kebudayaan)

Kembali tersaji hanya untuk diketahui dan untuk dinikmati bukan untuk dipuji apalagi dihina


Sumber: http://www.hupelita.com/cetakartikel.php?id=1833

Salam Takzim Batavusqu

|warisan Telukabessy|1 Suro di Cirebon||1 Suro di Tuban|Kado|
Gunung Kemukus|Rambu Solo|Hari Ibu|Ritual Ngaben|Ritual Gimbal|Natal|Natal Tante Alexa|Zipoer7 VS Batavusqu|Tradisi Bayi Turun Tanah 1|Tradisi Bayi Turun Tanah 2|Tradisi Bayi Turun Tanah 3|Tradisi Bayi Turun Tanah 4||Tradisi Bayi Turun Tanah 5|Ada kutu di WordPress|Kutu Bikin Gatel|9 Hari Pertama|Pengantar Puasa Senin Kamis|Ritual Puasa Senin Kamis 1|Ritual Puasa Senin Kamis 2|Ritual Puasa Senin Kamis 3 (habis)|KutuBacaBuku Di Batavusqu|Informasi Senjata Gratisss|

Iklan

74 pemikiran pada “Golok bukan Go! Blog

  1. Larangan membawa senjata tajam,senjata api,bahan peledak tertuang pada Undang-Undang Darurat nomer 12/1958 mas.
    Aku gak pernah mbawa senjata kecuali jika dinas mengharuskannya.
    Senjataku yang satu ini dah ampuh kok.
    Salam hangat dari Surabaya

  2. Menurut saya artikel ini agak kurang manis karena :
    -Fonts terlalu besar.
    -Judul menggunakan warna biru
    -Huruf bukan warna hitam.

    Ini hanya pendapat pribadi yang belum tentu sama dengan pendapat orang lain maupun pemilik blog.
    Maju terus dengan artikel yang menarik
    Sudah dikirim ke social book mark ??

  3. sore kang Zipoer, … lho jadi ‘ndak ada hubungan nya dng blog toh … kalo gethoo ada jenis Golok lain yg gak disebut disni ‘n dimiliki para pria, … namun gak pernah diasah alias Tumpul, kalo mo diasah mesti bawa mas kawin dulu … 😀

  4. KangBoed

    😆 😆 😆 😆 😆

    RAIHLAH “JATI DIRI MANUSIA”.. untuk

    MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA INDONESIA

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaank

    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

  5. Ping-balik: Kujang; Ajimat Raja Pasundan « Batavusqu

  6. Tambah info kang : Golok Cibatu (Sukabumi) dianggap paling asyiik dipake, beratnya pas. Sampe sekarang dijual bebas di kios-kios sepanjang kota. Jadi trade mark.

    Karena golok bagian dari kebudayaan masa lalu, jadinya termasuk kategori barang bernilai sejarah. Hanya saja nasibnya gak sebagus Samurai Jepang ya.

  7. Ping-balik: Artikel Terunik Pertama Leysbook « Batavusqu

  8. Ping-balik: Artikel Terunik Pertama Di Leysbook « Batavusqu

  9. Ping-balik: Rencong Milik Aceh « Batavusqu

  10. Ping-balik: Kode Etik Nara Blog (Blogger) « Batavusqu

  11. Ping-balik: Celurit di mata Carok « Batavusqu

  12. Ping-balik: Hadiah Terunik Akhirnya Terbit « Batavusqu

  13. Ping-balik: Ceria bersama Si Bungsu « Batavusqu

  14. Ping-balik: Gerbang Baru Mulai Terbuka « Batavusqu

  15. Ping-balik: Kemeriahan Humberqu « Batavusqu

  16. Ping-balik: Berburu Dengan Sumpit « Batavusqu

  17. Ping-balik: Humberqu Jilid 1 « Batavusqu

  18. Ping-balik: 3 Hari yang tertinggal « Batavusqu

  19. Ping-balik: Jambore Bersama Bhirawa « Batavusqu

  20. Ping-balik: Risalah Untuk Rusma « Batavusqu

  21. Ping-balik: Reportase Kemeriahan Humberqu « Batavusqu

  22. Ping-balik: Humberqu Jilid 2 « Batavusqu

  23. Ping-balik: Ayoo gerakkan tubuh sambut pagi ceria « Batavusqu

  24. Ping-balik: Tradisi Aruh Baharin 1 « Batavusqu

  25. Ping-balik: Aruh Baharin 2 (habis) « Batavusqu

  26. Ping-balik: Permohonan Maap « Batavusqu

  27. Ping-balik: Nilai-nilai Budaya Makassar 1 « Batavusqu

  28. Ping-balik: Nilai-nilai budaya Makassar 2 « Batavusqu

  29. Ping-balik: Nilai-nilai Budaya Makassar 3 (end) « Batavusqu

  30. Ping-balik: Wisata Kuliner khas Makassar 1 « Batavusqu

  31. Ping-balik: Wisata Kuliner Khas Makassar 2 « Batavusqu

  32. Idrus

    Salam dari saya anak cibatu sukabumi, kalau butuh golok cibatu asli bisa pesan melalui saya, bisa melalui email atau datang lngsung kerumah saya dgn alamat ” jln siliwangi 3 no 313 rt 03/01 cibatu cisaat sukabumi”

  33. Ping-balik: Wisata Kuliner Khas Makassar 3 (end) « Batavusqu

  34. Ping-balik: Peduli Sahabat « Batavusqu

  35. Ping-balik: Tali Asih dari Pakde Cholik « Batavusqu

  36. Ping-balik: Penghuni Cempaka Mas Teler « Batavusqu

  37. Ping-balik: Kupersembahkan untuk yang paling Sedjatee « Batavusqu

  38. Ping-balik: Mengenang 64 Tahun Bandung Lautan Api « Batavusqu

  39. Ping-balik: Jail ko tega sih « Batavusqu

  40. Ping-balik: Mari Matikan Lampu Selama 60 Menit « Batavusqu

  41. Ping-balik: Jakarta Kota Air (Bagian 2) habis « Batavusqu

  42. Ping-balik: 3 Fasilitas Yang Mengganggu « Batavusqu

  43. Ping-balik: Juri dapat cindra mata « Batavusqu

  44. Ping-balik: Badik Senjata Tradisional Masyarakat Sulsel « Batavusqu

  45. Ping-balik: Mandau Pusaka Suku Dayak « Batavusqu

  46. Ping-balik: Parang Salawaku Milik Beta « Batavusqu

  47. Ping-balik: Keris Senjata Adat Jawa « Batavusqu

  48. Ping-balik: Bedog dan baliung senjata baduy « Batavusqu

  49. Ping-balik: Senjata adat Papua « Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s