Nilai-nilai Budaya Makassar 1

Rabu, 24 Pebruari 2009

Salam Takzim

Sahabat dan Pembaca Batavusqu yang berbudaya

Sebagai oleh oleh dari tugas 2 minggu di Makassar, perkenankan batavusqu mengulas nilai-nilai budaya yang sempat dikorek dari berbagai sumber penduduk di sekitar batavusqu bertugas. Dan disela-sela kesibukan sesempat badan mengunjungi beberapa tempat yang menurut beberapa sumber juga adalah tempat yang paling banyak dikunjungi oleh para pecinta budaya dari pelosok tanah air.

Diawali dari tempat bermalamnya batavusqu di seputaran jl. Hertasning terdapat monumen bersejarah yang bernama Monumen Maha Putra Emmy Saelan. ya monumen ini berdiri kokoh di Kota Makassar sejak 1985 silam yang diresmikan oleh Menko Polkam Surono waktu itu.

Monumen ini dibangun tepat di atas lokasi gugurnya Emmy Saelan. Menurut ceritanya, ketika itu beliau bersama para pejuang lainnya, di antaranya adalah Wolter Robert Mongisidi, tengah melakukan long-march menuju Polongbangkeng, di daerah Gowa-Takalar. Setibanya di tempat itu mereka dihadang pasukan Belanda. Terjadi pertempuran sengit yang akhirnya menewaskan Emmy Saelan. Sedangkan WR Mongisidi kemudian tertangkap dan dipenjarakan di markas NICA yang sekarang menjadi Asrama Lompobattang, milik Kodam VII/Wirabuana di Jalan Rajawali.

Ada tulisan pada monumen ini dan menjadikan bukti bahwa disinilah tertanam Emmy Saelan, inilah tulisannya

“DI TEMPAT INILAH GUGUR MAHAPUTERA EMMY SAELAN
DALAM SUATU PERTEMPURAN DENGAN TENTARA NICA – BELANDA
PADA TANGGAL 21 JANUARI 1947 TERUSKAN PERJUANGAN KAMI”

Tampak pada gambar Lambang Garuda yang tinggal tempatnya saja

Monumen ini kalau di telusuri di jalan tidak akan terlihat karena lokasinya agak menjorok kedalam, sehingga sewaktu batavusqu mengunjunginya nyaris tak terlihat, ya monumen yang berlokasi diantara rumah penduduk dan berada dilapangan bagian dalam, konon katanya dahulu ramai dikunjungi tetapi sekarang agak sepi dan rumput rumput sudah banyak meninggi.

Secara umum, tampak sekali kalau bangunan monumen ini tidak terawat. Lambang Garuda Pancasila yang terbang entah kemana, keramik putih yang mulai lusuh dan lapangan yang berdebu mungkin hanya sebagian bukti. Padahal, pelataran monumen ini sering digunakan untuk kegiatan warga dan dipersewakan untuk umum.

Mungkin perlu menyadarkan warga sekitar untuk ikut menjaganya. Karena monumen ini termasuk salah satu aset pariwisata Makassar. Bukan berarti hanya Dinas Pariwisata yang harus turun tangan.

Hilangnya lambang Garuda Pancasila yang semestinya terpampang gagah di atas prasasti monumen itu, cukuplah mengingatkan warga Makassar, bahwa penghargaan terbaik bagi para pejuang dan pahlawan adalah bukan dengan memuja-muja monumen. Tapi tentunya juga bukan dengan cara melucuti ornamen-ornamen di monumen itu. Kita hormati para pejuang dengan meneruskan semangat perjuangan mereka.(p!)

(bersambung)
—————————————————————————————————————————————-

Salam Takzim Batavusqu

|warisan Telukabessy|1 Suro di Cirebon||1 Suro di Tuban|Kado|Gunung Kemukus|Rambu Solo|Hari Ibu|Ritual Ngaben|Ritual Gimbal|Natal|Natal Tante Alexa|Zipoer7 VS Batavusqu|Tradisi Bayi Turun Tanah 1|Tradisi Bayi Turun Tanah 2|Tradisi Bayi Turun Tanah 3|Tradisi Bayi Turun Tanah 4||Tradisi Bayi Turun Tanah 5|Ada kutu di WordPress|Kutu Bikin Gatel|9 Hari Pertama|Pengantar Puasa Senin Kamis|Ritual Puasa Senin Kamis 1|Ritual Puasa Senin Kamis 2|Ritual Puasa Senin Kamis 3 (habis)|KutuBacaBuku Di Batavusqu|Informasi Senjata Gratisss|Golok bukan Go! Blog|Kujang; Ajimat Raja Pasundan|Artikel Terunik Pertama Di Leysbook|Rencong Milik Aceh|Kode Etik Blogger|Celurit di mata Carok|Hadiah Terunik akhirnya Terbit|Ceria bersama si bungsu|Gerbang Baru Mulai Terbuka|Kemeriahan Humberqu|Berburu dengan Sumpit|Humberqu jilid 1|3 hari yang tertinggal|Jambore bersama Bhirawa|Risalah Untuk Rusma|Humberqu Jilid 2|Ayoo olah raga|Aruh Baharin 1|Aruh Baharin 2|

Iklan

30 pemikiran pada “Nilai-nilai Budaya Makassar 1

    1. Emmy Saelan, adalah pejuang putri Sulawesi, gugur pada bulan Januari 1947 dalam perjuangan di Kassi-kassi dekat kota Makassar. Sejak muda Emmy Saelan memang tak mau bekerja sama Belanda. Ia ikut juga dalam pemogokan “Stella Marris” sebagai protes terhadap penangkapan Dr. Sam Ratulangi.

      Pernah ia menggunakan kesempatannya sebagai perawat melepaskan pejuang-pejuang (tawanan Belanda) yang datang untuk dirawat luka-lukanya.

      Pada bulan Juli 1946 ia menggabungkan diri dengan pasukan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (Lapris) dibawah pimpinan Ranggong Daeng Romo yang meneruskan perjuangan gerilya dihutan-hutan.

      Pada waktu satuan-satuan Belanda menyerang Kassi-kassi, Emmy Saelan meletuskan granat ketengah-tengah Belanda yang akan menangkapkan. Delapan tentara Belanda tewas, dan 1 pejuang Indonesia: Emmy Saelan sendiri.

      Ditempat itulah berdiri sebuah monumen yang sekarang butuh perhatian pemerintah setempat untuk mengelolanya.

      1. Terima kasih bang atas informasi tambahannya mengenai pejuang Emmy Saelan saya jadi bertambah wawasan tentangnya. Dan terima kasih juga atas segalanya selama ini bang.

  1. Kepedulian mengenai sejarah kelihatannya mulai luntur, karena kesibukan mencari nafkah yang semakin sulit membuat kita lupa kemerdekaan kita ini ada yang memperjuangkan dan dialah pahlawan kita, monumen yang ada mari kita gotong royong untuk merawatnya!

  2. Wah asyik nih yg habis dari Makasar …. di sana juga banyak wisata2 bersejarah …. dan sepakat bahwa penghargaan terbaik bagi para pejuang dan pahlawan adalah bukan dengan memuja-muja monumen. Tapi tentunya juga bukan dengan cara melucuti ornamen-ornamen di monumen itu. Kita hormati para pejuang dengan meneruskan semangat perjuangan mereka, monumen hanyalah simbol … yg akan mengingatkan kepada kita akan nilai2 perjuangan para pendahulunya yg telah berjuang tanpa lelah dan penuh dengan keikhlasan.

    1. Betul kang, dengan mencari ornamen dan sisa peninggalan berarti kita ikut mencerahkan kepada generasi setelah kita bahwa inilah pahlawan yang memerdekakan negeri ini dari NICA dan penjajah lainnya

  3. Ping-balik: Nilai-nilai budaya Makassar 2 « Batavusqu

  4. Ping-balik: Nilai-nilai Budaya Makassar 3 (end) « Batavusqu

  5. Ping-balik: Wisata Kuliner khas Makassar 1 « Batavusqu

  6. Ping-balik: Wisata Kuliner Khas Makassar 2 « Batavusqu

  7. Ping-balik: Wisata Kuliner Khas Makassar 3 (end) « Batavusqu

  8. Ping-balik: Peduli Sahabat « Batavusqu

  9. Ping-balik: Tali Asih dari Pakde Cholik « Batavusqu

  10. Ping-balik: Penghuni Cempaka Mas Teler « Batavusqu

  11. Ping-balik: Kupersembahkan untuk yang paling Sedjatee « Batavusqu

  12. Ping-balik: Mengenang 64 Tahun Bandung Lautan Api « Batavusqu

  13. Ping-balik: Jail ko tega sih « Batavusqu

  14. Ping-balik: Mari Matikan Lampu Selama 60 Menit « Batavusqu

  15. Ping-balik: Jakarta Kota Air (Bagian 2) habis « Batavusqu

  16. Ping-balik: 3 Fasilitas Yang Mengganggu « Batavusqu

  17. Ping-balik: Juri dapat cindra mata « Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s