Sebuah tradisi di kota kelahiran RA Kartini

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca batavusqu yang budiman

Kota Jepara yang hingga kini tetap diingat sebagai pijakan keseharian Radeng Ajeng Kartini, menyisakan kenangan yang dalam bagi pertiwi, karena di kota inilah seorang pejuang wanita yang selalu bercita cita menyetarakan gender bagi bangsa Indonesia.

Dalam sebuah penelusuran ada budaya unik dikota jepara yang saya coba untuk ketengahkan kepada sahabat dan pembaca batavusqu dimana saja berada, dan semoga berkenan.

Salah satu upacara tradisional yang dimiliki oleh masyarakat Kabupaten Jepara, khususnya desa tegalsambi kecamatan adalah upacara Obor-oboran, upacara ini selalu rutin dilaksanakan sebagai ritual tahunan.

Obor pada upacara tradisional ini adalah gulungan atau bendelan 2 (dua) atau 3 (tiga) pelepah kelapa yang sudah kering dan bagian dalamnya diisi dengan daun pisang kering (jawa : Klaras ).

Obor yang telah tersedia dinyalakan bersama untuk dimainkan/digunakan sebagai alat untuk saling menyerang ehingga sering terjadi benturan–benturan obor yang dapat mengakibatkan pijaran–pijaran api yang besar, yang akhirnya masyarakat menyebutnya dengan istilah “ Perang Obor “.

LATAR BELAKANG SEJARAH PERANG OBOR
Upacara Perang Obor yang diadakan setiap tahun sekali, yang jatuh pada hari Senin Phing malam Selasa Pon di bulan Besar (Dzullijah) diadakan atas dasar kepercayaan masyarakat desa tegal sambi terhadap peristiwa atau kejadian pada masa lampau yang terjadi di desa tersebut.

Konon ceritanya pada abad XVI Masehi, di desa tegalsambi ada seorang petani yang sangat kaya raya dengan sebutan “Mbah Kyai Babadan” Beliau mempunyai banyak binatang piaraan terutama kerbau dan sapi. Untuk mengembalakannya sendiri jelas tak mungkin, sehingga beliau mencari dan mendapatkan pengembala dengan sebuatan KI Gemblong. Ki Gemblong ini sangat tekun dalam memelihara binatang–binatang tersebut, setiap pagi dan sore Ki Gemblong selalu memandikannya di sungai, sehingga binatang peliharaannya tersebut tampak gemuk–gemuk dan sehat. Tentu saja kyai Babadan merasa senang dan memuji Ki Gemblong, atas ketekunan dan kepatuhannya dalam memelihara binatang tersebut.

Konon suatu ketika, Ki Gemblong menggembala di tepi sungai kembangan sambil asyik menyaksikan banyak ikan dan udang yang ada di sungai tersebut, dan tanpa menyia-nyiakan waktu ia langsung menangkap ikan dan udang tersebut yang hasil tangkapannya lalu di baker dan dimakan dikandang.

Setelah kejadian ini hampir setiap hari Ki Gemblong selalu menangkap ikan dan udang, sehingga ia lupa akan tugas / kewajibannya sebagai penggembala. Dan akhirnya kerbau dan sapinya menjadi kurus-kurus dan akhirnya jatuh sakit bahkan mulai ada yang mati. Keadaan ini menyebabkan Kyai Babadan menjadi bingung, tidak kurang-kurangnya dicarikan jampi – jampi demi kesembuhan binatang–binatang piaraannya tetap tidak sembuh juga.

Akhirnya Kyai Babadan mengetahui penyebab binatang piaraannya menjadi kurus–kurus dan akhirnya jatuh sakit, tidak lain dikarenakan Ki Gemblong tidak lagi mau mengurus binatang–binatang tersebut namun lebih asyik menangkap ikan dan udang untuk dibakar dan dimakannya.

Melihat hal semacam itu Kyai Banadan marah besar, disaat ditemui Ki Gemblong sedang asyik membakar ikan hasil tangkapannya. Kyai Babadan langsung menghajar Ki Gemblong dengan menggunakan obor dari pelepah kelapa. Melihat gelagat yang tidak menguntungkan Ki Gemblong tidak tinggal diam, dengan mengambil sebuah obor yang sama untuk menghadapi Kyai Babadan sehingga terjadilah “Perang Obor“ yang apinya berserakan kemana mana dan sempat membakar tumpukan jerami yang terdapat disebelah kandang. Kobaran api tersebut mengakibatkan sapi dan kerbau yang berada di kandang lari tunggang langgang dan tanpa diduga binatang yang tadinya sakit akhirnya menjadi sembuh bahkan binatang tersebut mampu berdiri dengan tegak sambil memakan rumput diladang.

Kejadian yang tidak diduga dan sangat dramatis tersebut akhirnya diterima oleh masyarakat desa Tegalsambi sebagai suatu hal yang penuh mukjizat, bahwa dengan adanya perang obor segala jenis penyakit sembuh. Pada saat sekarang upacara tradisional Perang Obor dipergunakan untuk sarana Sedekah Bumi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan Rahmat, Hidayah serta taufikNya kepada warga Desa Tegal Sambi, dan event ini diadakan setiap tahun sekali.

Demikian hasil penelusuran batavusqu dengan tetap berharap agar sajian ini dapat dinikmati sebagai wahana budaya bagi sahabat dan pembaca dimana saja berada.

———————————————————————————————————————————————

Salam Takzim Batavusqu

Iklan

46 pemikiran pada “Sebuah tradisi di kota kelahiran RA Kartini

  1. Legenda yang terpelihara dan berubah menjadi sebuah tradisi memang selayaknya kita pertahankan Kang Isro.
    Cuma sayang kadang tradisi seperti ini satu-satu hilang ditelan jaman.
    Semoga saja tradisi tetap terjaga seperti kita tetap menjaga hari kartini.
    Salam.

    1. Sama ya bahasanya untuk daun pisang kering, Jakarta juga menyebutnya daun klaras, hehehe masih masak pakai tungku kang, hati-hati jangan ditinggal nanti gosong masakannya

  2. Assalaamu ‘alaikum
    Berkunjung kepada para senior untuk mendapatkan nasihat dan petunjuk, untuk hari esok yang lebih baik dan harapan bersama madrasah “maju” pendidikan Indonesia.
    Wassalaam

  3. Agus Tjakra Diredja

    Klaras : jadi teringat dendan cerita Cindelaras-nya
    kukuruyuk… jagone Cindelaras… omahe tengah alas… Payone godhong Klaras… !

  4. Agus Tjakra Diredja

    Klaras : jadi ingat si Cindelaras
    Kukuruyuk…. jagone cindelaras, omahe tengah alas, payone godhong klaras……

  5. Ping-balik: Award di Hari Kartini « Batavusqu

  6. bunda jadi tau dgn lengkap ttg perang obor ,Mas Isro.
    terima kasih krn telah berbagi.
    kayaknya kalau bisa lihat langsung, bagus banget ya ritual ini.
    salam hangat utk keluarga
    semoga selalu sehat.
    salam

  7. Hallo Zipoer apa khabar ? hal unik yang menjadi khas suatu daerah perlu dibudayakan krn dapat mengangkat suatu Daerah dan menjadi trade mark yang perlu diandalkan, perang obor merupakan hal yang unik krn itu perlu dilestarikan, trims ya ?

  8. Ping-balik: Kenangan dari sebuah karya « Batavusqu

  9. Ping-balik: Week end di HI 1 « Batavusqu

  10. Ping-balik: Week end di HI 2 (habis) « Batavusqu

  11. Ping-balik: Tradisi lain Masyarakat Tengger « Batavusqu

  12. Ping-balik: Carnaval Adat Budaya Tulehu « Batavusqu

  13. Ping-balik: Mengenang 22 Tahun Gunung Galunggung « Batavusqu

  14. Ping-balik: Blog Susindra Berbagi « Batavusqu

  15. Ping-balik: Upacara Adat Pasola Sumba2 « Batavusqu

  16. Ping-balik: Upacara Adat Bau Nyale1 « Batavusqu

  17. Ping-balik: Upacara Adat Bau Nyale2 « Batavusqu

  18. Ping-balik: Upacara adat tiwah « Batavusqu

  19. Ping-balik: Upacara adat Molonthalo1 « Batavusqu

  20. Ping-balik: Upacara adat Molonthalo2 « Batavusqu

  21. Ping-balik: Upacara adat Mappassili « Batavusqu

  22. Ping-balik: Upacara adat Mandi Tian Mandaring « Batavusqu

  23. Ping-balik: Upacara adat 7 bulanan di Aceh « Batavusqu

  24. Ping-balik: Upacara Adat Tingkeban « Batavusqu

  25. Ping-balik: Upacara adat Mitoni « Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s