Upacara Adat Pasola Sumba2

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbudaya

Salah satu keinginan para turis manca negara hadir ke Indonesia adalah ingin menyaksikan secara langsung peristiwa bersejarah upacara adat yang digelar oleh masyarakat adat seperti halnya upacara adat pasola sumba tahun ini 31 mei lalu. Banyak para turis hadir hanya untuk menyaksikan langsung acara pasola, ketangkasan pemuda Sumba dalam berkuda dan melempar lembing menjadi oleh oleh tersendiri bagi mereka..

Kelanjutan dari postingan sebelumnya bahwa asal usul dari Pasola ini berasal dari skandal janda yang cantik yang terjerat dalam asmara dan saling berjanji dengan Rda Gaiparona menjadi kekasih, Namun adat tidak menghendaki perkawinan mereka. Karena itu sepasang anak manusia yang tak mampu memendam rindu asmara ini nekat melakukan kawin lari. Janda cantik jelita Rabu Kaba diboyong sang gatot kaca Teda Gaiparona ke kampung halamannya. Sementara ketiga pemimpin warga Waiwuang kembali ke kampung. Warga Waiwuang menyambutnya dengan penuh sukacita.

Tetapi mendung duka tak dapat dibendung tatkala Umbu Dulla menanyakan perihal istrinya. ‘Yang mulia Sri Ratu telah dilarikan Teda Gaiparona ke Kampung Kodi,’ jawab warga Waiwulang pilu. Lalu seluruh warga Waiwulang dikerahkan untuk mencari dua sejoli yang mabuk kepayang itu. Keduanya ditemukan di kaki gunung Bodu Hula.

Walaupun berhasil ditemukan warga Waiwuang di kaki gunung Bodu Hula namun Rabu Kaba yang telah meneguk madu asmara Teda Gaiparona dan tidak ingin kembali. Ia meminta pertanggungjawaban Teda Gaiparona untuk mengganti belis yang diterima dari keluarga Umbu Dulla. Teda Gaiparona lalu menyanggupinya dan membayar belis pengganti. Setelah seluruh belis dilunasi diadakanlah upacara perkawinan pasangan Rabu Kaba dengan Teda Gaiparona.

Pada akhir pesta pernikahan keluarga, Teda Gaiparona berpesan kepada warga Waiwuang agar mengadakan pesta nyale dalam wujud pasola untuk melupakan kesedihan mereka karena kehilangan janda cantik Rabu Kaba. Atas dasar hikayat ini, setiap tahun warga kampung Waiwuang, Kodi dan Wanokaka Sumba Barat mengadakan bulan (wula) nyale dan pesta pasola.

Akar pasola yang tertanam jauh dalam budaya masyarakat Sumba Barat menjadikan pasola tidak sekadar keramaian insani dan menjadi terminal pengasong keseharian penduduk. Tetapi menjadi satu bentuk pengabdian dan aklamasi ketaatan kepada sang leluhur. Pasola adalah perintah para leluhur untuk dijadikan penduduk pemeluk Marapu. Karena itu pasola pada tempat yang pertama adalah kultus religius yang mengungkapkan inti religiositas agama Marapu.

Dari komentar sahabat apakah upacara adat pasola ini akan menjadikan sebuah tawuran massal, tentu tidak bahkan setelah upacara ini tidak ada rasa dendam sama sekali, jikalau ada yang terluka para pemuda menyadari itu merupakan balasan dari kesalahan oleh tuhannya.

Sedangkan sebulan sebelum hari H pelaksanaan pasola sudah dimaklumkan bulan pentahiran bagi setiap warga Paraingu dan pada saat pelaksanaan pasola, darah yang tercucur sangat berkhasiat untuk kesuburan tanah dan kesuksesan panenan. Bila terjadi kematian yang disebabkan oleh permainan pasola, dipandang sebagai bukti pelanggaran atas norma adat yang berlaku, termasuk bulan pentahiran menjelang pasola.

Pada tempat kedua, pasola merupakan satu bentuk penyelesaian krisis suku melalui `bellum pacificum’ perang damai dalam permainan pasola. Peristiwa minggatnya janda Rabu Kaba dari Keluarga Waiwuang ke keluarga Kodi dan beralih status dari istri Umbu Dulla menjadi istri Teda Gaiparona bukanlah peristiwa nikmat. Tetapi peristiwa yang sangat menyakitkan dan tamparan telak di muka keluarga Waiwuang dan terutama Umbu Dulla yang punya istri. Keluarga Waiwuang sudah pasti berang besar dan siap melumat habis keluarga Kodi terutama Teda Gaiparona.

Keluarga Kodi sudah menyadari bencana itu. Lalu mencari jalan penyelesaian dengan menjadikan seremoni nyale yang langsung berpautan dengan inti penyembahan kepada arwah leluhur untuk memohon doa restu bagi kesuburan dan sukses panen, sebagai keramaian bersama untuk melupakan kesedihan karena ditinggalkan Rabu Kaba. Pada tempat ketiga, pasola menjadi perekat jalinan persaudaraan antara dua kelompok yang turut dalam pasola dan bagi masyarakat umum. Permainan jenis apa pun termasuk pasola selalu menjadi sarana sosial ampuh. Apalagi bagu kedua kabisu yang terlibat secara langsung dalam pasola.

Selama pasola berlangsung semua peserta, kelompok pendukung dan penonton diajak untuk tertawa bersama, bergembira bersama dan bersorak-sorai bersama sambil menyaksikan ketangkasan para pemain dan ringkik pekikan gadis-gadis pendukung kubu masing-masing. Karena itu pasola menjadi terminal pengasong keseharian penduduk dan tempat menjalin persahabatan dan persaudaraan. Sebagai sebuah pentas budaya sudah pasti pasola mempunyai pesona daya tarik yang sangat memukau.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Semua sumber info Pasola diambil dari sini sedangkan gambar diambil dari google, semoga sahabat dan pembaca batavusqu berkenan

Seperti biasa tersaji bukan untuk dipuji apalagi dicaci namun semata hanya untuk diketahui

Baca juga upacara adat yang telah dipublish

——————————————————————————————————————————————————

Salam Takzim Batavusqu

|Upacara Adat Pasola2|Upacara Adat Pasola Sumba1|Warung Blogger|

44 thoughts on “Upacara Adat Pasola Sumba2

  1. suatu bukti bahwa negeri ini masih banyak kesatri muda yang menjunjung nilai budaya, saling tepo sliro dan jauh dari sikap arogansi yang amoral

    salam hangat slalu :)

  2. Asal usul kata Pasola-nya bikin saya tergelitik. Janda saja bisa bikin tawuran. Hehehe.

    >>>Nitip pesan buat semua:
    Saya ada tantangan buat para blogger Indonesia, ki. Yang siap bisa langsung ceck TKP di blog saya.

  3. wow, jadi nambah pengetahuan saya akan budaya nih pak… :D

    oh iya, awardnya udah aku terima, makasih ya pak… ;)

  4. waah…bang isro asli putra daerah sumba ya? Kisah cintanya menarik ya bang? Hehe….
    Maafkan aku, kawan. Aku benci upacara adat manapun.bukan karena aku berhianat. Tapi mungkin karena trauma masa kecil. Setiap menyaksikan adegan2 di upacara2 adat aku menjadi sangat ketakutan. Bahkan adegan jaran kepang yang asli daerahku saja, aku pasti sudah lari terbirit2 bahkan sebelum acaranya dimulai. Hihi….jadi aku cukup baca ceritanya bang isro saja ya, serta berharap semoga budaya adat indonesia lestari, sentosa spanjang masa…

  5. Senang membacanya Mas. Semoga masih banyak anak negeri ini yang masih mau melestarikan budayanya. Karena disetiap upacara adat terdapat pembelajaran untuk kehidupan dengan budipekerti luhur atau akhlaq yang baik. Namun sekarang ini jarang sekali anak bangsa yang mau peduli untuk menggali dalam pembelajaran yang terserirat dalam setaip unsur budaya kita.

    Sukses selalu

    Salam

    Ejawantah’s Blog

  6. rame kayaknya…
    bagus critanya, ttg asmara..hehehe..
    ====
    pak isro, maaf belum bisa pasang awardnya. insya Allah saya sempatkan posting..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s