Tradisi khitanan bagi Masyarakat Bajo

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbudi

Khitanan yang dilakukan oleh masyarakat Bajo di pulau Saponda ini tidak berbeda dengan khitanan yang dilakukan oleh Suku Bajo lainnya yang ada di Kecamatan Soropia. Tradisi dan budaya yang terdapat dalam proses khitanan pun tidak ada yang berbeda. Kecuali satu hal yang membuat tradisi khitanan masyarakat Saponda ini kelihatan unik.

Jika anak laki-laki Bajo lainnya yang ada di Kecamatan Soropia dikhitan menggunakan jasa bidan atau perawat, anak-anak Pulau Saponda justru harus merasakan sakitnya khitanan tanpa tenaga ataupun peralatan medis. Bukan karena pulau ini terisolasi sehingga tidak ada pelayanan kesehatan. Tapi semata-semata karena budaya dan tradisi yang terus dilestarikan oleh masyarakat Bajo di pulau yang sudah mulai mengalami abrasi ini.

Peralatan yang digunakan dalam sunna’ sama ini jelas sangat berbeda dengan peralatan yang digunakan oleh para bidan atau perawat. Disini kita tidak akan menemukan peralatan-peralatan kesehatan, plester, apalagi obat untuk mengurangi rasa sakit. Yang ada hanya pahat yang berfungsi untuk menggantikan gunting, dua buah hansaplast sebagai pengganti plester, palu-palu yang terbuat dari kayu, dan balok berukuran……..cm yang digunakan sebagai alas ketika proses khitanan berlangsung. Kelihatannya peralatan yang digunakan memang sangat sederhana, tapi tentu saja sedikit menakutkan bagi anak-anak yang akan dikhitan.

Sebelum proses khitanan berlangsung, seorang pemuka adat yang akan melakukan khitanan terlebih dulu berdoa agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Semua peralatan yang akan digunakan dikumpul dan diletakkan menjadi satu dihadapan pemuka adat untuk dibacakan doa.

Memukul gendang ketika proses khitanan berlangsung merupakan ritual yang wajib untuk dilaksanakan. Dan pukulan gendang ini tidak boleh berhenti sebelum anak-anak tersebut selesai dikhitan. Hal ini dipercayai masyarakat setempat untuk mengurangi rasa sakit.

Selain itu, ada satu hal yang membuat sunna’ sama ini memiliki nilai lebih. Walaupun tidak ada obat untuk mengurangi rasa sakit, tetapi proses penyembuhan luka lebih cepat daripada yang menggunakan tenaga medis.

Dan kita patut bersyukur. Di tengah perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat seperti saat ini justru masih ada orang yang peduli dengan kebudayaan masyarakat Bajo. Kebudayaan yang harus tetap dilestarikan agar tidak hilang suatu saat, karena tradisi sunna’ sama ini juga merupakan salah satu bagian dari keanekaragaman budaya bangsa Indonesia.

sumber dari sini

Seperti biasa disaji bukan untuk dipiuji apalagi dicaci namun semata hanya untuk melengkapi

Baca juga tradisi khitan dari masyarakat :

  1. Betawi
  2. Sunda
  3. Tengger
  4. Demak

——————————————————————————————————————————————————

Salam Takzim Batavusqu

|Tradisi Khitan Masyarakat Bajo|Tradisi Khitanan masyarakat Demak|Tradisi Khitanan Masyarakat Tengger|Peringatan HUT kota Jakarta|Tradisi Khitan Masyarakat Sunda|Upacara khitan Betawi|Upacara adat mitoni|Upacara adat tingkeban|Award dari kang Indra|Model busana onthelis|Upacara adat peusijuek|Upacara adat mandi Bunting|Upacara adat Mandi Tian Mandaring|Upacara adat Mappassili|Upacara adat molonthalo2|Upacara adat molonthalo1| angka dan huruf merupakan perpaduan kode |Upacara adat tiwah|Profesi pemerhati lingkunan hidup|Upacara Adat Bau Nyale2|Upacara Adat Bau Nyale1|Upacara Adat Pasola2|Upacara Adat Pasola Sumba1|Warung Blogger|

Iklan

11 pemikiran pada “Tradisi khitanan bagi Masyarakat Bajo

  1. Kalaupun mengunakan alat tradisional semoga tidak menyakitkan bagi yang menjalaninya.
    Untuk itulah perlu dikembangkan pemahaman higienis agar tidak terjadi masuknya virus atau kuman

  2. Ternyata masih ada yang nyunat pake peralatan tradisional. Indonesia memang kaya akan budaya. Ini masih dari sudut pandang budaya menyunat, belum yang lainnya… ai elof Indonesia..

  3. waduh pake pahat ya ( nyengir)…kalau sy sudah lari dulu dah….

    kalau didaerah orangtua dahulu, pake pisau sembilu ( bambu)…..untuk cepat kering pake obat alami ….entah namanya…pernah tau…lupa.
    kemarin saja biar disuntik masih terasa sakitnya….wah ini masih tradisional….

  4. Ping-balik: Tradisi khitanan masyarakat Bugis « Batavusqu

  5. Ping-balik: Tradisi Khitanan masyarakat Aceh1 « Batavusqu

  6. Ping-balik: Tradisi khitanan masyarakat Aceh2 « Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s