Tradisi khitanan masyarakat Bugis

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca Batavusqu yang berbudi

Sunatan atau khitanan merupakan salah satu upacara yang senantiasa dilaksanakan sebagai pelengkap dalam daur hidup masyarakat Bugis Makassar. Kegiatan ini dilaksanakan pada saat anak laki-laki berusia sekitar 13 tahun dan pada anak perempuan berusia 5 – 7 tahun.  Bagi laki-laki, sunatan disebut dengan massunna sedangkan bagi perempuan disebut dengan Makkatte’. Sedangkan kegiatannya sendiri disebut dengan appasunna.  Acara sunatan ini sering juga disebut dengan mappaselleng (pengislaman). Pada anak perempuan disertai dengan upacara ripabbajui (mappasang baju bodo), sebanyak lima atau tujuh lembar. Upacara ripabbajui ini merupakan upacara pertama kalinya seorang anak mengenakan baju bodo. Bagi mayarakat bugis yang memegang adat, anak perempuan yang belum pernah ripabbajui tidak diperbolehkan menggunakan baju bodo.

Upacara Appasunna (Khitanan Adat) di pangkep dikenal dua versi. Perbedaannya hanya waktu dan urutan kegiatan sebab satu dilaksanakan pada siang hari dan satunya dilaksanakan pada malam hari, sehingga boleh dikata tidak ada perbedaan sama sekali. Versi pertama dengan urutan kegiatan Menre Baruga, Mammata-mata, Allekke Je’ne,  Appassili, Nipasintinggi Bulaeng dan Nipasalingi, Appamatta dan  Khitanan (Nisunna).

Pada versi ini acara “mammata-mata” ditempatkan pada urutan kedua karena sesudah acara menre baruga sekaligus dilangsungkan acara mammata-mata. Pada acara  acara menre baruga, anak yang akan di sunat bersama orang tua dan keluarganya telah duduk di lamming (pelaminan) dalam baruga, dan pada acara ini pula ditampilkan acara kesenian meski pelaksanaannya dilakukan pada siang hari. Sedangkan versi kedua acara “mammata-mata” ditempatkan pada urutan keenam dan dilaksanakan pada malam hari dengan dirangkaikan malam ramah

Adapun prosesi sunatan antara lain, anak laki-laki yang akan disunat berpakaian pagadu, tidak memakai baju, hanya sarung putih dan songkok putih berada di atas bembengan dengan di antar oleh kedua orang tuanya dan seorang pinati. Sebelum memasuki baruga terlebih dahulu anak yang akan di sunat beserta ke-dua orangtuanya, keluarga, kerabat serta rombongan menre baruga. Yaitu mengelilingi terlebih dahulu baruga sebanyak tiga kali, setelah itu baru bisa memasuki baruga melalui sapana(tangga) yang diatasnya terdapat hamparan taluttu(kain putih) pertanda penghormatan.

Kemudian si anak dijemput dengan hamburan benno, bente(bertih) menuju lamming, di bawah lellu yang sisi tiangnya dipegang oleh empat anak berpakaian pagadu. Si anak harus selalu memegang patteko (alat tenun) mulai dari rumah kediaman menuju ke baruga. Acara dapat dilanjutkan dengan “mangngaru” di iringi “tunrung pakanjara”. Selesai itu di akhiri dengan akkaddo, jamuan kue-kue tradisional.

Selama acara menre baruga berlangsung diiringi dengan gendang adat (gandrang) yang kemudian dilanjutkan dengan acara allekka Je’ne atau mallekke wae, yaitu upacara pengambilan air pada sebuah sumur tertentu (sumur bertuah) untuk dimandikan pada anak yang di sunat. Kegiatan selanjutnya adalah appassili atau mappassili, yaitu upacara pensucian diri lahir dan batin. Dimaksudkan agar segala korban dan hal-hal yang di anggap tidak baik dapat dihilangkan. Selesai di passili, si anak hanya mengenakan sarung.(SALMAWATI– Berbagai sumber).

Seperti biasa disaji bukan untuk dipiuji apalagi dicaci namun semata hanya untuk melengkapi

Baca juga tradisi khitan dari masyarakat :

  1. Betawi
  2. Sunda
  3. Tengger
  4. Demak
  5. Bajo

——————————————————————————————————————————————————

Salam Takzim Batavusqu

|Tradisi khitanan masyarakat bugis|Tradisi Khitan Masyarakat Bajo|Tradisi Khitanan masyarakat Demak|Tradisi Khitanan Masyarakat Tengger|Peringatan HUT kota Jakarta|Tradisi Khitan Masyarakat Sunda|Upacara khitan Betawi|Upacara adat mitoni|Upacara adat tingkeban|Award dari kang Indra|Model busana onthelis|Upacara adat peusijuek|Upacara adat mandi Bunting|Upacara adat Mandi Tian Mandaring|Upacara adat Mappassili|Upacara adat molonthalo2|Upacara adat molonthalo1| angka dan huruf merupakan perpaduan kode |Upacara adat tiwah|Profesi pemerhati lingkunan hidup|Upacara Adat Bau Nyale2|Upacara Adat Bau Nyale1|Upacara Adat Pasola2|Upacara Adat Pasola Sumba1|Warung Blogger|

Iklan

8 pemikiran pada “Tradisi khitanan masyarakat Bugis

  1. Semakin lengkap saja artikel tentang budaya sunatnya, salut Bang.

    Ohya Bang, mau nanya. Di kepulauan Madura ada sebuah pulau yang menggunakan bahasa bajo, di pulau kangean. Menurut teman saya yg asli sana, itu adalah bahasa daerah asal bugis. Ternyata bugis dan bajo itu wilayah tersendiri ya Bang?

  2. selalu menambah waasanku bila berkunjung kesini 🙂
    alhamdulillah, Mas Isro selalu mau berbagi ttg kekayaan budaya nusantara, yg kebanyakan dr kita tidak mengetahuinya 😦
    terimakasih ya Mas krn telah berbagi 🙂
    salam

  3. Ping-balik: Tradisi Khitanan masyarakat Aceh1 « Batavusqu

  4. Ping-balik: Tradisi khitanan masyarakat Aceh2 « Batavusqu

  5. Sepertinya orang-orang Bugis yang tinggal di kampung saya sudah tidak mengikuti tradisi seperti ini lagi, Pak. Massunna dan makkate-nya sih masih tetap ada, namun tanpa prosesi lengkap seperti diatas 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s