Tradisi Nisfu Sya’ban di Bangka Belitung

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca Batavusqu yang berbudaya
Alunan pujian menyambut Nisfu Sya’ban

ALUNAN tahlil, tahmid dan tasbih, Rabu (5/8), berkumandang dari pengeras suara masjid dan surau di seluruh penjuru desa dalam wilayah Kecamatan Mendobarat. Doa-doa pun khusu’ dipanjatkan agar perhelatan tradisi keagamaan yang digelar di malam itu mendapat berkah.

Rabu malam, umat Islam setempat menyelenggarakan peringatan Nisfu Sya’ban 1430 Hijriyah. Tradisi tahunan yang telah berlangsung turun temurun ini digelar usai menunaikan ibadah Salat Isya dan diwarnai pula dengan acara nganggung, Selawang Sedulang.

Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam kalenderisasi Islam (Hijriyah) dan merupakan salah satu bulan istimewa. Disebut istimewa, karena Sya’ban adalah ‘pintu masuk’ menuju ‘penghulu’ segala bulan yakni bulan Ramadhan (bulan kesembilan Hijriyah).

Sedangkan nisfu bermakna separuh bulan, yakni hari ke 15. Pada separuh hari bulan ini pula puncak acara digelar, mulai dari tahlilan hingga nganggung.

Di sebagian daerah di Bangka Belitung, Nisfu Sya’ban diperingati dengan berbagai bentuk dan nama. Di Kecamatan Mendobarat, perayaan Nisfu Sya’ban yang lebih populer disebut ruwah kubur ini, selain dirayakan dengan tahlilan dan nganggung di masjid atau surau, juga digelar kegiatan ziarah ke makam keluarga. Ziarah yang biasanya juga diselingi dengan kegiatan bersih-bersih areal pekuburan ini, dilakukan pada siang hari setelah dilaksanakan tahlilan dan nganggung yang digelar pada malam sebelumnya.

Di Kecamatan Tempilang, perayaan Nisfu Sya’ban sangat identik dengan pesta adat Perang Ketupat. Pesta adat yang tahun ini akan digelar nanti, biasanya berlangsung meriah dan melibatkan panitia khusus. Pesta Adat Perang Ketupat, kini, telah menjadi salah satu agenda wisata andalan Pemrov Bangka Belitung.

Lain pula halnya dengan prosesi adat yang dilaksanakan oleh komunitas masyarakat di pesisir Sungai Jada yakni masyarakat Dusun Limbung Desa Jada Barin Kecamatan Merawang. Tradisi merayakan 15 hari bulan Sya’ban lebih terkesan meriah dengan prosesi adat mandi belimau-nya (yang umum dipahami masyarakat Babel dengan sebutan belangir).

Secara filosofi, mandi belimau atau belangir adalah proses ‘pembersihan’ diri umat manusia dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan.

“Maksud pembersihan di sini meliputi pembersihan lahir dan batin. Artinya baik jasmani maupun rohani harus betul-betul bersih ketika kelak memasuki Ramadhan. Tradisi ini sudah dilakukan sejak era Depati Barin dulu,” ungkap sesepuh adat Babel, Suhaimi Sulaiman, kepada Bangka Pos Group, belum lama ini.
Selain Mendobarat, Tempilang, Limbung dan beberapa tempat lainnya di Pulau Bangka yakni Keretak, Perlang dan sebagainya, tradisi perayaan Nisfu Sya’ban juga berlangsung di Pulau Belitung.

Di beberapa kawasan di Pulau Belitung, rangkaian malam Nisfu Sya’ban diawali dengan persiapan yang terbilang unik, yaitu membawa air putih ke surau atau masjid terdekat, tempat berlangsungnya peringatan malam Nisfu Sya’ban. Menjelang Maghrib, umat muslim berbondong-bondong datang ke surau atau masjid sambil membawa sebotol air putih dan Kitab Yasin. Sedangkan bagi sejumlah warga yang tidak sempat datang atau berhalangan ke masjid atau surau, boleh menitipkan air putih untuk dibawa ke masjid atau surau melalui rekan-rekannya.
Puncak peringatan Nisfu Sya’ban di sejumlah wilayah di Pulau Belitung dilaksanakan usai menunaikan Salat Maghrib. Prosesi dipimpin oleh tokoh ulama setempat yang diawali dengan membaca Surat Al Fatihah, Surat Yassin (dibaca sebanyak tiga kali) dan beberapa ayat lainnya serta ditutup dengan doa.

Sementara air putih yang dibawa oleh warga diletakkan di depan shaf (barisan) makmum itu lalu diminum bersama-sama, namun sebagian makmum ada yang membawa pulang air putih ini untuk diminum bersama keluarganya di rumah. Maksudnya agar yang meminum air putih putih ini mendapat keselamatan, ditetapkan iman agar jauh dari syirik, murah rezeki, dipanjangkan umur sebagaimana isi doa yang dipanjatkan oleh tokoh ulama yang menjadi pemimpin peringatan Nisfu Sya’ban.

Malam Istimewa

Menurut Pimpinan Majelis Ta’lim Tasywikul Fata Desa Petaling Kecamatan Mendobarat, H Rasyif bin HM Toer, 15 hari pada malam bulan Sya’ban merupakan malam istimewa dan disunatkan untuk melakukan ibadah seperti membaca Yassin, berdoa dan sebagainya.

“Istilahnya, malam itu (15 hari bulan Sya’ban–red) adalah malam baro’ah atau ‘pelepasan’ dari azab neraka. Ulama-ulama dulu, pada malam itu, selalu memperbanyak doa dan ibadah lainnya agar terhindar dari azab,” ungkap H Rasyif, dihubungi harian ini, beberapa hari lalu.

Selain ritual keagamaan, dalam tradisi masyarakat Bangka Belitung juga sering memanfaatkan malam 15 hari tiap-tiap bulan dalam penanggalan Hijriah  sebagai malam yang ‘afdhol’ untuk mematangkan (memasak) ilmu-ilmu tertentu seperti silat dan ilmu kebatinan lainnya.

Namun menurut H Rasyif, hal tersebut (memanfaatkan 15 hari bulan sebagai waktu afdhol memasak ilmu–red) merupakan sesuatu yang diyakini oleh tradisi, bukan oleh agama (Islam). “Islam tidak pernah mengajarkan demikian. Harus dipahami betul mana yang diyakini oleh adat dan mana yang diyakini oleh agama. Islam hanya mengenal peringatan 15 hari bulan pada tiap-tiap Sya’ban dan diisi dengan ibadah. Bukan dalam rangka memasak ilmu-ilmu tertentu,” terangnya.  (ichsan mokoginta dasin)

Dicuplik dari harian umum BangkaPos.cetak halaman 24473.

Iklan

28 pemikiran pada “Tradisi Nisfu Sya’ban di Bangka Belitung

  1. Tak terasa sudah bulan Ruwah atau bulan arwah. Bentar lagi Nifsyu Sa’ban lalu puasa.
    Ada tradisi khas di Jepara untuk Nifsyu Sa’ban. termasuk beberapa yang unik. Bisa diposting, bang isro.

  2. Mbak Lidya:
    Iya ga kerasa tanggal 16 Juli ini sudah masuk malam Nisfu ya
    Mas Sofyan :
    Iya mas selamat menyonsongnya
    Mbak Susi :
    Kalau bisa dikirim via email mbak biar jadi penulis tamu

    Salam Takzim Batavusqu

  3. Bang Mabruri:
    Amin semoga ya bang

    Mbak Melly:
    Hayooo inget inget lagi dong

    one:
    lho kayak gitu yaaa, emang yang beragama islam sudah habis ya hehehe

    All
    Terima kasih ya sudah hadir berkunjung dan memberi warna

  4. Ping-balik: Wisata Kuliner Bebek Goreng H. Slamet « Batavusqu

  5. Ping-balik: Tradisi pada bulan Sya’ban di Muntilan « Batavusqu

  6. Ping-balik: Tradisi malam nisfu sya’ban di madura « Batavusqu

  7. Ping-balik: Tradisi perang ketupat di Bulan Sya’ban1 « Batavusqu

  8. Ping-balik: Tata Cara Sholat Sunnah Nisfu Sya’ban « Batavusqu

  9. Ping-balik: Tradisi perang ketupat di bulan Sya’ban2 « Batavusqu

  10. Ping-balik: Tradisi Nisfu Sya’ban di Jepara « Batavusqu

  11. Ping-balik: Puasa sunnah di bulan Sya’ban « Batavusqu

  12. Ping-balik: Gowes to Campus « Batavusqu

  13. Ping-balik: Tradisi malam Nisfu Sya’ban di tempat saya « Batavusqu

  14. Ping-balik: Tradisi Kaurie Beureuat di Bulan Sya’ban « Batavusqu

  15. Ping-balik: Tradisi Suro Baca di Sulsel « Batavusqu

  16. Ping-balik: Tradisi Sya’ban di Sumatera Barat1 « Batavusqu

  17. Ping-balik: Proses Sidang Tilang di PN Jaksel « Batavusqu

  18. Ping-balik: Tradisi Sya’ban oleh Masyarakat Jawa « Batavusqu

  19. Ping-balik: Tradisi Sya’ban di Sumatera Barat2 « Batavusqu

  20. Ping-balik: Tradisi pacu jalur di bulan sya’ban « Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s