Tradisi perang ketupat di bulan Sya’ban2

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbudi

Pada postingan perang ketupat di bulan Sya’ban1 tradisi perang ketupat diawali dengan Ritual Penimbongan dan Ritual Ngancak (baca jilid1), dimana kedua ritual ini untuk pemberian makanan kepada mahluk halus baik yang di darat maupun yang di laut. Hal ini diyakini agar mahluk halus tidak mengganggu kehidupan masyarakat yang ada di desa Tempilang, percaya atau tidak ini sebuah tradisi. Nah Bagaimana kelanjutan setelah 2 ritaul itu dilaksanakan mari kita simak bersama.

Ketika hari tradisi Perang Ketupat tiba, semua warga Tempilang berkumpul di Pantai Pasir Kuning sejak pagi hari. Saat pelaksanaan tradisi, tidak ada satupun warga yang umumnya nelayan dan petani itu pergi melaut ataupun bekerja di ladang. Secara khusus, mereka membuat hari tradisi itu sebagai hari libur untuk bekerja.

Rangkaian tradisi diawali dengan membaca doa bersama yang dipimpin oleh ketiga dukun desa. Melalui doa itu, mereka memohon kepada Sang Pencipta agar selama satu tahun kedepan, desa beserta seluruh warga terhindar dari bencana. Ketika itu, nuansa kesakralan dari tradisi Perang Ketupat begitu terasa. Ketika dukun laut dan dukun senior membaca mantera sambil membakar kemenyan, tiba-tiba sang dukun darat terlihat seperti tidak sadarkan diri.

Tak lama kemudian, melalui bantuan doa dari dukun laut dan dukun senior, dukun darat kembali sadar. Saat itulah, dukun darat mengucapkan beberapa larangan. Larangan itu diyakini berasal dari petuah roh leluhur desa yang masuk ke dalam tubuh sang dukun darat. Larangan yang harus dipatuhi oleh seluruh warga desa Tempilang itu yakni tidak diperbolehkan bersiul dan menjemur pakaian di pagar.

Warga desa juga diwajibkan untuk tidak menjalankan aktifitas di laut ataupun sungai, yakni tidak diperbolehkan untuk melaut dan memancing ataupun menangkap ikan di laut. Pantangan itu wajib dijalankan oleh seluruh warga desa tanpa terkecuali selama tiga hari setelah tradisi Perang ketupat dilaksanakan. Jika tidak, bencana besar diyakini akan melanda desa Tempilang.

Usai membaca doa bersama, ketiga dukun desa menata  ketupat yang telah disiapkan sebelumnya. Dukun desa meletakkan ketupat itu di atas tikar dengan posisi saling berhadapan. Setelah ketupat tertata rapi, dukun desa  mempersilahkan para warga untuk mulai membentuk dua kelompok dengan posisi berderet dan saling berhadapan. Setiap peserta tradisi memperoleh sebuah ketupat. Nantinya, ketupat itulah yang dijadikan senjata untuk menyerang warga desa lainnya. Sebelum perang ketupat biasanya disajikan juga tari pencak bagi para tamu.

Ketika semua peserta membawa sebuah ketupat dan ketiga dukun desa memberi tanda, barulah tradisi Perang Ketupat dilaksanakan. Di atas sebuah tikar yang terbuat dari anyaman rotan, para peserta tradisi saling menyerang dengan cara melemparkan ketupat yang mereka bawa layaknya sebuah pertempuran.

Saat perang ketupat terjadi, suasana sakral dari tradisi berubah menjadi meriah. Perang ketupat ini dinyatakan usai setelah ketiga dukun desa meniup peluit sebanyak dua kali. Meskipun setiap peserta saling menyerang, tidak sedikitpun amarah terlihat dari wajah peserta. Mereka justru terlihat bahagia. Karena mereka percaya, melalui tradisi inilah semua pengaruh jahat dalam tubuh warga desa dapat sirna.

Ketika hari menjelang sore, para peserta tradisi berjalan kaki menuju tepi pantai Pasir Kuning. Di pantai itulah, mereka melaksanakan Nganyot Perae atau upacara menghayutkan sebuah perahu ke laut. Perahu yang dihayutkan itu terbuat dari kayu pohon dan ukurannya jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan ukuran perahu layar pada umumnya.

Setelah membaca doa bersama, perahu itu dihanyutkan ke laut dan terbawa ombak hingga ke tengah laut. Bagi warga desa Tempilang, upacara ini menjadi simbol mengantarkan kembali roh halus ke alamnya agar tidak mengganggu warga desa Tempilang. Ketika perahu kayu itu hayut terbawa ombak.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Artikel Asli diambil dari sini sedangkan Gambar diambil dari sini

Seperti biasa tersaji bukan untuk dipuji apalagi dicaci namun hanya untuk melengkapi

——————————————————————————————————————————————————

Salam Takzim Batavusqu

Tradisi perang ketupat di bulan sya’ban2|Tradisi menyambut nisfu Sya’ban di Tangsel|Tata cara sholat sunnah Nisfu Sya’ban|Tradisi perang ketupat di Bulan Sya’ban1|Tradisi Sya’ban di Karang Anyar Solo|Hujan Hikmah di Bulan Sya’ban|Tradisi malam Sya’ban di Pamekasan|Tradisi bulan sya’ban di Muntilan|Wisata Kuliner|Malam Sya’ban Disukabumi|Tradisi Nisfu Sya’ban di Bangka Belitung|Tradisi Nisfu Sya’ban di Ciganjur|Tradisi Ojung di Bulan Sya’ban|Artikel Sya’ban|Dirgahayu Kepolisian|

Iklan

27 pemikiran pada “Tradisi perang ketupat di bulan Sya’ban2

  1. banyak juga yah larangan dan pantangan2 selama ritual perang ketupat ini. pasti nggak ada yang berani melanggar yah kang, karena kepercayaan akan datangnya bencana besar bila ada yang melanggar. jadi ngeri juga…

    gambar2nya bagus kang. salut
    salam hangat

  2. ejawantahblog

    Sebuah upacara adat suatu daerah merupakan suatu sarana daya tarik tersendiri bagi para wisatawan, dimana didalam upacara suatu tradisi terdapat pembelajaran untuk kita sebagai manusia untuk selalu menjaga keseimbangan alam, tertutama dalam melakukan prosesi ritual. Karena banyak patrap-patrap yang tidak dapat terlewati.

    Behitulah kehidupan kita sebagai manusia yang sudah memiliki segala aturan yang berlaku. Baik itu dengan sesama makhluk hidup dan alam, serta Tuhannya. Semoga kita dapat mengambil pembelajaran dari nilai posidif yang disampaikan dalam setiap acara upacara yang dilangsungkan di setiap daerah, tanpa mengedepankan ego kita.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah’s Blog

  3. Wah bermacam macam budaya di negeri ini namun banyak juga yang bertentangan dengan islam kalo mas batavusqu sendiri gimana menyikapinya???

    Salam kenal dari jember (bloger amatir)

  4. Larangan untuk menangkap ikan di hari2 tertentu mirip dengan tradisi Y*hudi yah Kang? Iya gak ya? Maaf kalau salah.,..
    Tetep saja loh saya sayangkan ketupatnya buat perang… Anak saya doyan ketupat soalnya,, hehehe…

  5. Ping-balik: Tradisi Nisfu Sya’ban di Jepara « Batavusqu

  6. Saleum,
    Asik banget ikutan perang ketupat…. memang kesannya agak mubazir dan menyia nyiakan makanan. padahal masih banyak juga manusia yang gak bisa makan karena gak ada makanan. Namun yang namanya budaya, tetaplah budaya….. 🙂

  7. Ping-balik: Puasa sunnah di bulan Sya’ban « Batavusqu

  8. Ping-balik: Tradisi malam Nisfu Sya’ban di tempat saya « Batavusqu

  9. Ping-balik: Gowes to Campus « Batavusqu

  10. Ping-balik: Tradisi Kaurie Beureuat di Bulan Sya’ban « Batavusqu

  11. Ping-balik: Tradisi Suro Baca di Sulsel « Batavusqu

  12. Ping-balik: Tradisi Sya’ban di Sumatera Barat1 « Batavusqu

  13. Ping-balik: Proses Sidang Tilang di PN Jaksel « Batavusqu

  14. Ping-balik: Tradisi Sya’ban oleh Masyarakat Jawa « Batavusqu

  15. Ping-balik: Tradisi Sya’ban di Sumatera Barat2 « Batavusqu

  16. Ping-balik: Tradisi pacu jalur di bulan sya’ban « Batavusqu

  17. Ping-balik: Tradisi Papajar di Cianjur « Batavusqu

  18. Ping-balik: Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1432H « Batavusqu

  19. Ping-balik: Kopdar dengan pemilik TE « Batavusqu

  20. Ping-balik: Rangkuman Sya’ban « Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s