Tradisi Kaurie Beureuat di Bulan Sya’ban

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbudaya

Satu lagi saya temukan suatu tradisi yang dilaksanakan pada bulan Sya’ban, yaitu tradisi yang ada nusantara tepatnya di Lamno Aceh Jaya. Tradisi ini dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Kaurie Beureuat atau kenduri atau selamatan, bagaimana prosesinya mari kita simak bersama.

Salah satu kenduri di Masyarakat Lamno Aceh Jaya adalah kaurie beurat. Kenduri ini dilaksanakan pada bulan suci Ramadhan dan berlangsung pada malam hari di bulan pertengahan bulan Sya’ban. Malam berlangsungnya kenduri ini dikenal dengan istilah malam beurat. Kenduri ini dilaksanakan oleh seluruh anggota masyarakat sebuah desa dan bertempat di meunasah yang dipimpin oleh teungku.

Pada kenduri ini seluruh masyarakat datang ke meunasah dengan membawa sebuah idang (paket makanan yang terdiri dari nasi beserta lauk pauk dan ditempatkan dalam sebuah talam yang besar). Makanan tersebut disantap bersama anggota masyarakat lainnya yang hadir pada saat pelaksanaan kaurie beurat.

Malam beurat adalah sebuah interpretasi masyarakat Aceh dari kebiasaan Nabi Muhammad dimana pada malam di pertengahan bulan Sya’ban Rasulullah melaksanakan shalat sunat yang dikenal dengan istilah shalat nisfu sha’ban (shalat pertengahan bulan sya’ban). Karena shalat ini bukan bagian dari shalat wajib, maka umat Islam yang berada didalam berbagai masyarakat mencoba menginterpretasikan makna yang terkandung di dalam shalat tersebut. Dengan kata lain, mereka mencoba mencari jawaban atas pertanyaan mengapa Rasulullah melaksanakan shalat nisfu sha’ban ?

Menurut kepercayaan masyarakat Lamno bahwa pada malam pertengahan bulan syaban Allah akan menentukan nasib seseorang (usia, rizki, dan amal perbuatan) untuk satu tahun ke depan. Oleh karena itu, melalui kaurie beurat masing-masing individu berdoa kepada Allah agar Allah memberikan yang terbaik kepada mereka.

Cerita-cerita rakyat yang berhubungan dengan masalah penentuan nasib di malam beurat ini amat banyak, tetapi semua bermuara kepada suatu konsep kosmologi yang memandang bahwa nasib manusia dalam setahun ke depan akan ditentukan oleh Allah pada malam itu. Nasib manusia dalam sebuah pohon yang besar berdaun lebat. Nasib setiap individu terpresentasikan dalam sehelai daun. Pada malam beurat tersebut Allah akan mengguncang pohon itu dengan guncangan yang amat hebat sehingga jika daun yang jatuh dari guncangan tersebut, maka individu yang terwakili didalam daun jatuh akan meninggal dunia suatu waktu dalam setahun ke depan. Untuk menghindari diri dari kematian, maka diperlukan sebuah ibadah berupa shalat nisfu sya’ban, doa, dan kenduri. Pada konteks ini fungsi utama dari seluruh prosesi ritual ini adalah sebagai tindakan preventif dari kemalangan pada tahun depan.

Walaupun Rasulullah hanya melaksanakan shalat dan puasa di pertengahan bulan sya’baan, di dalam tradisi masyarakat Lamno dikenal dengan bentuk ritual lain dari nisfu sya’ban yaitu berdoa secara berjamaah, makan bersama dalam ritual kenduri dan diakhir dengan ceramah agama. Pola pelaksanaan ritual nisfu sya’ban sedikit berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya di dalam NAD.

Dalam konteks menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan kaurie beurat menjadi sebuah isyarat bahwa bulan Ramadhan akan segera hadir. Hal ini dapat dilihat dari isi ceramah di akhir acara kenduri dimana teungku lebih banyak membahas hal-hal yang perlu dipersiapkan oleh setiap muslim untuk memasuki bulan Ramadhan. Teungku juga berdoa agar setiap pribadi muslim masih diberi kesempatan oleh Allah untuk dapat bertemu dengan bulan Ramadhan yang sebentar lagi akan ditiba. Di samping itu, keuchik juga mengajak masyarakat untuk melakukan sebuah tradisi penting dalam menyambut bulan Ramadhan, yaitu tradisi peugleh meunasah (membersihkan meunasah). Dalam himbuannnya ia menggunakan ungkapan “jamee rayeuk ka rap trouk” (tamu besar yaitu bulan Ramadhan akan segera tiba).

Namun yang menarik dalam tradisi kaurie beureat ini adalah kentalnya nuansa senang-senang yang dimanifestasikan dalam bentuk partisipasi masyarakat pada seluruh aspek kenduri sehingga semakin besar sebuah kenduri, maka suasana kesenangan dan kebahagiaan akan lebih menonjol ke permukaan dibandingkan dengan esensi kaurie beureat itu sendiri. Pada titik ini masyarakat lupa bahwa esensi ritual ini adalah permohonan nasib baik ke depan sementara kenduri ini sendiri hanyalah alat pemersatu masyarakat ke dalam sebuah solidaritas yang lebih baik.
Sumber berasal dari sini

Seperti biasa tersaji bukan untuk dipuji apalagi dicaci melainkan hanya untuk diketahui

——————————————————————————————————————————————————

Salam Takzim Batavusqu

Tradisi Kaurie Beureuat di Aceh|Hikmah Nisfu Sya’ban|Tradisi Nisfu dikomplekqu|Gowes to Campus|Puasa Sya’ban|Tradisi Nisfu Sya’ban di Jepara|Tradisi perang ketupat di bulan sya’ban2|Tradisi menyambut nisfu Sya’ban di Tangsel|Tata cara sholat sunnah Nisfu Sya’ban|Tradisi perang ketupat di Bulan Sya’ban1|Tradisi Sya’ban di Karang Anyar Solo|Hujan Hikmah di Bulan Sya’ban|Tradisi malam Sya’ban di Pamekasan|Tradisi bulan sya’ban di Muntilan|Wisata Kuliner|Malam Sya’ban Disukabumi|Tradisi Nisfu Sya’ban di Bangka Belitung|Tradisi Nisfu Sya’ban di Ciganjur|Tradisi Ojung di Bulan Sya’ban|Artikel Sya’ban|Dirgahayu Kepolisian|

Iklan

23 pemikiran pada “Tradisi Kaurie Beureuat di Bulan Sya’ban

  1. Saya suka sekali dengan kata² ” Seperti biasa tersaji bukan untuk dipuji apalagi dicaci melainkan hanya untuk diketahui ” karena perbedaan itu rahmat Kang

  2. mau OOT dolooo …
    ada yang baru menang kontes lagi …
    makan2 dong … 😀

    SELAMAT YA MAS ISRO :d

    (eh blogger nama Isro kan cuma yg punya batavusqu toh?)

  3. ejawantahblog

    Penyajian dalam suatu penyampaian yang mengingatkan setiap individu kembali pada kultur yang memiliki krsan tersendiri dalam penyebaran agama dalam melakukan dakwah.

    Sukses selalu Kang
    Salam untuk keluarga.

    Ejawantah’s Blog

  4. assalamu’alaikum sodaraku,
    luar biasa tradisi masyarakat sana dalam menyambut bulan suci, sehingga dengan itu harapan utamanya adalah kesiapan ruhani dan jasmani yang menjadi bekal dalam mendulang pahala dan kebajikan di bulan suci
    marhaban ya ramadhan

  5. Puteri Amirillis dan keluarga mengucapkan Selamat Menyambut Bulan Suci Ramadhan semoga kita diberi keberkahan di bulan ini.
    Mohon maaf lahir batin atas segala salah dan khilaf saya selama ini. Salam saya…^^

  6. Acaranya hampir sama dengan disini, Mas. Masing-masing orang bawa makanan hasil olahan sendiri ke musholla, setelah shalat dan berdoa lalu makan bareng2.

    Tapi lebih banyak yang ikut makan daripada yang ikut shalat.. 😀

  7. salam pak…
    wah banyak banget keutamaan bulan Sya’ban yah pak..saya sendiri pas pertengahan bulan sya’ban malah dapat halangan jadi tidak bisa sholat dan beribadah dengan maksimal
    kalo masyarakat jawa, selama bulan sya’ban sebelum ramadhan mungkin kenal dengan istilah “kirim doa” atau istilah lainnya “megengan”…apapun itu intinya adalah untuk berkumpul dan berdoa dan mendoakan..

  8. setelah baca artikel ini jadi makin tau..
    beragam budaya yg tersebar di seluruh negeri ini
    termasuk di Aceh..
    makasih ya mas…
    salam Takzim..
    selamat menyambut bulan Ramadhan…

  9. Ping-balik: Tradisi Suro Baca di Sulsel « Batavusqu

  10. Ping-balik: Tradisi Sya’ban di Sumatera Barat1 « Batavusqu

  11. Ping-balik: Proses Sidang Tilang di PN Jaksel « Batavusqu

  12. Ping-balik: Tradisi Sya’ban oleh Masyarakat Jawa « Batavusqu

  13. Ping-balik: Tradisi Sya’ban di Sumatera Barat2 « Batavusqu

  14. Ping-balik: Tradisi pacu jalur di bulan sya’ban « Batavusqu

  15. Ping-balik: Tradisi Papajar di Cianjur « Batavusqu

  16. Ping-balik: Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1432H « Batavusqu

  17. Ping-balik: Kopdar dengan pemilik TE « Batavusqu

  18. Ping-balik: Rangkuman Sya’ban « Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s