Tradisi Suro Baca di Sulsel

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbudaya

Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan di Makassar Sulawesi Selatan ada suatu tradisi Suro’Baca yang sudah menjadi tradisi turun temurun, acara ini biasanya dilaksanakan pada akhir bulan Sya’ban atau H-7 sampai dengan H-1 bulan Romadhan.  Bagi sahabat yang berasal dari Makassar tradisi ini sudah tidak asing lagi, namun bagi sahabat yang bukan orang asli Makassar atau belum pernah singgah di Makassar menjelang akhir bulan Sya’ban pasti akan bertanya Tradisi apakah Suro’Baca itu?. Nah kalau sahabat ingin tahu mari kita simak bersama.

Sajian untuk disantap bersama

Suro’baca atau berdoa bersama untuk para leluhur menjelang Ramadhan merupakan tradisi turun-temurun di kalangan suku Bugis Makassar di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Tradisi yang masih tetap terjaga baik di kalangan masyarakat pedesaan hingga perkotaan ini, biasanya diselenggarakan baik per rumah tangga ataupun berkelompok. Sebelum menggelar suro’baca, keluarga mempersiapkan aneka hidangan atau masakan seperti ayam gagape’ (mirip opor ayam), ikan bandeng bakar yang dibelah dan diberi cabe dan garam yang sudah dihaluskan, lawa’ (urap) dari pisang batu, dan sebagainya sesuai dengan kemampuan ekonomi si empunya hajatan.Untuk kue pencuci mulutnya, dipilih kue-kue tradisional misalnya kue lapis, onde-onde, dan cucuru’ bayao.

Setelah semua hidangan tersebut siap disantap, terlebih dahulu diatur sedemikian rupa di ruangan yang disiapkan untuk membaca doa bersama yang dipimpin oleh seorang guru baca atau tokoh adat. Seluruh anggota keluarga akan duduk bersila di depan aneka hidangan sambil mengikuti guru baca berdoa dengan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an serta mendoakan bagi almarhum (leluhur) mendapat keselamatan di akhirat dan keluarga yang ditinggalkan juga mendapatkan keselamatan, kesehatan dan dimudahkan rezekinya.

Prosesi serupa juga dilakukan jika suro’baca dilakukan berkelompok, artinya satu orang sebagai koordinator yang mengumpulkan pendanaan komsumsi, kemudian bersama-sama dengan anggota keluarga besar membuat aneka hidangan yang akan disajikan pada acara suro’baca pada bulan Sya’ban itu. Setelah semuanya siap, maka semua anggota keluarga besar berdoa bersama dipimpin guru baca. Selanjutnya, bersalam-salaman seraya saling memaafkan sebelum memasuki bulan Ramadhan, kemudian bersantap siang bersama.
“Makna dari suro’baca ini, agar yang masih hidup tetap mengingat leluhurnya dan mengingat bahwa suatu saat juga akan ke akhirat. Selain itu, acara ini juga menjadi ajang silaturrahim untuk mempererat persaudaraan,” jelas Daeng Mappong (75), guru baca yang sudah sepuluh tahun lebih memimpin tradisi suro’baca setiap menjelang Ramadhan di lingkungan suku Bugis Makassar di Kabupaten Maros, Sulsel.
Sementara Daeng Ngalusu (63) yang berperan sebagai bendahara tradisi itu mengatakan, setiap keluarga akan memberikan uang komsumsi sesuai dengan kemampuan dan keikhlasannya. Jadi tidak ditentukan besarannya. Bahkan yang tidak memiliki uang lebih, namun memiliki ternak ayam, biasanya menyumbang beberapa ekor ayam saja. Begitu pula yang berprofesi sebagai petani biasanya memberikan beberapa liter beras untuk berpartisipasi.
Tradisi lain yang mengikuti acara suro’baca ini, bagi kalangan Bugis Makassar yang masih memegang filosofi adat dan tarekat tradisional terkait dengan Agama Islam, juga memanfaatkan bulan Sya’ban atau menjelang Ramadhan untuk mengajak putra-putrinya yang sudah akil balik memahami dan mendalami ajaran Islam lebih dekat. Guru tarekat yang sebagian besar adalah penganut tarekat Khalwatiah Syekh Jusuf — salah seorang penyebar Agama Islam dan pahlawan nasional — di Sulsel, akan menjadi penuntun bagi putra-putri Bugis Makassar mempelajari mulai tata cara berwudhu, shalat hingga mempersiapkan diri mencari bekal ke alam akhirat.
Begitu pula ziarah kubur menjelang Ramadhan, seakan sudah menjadi kewajiban bagi masyarakat Sulsel yang masih kental dengan tradisinya. Ketiga tradisi itulah yang masih dapat dijumpai di kalangan keluarga Bugis Makassar di Sulsel. Suatu tradisi yang memiliki makna yang mendalam yang intinya memupuk rasa kebersamaan, mengingat kematian dan mengajak berbuat kebajikan.
Sumber diambil dari sini.

Seperti biasa tersaji bukan untuk dipuji apalagi dicaci melainkan hanya untuk melengkapi

——————————————————————————————————————————————————

Salam Takzim Batavusqu

|Tradisi suro baca di makassar|Tradisi Kaurie Beureuat di Aceh|Hikmah Nisfu Sya’ban|Tradisi Nisfu dikomplekqu|Gowes to Campus|Puasa Sya’ban|Tradisi Nisfu Sya’ban di Jepara|Tradisi perang ketupat di bulan sya’ban2|Tradisi menyambut nisfu Sya’ban di Tangsel|Tata cara sholat sunnah Nisfu Sya’ban|Tradisi perang ketupat di Bulan Sya’ban1|Tradisi Sya’ban di Karang Anyar Solo|Hujan Hikmah di Bulan Sya’ban|Tradisi malam Sya’ban di Pamekasan|Tradisi bulan sya’ban di Muntilan|Wisata Kuliner|Malam Sya’ban Disukabumi|Tradisi Nisfu Sya’ban di Bangka Belitung|Tradisi Nisfu Sya’ban di Ciganjur|Tradisi Ojung di Bulan Sya’ban|Artikel Sya’ban|Dirgahayu Kepolisian|

Iklan

19 pemikiran pada “Tradisi Suro Baca di Sulsel

  1. Ping-balik: Tradisi Sya’ban di Sumatera Barat1 « Batavusqu

  2. Ping-balik: Proses Sidang Tilang di PN Jaksel « Batavusqu

  3. Ping-balik: Tradisi Sya’ban oleh Masyarakat Jawa « Batavusqu

  4. Ping-balik: Tradisi Sya’ban di Sumatera Barat2 « Batavusqu

  5. Ping-balik: Tradisi pacu jalur di bulan sya’ban « Batavusqu

  6. Ping-balik: Tradisi Papajar di Cianjur « Batavusqu

  7. Ping-balik: Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1432H « Batavusqu

  8. Ping-balik: Kopdar dengan pemilik TE « Batavusqu

  9. Ping-balik: Rangkuman Sya’ban « Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s