Tradisi Sya’ban di Sumatera Barat2

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbahagia

Selepas bersepeda yang terasa melelahkan saya sempatkan untuk memposting yang tertinggal sebelum istirahat, ya postingan yang masih belum tuntas tentang tradisi sya’ban di Sumatera Barat.Dengan tidak mencari makna yang lain saya coba ketengahkan kembali lanjutannya semoga sahabat tetap berkenan.

Untuk mandinya, dilakukan dengan cara berendam di air sungai, lalu rendaman air wangi itu dipakai membasuh, seperti halnya sabun mandi. Setelah itu, badan dibasuh lagi dengan air sungai. Setelah mandi, mereka pun berwudhu.

Memang dalam Islam tak ditemukan ajaran seperti Balimau ini. Itulah sebabnya, tradisi ini sempat melahirkan kecaman dari tokoh agama di Padang. Tradisi ini dinilai peninggalan Hindu yang umatnya mensucikan diri di Sungai Gangga, India.
Balimau dianggap mirip dengan Makara Sankranti, yaitu saat umat Hindu mandi di Sungai Gangga untuk memuja dewa Surya pada pertengahan Januari, kemudian ada Raksabandha sebagai penguat tali kasih antar sesama yang dilakukan pada Juli-Agustus, lalu Vasanta Panchami pada Januari-Februai sebagai pensucian diri menyambut musim semi.
Namun, niat menyucikan yang dilakukan warga Minang tentu saja berbeda dengan umat Hindu. Tak ada pula pelarangannya. Apalagi dalam tradisi ini juga ada sentuhan ke-Islam-an, yaitu beramaaf-maafan menjelang ibadah puasa.
Hanya saja yang menjadi masalah, saat Tradisi Balimau berlangsung kerap terjadi perbuatan yang dinilai maksiat. Misalnya, ada yang menjadikan Tradisi Balimau sebagai ajang pacaran. Bahkan tak sedikit lelaki yang memelototi tubuh wanita yang lekuk tubuhnya terlihat jelas sebab badannya terbalut kain basah.
Kelakuan sebagian orang itulah yang membuat tokoh agama di Minang meradang, sehingga menuding Tradisi Balimau lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya. Sehingga tokoh agama ada yang menentang tradisi terus dihidupkan. Sebab, mereka menilai tradisi itu sudah tak sejalan dengan filosofi “adat bersendikan syarak”.
Sebenarnya tradisi mandi suci menyambut ramadhan ini bukan hanya terjadi di Tanah Minang saja. Di sejumlah daerah juga melakukan hal yang sama. Misalnya warga Riau melakukannya di Sungai Kampar. Istilahnya juga mirip dengan di Minang, yaitu Balimau Kasai.
Di kawasan Jawa, tradisi mandi suci disebut dengan Padusan. Ini dilakukan di setiap pelosok kampung. Juga dilakukan sehari menjelang ramadhan. Padusan adalah simbol mensucikan diri dari kotoran dengan harapan bisa menjalankan puasa dengan diawali kesucian lahir dan batin. Tempat mandi yang dicari adalah yang alami. Sebab mereka percaya sumber air yang alami adalah air suci yang menghasilkan tuah yang baik.
Nah, jadi yang perlu kita tekankan adalah jangan sesekali menganggap bahwa mandi balimau itu adalah sebuah ibadah , yang jelas itu hanya sebuah kebiasaan, jadi gak mandi balimau pun tidak apa apa, yang penting itu bagaimana cara kita menyambut bulan ramadhan dengan baik, salah satu contoh meminta maaf kepada orang2 yang kita kenal. Ingat ya, suri tauladan kita Rasulullah SAW, jadi jangan asal ngikut2 aja (mandi balimau orang,mandi balimau kita tanpa alasan yang jelas), ukur antara manfaat dan mudhoratnya, kalau mudhorat lebih banyak daripada manfaatnya, tinggalkan saja ya.
Mungkin cukup sekian, saya mohon maaf kepada sahabat semua atas kesalahan yang selama ini saya lakukan, mari kita sambut bulan ramadhan ini dengan gembira,dan di isi dengan memperbanyak beribadah.  Diambil dari berbagai sumber salah satunya dari sini.

Seperti biasa tersaji bukan untuk dipuji apalagi dicaci namun hanya untuk melengkapi.

——————————————————————————————————————————————————

Salam Takzim Batavusqu

|Tradisi Sya’ban di Sumbar2|Tradisi Sya’ban oleh Masyarakat Jawa|Sidang Tilang|Tradisi Sya’ban di Sumbar|Makanan Sehat ala Batavusqu|Tradisi suro baca di makassar|Tradisi Kaurie Beureuat di Aceh|Hikmah Nisfu Sya’ban|Tradisi Nisfu dikomplekqu|Gowes to Campus|Puasa Sya’ban|Tradisi Nisfu Sya’ban di Jepara|Tradisi perang ketupat di bulan sya’ban2|Tradisi menyambut nisfu Sya’ban di Tangsel|Tata cara sholat sunnah Nisfu Sya’ban|Tradisi perang ketupat di Bulan Sya’ban1|Tradisi Sya’ban di Karang Anyar Solo|Hujan Hikmah di Bulan Sya’ban|Tradisi malam Sya’ban di Pamekasan|Tradisi bulan sya’ban di Muntilan|Wisata Kuliner|Malam Sya’ban Disukabumi|Tradisi Nisfu Sya’ban di Bangka Belitung|Tradisi Nisfu Sya’ban di Ciganjur|Tradisi Ojung di Bulan Sya’ban|Artikel Sya’ban|Dirgahayu Kepolisian|

Iklan

10 pemikiran pada “Tradisi Sya’ban di Sumatera Barat2

  1. segala perbuatan tergantung niatnya kan kang? tapi kalau mudharat sdh lebih banyak dibanding manfaat maka itu hukumnya sudah makruh. lebih baik tidak dilakukan
    karena sepertinya memang tidak layak dilakukan sebgai muslim/ah yang taat.

    tapi makasih sdh berbagi tentang tradisi ini, jadi tahu lebih banyak.
    salam

  2. Ping-balik: Tradisi pacu jalur di bulan sya’ban « Batavusqu

  3. Ping-balik: Tradisi Papajar di Cianjur « Batavusqu

  4. Ping-balik: Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1432H « Batavusqu

  5. Ping-balik: Kopdar dengan pemilik TE « Batavusqu

  6. Ping-balik: Rangkuman Sya’ban « Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s