Ramadan atau Romadhon

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbudi

Hampir mencapai 75 juta kata ramadan akan sahabat temukan dari mesin pencari google dan hanya sekitar 1 juta kata romadhon tertemukan, padahal kata yang terakhir adalah penulisan yang terbaca dari tulisan arab yang terdiri dari huruf ro, mim dhod dan nun. Ada yang perlu diwaspadai dalam penulisan kata “Romadhon,” yaitu jangan sampai kita menghilangkan huruf “h” sehingga kemudian menjadi “Ramadan” karena dengan begitu pengertiannya akan berubah total.

huruf

“Romadhon” berarti panas yang menyengat atau kekeringan, khususnya pada tanah. Di Jazirah Arab memang menggunakan luni-solar calendar (penghit

ungan tahun berdasarkan bulan dan matahari sekaligus) dan bulan ke sembilan selalu jatuh pada musim panas yang sangat menyengat. Musim panas yang waktu siangnya lebih panjang daripada waktu malamnya. Hal itu terjadi berhari-hari, sehingga setelah beberapa pekan bisa terjadi akumulasi panas yang menghanguskan. Hari-hari itu disebut bulan Romadhon, bulan dengan panas yang menghanguskan.

Setelah umat Islam mengembangkan kalender berbasis bulan (qomariyah), yang rata-rata sebelas hari lebih pendek dari kalender berbasis matahari, bulan Romadhon tak lagi selalu bertepatan dengan musim panas. Orang lebih memahami ‘panas’nya Romadhon secara metafora (kiasan). Karena di hari-hari Romadhon orang berpuasa, tenggorokan terasa panas karena kehausan. Dari akar kata tersebut kata “Romadhon” digunakan untuk mengindikasikan adanya sensasi panas saat seseorang kehausan.

Pendapat lain mengatakan bahwa kata “Romadhon” digunakan karena pada bulan itu dosa-dosa dihapuskan oleh perbuatan baik sebagaimana matahari membakar tanah.

…Kata “Ramadan” (tanpa huruf h) dalam bahasa Arab berarti orang yang sakit mata mau buta, sehingga tak dapat disamakan dengan “Romadhon”…

Namun kata “Ramadan” (tanpa huruf h) dalam bahasa Arab artinya orang yang sakit mata mau buta, sehingga tidak dapat disamakan artinya dengan “Romadhon.”

Kecerobohan Kamus Besar Bahasa Indonesia

Sangat disayangkan penulisan ejaan “Romadhon” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dengan kata “Ramadan”. Entah mengapa para ahli bahasa yang menyusun KBBI sangat ceroboh menuliskannya begitu. Apakah mereka tidak sengaja atau apa? KBBI tentu menjadi rujukan masyarakat Indonesia dalam menggunakan bahasa Indonesia dengan benar dan baik (bukan baik dulu, baru kemudian benar). Jadi para ahli bahasa yang menyusun KBBI harus hati-hati dalam menyusun kata-kata dalam kamus pedoman itu. Apalagi kata “Romadhon” adalah salah satu kata yang paling banyak digunakan oleh masyarakat. Terlebih lagi, penduduk Indonesia paling besar adalah memang beragam Islam.

Bahasa Indonesia dalam perkembangannya mengakomodasi kata-kata dari banyak bahasa: Arab, Belanda, Inggris, Latin, Prancis, Sanskerta, Spanyol, Tionghoa, Yunani dan lain-lain. Dalam bidang agama, ratusan kata berasal dari Bahasa Arab, termasuk salah satunya kata “Romadhon” yang sedang kita bicarakan. Kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang ada hubungannya dengan bahasa negara lain, sangat dimungkinkan muncul gagasan, konsep, atau barang baru yang datang dari luar budaya negara itu. Tapi karena kata “Romadhon” memang sangat berbeda artinya dengan kata “Ramadan” tentu harus tetap digunakan kata “Romadhon”.

…Jangan dibiarkan kesalahan penggunaan kata “Romadhon” dengan “Ramadan,” karena melahirkan salah kaprah…

Jangan dibiarkan kesalahan penggunaan kata “Romadhon” dengan “Ramadan”. Karena kita tahu sendiri dalam menggunakan bahasa di tengah masyarakat kita sering terjadi salah kaprah, artinya menggunakan bahasa pada awalnya salah dan karena yang salah dibiarkan tetap salah maka masyarakat kemudian menganggapnya itu sebagai bahasa yang umum digunakan sehingga masyarakat akhirnya tidak merasa salah kalau menggunakannya.

Padahal penggunaan bahasa itu keliru. Oleh karena itu juga yang salah akan tetap salah dan janganlah dilakukan yang nantinya akan berakibat menjadi lebih fatal lagi sehingga akhirnya kekeliruan itu walaupun salah sekalipun tapi karena umum dilakukan sehingga akan menjadi kebiasaan. sumber asli dari http://www.voa-islam.com/news/citizens-jurnalism/2010/08/20/9365/meluruskan-salah-kaprah-kata-ramadhan-dan-ramadan/ Gambar dari google

Seperti biasa tersaji bukan untuk dipuji apalagi dicaci melainkan semata hanya untuk diketahui

——————————————————————————————————————————————————

Salam Takzim Batavusqu

Budaya tertib dalam bersepeda|Tradisi ngabuburit|Postingan Perdana Romadhan

Iklan

26 pemikiran pada “Ramadan atau Romadhon

  1. terima kasih atas informasinya pak, mulai saat ini Insya Allah mulai menulis dengan Romadhon. kalau Ramadhan artinya apa pak? pernah juga melihat yg seperti itu

  2. Memang penulisan sebuah kata dari satu bahasa ke bahasa lain dengan format penulisan yang berbeda sering kali mengalami kerancuan. Contohnya dari huruf arab ke latin, atau dari huruf jawa ke latin, atau dari huruf china ke latin. Kesemuanya tidak akan bisa sesuai dengan kaidah pada bahasa aslinya.
    Jika ingin mengucapkan yang 100% sesuai, ya, gunakan saja huruf/tulisan sesuai dengan bahasa itu.

  3. Aih, makasih Mas Isro, telah memberi saya wawasan ini. 🙂

    Hahaha, saya pun tertawa membayangkan arti nama orang-orang yang bernamakan “ramadan”. 😆 *maap*

  4. Ping-balik: Tr « Batavusqu

  5. Ping-balik: Tradisi bermain bola api « Batavusqu

  6. Ping-balik: Hingga kini masih teringat « Batavusqu

  7. Ping-balik: Tradisi Obrog « Batavusqu

  8. Ping-balik: Tradisi Ngangklang « Batavusqu

  9. Ping-balik: Tradisi Suluak « Batavusqu

  10. Ping-balik: Tradisi Tumbilotohe « Batavusqu

  11. Ping-balik: Tradisi Sholat Tarawih « Batavusqu

  12. Ping-balik: Tradisi menikmati Bubur Samin « Batavusqu

  13. Ping-balik: Ikut merayakan LMGS G2 « Batavusqu

  14. Ping-balik: Tradisi malam Qunut « Batavusqu

  15. Ping-balik: Tradisi menunggu malam Lailatul Qodar « Batavusqu

  16. Ping-balik: Tradisi Grebeg gunungan « Batavusqu

  17. Ping-balik: Tradisi Buka Puasa Bersama « Batavusqu

  18. Ping-balik: Tradisi Pesta Kolak « Batavusqu

  19. Ping-balik: Tradisi Luk Culuk « Batavusqu

  20. Ping-balik: Tradisi antri daging « Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s