Tradisi Mengibung

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbudi

Memasuki 10 hari pertama bulan suci Ramadhan, warga di Kampung Muslim Kepaon, Kota Denpasar, Kamis petang melaksanakan tradisi “megibung” atau makan bersama dalam satu tumpengan.  “Pada 10 hari pertama kami biasanya menyelesaikan acara khataman atau telah menamatkan bacaan Al Qur’an biasanya diisi dengan selamatan berupa makan nasi tumpeng,” kata Maulana, warga setempat saat ditemui ANTARA.

Menurut dia, tradisi turun temurun itu masih berlangsung hingga kini dengan tujuan sebagai ungkapan rasa syukur atas datangnya bulan suci Ramadhan serta selesainya pembacaan Al Qur’an oleh warga setempat.
Dalam acara selamatan khataman itu dilaksanakan setelah habis berbuka dan salat maqrib. Seluruh warga berkumpul di Masjid Al Muhajirin yang terletak di tengah pemukiman warga muslim yang didominasi suku Bugis, Madura, dan Bali itu.

Biasanya secara bergiliran seluruh warga menyiapkan tumpeng atau selamatan untuk dibawa ke masjid sebagai bagian dari keseluruhan perayaaan selamatan khataman Al Qur’an.  Nasi tumpeng itu kemudian disantap bersama oleh seluruh warga maupun jamaah yang datang ke Masjid. “Makannya bersama-sama dalam satu tumpeng sampai habis. Di sinilah rasa nimatnya dan terbangun rasa kebersamaan diantara warga muslim,” kata Maulana.

Acara makan bersama itu selama bulan Ramadhan berlangsung selama tiga kali. Pertama pada hari ke-10 puasa, dilanjutkan pada hari ke-20 dan ketiga pada hari terakhir bulan yang bagi umat muslim merupakan bulan penuh berkah itu.  Hal sama disampaikan Yusuf, tokoh warga muslim Kepaon lainnya, yang menyebutkan bahwa tradisi megibung itu bertujuan memupuk rasa persatuan di antara warga muslim maupun di luar mereka.

Apalagi, sebenarnya hubungan warga muslim dengan warga Bali umumnya sudah terjalin cukup akrab sejak lama. Hal itu ditandai dengan jalinan kerja sama dalam kegiatan sosial kemasyarakatan yang melibatkan semua warga dan dari berbagai kalangan.  “Makanan dalam tumpeng berbentuk gunungan di sekelilingnya terdapat berbagai jenis makanan menjadi simbol bahwa manusia diharusan mencari rezeki dunia namun senantiasa wajib menanamkan persaudaraan, persatuan dan perdamaian,” kata Yusuf.

Sumber dari sini jika ingin melihat videonya bisa di lihat di sini

Iklan

17 pemikiran pada “Tradisi Mengibung

  1. Ping-balik: Tradisi Tumbilotohe « Batavusqu

  2. Ping-balik: Tradisi Sholat Tarawih « Batavusqu

  3. Ping-balik: Tradisi menikmati Bubur Samin « Batavusqu

  4. Ping-balik: Ikut merayakan LMGS G2 « Batavusqu

  5. Ping-balik: Tradisi malam Qunut « Batavusqu

  6. Ping-balik: Tradisi menunggu malam Lailatul Qodar « Batavusqu

  7. Ping-balik: Tradisi Grebeg gunungan « Batavusqu

  8. Ping-balik: Tradisi Buka Puasa Bersama « Batavusqu

  9. Ping-balik: Tradisi Pesta Kolak « Batavusqu

  10. Ping-balik: Tradisi Luk Culuk « Batavusqu

  11. Ping-balik: Tradisi antri daging « Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s