Tradisi menikmati Bubur Samin

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbudi

Bagi masyarakat sekitar Masjid Darussalam Jayengan Kidul, Serengan, Solo, Jawa Tengah, nama bubur samin sudah sangat lekat dengan tradisi berbuka puasa. Makanan ini pertama kali diperkenalkan oleh sejumlah pedagang permata dan berlian asal Martapura, Kalimantan Selatan yang saat itu berdagang di Solo, dan ditularkan ke masyarakat setempat.

penempatan Bubur samin

Asal muasal nama bubur samin, karena warna bubur menyerupai warna minyak samin yang kekuning-kuningan. Setiap Ramadan selalu tersaji di masjid yang menjadi tempat berkumpulnya masyarakat perantau maupun orang keturunan Martapura. Tradisi ini muncul sekitar tahun 1950, awalnya disajikan sebagai menu buka puasa di Masjid Darussalam. Waktu itu masih sebatas dibagikan kepada para jamaah masjid yang kebetulan mengambil takjilan di masjid.

Seiring dengan perkembangan, bubur samin kini bisa disajikan di rumah. Maka tidak heran, jika selepas adzan Ashar banyak sekali warga dari berbagai daerah di Kota Solo menenteng rantang untuk meminta secara cuma-cuma bubur itu dibawa pulang. Takmir Masjid Darussalam, Anwar mengatakan karena niatnya bershodaqoh, maka siapa pun saja bisa meminta bubur samin. Baik, dari kalangan masyarakat menengah ke bawah maupun menengah ke atas.

“Ada buruh bangunan, tukang becak, supir taksi hingga bos-bos. Namun, mereka tetap berbaur menjadi satu. Ini merupakan wujud kerukunan yang tidak membedakan status sosialnya,” tegas dia kepada VIVAnews di Solo.

Bubur yang terbuat dari bahan baku beras, daging sapi dan bumbu rempah-rempahan itu setiap harinya menghabiskan beras sebanyak 40 kilogram ditambah daging sapi 7 kilogram. Dari jumlah tersebut nantinya akan dibagi menjadi 250 piring bubur samin, untuk jamaah masjid dan 750 piring yang dibawa pulang oleh masyarakat.

Selain bubur samin, pihak takmir juga menyediakan sajian menu minumah khas, yakni kopi susu, yang setiap harinya menghabiskan 1,5 kilogram, 8 kaleng susu putih dan 7 kilogram gula. Minuman yang disajikan secara hangat itu sangat pas dengan menu bubur samin plus kurma sebagai makanan pembuka.

Biaya yang dikeluarkan setiap harinya untuk membuat bubur samin dan minuman kopi susu, mencapai Rp 1,5 juta per hari. Sumber asli dari sini

Seperti biasa tersaji bukan untuk dipuji apalagi dicaci namun hanya untuk melengkapi

——————————————————————————————————————————————————

Salam Takzim Batavusqu

|Tradisi Tarawih|Tradisi Tumbilotohe|Tradisi Cari Jodoh|Tradisi Mengibung|Tradisi Suluak|Tradisi Ngangklang|Tradisi Obrog|CBBP|Tradisi bermain bola api|Tradisi Perang Api|Ramadan atau Romadhon|Budaya tertib dalam bersepeda|Tradisi ngabuburit|Postingan Perdana Romadhan

Iklan

20 pemikiran pada “Tradisi menikmati Bubur Samin

  1. dhe pernah nyobain pak, rasanya aneh lho, mungkin karena lidah dhe yang nggak biasa kali yaaa.. tapi karena itu, sampe sekarang jadi takut kalo mo makan nasi / bubur samin.. mungkin harus ke Solo dulu biar bisa merasakan rasa asli bubur samin..

  2. Ping-balik: CT70. LMGS G2 – ULANG TAHUN PERTAMA 2011 « LAMAN MENULIS GAYA SENDIRI G2

  3. Ping-balik: Ikut merayakan LMGS G2 « Batavusqu

  4. Ping-balik: Tradisi malam Qunut « Batavusqu

  5. Ping-balik: Tradisi menunggu malam Lailatul Qodar « Batavusqu

  6. Ping-balik: Tradisi Grebeg gunungan « Batavusqu

  7. Ping-balik: Tradisi Buka Puasa Bersama « Batavusqu

  8. Ping-balik: Tradisi Pesta Kolak « Batavusqu

  9. Ping-balik: Tradisi Luk Culuk « Batavusqu

  10. Ping-balik: Tradisi antri daging « Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s