Tradisi khitan Masyarakat Sulsel (Bagian 1)

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca yang budiman

Pada sajian yang lalu batavusqu menghidang sebuah Logo unik yang dikeluarkan oleh WP untuk para pencintanya dan di komentari sajian itu oleh sang penakluk blogger Sulawesi bang Iwan. Terinspirasi dengan hadirnya bang Iwan putera Sulsel, batavusqu tertarik untuk memberi sajian khusus kepada para sahabat berupa tradisi masyarakat Sulsel dalam mengkhitan anaknya.

Sebagai kelanjutan dari acara adat yang selalu akan disaji perkenankan batavusqu menhidang sajian ini. Secara umum  upacara adat / ritual tradisi rumpun budaya masyarakat yang mendiami wilayah Sulawesi Selatan menunjukkan mentalitas religius – magis, yang diungkapkan secara kolektif melalui suatu upacara. Upacara adat ini mempererat rasa “masseddi siri” (kebersamaan) dan “abbulo sibatang” (persatuan) masyarakat yang mendukungnya.

Beberapa tradisi masyarakat SulSel yang berhubungan dengan peristiwa perubahan atau peralihan siklus hidup, diantaranya adalah peristiwa peralihan dari rahim ibu ke dunia dalam upacara alahere (kelahiran), peristiwa pengalihan dari anak-anak menjadi dewasa dalam upacara ‘aqiqah, appatamma dan appasunna / khitanan adat (pengislaman), peristiwa pengalihan dari masa lajang ke masa memiliki tanggung jawab keluarga, appabunting/perkawinan, peristiwa peralihan dari dunia ke dunia baka dalam upacara amateang (kematian). Peristiwa peralihan dari keadaan terbebani karena janji keadaan terlepas dalam upacara pelepas nazar, appalappasa nazara.

Sunatan atau biasa juga disebut “Khitanan” mempunyai arti yang sangat mendasar dalam agama Islam yaitu cara pengislaman dengan membuang kulit yang membungkus kepala kemaluan, ketentuan ini berlaku bagi orang islam baik laki – laki maupun wanita terutama bagi laki – laki karena kemaluan dianggap mengandung najis yang berlaku sejak Nabi terdahulu.

Upacara Appasunna (Khitanan Adat) dikenal dua versi, yaitu :

Versi Pertama, dengan urutan sebagai berikut :

  1. Menre Baruga
  2. Mammata – mata
  3. Allekke Je’ne
  4. Appassili
  5. Nipasintinggi Bulaeng dan Nipasalingi
  6. Appamatta
  7. Khitanan (Nisunna).

Pada Upacara Khitanan Adat versi pertama, acara “mammata – mata” ditempatkan pada urutan kedua karena sesudah acara menre baruga dapat sekaligus dilangsungkan acara mammata – mata mengingat pada acara menre baruga, anak yang akan disunat bersama orang tua dan keluarganya telah duduk di lamming (pelaminan) dalam baruga, dan pada acara ini pula ditampilkan acara kesenian meski pelaksanaannya dilakukan pada siang hari.

Pada versi kedua, acara “mammata-mata” ditempatkan pada urutan keenam dan dilaksanakan pada malam hari dengan dirangkaikan malam ramah tamah. Lengkapnya versi kedua dengan urutan acara sebagai berikut :

  1. Menre Baruga
  2. Allekke Je’ne
  3. Appassili
  4. Nipasitinggi Bulaeng dan Nipasalingi
  5. Appamatta
  6. Mammata – mata/Ramah Tamah
  7. Khitanan.

Kedua versi ini sama baiknya, tergantung shohibul hajat mau memilih yang mana

Mari kita simak makna makna urutan acaranya

I. Menre Baruga

Menre Baruga merupakan upacara awal, penggunaan baruga  sebagai pusat kegiatan upacara. Sebuah baruga berbentuk segi empat yang memiliki arti tersendiri yaitu Tunggal atau Esa. Baruga dilengkapi dengan sebuah lamming (pelaminan), tangga atau sapana yang dihubungkan dengan kain putih (Taluttu) diartikan sebagai simbol ketulusan sedangkan bagian atas terdapat kain penutup langit – langit baru (timbawo).

Pelaksana Upacara Menre Baruga terdiri dari:

  • 2 Orang pembawa tombak
  • 1 orang pembawa payung (teddung)
  • 4 orang pembawa lellu
  • 2 orang pengapit
  • 3 orang pembawa kelengkapan (ammiccung, cerek dan apu)
  • 3 orang pembawa kipas panjang (tepa – tepa)
  • 3 orang pembawa oje
  • 1 orang Indo Pasusu
  • 2 orang pembawa lae – lae
  • 1 orang sanro
  • 14 orang dara berpakaian baju bodo
  • Seperangkat gendang adat.

Jalannya Upacara :

Anak yang akan disunat berpakaian pagadu tidak memakai baju, hanya sarung putih dan songkok putih berada diatas bembengan dengan diantar oleh kedua orang tuanya dan seorang pinati. Sebelum memasuki baruga terlebih dahulu anak yang akan disunat beserta kedua orang tuanya, keluarga, kerabat serta rombongan menre baruga mengelilingi terlebih dahulu baruga sebanyak tiga kali.

Setelah itu baru bisa memasuki baruga melalui sapana (tangga) yang diatasnya terdapat hamparan taluttu (kain putih) pertanda penghormatan, kemudian si anak dijemput dengan hamburan benno, bente (bertih) menuju lamming, dibawah lellu yang sisi tiangnya dipegang oleh empat anak berpakaian pagadu.

Tangan si anak harus selalu memegang pattekko (alat tenun) mulai dari rumah kediaman menuju baruga. Acara dapat dilanjutkan dengan “mangngaru” diiringi “tunrung pakanjara”. Selesai itu diakhiri dengan akkaddo, jamuan kue-kue tradisional.

Selama acara menre baruga berlangsung diiringi dengan gendang adat (gandrang) yang kemudian dilanjutkan dengan acara allekka je’ne atau mallekke wae.

II. Allekka Je’ne (Mallekke Wae)

Allekka Je’ne (Mallekke Wae) yaitu upacara pengambilan air pada sebuah sumur tertentu (sumur bertuah) untuk dimandikan kepada anak yang akan disunat.

Sumur tertentu disini adalah sebuah sumur bertuah yaitu suatu sumur yang dianggap oleh masyarakat sebagai sumur yang telah tua umurnya dan membawah berkah bagi orang – orang yang mengambil airnya.

Pelaksana Allekka Je’ne :

  • 1 orang membawa poke banrangang berpakaian baju hitam dan berdestar (Appassapu) serta keris
  • 2 orang sebagai pengulu jalan (pangngolo) berpakaian jas tutup dan songkok racca (pamiring)   untuk pria, sarung sutera serta baju bodo untuk wanita
  • 1 orang pembawa bate – bate (bendera) warna kuning dan berpakaian baju kuning, berdestar serta memakai keris
  • 1 orang pembawa sulolang berpakaian baju hitam, berdestar dan memakai keris
  • 7 orang pembawa ojek dan simpak berpakaian baju bodo
  • 1 orang pembawa songkolok berpakaian pagadu
  • 4 orang pembawa lellu berpakaian pagadu
  • 1 orang amma pasusu berpakaian baju bodo hitam dan sarung putih
  • 4 orang pabembeng berpakaian celana baroci, baju serta berdestar.
  • 1 orang pappariwa je’ne berpakaian baju hitam
  • 2 orang pembawa lae – lae berpakaian baju bodo
  • 1 orang pembawa anak baccing berpakaian baju bodo.
  • 1 orang pembawa kancing berpakaian baju bodo.

Jalannya Upacara :

Iring – iringan rombongan Allekka Je’ne menuju baruga dimana Pappariwa Je’ne berada di atas bembengan untuk menjemput kendi / tempat air yang akan dibawa menuju sumur bertuah, diiringi dengan gendang adat.

Setelah tiba di depan tangga baruga seorang pinati / Allekka Je’ne menaiki tangga untuk menjemput kendi / tempat air dari anak yang akan disunat melalu amma pasusu selanjutnya diteruskan kepada Pappariwa dan kemudian pappariwa diangkat dengan bembengan menuju sumur bertuah bersama rombongan Allekka Je’ne yang lain diiringi ganrang pakanjara.

Sesampai rombongan Allekka Je’ne di sumur bertuah, pinati sebagai kepala rombongan menerima kendi dari Amma Pasusu melalui Pappariwa diiringi tunrung pakanjara, kemudian pinati Allekka Je’ne menyerahkan kendi kepada pinati sumur yaitu orang yang akan menimba air di sumur tersebut dimana sebelumnya mengucapkan mantera – mantera dan memanjatkan doa kepada Allah SWT sambil berniat ”saya mengambil air untuk digunakan dalam appassili, semoga membawa berkah”, kemudian mengisi kendi sampai penuh.

Setelah kendi diisi air, pinati sumur menyerahkan kendi kepada Pinati Allekka Je’ne selanjutnya diteruskan kepada Amma Pasusu, lalu dari Amma Pasusu diteruskan kepada Pappariwa diiringi ”Pakkuru Sumange”, selanjutnya dengan posisi semula bergerak kembali ke rumah tempat upacara.

Catatan :

Sewaktu rombongan Allekka Je’ne menuju sumur bertuah, waktu diisi dengan berbagai atraksi permainan tradisional seperti pencak silat, maddaga dan tarian.

(bersambung)

13 pemikiran pada “Tradisi khitan Masyarakat Sulsel (Bagian 1)

  1. Tidak banyak keluarga Bugis yang masih mempertahankan budaya seperti ini. Bahkan saya yang bermukim dan asli dari Sulawesi selatan sudah jarang menyaksikan upacaranya secara langsung.. Makasih banyak atas postingannya Kang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s