Tradisi khitan Masyarakat Sulsel (Bagian 2)

Salam Takzim

Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbudi

Masih berlanjut dalam upacara adat masyarakat Sulawesi Selatan dalam hal ini upacara adat mengkhitan anaknya. Pada hidangan sebelumnya batavusqu menyaji kegiatan menre baruga sebagai upacara awal dan dilanjutkan dengan upacara Allekka Je’ne (Mallekke Wae) atau pengambilan air bertuah untuk memandikan sang anak, kini rangkaian upacara Appasili dan upacara Nipasintinggi Bulaeng batavusqu hidang, semoga bermanfaat bagi para pembaca batavusqu yang berbudaya.

III. Appassili / Mappassili

Appassili / Mappassili adalah upacara pensucian diri lahir dan batin yang dimaksudkan agar segala kotoran dan hal–hal yang dianggap tidak baik yang terdapat dalam diri sang anak dapat dihilangkan. Appassili / Mappassili dapat juga diartikan sebagai pernyataan harapan kepada Tuhan YME agar tetap bahagia dan terhindar dari malapetaka yang mungkin akan menimpanya.

Alat dan Bahan Upacara Appassili :

  1. Wajan besar / kuali tanah
  2. Tikar / jali
  3. Kelapa tua (bertunas)
  4. Pattekko (alat tenun)
  5. Beberapa macam bunga
  6. Beberapa macam daun–daunan antara lain : daun sirih, daun lai’–mali’, daun pattene, dan daun cinrolo.

Pelaksana Upacara Appassili :

  • Sang anak yang dikhitan beserta kedua orang tuanya. sang anak berpakaian pagadu yaitu hanya memakai sarung, songkok gudang serta karawi, sedangkan kedua orang tuanya berpakaian adat
  • 1 orang Indo Pasusu berpakaian baju bodo warna putih
  • 1 orang sanro (orang tua yang akan memberikan petunjuk jalannya upacara)
  • 4 orang anak berpakaian pagadu memegang lellu.
  • 2 orang pembawa lae–lae berpakaian baju bodo.
  • 2 orang pembawa poke banra yang berpakaian jas tutup dengan berdestar dan keris
  • 1 orang pembawa ana’ baccing berpakaian baju bodo
  • 1 orang pembawa kancing berpakaian baju bodo
  • 6 orang memakai pakaian pagadu.

Jalannya Upacara :

Setelah air passili tiba dari sumur bertuah, pelaksana Allekka Je’ne tiba di depan pintu rumah upacara,  Pappaddiwa menyerahkan kendi kepada amma pasusu diteruskan ke pinati dan kemudian pinati menuangkan ke dalam kuali tanah atau wajan yang dialasi okang / okang yang bermakna siokkong artinya tetap menjalin kebersamaan, sambil mengucapkan harapan ”ana’ lompoki nai nanubalasakki te’ne numanrapi mappalallo. Insya Allah. Amin.

Air yang diambil dari sumur bertuah tersebut bermakna bahwa kelak sang anak itu akan memiliki kharisma dan keperkasaan menantang kehidupan.

Saat sang anak tersebut akan dipassili, sang anak duduk bersila diatas tikar/jali dibawah lellu sambil memegang pattekko, didampingi oleh sanro , dan disaksikan oleh kedua orang tua beserta keluarga dan kerabat, di depan sang anak telah disediakan wajan/kuali tanah yang berisi air dicampur dengan macam–macam bunga seperti bunga kelapa, bunga melati, daun pandan, daun sirih, daun passili, daun cinrolo, daun mali – mali , serta pattene.

Tersedia pula kelapa yang bertunas dialasi okong artinya sang anak diharapkan dapat tumbuh atau cepat tumbuh menjadi dewasa dengan harapan dapat menjadi manusia yang berguna bagi bangsa, negara serta agama, satu gantang beras ( 4 liter), gula merah satu bungkus bermakna bahwa dalam mengarungi kehidupannya kelak akan selalu tenteram dan bahagia, satu pasang, diharapkan si anak akan mendapatkan jodoh yang sesuai.

Selanjutnya sang anak mulai dipassili dengan menyiramkan air ke seluruh tubuhnya sambil sanro mengucapkan doa–doa, selama dipassili diiringi dengan pukulan lea–lea dan anak baccing. Makna dari daun–daun yang dipergunakan untuk appasili adalah :

– leko siri : supaya anak kelak mempunyai asa malu / siri’
– leko mali – mali : diharapkan sang anak selalu akrab dengan keluarga
– leko pattene : diharapkan sang anak kelak menjadi orang terkemuka

Setelah sang anak selesai dipassili, kemudian pakaian yang dipakai mulai ditanggalkan dengan cara membelakangi sewaktu akan disimpan diatas loyang bermakna semua yang telah terdapat dalam diri tidak ingin dilihat kembali, kemudian sang anak digendong ke lamming untuk memakai baju yang telah disediakan atau dikenal dengan istilah Nipisalingi untuk anak laki–laki dan Mapasang Waju untuk anak perempuan.

Nipisalingi dilaksanakan oleh sanro, yaitu sang anak dipakaikan baju yang terdiri dari baju jas tutup, sarung sutera dan songkok pamiring, Mappasang waju adalah istilah yang dikhususkan untuk anak perempuan dimana sewaktu sang anak dipakaikan baju, dimulai dari sanro kemudian dilanjutkan oleh beberapa orang yang dianggap berhasil dan terakhir oleh kedua orang tua sang anak.
Dalam keadaan baju berlapis–lapis, biasanya sampai 9 lapis di badan, sang anak digendong ke depan pintu serta diangkat–angkat sampai tiga kali sambil mengucapkan :

”malampe sungekmu, mancaji anak saleh,
mancajiko ana’ makkeguna ri bangsa sibawa
negaramu, mancajiko marajing sompa ri
Allah Taala, ana’ makkeguna ri keluarga,
masempo dallemu matanre menre mallongi –
longi”.

Setelah itu sang anak melepaskan ayam,. Diibaratkan jodoh sang anak, maksudnya kalau ayam tersebut larinya keluar berarti jodohnya sang anak orang dari jauh, sedangkan kalau ayam kembali masuk ke rumah upacara, berarti jodoh sang anak adalah keluarganya sendiri. Kemudian sang anak dikembalikan ke lamming, setelah itu baju yang berlapis–lapis dilepaskan, dan yang tinggal hanya pakaian yang akan dikenakan yaitu baju bodo dan sarung sutera, lengkap dengan perhiasannya, sambil duduk kembali dibawah lellu dalam lamming.

IV. Upacara Nipasintinggi Bulaeng

Upacara dimana sang anak diukur tingginya dengan benang emas, mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut di kepala. Umumnya dilaksanakan karena ada nazar orang tuanya bila anaknya dalam keadaan sehat sejahtera serta telah mengkhatamkan Al-Qur’an maka sang anak akan diukur dengan benang emas.

Upacara Nipasintinggi Bulaeng ini merupakan kelanjutan atau dilaksanakan setelah sang anak mengikuti acara Appassili.

Jalannya Upacara :

Sang anak berdiri kemudian sanro memegang ujung benang emas (bulaeng), orang tua si anak (ayah atau ibunya meluruskan benang emas mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut di kepala, benang emas kemudian digunting, lalu sisanya digunting–gunting kira – kira 2 cm untuk dibagi–bagikan kepada orang–orang yang berada di sekitar upacara, yang biasanya berebutan untuk mendapatkannya dengan harapan mereka kelak akan seperti orang tua sang anak, dan bagi sang anak diharapkan agar tidak egois dan tidak kikir.
(bersambung)

4 pemikiran pada “Tradisi khitan Masyarakat Sulsel (Bagian 2)

  1. masatourstravel

    Di Indonesia banyak sekali pembelajaran yang disampaikan oleh budaya, yang mana bertujuan agar kita dapat berprilaku arif dengan etika yang luhur.

    Sukses selalu

    Salam Wisata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s